Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Kenapa dia hanya takut melihatku?


__ADS_3

Hari ini Cakra tidak langsung ke kantornya, tapi dia memutuskan untuk pergi ke kantor Arend. Entah kenapa rasa penasarannya sangatlah besar tentang anak kecil yang dibawa oleh Alena.


" Ramond, apa pak Arend sudah datang?" tanya Cakra pada asisten pribadi Arend, yang kebetulan baru keluar dari ruangan Arend.


"Oh, sudah Pak Cakra. Pak Arendnya ada di dalam," jawab pria bernama Ramond itu, sopan.


"Ok. Terima kasih, ya! aku masuk dulu," Cakra langsung masuk ke dalam ruangan Arend tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


"Hei, apa kamu tidak sedang sibuk, Rend?" Cakra langsung bertanya, tanpa menyapa terlebih dulu.


"Kamu melihatnya bagaimana?" bukannya menjawab, Arend justru kembali melemparkan pertanyaan.


"Kamu terlihat sangat sibuk," ucap Cakra sekenanya dan langsung mendaratkan tubuhnya duduk di kursi depan meja Arend.


"Tuh kamu tahu," ucap Arend dengan mata' yang tetap fokus pada dokumen-dokumen yang ada di depannya.


"Kamu udah nggak kerja lagi ya? apa om Calvin tidak mengizinkan kamu lagi untuk memimpin perusahaan, makanya pagi-pagi sekali kamu sudah datang ke kantorku?" Arend kembali bersuara dengan nada yang sedikit menyindir.


"Enak aja kalau bicara. Aku ke sini karena ada satu hal yang sangat penting yang ingin aku bicarakan,"


"Mau bicara apa? ngomong aja, aku bisa dengar kok." ucap Arend yang tatapannya masih tetap tidak beralih dari dokumen yang ada di tangannya.


"Bisa tidak kamu menghentikan kegiatanmu sebentar?"


Arend menghela napasnya, dan menutup dokumen itu, lalu menatap ke arah Cakra.


"Nah, begini kan enak," ujar Cakra sambil menerbitkan senyuman tipis di bibirnya.

__ADS_1


"Cepat katakan apa yang mau kamu katakan! masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan hari ini," ucap Arend seraya membenarkan posisi duduknya untuk memberikan fokus pada apa yang hendak dibicarakan oleh pria yang batal jadi kakak iparnya itu.


"Begini Rend, di perusahaanku ada office girl baru. Dia juga memiliki anak sama seperti Alena. Dia __"


"Jadi, apa kamu mau memintaku untuk menikahi dia juga?" Arend langsung menyela ucapan Cakra.


"Kamu bisa diam nggak? aku belum selesai bicara, kamu sudah main nyambar aja," Cakra sudah mulai terlihat kesal.


"Sorry, sorry Sob. Ok, lanjutkan lagi!"ucap Arend sambil sedikit terkekeh.


"Dia ternyata tinggal di samping rumah wanita yang bernama Sarni. Kamu pasti mengenalnya karena dia datang juga ke pernikahanmu sebagi keluarga dari Alena," jelas Cakra panjang lebar.


"Apa salahnya dia tinggal di sana. Rumah itu sudah kosong dan sudah selayaknya bude Sarni menyewakan sama orang lain kan?" ujar Arend seraya berdecak karena menurutnya cerita Cakra sangat tidak masuk akal dan buang-buang waktu.


"Sob, sebenarnya bukan hal itu yang buat aku curiga, tapi anaknya itu, Sob. Anak itu sangat mirip dengan anak angkat Alena istrimu. Kan sangat mustahil ada dua anak yang bisa semirip itu? bahkan mereka berdua seperti kembar, Sob," tutur Cakra seperti mak-mak komplek yang sedang ngegibah.


"Hmm, jadi maksud kamu menceritakan hal ini apa? lagian kenapa rupanya kalau ada kemiripan dengan kedua anak itu?"


"Hmm, kamu jangan asal menuduh! karena sebelum aku menikah dengan Alena, semua hal tentang wanita itu sudah diselidiki oleh papa, dan semua yang kamu katakan tadi tidak benar. Dan asal kamu tahu, semua orang yang ada di rumah juga menyebut kalau baby Ivan sangat mirip denganmu. Bukan hanya orang di rumah, bahkan kedua orang tuamu juga bilang hal yang sama. Apa menurutmu kamu ada hubungan dengan baby Ivan?" tanya Arend.


"Tidaklah! tidak mungkin anak angkat kamu punya hubungan denganku," sangkal Cakra dengan cepat.


"Itu dia pointnya. Jadi menurut aku, bayi yang kamu sebutkan itu hanya kebetulan memiliki kemiripan dengan Ivan, seperti kamu juga yang kebetulan memiliki kemiripan dengan anakku,"


"Apa iya, aku semirip itu dengan baby Ivan?" kening Cakra terangkat ke atas, penasaran.


"Kalau dilihat-lihat sih iya ,Sob. Benar-benar sangat mirip. Apalagi ketika tante Cantika menunjukkan photomu waktu masih seusia Ivan,"

__ADS_1


"Kok bisa ya?" tanya Cakra sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Mana aku tahu?" Arend mengangkat pundaknya dan berniat kembali memeriksa dokumen yang sempat dia tutup tadi. Akan tetapi, dia mengurungkan niatnya dan kembali menatap Cakra.


"Lagian, kenapa kamu bisa ada di sana? apa kamu tertarik dengan wanita itu sampai-sampai kamu mengikuti wanita itu?" tukas Arend dengan raut wajah yang menyelidik.


Cakra mendegus mendengar ucapan Arend yang terkesan menuduhnya sebagai penguntit.


"Enak aja! jangan asal main tuduh. Aku bahkan mengantarkan dia pulang karena hari sudah sangat sore dan dia kesulitan untuk mendapatkan angkot. Udah, itu aja," jelas Cakra.


Salah satu sudut bibir Arend naik ke atas, dan alis pria itu bertaut tajam, merasa curiga pada Cakra.


"Kamu memberikan tumpangan dan mengantarkannya pulang? sejak kapan kamu sebaik itu pada wanita? bukannya selama ini kamu menghindari hal-hal seperti itu, karena tidak mau kalau wanita yang kamu tolong itu berpikir, kalau kamu menyukai mereka? Jadi kenapa wanita ini berbeda? kenapa kamu memutuskan untuk menolongnya dan memberikan tumpangan?" cecar Arend, beruntun yang membuat Cakra semakin bingung dan merasa aneh juga, kenapa dia bisa seperti itu.


"Emm, mungkin karena aku bingung juga Rend dengan sikapnya dia. Asal kamu tahu, ketika dia pertama kali melihatku, dia kaget dan seperti ketakutan. Dia bahkan tidak mau aku sentuh, padahal aku hanya ingin berusaha untuk menenangkannya." Jelas Cakra.


"Apa kamu pernah bertemu dengan dia sebelumnya?" tanya Arend yang entah kenapa merasa tertarik dan penasaran dengan keanehan wanita yang diceritakan oleh Cakra.


"Aku merasa, kalau aku baru pertama kali itu bertemu dengannya. Ketika aku mengantarkannya pulang, dia tidak mau duduk di depan dan lebih memilih untuk duduk di belakang. Bahkan ketika duduk di belakang pun dia terlihat pucat dan seperti ketakutan. Gara-gara itu, aku jadi penasaran kenapa dia bersikap seperti itu padaku," tutur Cakra panjang lebar tanpa jeda.


Arend bergeming seraya mengetuk-ngetuk jarinya ke atas meja, pertanda kalau pria itu pun merasa aneh dengan wanita yang diceritakan oleh Cakra.


"Aku tidak mengerti Cakra, mungkin dia pernah mengalami hal yang membuat dia trauma,"


"Tapi kenapa dia hanya terlihat ketakutan bila melihatku?"


"Kalau untuk hal itu, aku tidak tahu. Sekarang apa yang ingin kamu sampaikan sudah selesai kan? Kamu sebaiknya kembali ke kantor kamu, dan cari sendiri jawabannya! karena aku harus memeriksa banyak dokumen-dokumen ini," ucap Arend sambil kembali membuka dokumen yang sempat dia periksa tadi.

__ADS_1


Cakra mendegus kesal, melihat sikap cuek Arend. Pria itupun berdiri dan langsung berlalu pergi dari ruangan Arend.


Tbc


__ADS_2