
Arend masuk ke dalam kamar setelah membersihkan tubuhnya di kamar mandi yang lain, karena tidak ingin menunggu Alena yang sedang menggunakan kamar mandi mereka.
Arend memicingkan matanya karena tidak melihat keberadaan Alena istrinya. Pria itu pun mencari ke dalam kamar mandi, tapi dirinya sama sekali tidak menemukan wanita yang dia cari. Kemudian dirinya mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, tetap saja tidak bisa menemukan Alena.
"Nah, kaya gini kan lebih sopan jadinya," Arend mendengar suara Alena dari arah walk in closet.
Pria itu kemudian melangkah untuk menemui Alena. Di dalam kepalanya kini membayangkan wanita yang sudah menjadi istrinya itu tampak seksi dengan pakaian dinas malam,. seperti yang disebutkan oleh Calista sebelumnya. Karena bayangan itu, jantungnya berdetak lebih kencang dari detak jantung normal
"Ouch!" pekik Alena sambil memegang jidatnya. Kenapa? karena ketika Arend hendak masuk, Alena sedang berjalan keluar, jadinya kepala Alena, membentur dada Arend yang bidang dan sedikit keras.
"Itu dada apa batu sih?" gumam Alena dengan wajah yang meringis.
Arend tidak menjawab sama sekali. Pria itu justru membesarkan matanya melihat penampilan Alena yang benar-benar tidak sesuai dengan ekspektasi yang muncul di bayangannya. Bagaimana tidak, wanita itu justru bukan terliht seksi tapi justru terlihat aneh.
"Kenapa kamu berpenampilan seperti itu?" tanya Arend dengan raut wajah yang kesal.
"Bukannya kamu menyuruhku untuk memakai pakaian bahan ini?" Alena balik bertanya.
Arend mengembuskan napasnya dengan kasar, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tapi bukan seperti ini yang aku maksud Alena," Arend berucap sambil menyusuri penampilan Alena dari atasan sampai kebawah dengan ekspresi frustasi.
Alena memang memakai lingerie berwarna kuning gading 10 centi, di atas lutut. Akan tetapi, Alena juga memakai piyama tidurnya, sebelum memakai lingerie itu. Yang seharusnya terlihat seksi justru sekarang terlihat aneh.
"Jadi harus bagaimana? kan yang penting aku mengenakan lingerie ini. Jadi gak mubazir seperti yang kamu bilang," ucap Alena sekenanya.
Arend memutar tubuhnya, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan berkali-kali mengembuskan napas untuk menahan diri agar tidak marah. Kemudian, setelah dia merasa dirinya sudah sedikit tenang, Arend memutar tubuhnya kembali untuk menatap Alena lagi.
"Aku rasa kami bukan orang bodoh yang tidak tahu manfaat pakaian seperti itu. Dan aku yakin kalau kamu juga tahu gimana cara pakainya. Apa kamu pernah melihat ada wanita yang memakai pakaian seperti itu,. menggunakan piyama lagi di dalamnya?" Arend berucap dengan lembut berusaha untuk tidak marah dengan sikap Alena yang menurutnya sangat konyol.
"Aku tahu sih, Mas. Tapi, asal kamu tahu, tadi aku sudah memakainya tanpa pakai piyama dulu, tapi itu sangat tipis, dan aku malu, Mas. Masa pakaian dalamnya menerawang ke luar? mau tidak aku pakai, nanti kamu marah. Jadi, jalan satu-satunya ya dengan begini. Aman dan terkendali. Pakaian dalamku tidak terlihat, dan perintah kamu aku laksanakan. Pintar kan aku?" ucap Alena dengan bangganya. Hingga membuat Arend berdecak dan memukul jidatnya sendiri.
"Astaga, aku tidak tahu lagi mau ngomong apa? kamu benar-benar ...." Arend mengusap wajahnya dengan kasar dan berlalu pergi menuju ranjang.
"Emang enak? kamu kira aku ini bodoh dan tidak tahu apa yang kamu mau? Aku tuh, tahu kali. Kamu pasti mau melihat, aku seksi atau nggak kan? Oh, tidak boleh." batin Alena sambil melangkah menyusul Arend ke tempat tidur.
"Kamu lepaskan celana panjang kamu itu! aku geli melihatnya," celetuk Arend tiba-tiba.
"Nggak mau! kalau aku lepas, yang ada kamu bisa melihat Ce*Lana dalam yang aku pakai. Enak aja," tolak Alena dengan bibir yang terangkat ke atas.
Arend Menggeram. Pria itu sontak berdiri dan langsung mendekati Alena dengan manik mata yang berkilat-kilat.
__ADS_1
"Apa kamu mau aku tunjukkan cara memakai lingerie yang benar?" ucap Arend dengan napas yang memburu.
"Ma- maksud kamu?" Alena berjalan mundur dengan mata yang mengerjap-erjap dan menelan ludahnya sendiri.
"Kamu mau aku membuka piyama yang kamu pakai atau kamu sendiri yang menanggalkannya?" tanya Arend dengan tangan yang terayun ke belakang kepala Alena, untuk menjaga kepala istrinya itu agar tidak terantuk ke tembok.
Tenggorokan Alena terasa seperti tercekat, sehingga wanita itu terlihat kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri. Dia juga merasa seperti kesulitan untuk bernapas, karena jarak wajah Arend yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Kenapa diam? apa kamu benar-benar mau aku yang melakukannya?" Arend mengulangi pertanyaannya dengan tatapan yang tidak lepas dari manik mata istrinya itu.
"Ba-baik! aku akan buka sendiri," ucap Alena dengan gugup.
"Sekarang!" titah Arend dengan tegas.
"I-iya," Alena dengan berat hati akhirnya membuka celana panjang piyama yang dia pakai sehingga paha putihnya terekspos dengan nyata.
"Su-sudah," ucap Alena dengan tangan yang menarik-narik pakaian bagian atas, untuk menutupi pahanya.
"Belum! yang ini kan belum," Arend menunjuk ke arah pakaian lengan panjang yang dikenakan oleh istrinya itu.
"Ta-tapi ...."
"Tidak ada tapi-tapi! kamu buka sekarang!"
"Kenapa aku harus berbalik? aku ini suamimu. Kamu tidak berpakaian di depanku juga sah, sah aja kan? sekarang aku mau kamu membukanya di depanku,"
"Ta-tapi ...." Arend tiba-tiba membungkam bibir Alena dengan bibirnya, sehingga wanita itu tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Alena bergeming tidak membalas ciuman Arend sedikitpun, karena terlalu kaget dengan serangan Arend yang tiba-tiba.
Karena tidak mendapat respon dari Alena, Arend geram dan menggigit sedikit bibir wanita yang berada di bawah Kungkungannya itu, sehingga membuat Alena tanpa sadar membuka mulutnya. Arend tidak menyia-nyiakan kesempatan, pria itu dengan sigap langsung membelit benda tidak bertulang yang berada di dalam mulut Alena.
Tubuh Alena lama-lama akhirnya merespon serangan Arend. Wanita itu akhirnya membalas ciuman suaminya itu, walaupun masih terkesan sangat kaku.
Karena dirinya sudah terbuai dengan luma*Tan panas dari Arend, wanita itu tidak sadar kalau tangan Arend sudah masuk ke dalam lingerie yang dipakai Alena dan dengan perlahan membuka semua kancing piyama itu. Sayangnya piyama itu tetap menempel di tubuh Alena, karena terhalang dengan Lingerie yang dipakainya.
"Sekarang aku sudah membantumu untuk membuka semua kancingnya. Sekarang kamu tinggal menanggalkannya saja," bisik Arend de gan nada yang sensual setelah dia melepaskan ciumannya.
"Se-sejak kapan kamu membukanya?" Alena sontak menutup dada dan bagian intinya dengan kedua tangannya.
"Aku memintamu untuk menanggalkannya, bukan untuk protes. Atau kamu mau aku yang menanggalkannya juga? kamu pasti tahu, resiko kalau aku yang menanggalkannya. Otomatis pakaian dinas malam kamu itu akan aku robek."
__ADS_1
Alena sontak menggelengkan kepalanya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, yang menempel di tubuh Alena kini hanya tinggal lingerie.
Arend menelan ludahnya sendiri, melihat pemandangan indah yang ada di depannya. Napasnya kini semakin memburu karena si Jhony di bawah sana sudah bereaksi.
"Ja-jangan melihatku begitu! aku malu," desis Alena seraya menggigit bibirnya.
Seperti dihipnotis Arend kembali mencondongkan tubuhnya dan menyambar bibir yang sudah membuatnya candu itu.
Alena kali ini sedikit berusaha memberontak dengan mendorong dada Arend, sehingga Arend menatapnya dengan tajam
"Kenapa?" tanya Arend dengan napas yang memburu dan menatap ke dalam manik mata wanita itu yang terlihat sayu. Tubuhnya Sekar seakan dipenuhi dengan asap karena sudah panas dan ingin segera menerkam tubuh Alena untuk menghangatkan malamnya.
"Ka-kamu sudah menciumku tiga kali. Kenapa__"
"Kenapa apa? apa ada yang salah dengan itu?"
"Jelas ada. Kenapa kamu melakukannya sementara kamu juga tidak menginginkannya." ucap Alena dengan lirih.
"Siapa bilang? justru aku melakukannya karena aku menginginkannya, dan bahkan aku ingin melakukan lebih dari ini," jawab Arend seraya kembali menyerang bibir Istrinya itu.
Alena terbuai dan tidak memberikan perlawanan lagi. Bahkan wanita itu kini terlihat paksa saat Arend menggiringnya dan membaringkan tubuh Alena ke atas ranjang
Arend memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Alena juga merasakan panas. Akan tetapi tiba-tiba wanita itu kembali tersadar akan sesuatu dan langsung berusaha menghentikan serangan Arend.
"Kamu mau apa?" tanya Alena sambil menahan dada Arend.
"Aku mau kamu," Arend kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Alena. Dirinya menghentikan ciumannya begitu tidak mendapatkan balasan dari Alena. Bahkan dari sudut mata wanita itu kini sudah mengeluarkan butiran cairan bening.
"Kamu kenapa menangis?" Arend mengrenyitkan keningnya, ingin tahu.
"Bagaimana dengan pernikahan kita? apa kamu akan menceraikanku nanti? dan kenapa kamu melakukannya, padahal kamu tidak memiliki perasaan apapun padaku. Kamu melakukan ini padaku, apa karena kamu sedang membayangkan kalau aku ini Calista?" Alena tidak bisa menahan lagi, apa yang ada di dalam hatinya.
Arend Menggeram kesal mendengar ucapan Alena.
"Kenapa kamu masih menanyakan masalah perceraian? bukannya aku sudah mengatakan kalau aku tidak akan menceraikanmu? kalau dulu aku mengatakan kalau aku akan bersedia bercerai, kalau kamu yang meminta, tapi sekarang aku tidak mau bercerai sekalipun kamu yang minta. Sekarang aku mengatakan kalau aku 100 persen sadar kalau kamu itu Alena bukan Calista. Aku bukan pria brengsek seperti yang kamu kira. Sekarang terserah kamu, kalau kamu belum bersedia melakukannya denganku, aku tidak akan memaksa," Arend hendak bangkit dari atas tubuh Alena, akan tetapi wanita itu tiba-tiba menarik kembali tubuh suaminya itu.
"Baiklah, kamu boleh melakukannya! aku pegang kata-katamu, yang kamu tidak akan menceraikanku," Alena merenggangkan tangannya dan Arend kembali melanjutkan aksinya.
Dalam sekali tarikan, lingerie yang dipakai Alena kini sudah terlepas dari tubuh wanita itu. Sekarang tubuh wanita itu sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuh wanita itu. Demikian juga dengan Arend yang kini juga sudah polos seperti Alena.
Malam itu, akhirnya Alena benar-benar memasrahkan tubuhnya pada Arend yang sudah menjadi suaminya itu, walaupun dirinya belum mendapatkan kepastian apakah pria itu sudah mencintanya atau tidak.
__ADS_1
"Semoga ini benar-benar yang terbaik," batin Alena di sela-sela napasnya yang memburu.
Tbc