
Sudah berbagai cara, Cakra lakukan untuk meluluhkan hati Safira. Tapi hati wanita itu sudah seperti kutub Utara, dingin dan sangat susah untuk dicairkan.
"Apa aku harus menggunakan cara keras kali ini? aku coba menggancam dia, akan mengambil Ivan dan Ian, kalau dia belum mau menikah denganku? Tapi kalau aku melakukannya, sama aja aku seperti pria pecundang," batin Cakra, sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.
Tok ... tok ... tok
Cakra terjengkit kaget karena tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu.
"Masuk!" titah Cakra dengan suara yang tegas.
"Cakra, apa kamu lagi sibuk?" suara wanita terdengar lembut sembari menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
Cakra sebenarnya sedikit tersentak kaget melihat sosok wanita yang tidak lain adalah Kalila, tiba-tiba datang menemuinya ke kantor.
"Tidak terlalu sibuk Kalila, silahkan masuk!" ucap Cakra dengan jantung yang tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya.
Kalila tersenyum manis dan mengayunkan kakinya melangkah menghampiri meja Cakra.
"Ada apa, Lila? apa kamu mencari Carlos? bukannya kamu tahu kalau kantor Carlos tidak di sini?" tanya Cakra beruntun seraya berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Aku datang ke sini, untuk mencarimu bukan Carlos. Apa kamu keberatan kalau aku datang?" tanya Kalila dengan bibir yang mengerucut, kesal.
"Tentu saja aku tidak keberatan. Emangnya ada urusan apa mencariku?"
__ADS_1
"Aku sudah tahu alasan kamu menolak perjodohan kita. Kenapa kamu tidak jujur padaku? Aku menyukaimu bukan Carlos dan aku juga tahu kalau kamu juga merasakan hal yang sama denganku, betul kan, Cakra?" ucap Kalila to the point.
"Maksud kamu mengatakan ini apa?" Alis Cakra bertaut tajam, menatap Kalila, curiga.
"Aku mau kalau kita melanjutkan perjodohan kita, Cakra. Aku tidak mencintai Carlos. Aku mencintaimu dan kamu juga merasakan hal yang sama. Jadi kenapa bukan kita saja yang menikah?"ucap Kalila, berharap Cakra memikirkan kembali tentang perjodohan mereka dulu.
"Kalila, bukannya kamu mengatakan kalau kamu sudah tahu alasanku menolak perjodohan kita? tapi kenapa kamu masih ingin menikah denganku?"
"Karena aku tahu, kalau kita mempunyai perasaan yang sama," sahut Kalila sekenanya.
"Tapi kamu tahukan, tanggung jawab yang harus aku emban? ingat Kalila cinta tidak selamanya harus memiliki. Jadi, aku minta tolong ke kamu untuk tidak bahas masalah ini lagi," ucap Cakra dengan tangan yang meraih map berisi sebuah dokumen kerja sama. Pria itu ingin menunjukkan kalau keputusannya sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.
"Aku tahu itu! tapi masalahnya wanita itu tidak mau kan menerima pertanggungjawaban kamu? kalau dia mau, aku juga tidak akan datang lagi padamu. Masalahnya sekarang dia tidak mau, Cakra. Jadi, kamu tidak memiliki utang tanggung jawab lagi padanya, karena dia sendiri yang menolak. Untuk masalah kedua anak kamu dan dia, aku mau kok merawat mereka. Dan aku juga akan menyayangi anak-anak kamu itu," ucap Kalila dengan panjang lebar.
"Tapi masalahnya dia tidak mau, Cakra! dia __"
"Bukannya tadi aku sudah mengatakan kalau aku tidak pernah menganggap kalau dia tidak mau, tapi belum mau? Aku rasa kamu pasti mengerti kata tidak dan kata belum bukan? Kalila, please kamu jangan egois! aku sudah berjanji kalau aku akan berusaha untuk membuat hatinya luluh,"
"Apa ini berarti kalau kamu sudah jatuh cinta pada wanita itu? sampai-sampai kamu berusaha mati-matian untuk membuat Wanita itu luluh?" tanya Kalila dengan hati yang merasakan sakit.
Cakra tidak langsung menjawab. Dia menarik napas terlebih dulu dan mengembuskan keluar.
"Kalau berbicara jujur, aku mau mengatakan kalau aku belum mencintainya. Tapi sekarang aku sedang berusaha untuk menumbuhkan rasa cintaku padanya."
__ADS_1
Air mata yang sedari tadi berusaha dibendung oleh Kalila kini sudah berhasil lolos dari bendungan yang dibangun olehnya, begitu mendengar ucapan Cakra. Apalagi begitu mengetahui tidak ada keraguan di manik mata berwarna hitam kecoklatan milik pria yang dia cintai itu.
"Kalila, maafkan aku, tolong mengerti dan dukung niatku! Aku juga ingin kedua anakku tumbuh bersama dengan kedua orang tua mereka. Coba kamu bayangkan kalau nanti kedua anakku besar, seberapa benci mereka padaku, kalau mereka tahu yang sebenarnya dan aku tidak bertanggung jawab sama sekali. setidaknya, dengan aku berusaha untuk bertanggung jawab, rasa benci kedua anakku akan hilang dan berganti dengan rasa bangga," ucap Cakra dengan pelan dan raut wajah sendu.
Kalila bergeming. Keyakinan yang dia bangun kalau Cakra akan berubah pikiran sirna begitu saja. Pria itu benar-benar teguh dengan niatnya.
"Kamu mengatakan supaya aku tidak egois. Apa menurutmu kalau kamu itu tidak egois, dengan meminta Carlos untuk menikahiku? padahal kamu tahu jelas kalau adik kamu itu tidak mencintaiku, demikian juga denganku. Bagaimana kami akan menikah dengan kondisi hati yang tidak memiliki cinta sama sekali? Mana yang lebih egois? aku atau kamu? sedangkan aku datang padamu karena tahu kalau wanita itu sama sekali tidak mau menikah denganmu?" tutur Kalila sembari sesunggukan menangis.
"Maafkan aku! tapi kalau kamu tidak mau menikah dengan Carlos, kamu punya hak untuk menolak kan?" ucap Cakra.
"Carlos sebenarnya dulu pernah menyukaimu. Tapi karena dia tahu kalau aku menyukaimu, dia mundur dan melupakan rasa cintanya. Karena itu lah aku memintanya untuk menggantikan aku. Karena aku yakin, kalau suatu saat rasa cinta itu bisa akan timbul kembali seiring berjalannya waktu," sambung Cakra kembali.
"Tapi, kenapa dulu kamu memberikan harapan padaku, kalau akhirnya jadi begini? kamu sudah membuat hatiku sakit Cakra. Aku merasa seperti benda yang bisa dioper ke sana kemari,"
"Maafkan aku, Lila! kalau kamu memintaku untuk berlutut aku akan lakukan. Aku maupun Carlos tidak pernah menganggap kamu seperti sebuah benda. Aku memohon pada Carlos untuk menikahimu, karena hatiku merasa lebih tenang jika kamu bersama dengan Carlos dibandingkan dengan pria lain. Tapi, kalau kamu sebenarnya merasa keberatan menikah dengan Carlos, kamu boleh menolaknya sebelum hari H tiba." jelas Cakra dengan nada yang meyakinkan.
Kalila menarik napas panjang lalu membuangnya kembali ke udara.
"Maafkan aku, Cakra! kamu benar kalau aku tidak boleh egois.Wanita itu benar-benar butuh kamu untuk mengembalikan rasa percaya dirinya dan menghapus semua kenangan buruknya. Aku berdoa semoga wanita itu secepatnya berubah pikiran dan bersedia menerima tanggung jawabmu, dan kamu bisa juga mencintainya," pungkas Kalila dengan senyuman manis yang sedikit terpaksa.
"Terima kasih, Kalila," ucap Cakra, tulus.
Tbc
__ADS_1