
Sudah 4 minggu waktu berlalu atau satu bulan sejak Daniel berbaikan dengan orang tuanya. Bahkan sekarang, Daniel sudah dikenalkan sebagai CEO di hotel berbintang milik mereka di Jakarta.
Dua minggu yang lalu, keluarga Daniel sudah datang ke kediaman Arul untuk melamar Rara untuk dijadikan istri untuk Daniel. Prosesi lamaran berjalan baik dan lancar dan sudah ditetapkan tanggal pernikahan dua minggu setelah lamaran, yang berarti hari ini kedua insan itu akan segera berganti status menjadi suami istri.
Rara terlihat sudah sangat cantik berbalut gaun yang sangat indah berwarna putih, yang mengembang di bagian bawah.
"Kenapa crown dan veilnya belum dipasang? acara sebentar lagi bakal dimulai," protes Tasya yang dari tadi berisik.
"Kamu bisa diam gak sih? yang nikah aku,. kenapa kamu yang repot," Rara menanggapi protes Tasya seraya mengerucutkan bibirnya.
Tasya terkekeh melihat ekspresi wajah Kakaknya yang katanya kembar tapi tidak terlalu mirip itu.
"Tau tuh, yang nikah siapa yang repot siapa," Safira menimpali ucapan Rara seraya memberikan pukulan pelan di kepala Tasya dengan kuas make up di tangannya.
"Bukannya repot,aku hanya tidak sabar saja melihat penampilannya, yang pasti makin cantik kalau di tambah mahkota dan veil," ucap Tasya membela diri.
"Yang pastinya aku lebih cantik dari kamu," ucap Rara, menggoda Tasya.
"Hmm, ya pasti dong! tapi hanya buat kak Daniel. Bagi Kama pasti aku yang lebih cantik dan tidak ada duanya." Tasya balik menggoda Rara.
"Bagus dong, tidak ada duanya. Cuma satu aja udah buat kami pusing, apalagi kalau kamu ada dua," bukan Safira maupun Rara yang menimpali, melainkan Alena.
"Alena, kenapa kamu nggak bela aku sih?". Tasya pura-pura memasang kesal.
"Kamu sama sekali tidak pantas untuk dibela, Tas." Alena sontak menatap dengan tatapan tajam ke arah Tasya, begitu wanita itu bersiap hendak melempar bantal sofa ke arahnya.
"Sudah selesai, Bu." MUA yang sedang menangani Tasya, bersuara menghentikan perdebatan wanita-wanita cantik itu setelah selesai memasang mahkota dan veil di kepala
Rara.
"Wah, Cantik nya kamu!" puji Tasya, berdecak kagum. Wanita itu seketika melupakan perdebatannya dengan Alena dan Safira.
__ADS_1
"Iya,Ra, kamu cantik sekali!" Alena menimpali pujian Tasya sembari memutar-mutar tubuh Rara.
"Udah, Stop! Rara bisa pusing tuh kalian putar-putar tubuhnya seperti itu," cetus Safira yang jengah melihat tingkah Alena dan Tasya. Sementara itu, Calista dan Kalila, hanya terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepala.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Daniel menatap ke arah Rara dengan tatapan penuh cinta. Dia tidak menyangka kalau dirinya bisa secepat ini menemukan jodohnya, tanpa perlu lama-lama untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Menurutnya sekali wanita itu bisa membuatnya jatuh cinta, itu berarti wanita itu adalah orang yang istimewa, mengingat dirinya yang susah untuk jatuh cinta.
Daniel mengayunkan langkah menghampiri Rara, lalu mengulurkan tangannya ke arah wanita yang kecantikannya berlipat ganda di mata Daniel. Senyum di bibir pria itu, seakan tidak mau pergi dari bibirnya.
Rara menyambut uluran tangan sang suami dengan wajah yang tersipu malu. Mereka berdua kemudian melangkah bersama untuk memasuki ruangan di mana acara resepsi pernikahan mereka akan dilaksanakan.
Kali ini, sepasang pengantin itu, mengambil tema dekorasi yang dominant putih karena Rara sangat menyukai warna putih. Selain itu warna putih juga, warna yang secara inheren positif, dikaitkan dengan kemurnian, kesucian, kepolosan, cahaya, kebaikan, surga, keselamatan, kecemerlangan, penerangan, pengertian, kebersihan, iman, permulaan, kerohanian, kemungkinan, kerendahan hati, ketulusan, perlindungan, kelembutan, dan kesempurnaan juga awal kesuksesan.
"Kamu cantik sekali, malam ini?" puji Daniel, berbisik persis di telinga Rara.
"Kamu juga sangat tampan," Rara membalas pujian Daniel dengan balik memuji sang suami.
"Sayang, terima kasih ya, sudah mau menerimaku sebagai pendampingmu!" ucap Daniel sembari mengelus-elus punggung tangan Rara.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? justru aku yang berterima kasih kepadamu, karena kamu telah memilihku menjadi pasangan hidupmu di saat banyak wanita yang mengantri untuk kami jadikan istri," Rara tersenyum manis ke arah Daniel yang langsung mengecup kening sang istri.
"Woi, sabar! jangan main nyosor segala!" tiba-tiba Tasya datang mengganggu momen romantis yang sempat tercipta.
"Apaan sih, Tas? Kamu ganggu banget tahu nggak?" bibir Rara mengerucut, sebagai bentuk protesnya pada sang adik.
"Hei, aku nggak ganggu sama sekali, aku tuh lagi jagain kalian berdua, supaya bisa menahan diri untuk tidak melakukan yang tidak-tidak di sini," tanpa merasa bersalah sama sekali, Tasya duduk di dekat Rara.
"Melakukan yang tidak-tidak, gimana maksud kamu? apa kamu kira kami segila yang kamu pikirkan?" Daniel buka suara, kesal dengan tingkah Tasya.
"Kali aja kan kalian berdua lupa, kalau banyak orang di sini. Biasanya kan pengantin baru menganggap kalau dunia ini hanya milik berdua, dan orang lain dianggap tidak ada," Tasya tetap kekeh dan tidak mau disalahkan.
"Itu mah kamu!" Rara mendorong pelan jidat adiknya yang ternyata makin ke sini semakin rese.
__ADS_1
Keheningan terjeda untuk beberapa saat. Tidak ada yang buka suara di antara mereka berdua. Rara merasa jengah melihat Tasya yang sama sekali tidak ada niat untuk turun dari pelaminan.
"Sayang, kamu tahu tidak, jika ada orang yang berduaan itu, kalau tiba-tiba ada orang ketiga, biasanya orang ketiga itu apa?" Rara buka suara, dengan nada menyindir.
"Biasanya sih itu setan," jawab Daniel yang tahu maksud dari pertanyaan sang istri.
"Kalian mau bilang kalau aku itu setan?" Tasya langsung berdiri dan menatap tajam ke arah Rara dan Daniel bergantian.
"Aku tidak ada bilang lho. Kamu aja yang ngomong begitu sendiri," jawab Rara santai.
"Aku kan hanya bermaksud baik, Ra. Aku tidak mau kalian berdua khilaf di sini. Buktinya tadi, Daniel udah berani nyosor cium jidat kamu,"
"Tasya, itu cium jidat! gak mungkin cium jidat itu bisa khilaf," Rara menggigit bibirnya merasa geram dengan ucapan Tasya.
"Jangan salah, Ra. Awalnya aja di jidat, habis itu ke hidung, baru itu tanpa sadar turun ke bibir. Nah kalau udah mendarat di bibir, aku gak berani jamin kalau kalian berdua bisa menahan diri. Jadi, sebelum itu terjadi, sebaiknya aku jagain kalian berdua," celoteh Tasya berlagak pintar, karena menurutnya dia lebih berpengalaman dari Rara.
"Tas, kamu kenapa sih? kita itu tidak perlu kamu jagain. Sekarang kamu tenang saja, karena kami jamin kalau yang kamu takut kan itu tidak akan terjadi. Kami juga tidak mungkin segila yang kamu pikirkan. Jadi, sekarang kamu bisa pergi dari sini ya! apa kamu tidak takut kalau Kama digoda sama wanita lain. Kamu tidak lihat kalau di sini tuh, banyak wanita yang cantik-cantik?" Rara menunjuk ke arah beberapa wanita muda yang tampil sangat seksi.
Raut wajah Tasya sontak berubah panik.
"Aku tidak mau! kalau begitu aku turun dulu!" Rara dan Daniel berusaha menahan tawa, melihat wajah Tasya yang ketakutan. Baru saja mereka berdua menarik napas lega, tiba-tiba mereka kaget lagi, melihat Tasya yang kembali naik ke atas dan sudah berdiri di samping Rara.
"Ra, aku cuma mau ingetin kamu, jangan pernah sesekali nanyain apapun tentang apa yang akan kamu lakukan di malam pengantin pada Alena, karena ajarannya sesat. Nanti kalau kalian berdua bercumbu, jangan kamu gigit lidah Daniel ya! dan satu lagi, jangan takut, karena rasanya hanya sakit sebentar saja, selebihnya kamu akan ___" Rara sontak berdiri dan membungkam mulut adiknya itu, yang menurutnya sangat frontal. Sementara itu, wajah Daniel sudah memerah, bukan karena malu, tapi karena berusaha menahan tawa.
Tan song Yun (Seven Tan) as Rara
Kenny Lin as Daniel
Tbc
Maaf, kemarin tidak up, karena ada urusan penting. Mohon dimaklumi ya, Guys. Thank you 🙏🏻😍
__ADS_1