
Hati berganti hari, hari ini adalah hari di mana Calista selesai datang bulan. Hari ini, wanita itu berencana untuk melakukan perawatan di salon dan Spa supaya terlihat segar untuk ritual pencoblosan nanti malam.
Dia meraih ponselnya dan berniat untuk menghubungi Alena, untuk mengajak istri Arend itu ikut bersamanya.
"Halo, Calista!" terdengar suara Alena yang sangat lembut dari ujung telepon.
"Len, kami sibuk gak hari ini?" tanya Calista.
"Emmm, udah nggak terlalu sih. Nih baru aja aku istirahat setelah memantau persiapan restoranku yang mau bau buka. Emang kenapa Lis?" tanya Alena.
"Hmm, cocok tuh. Kamu butuh refreshing, biar otakmu segar kembali. Aku jemput kamu ya, kita ke salon, buat perawatan," Calista berucap dengan sangat riangnya.
"Emangnya aku terlihat tidak terawat ya?" tanya Alena dengan polosnya.l
"Bukan tidak terawat Markonah! maksud aku tuh kita perawatan biar kita semakin cantik," jelas Calista.
"Emm, gimana ya? apa itu sangat penting?" Alena terdengar sangat enggan untuk mengiyakan ajakan Calista.
"Ah, sudah deh! tidak ada penolakan, pokoknya aku jemput kamu, sekarang. Nanti aku akan ajak Kalila juga," Calista langsung memutuskan panggilan secara sepihak sebelum Alena kembali menolak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kalian berdua saja ya, yang perawatannya. Aku menunggu kalian berdua aja di sini," ucap Alena yang langsung duduk di atas sofa yang dipersiapkan bagi orang yang sedang menunggu.
"Tidak boleh! kamu juga harus ikut. Atau kamu nggak dikasih uang ya sama kak Arend?" Kalila buka suara dengan alis yang naik ke atas menyelidik.
"Iya, aku tidak dikasih uang sama dia. Tapi aku dikasih ini," Alena merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu yang berbentuk seperti ATM berwarna black. "Apa ini bisa digunakan? kata mas Arend, kalau aku mau beli sesuatu aku bisa pakai ini," ujar Alena sambil kembali memasukkan kartu tersebut ke dalam tasnya.
"Ya ampun Alena, tentu saja kamu bisa menggunakannya. Kamu bisa belanja apa saja dengan memakai kartu itu," ucap Calista.
"Oh, iya kah?"
__ADS_1
Calista dan Kalila menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Udah ah, jangan banyak bicara lagi! kita langsung perawatan saja. Habis itu kita shoping," Calista menarik tangan Alena, sehingga mau tidak mau wanita itu pun tidak bisa menolak lagi.
Cukup lama ketiga wanita itu melakukan treatment-treatment yang membuat tubuh ketiganya terasa rileks dan lebih segar. Alena merasa seperti seorang ratu yang dilayani dan dimanjakan oleh para dayang-dayangnya, walaupun pada awalnya dia merasa sungkan ketika dia melakukan manicure dan pedicure, dimana beauty therapist, berada di bawah kakinya dan melakukan perawatan buat kuku-kuku kakinya, karena kalau boleh dikatakan, ini adalah pengalaman pertama baginya untuk melakukan perawatan di salon kecantikan yang sangat besar dan mewah seperti ini.
Alangkah kagetnya Alena, begitu melakukan pembayaran, harga yang harus dia bayar 3 kali lebih besar dari biaya hidupnya, selama 1 bulan.
"Kok biayanya semahal itu sih?" sungut Alena begitu mereka keluar dari salon kecantikan itu.
"Mahal bagaimana? itu sudah murah lho. Karena kita datangnya bertiga, kita sudah diberi diskon 10 persen. Lagian, hasilnya kan memuaskan. Sekarang, let's go kita lanjut shoping," ujar Calista dengan riangnya.
"Kalian berdua saja ya. Aku tiba-tiba ada urusan penting," celetuk Kalila sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas setelah membaca pesan Anin mamanya, yang memintanya untuk datang ke butik Celyn. Mamanya itu memintannya untuk memilih design gaun pengantin yang akan dipakainya nanti di acara pernikahannya dengan Carlos.
"Ok, enjoy your self, Lila!" sahut Calista.
Kalila berusaha untuk tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Wanita itu langsung melangkah dengan gontai menuju mobilnya meninggalkan Calista dan Alena.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ekspresi Alena sangat jauh berbeda dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Calista. Wanita itu justru terlihat sangat excited untuk memilih lingerie berbagai warna yang menurutnya sangat menantang itu.
Di kepalanya sudah berkelebat bayangan Arick yang pasti akan terpesona melihat dirinya memakai pakaian haram itu.
"Oh ya, Alena. Apa pakaian dalam yang aku pilihkan ke kamu itu sesuai untukmu? tidak kekecilan atau kebesaran kan?" celetuk Calista tiba-tiba.
"Jadi, kamu yang memberikannya untukku?". Calista menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Iya. Kak Arend meminta tolong padaku untuk membelikannya untukmu," sahut Calista , melirik sekilas sambil menerbitkan senyum manisnya.
"Dari mana kamu bisa tahu ukuranku?" tanya Alena dengan kening yang bertaut.
__ADS_1
"Oh, tentu saja dari Kak Arend sendiri," jawab Calista yang membuat mata Alena seketika kembali membesar mendengar jawaban Calista.
"Dari mana dia bisa tahu ukuranku?" gumam Alena, sangat pelan tapi sayangnya masih bisa didengar oleh telinga Calista.
"Kenapa tidak? bukannya tiap malam dia menyentuh tubuhmu? pastilah dia tahu ukuran milikmu," ucap Calista dengan nada yang menggoda.
"Aku mau tanya, bagaimana rasanya? apa sangat nikmat?" sambung Calista, penasaran.
"Emm ... emm," Alena terlihat gelagapan, "kenapa kamu menanyakan hal itu? bukannya kamu juga sudah merasakannya?" Alena balik bertanya. "Jangan bilang, kamu dan Arick belum ...."
"Em, tentu saja sudah," giliran Calista yang gelagapan. "Rasanya sangat ... pokoknya tidak bisa diucapkan dengan kata-kata," imbuh Calista, dengan raut wajah yang sangat menyakinkan.
"Segitu nikmatnya kah?" bisik Alena pada dirinya sendiri.
"Aku memang memang belum merasakannya, tapi nanti malam aku on the way merasakannya," batin Calista seraya senyum-senyum sendiri.
"Nih, buat kamu! kamu pakai ini, pasti Kak Arend akan suka. Aku juga ambil satu buatku," Calista memberikan lingerie berwarna merah darah pada Alena. Alena ingin sekali menolak tapi dia tidak mau Calista curiga kalau dia menolaknya.
"Aku rasa aku sudah cukup. Apa kamu masih mau nambah lagi?" tanya Calista.
"Tidak! aku rasa, yang ini juga sudah cukup," jawab Alena.
"Ini aja belum tentu aku pakai. Ngabisin duit aja ini namanya," Alena bermonolog pada dirinya sendiri sambil menatap ke arah lingerie-lingerie berbagai macam warna, yang merupakan pilihan Calista itu.
Setelah melakukan pembayaran keduanya keluar dari toko itu dan langsung masuk ke dalam mobil.
Sementara itu, di kantor Cakra, Arend merogoh ponselnya karena ponselnya itu kembali berbunyi.
Dia melihat pemberitahuan yang sama seperti dua jam yang lalu yaitu pengeluaran dari kartu kredit yang dia berikan pada Alena. Matanya membesar melihat nominal uang yang keluar kali ini.
"Wah, belanja apa dia sampai sebanyak ini? ck," batin Arend seraya berdecak, kemudian dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.
__ADS_1
Tbc