Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Menikahlah dengan Kalila


__ADS_3

Di kediaman Calvin dan Cantika.


"Ini kan weekend, Cakra. Gimana kalau kamu pergi ke rumah om Kenjo? ajak main Kalila gitu ke, masa mau tinggal di rumah aja sih seharian?" ucap Cantika, yang sedikit gemas melihat kedua putranya yang sangat betah berada di rumah.


"Ngapain, aku ngajak Kalila segala, Ma? mama ini ada-ada aja deh," jawab Cakra dengan mata yang tetap fokus pada ponselnya.


"Kan supaya kalian semakin dekat. Atau bagaimana kalau kalian berdua menikah aja?"


"Apaan sih, Ma mau main nikah-nikahin segala? Calista bahkan baru saja menikah," protes Cakra sambil menggelengkan kepalanya.


"Kan gak masalah. Uang papamu kan banyak, uangmu juga gak kalah banyak kan?" ucap Cantika asal.


Cakra berdecak, dan menghela napasnya dengan sekali hentakan. "Yang jadi masalah sekarang, aku tidak mau menikah dengan Kalila."


Bukan hanya Cantika yang kaget mendengar ucapan bernada tegas dari Cakra. Carlos bahkan tidak kalah kagetnya dari Cantika mamanya.


"Kenapa kamu tidak mau? bukannya kemarin-kemarin kamu sudah bersedia?" tanya Cantika dengan alis yang terangkat ke atas, curiga.


"Itukan dulu karena aku ingin membuat mama senang aja. Sekarang, aku sama sekali tidak bersedia, ma untuk menikah dengan Kalila. Aku minta maaf!" Kali ini, mata Cakra sudah tidak ke arah ponsel lagi. Tapi dia menatap mamanya dengan sorot mata yang sama sekali tidak bercanda.


"Kenapa kamu tidak mau, Cakra? mama sudah menginginkan Kalila jadi menantu mama sejak dia lahir."


"Kan itu kemauan, Mama bukan kemauanku. Kalau Mama mau dia jadi menantu Mama, lebih baik Mama minta Carlos aja yang menikah dengan Kalila."


"Kok aku?" timpal Carlos "kan yang dijodohkan dengan dia itu kamu," imbuhnya kembali.


"Tapi kali ini aku benar-benar tidak mau. Aku sangat minta maaf untuk itu. Aku pamit ke kamar, Ma, Pa." Cakra langsung beranjak dari tempat dia duduk dan langsung naik ke atas menuju kamarnya.


"Itulah, makanya jangan asal main jodoh-jodohkan segala. Yang ada nanti akan ada salah satu pihak yang sakit hati kalau ditolak," Calvin buka suara menimpali pembicaran istri dan anaknya tadi.

__ADS_1


Cantika sontak menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Calvin suaminya. "Apa kamu sudah bercermin dulu sebelum mengucapkan kata-katamu itu? Kamu juga dari kecil menjodohkan Calista kan dengan salah satu anaknya Kak Aby? dan bahkan putrimu hampir menikah dengan Arend, pria yang tidak dia cintai," ucap Cantika dengan ketus, membuat Calvin terdiam tidak bisa mendebat istrinya itu. Karena yang baru saja keluar dari mulut istrinya itu, benar adanya.


"Hmm, Maaf deh, Sayang. Jadi bagaimana? apa kamu masih mau melanjutkan perjodohan mereka?"


Cantika menghela napasnya, kemudian memijat-mijat kepalanya, yang mendadak pusing. Bagaimana tidak baru tadi malam dia membicarakan hal ini dengan Anin, dan menurut Anin Kalila sudah bersedia.


"Aku nggak tahu lagi, Sayang. Padahal tadi malam kak Anin mengabari kalau Kalila bersedia menikah dengan Cakra. Tapi, kalau Cakra gak mau begini, gimana aku mau bilangnya ke kak Anin?" ucap Cantika frustasi.


"Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan dulu. Biar nanti aku yang akan bicara dengan Cakra," pungkas Calvin menenangkan istrinya.


"Cakra itu keras, Sayang. Kalau dia sudah mengatakan tidak, akan sulit mengubahnya untuk menjadi iya." ucap Cantika, merasa ragu.


"Buktinya, dia pernah mengatakan bersedia kan? mudah-mudahan nanti setelah aku yang bicara, dia berubah pikiran dan bersedia,"


"Ya, mudah-mudahan," ucap Cantika berusaha tenang dan percaya pada Calvin suaminya.


Sementara itu Calvin dan Cantika saling silang pandang, penuh tanya apa maksud dari perkataan Carlos.


"Apa, maksud Carlos, kalau Cakra sudah punya kekasih, Sayang?" tanya Cantika dengan perasaan was-was.


"Aku tidak tahu. Kalau iya, berarti akan sangat sulit untuk membujuknya untuk menikah dengan Kalila. Dan kita sebagai orang tua juga tidak boleh memaksakan kehendak." ucap Calvin, bijaksana.


"Emm, bagaimana kalau kita pergi ke rumah Aby saja. Bukannya kamu ingin sekali melihat baby Ivan?" celetuk Calvin tiba-tiba, begitu melihat istrinya yang terdiam.


"Emm, iya deh! ayo kita ke sana. Aku kangen Baby Ivan." Raut wajah Cantika kembali sumringah, mendengar nama Ivan. Entah kenapa, pertama kali melihat bayi itu, dia langsung sangat sayang pada anak itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Carlos, masuk begitu saja ke kamar Cakra tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.

__ADS_1


"Mau apa kamu? lain kali kalau mau masuk, ketuk pintu dulu!" protes Cakra dengan nada ketus.


"Eit, santai Bro. Biasanya juga, aku kan begitu. Kamu juga begitu. Apa mulai sekarang kita buat peraturan baru, ' bagi siapa yang mau masuk kamar, harus ketuk pintu dulu!' begitu ya?" ucap Carlos dengan nada yang meledek.


Cakra tidak menjawab sama sekali. Dia hanya berdecih dengan sudut bibir yang terangkat sedikit ke atas.


"Hey, Bro. Kenapa kamu menolak menikah dengan Kalila? bukannya kamu menyukai dia dari dulu? pas aku menawarkan diriku, kamu malah marah samaku, sekarang giliran kamu yang diminta untuk menikahinya, kamu malah menolak. Aneh kamu, sumpah," Ucap Carlos sambil memukul pundak kakaknya itu dengan pelan.


"Kenapa kamu masih menanyakan hal itu? kamu sudah tahu kan jawabannya?" sahut Cakra sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kamu masih memikirkan kejadian itu? itu bahkan sudah hampir dua tahun, Bro. Lagian belum tentu benar juga kan? mungkin aja hari itu hanya perasaanmu saja." ucap Carlos.


"Aku yakin, kalau itu bukan hanya perasaanku saja. Aku ingat jelas, kalau ada seorang wanita yang menjerit memohon supaya aku tidak melakukannya. Tapi sialnya kenapa aku tidak bisa mengingat wajah wanita itu." Cakra mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


"Tapi buktinya, dia tidak mencarimu dan meminta pertanggungjawaban, kan?"


"Tapi rasa bersalah itu masih melekat sampai sekarang, Carl. Aku tidak tenang sebelum tahu bagaimana keadaan wanita itu," terlihat wajah Cakra yang sangat frustasi.


"Sudahlah, lupakan masalah itu! Kamu jangan terus menerus hidup dengan kesalahan yang kamu lakukan tanpa sadar. Doakan saja yang terbaik pada gadis itu."


"Tidak semudah itu, Carl. Asal kamu tahu, bercak darahnya ada di atas sprey. Itu pertanda kalau aku yang sudah merusaknya. Hal yang paling aku khawatirkan, kalau dia bunuh diri karena frustasi. Coba kamu pikir, seberapa berdosanya aku, bila itu benar-benar terjadi!" Cakra berucap dengan sangat emosional.


Carlos bergeming dan merasa simpati dengan apa yang dirasakan oleh Cakra, yang hampir dua tahun ini, hidup dengan rasa bersalah. Dia sudah berusaha untuk mencari gadis itu, tapi tidak berhasil karena terkendala dengan minimnya informasi tentang gadis itu.


"Carl, aku mohon, menikahlah dengan Kalila. Aku merasa kamulah yang pantas untuknya. Dia bukan untukku,"


Tbc


Sudah bisa tebak, siapa wanita yang dimaksud oleh Cakra?😁

__ADS_1


__ADS_2