
"Oh, sebenarnya bayi itu bukan anak Alena, Tuan. Alena belum pernah menikah dan hamil." jawab Sarni yang membuat kening Arend seketika berkerut bingung.
Sarni melirik ke arah Alena pergi tadi, berjaga-jaga kalau gadis itu tiba-tiba datang. Setelah dia memastikan kalau gadis itu belum juga datang, dia pun kembali beralih ke arah Arend yang masih setia menunggu penjelasan dari dirinya.
"Alena menemukan bayi itu di depan rumah kontrakannya, Tuan. Entah siapa yang begitu tega membuang anaknya. Kami sudah meminta dia untuk membawa bayi itu ke dinas sosial, tapi dia sama sekali tidak mau. karena dia merasa belum tentu akan ada orang yang akan merawat anak itu dengan sepenuh hati. Padahal kondisinya juga saat itu sangat memprihatikan." jelas Sarni sambil sesekali melihat apakah Alena sudah datang kembali.
"Memprihatikan? maksudnya?" Kening Arend berkerut, penasaran.
"Saat itu dia belum memiliki pekerjaan, karena baru diusir sama bibinya. Saat itu dia hanya memiliki sedikit tabungan. Aku tidak bisa melarang dia untuk merawat bayi itu. Dan aku bersedia menjaga bayi itu, ketika dia mencari pekerjaan sampai akhirnya dia mendapat pekerjaan." tutur Sarni, membuat Arend seketika merasa simpati dengan gadis bernama Alena itu.
"Bude, kenapa dia diusir bibinya? kemana orang tuanya?"
Sarni menghela napasnya terlebih dulu sebelum kembali menjawab. Kemudian wanita setengah baya itu pun menjelaskan kalau Alena sudah tidak memiliki orang tua, karena kedua orang tua gadis itu sudah meninggal karena kecelakaan, dan asuransi jiwa orang tuanya diambil oleh bibi gadis itu, sedangkan pamannya tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan istrinya.
"Apa yang sedang kalian berdua bicarakan? sepertinya sangat serius? Tidak ada apa-apa kan pada Ivan?" tiba-tiba Alena sudah berdiri di dekat mereka hingga membuat Sarni terjengkit kaget, demikian juga dengan Arend.
"Alena, kenapa kamu muncul tidak bilang-bilang? bikin jantung bude hampir copot saja," Sarni menepuk-nepuk pelan dadanya.
"Tidak mungkin kan, aku dari jauh sudah berteriak mengumumkan kehadiranku, Bude. Bude sama Tuan ini saja yang tidak menyadari, karena kalian berdua terlalu serius berbicara."ujar Alena dengan bibir yang mengerucut.
"Tapi tidak terjadi apa-apa kan pada baby Ivan?" Alena kembali bertanya dengan wajah panik.
"Tidak ada kok, sama sekali tidak ada." sahut Sarni, meyakinkan.
"Aku keluar sebentar, ada yang mau urus," celetuk Arend.
"Sekali lagi terima kasih,Tuan? kalau nanti aku sudah punya uang aku janji akan membayar semuanya,"
Arend berdecak kesal. Akan tetapi dia tetap melangkah pergi, tanpa menanggapi ucapan gadis itu.p
Sekitar 20 menit kemudian, Arend kembali masuk menemui Alena dan Sarni.
__ADS_1
"Hmm Alena!" panggil Arend yang membuat gadis itu sontak menoleh ke arahnya.
"Tuan tahu nama saya?"
"Tadi, Bude yang kasih tahu nama kamu," Sarni buka suara.
"Alena, kalau anak kamu sudah sembuh, kamu boleh mendatangi alamat ini. Ini butik mama saya kamu bisa bekerja di sini."
"Ta-tapi, Tuan. Nanti kalau ditanya __"
"Tadi aku sudah menelepon mama, dan katanya kamu datang aja," Arend langsung memotong ucapan Alena, sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berganti hari, tepatnya sudah lebih dari seminggu Arick menjadi seorang suami dari wanita bernama Calista. Sekarang mereka berdua sudah tinggal di sebuah rumah mewah, milik Arick sendiri.
Tidak ada yang berubah sama sekali, belum terlihat adanya kemesraan pada kedua orang ini, seperti yang biasa terjadi pada pasangan pengantin baru pada umumnya. Arick masih tetap seperti biasa, bersikap dingin pada Calista, sedangkan Calista tetap berusaha untuk bersikap hangat pada pria itu.
"Kemana sih dia? kenapa belum juga masuk?" bisik Arick pada dirinya sendiri.
"Kenapa coba harus menonton di bawah? di kamar kan bisa." Arick tidak berhenti menggerutu di dalam hati.
"Apa aku harus turun kembali dan ikut menonton dengannya? tapi, tadi aku kan sudah menolaknya,"
Arick berjalan mondar-mandir di depan pintu. Dia sudah menyentuh handle pintu dan hampir membukanya, akan tetapi dia kembali mengurungkannya, dan kembali lagi duduk di atas ranjang. Begitulah seterusnya.
Arick melihat ke arah jam di dinding, sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.
"Ah aku harus turun dan melihat dia," pungkas Arick akhirnya benar-benar keluar untuk melihat apa yang dilakukan oleh istrinya sekarang.
Arick melihat posisi Calista dari belakang. Istrinya itu, duduk menyender dengan TV yang menyala di depannya.
__ADS_1
Arick menghela napasnya, dan mengayunkan kakinya melangkah mendekati, alangkah kagetnya dia, melihat kalau ternyata mata wanita itu terpejam. Arick berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Dia meraih remote control dan langsung mematikan televisi. Kemudian Arick mengangkat tubuh Calista ala bridal style dan membawa istrinya itu naik ke atas.
"Haish, badannya aja terlihat kecil, ternyata kamu berat juga," gumam Arick, yang masih bisa didengar Calista. Ternyata wanita itu, sudah terjaga ketika Arick berniat menggendongnya tadi. Tapi dia berpura-berpura tidur supaya pria yang dicintainya itu tetap menggendongnya sampao ke atas.
Begitu masuk ke dalam kamar, Calista langsung melompat turun dari gendongan Arick hingga membuat pria itu terlonjak kaget.
"Terima kasih, Kak!" ucap Calista dengan senyum yang memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Ka-kamu! sejak kapan kamu bangun?" tanya Arick di sela-sela kekagetannya.
"Sejak kakak tadi menggendongku. Ternyata enak juga ya digendong sama kakak."
"Kenapa kamu tidak langsung turun dan jalan sendiri tadi? kamu tahu lengan dan lututku hampir patah menggendong kamu." protes Arick, dengan memperlihatkan tampang kesal.
"Buat apa? aku tidak mau kehilangan momen, kakak menggendongku. Kan ini yang pertama kalinya."
"Enak saja bilang ini pertama kalinya. Aku sudah pernah ...." Arick menggantung ucapannya, karena tiba-tiba tersadar kalau dia hampir saja keceplosan yang dia pernah dengan paniknya menggendong Calista sambil berlari ke UKS waktu SMA. Pada saat itu Calista siswa baru dan dirinya panitia MOS. Calista saat itu pingsan karena kecapekan. Dia ingat jelas, pada sat itu Arend datang menyusul ke UKS dan menuduhnya sengaja membuat Calista lelah.
"Pernah apa, Kak? jangan bilang kalau kakak sudah pernah menggendongku sebelum ini?" desak Calista dengan wajah yang berbinar.
"Lupakan! Jangan besar kepala. Ini adalah yang pertama kali aku menggendongmu dan kalau kamu ketiduran lagi di bawah, aku pastikan kalau aku akan membiarkanmu tidur di bawah." Arick mengalihkan pembicaraan dan langsung naik ke atas ranjang, kemudian membaringkan tubuhnya membelakangi Calista.
"Nggak! aku yakin kalau kakak sudah berkali- kali menggendongku. Pada saat aku pingsan pada saat MOS dulu, temanku bilang kalau kakak yang menggendongku dan aku sangat percaya itu walaupun ketika aku sadar, Kak Arend yang aku lihat. Ketika aku pingsan kena bola basket dulu, kakak juga kan yang menggendongku ke UKS? ayo jawab, Kak!". Calista mengguncang-guncang bahu Arick dari belakang.
"Haish, kenapa dia bisa tahu?" batin Arick .
"Apaan sih, berisik! ayo tidur!" ucap Arick tegas untuk menutupi kegugupannya.
"Tidur? apa malam ini kita juga gak anuan, Kak?"
Tbc
__ADS_1