Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Kamu aku pecat!


__ADS_3

"Kenapa, Rend? apa ada masalah?" tanya Arick yang mendengar suara decakan dari mulut Arend. Semua mata langsung menoleh ke arah Arend dengan sorot mata yang juga penasaran.


"Kenapa kalian semua melihatku? tidak ada masalah sama sekali," jawab Arend, santai.


Mereka berlima, Arick, Arend, Kama, Cakra dan Carlos kembali melanjutkan pembicaraan mereka, yang membicarakan sebuah proyek kerja sama yang ditawarkan oleh perusahaan raksasa dari Inggris.


"Hmm, aku rada-rada ngantuk, Cakra. Apa di kantormu ini, tidak ada kopi buat tamu?" sindir Kama secara halus.


"Kamu kalau mau kopi, bilang aja. Gak usah nyindir-nyindir begitu," ucap Cakra ketus yang disambut dengan kekehan dari mulut Kama.


Kemudian pria itu, meraih telepon di atas meja, dan menghubungi sekretarisnya, untuk meminta Safira mengantarkan kopi buat mereka berlima.


Cakra kembali mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa sambil menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa. Bukan hanya dirinya Arend dan Arick juga melakukan hal yang sama.


"Kita rileks dulu sebentar! nanti kita lanjutkan lagi," Carlos buka suara.


"Cakra, kenapa kamu menolak menikah dengan Kalila? padahal selama ini kamu sepertinya memberikan harapan buat kakakku itu," celetuk Kama yang kembali bersuara dengan nada kesal. Karena dia tahu kalau sebenarnya Kalila sudah sempat terbawa perasaan pada Cakra yang terkesan memberikan harapan itu.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu lagi? bukannya kamu sudah tahu jawabannya?" Cakra balik bertanya.


"Apa ini masih berkaitan dengan masalah gadis dua tahun lalu itu?"


"Itu kamu tahu jawabannya. Apa kamu mau aku menikah dengan Kalila sedangkan pikiranku masih diliputi rasa bersalah pada wanita lain? Kalila pasti tidak akan merasa bahagia, Kam." jelas Cakra dengan helaan napas berat.


"Tentu saja aku tidak rela, kalau kamu masih memikirkan wanita lain, padahal istri kamu kakakku," tegas Kama.


"Karena alasan itulah aku menolak menikah dengan Kalila. Lagian sebentar lagi, Carlos kan akan menikah dengan Kalila? kenapa kamu masih membahas masalah itu denganku?"


"Aku hanya ingin memastikan saja," jawab Kama, asal.


Tok ... tok ... tok


Terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar.


"Masuk!" titah Cakra dengan sedikit berteriak.


Pintu dibuka secara perlahan oleh Sita karena kedua tangan Safira sedang memegang nampan dengan 5 gelas kopi di tangannya.

__ADS_1


Safira meneguk ludahnya sendiri, begitu melihat ada 5 laki-laki tampan di ruangan itu. Entah kenapa pikiran kotor langsung berkelebat di pikirannya.


"Apa, Pak Cakra sengaja memanggil teman-temannya untuk menggilirku?" bisik Safira dalam hati dan langkah kaki yang sedikit gemetar.


Safira menahan napasnya dan memberanikan diri untuk mendekat ke arah ke lima pria itu. Dia merasa kalau sekarang fokus kelima pria itu mengarah ke padanya.


Sementara itu, Arend memperhatikan secara seksama wanita yang sedang membawa nampan itu. Dia dapat melihat dengan jelas, kalau wanita itu sedang gemetaran.


"Apa itu wanita yang kamu maksud itu?" bisik Arend tepat di telinga Cakra. Cakra tidak menyahut, tapi dia membenarkan dengan sebuah anggukan.


Safira sudah semakin dekat dengan sofa, di mana para pria tampan itu berada. Karena terlalu gugup, kopi yang hendak dia letakkan di atas meja atau di depan masing-masing pria-pria itu, tumpah dan membasahi dokumen kerja sama yang berada di atas meja.


"Apa-apaan kamu?!" bentak Cakra dengan suara yang sangat tinggi sambil berdiri, hingga membuat Safira seketika terjengkit kaget serta ketakutan.


"Ma-maaf, Pak Cakra! aku benar-benar tidak sengaja." desis Safira dengan lirih disertai dengan wajah pucatnya.


"Apa kamu kira dengan hanya minta maaf saja, dokumen ini bisa kembali seperti semula, hah?! apa kamu tidak tahu, kalau dokumen ini sangat penting?!" volume suara Cakra masih belum menurun. Dia menatap tajam ke arah Safira yang sedang menunduk.


"Cakra, sudahlah! kamu jangan membentak dia lagi! kalau masalah dokumen ini, nanti kita bisa meminta salinannya lagi, dari perusahaan itu,". Arick berdiri dan menekan pundak Cakra agar duduk kembali.


Cakra mengusap wajahnya dengan kasar, dan menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengembuskannya ke udara, untuk mengurangi rasa kesalnya. Sebenarnya hal yang membuat dirinya sangat kesal, bukan karena dokumen yang basah itu, tapi lebih ke arah sikap Safira yang masih saja tetap selalu ketakutan begitu melihat wajahnya. Dia benar-benar merasa jengkel karena sampai sekarang dia belum menemukan jawaban kenapa wanita itu selalu ketakutan padanya.


Tidak ada sahutan dari Safira. Wanita itu masih tetap pada posisinya yang menunduk dengan tangan yang saling meremas.


"Kenapa kamu hanya diam?! apa kamu tidak punya mulut untuk menjawab?!" Cakra benar-benar merasa sangat marah kini.


"Cakra! sudahlah! kamu semakin membuat dia ketakutan," Arend yang tadinya hanya diam, akhirnya turun tangan untuk menenangkan sahabatnya itu.


"Kamu keluar dari sini, dan jangan kembali lagi besok. Kamu aku pecat!" ucap Cakra tiba-tiba membuat mata setiap orang yang ada di ruangan itu membesar kaget mendengar keputusan yang diambil oleh Cakra.


Sementara itu, air mata tiba-tiba merembes keluar dari mata Safira. Dia tidak menyangka kalau dirinya dipecat begitu saja.


Safira memutar tubuhnya, dan berlari keluar dari ruangan itu. Dia sama sekali tidak berniat untuk memohon-mohon pada pria dia benci itu.


"Cakra, apa kamu tidak berpikir kalau kamu itu sudah sangat keterlaluan? kamu sudah membentaknya di depan kami semua sekarang kamu juga memecatnya. Kamu kan tahu kalau dia punya anak yang harus dia hidupi?" ucap Arend, benar-benar tidak habis pikir.


"Apa, wanita tadi punya anak? dari mana kamu tahu?" celetuk Kama, penasaran.

__ADS_1


"Aku tahu dari dia," jawab Arend sambil menunjuk ke arah Cakra yang terlihat sangat frustasi dan lemas.


Sementara itu, Safira langsung berlari menuju lokernya untuk mengganti pakaiannya dengan air mata yang tidak berhenti menetes.


Hal ini mengundang tanda tanya dari Tasya sahabatnya. Wanita itu langsung menghampiri Safira untuk bertanya apa yang sedang terjadi.


"Safira kamu kenapa? kenapa kamu kamu berganti pakaian? apa ada sesuatu yang terjadi pada baby Ian?" cecar Tasya, dengan raut wajah yang khawatir.


Safira tidak menjawab sama sekali. Dia hanya menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban dengan air matanya tidak berhenti merembes dari matanya, hingga membuat Tasya semakin bingung dan penasaran.


"Kalau tidak ada masalah dengan baby Ian, jadi kamu kenapa? kenapa kamu mau pulang? ini belum jamnya pulang, Fira. Kalau kamu pulang sekarang kamu bisa di__"


"Dipecat? aku justru mau pulang, karena aku dipecat, Tas," ucap Safira seraya menangis sesunggukan.


"Apa?! kamu dipecat? tapi kenapa?" seru Tasya dengan mata yang membesar tidak percaya.


Akhirnya Safira pun menceritakan apa yang sudah terjadi, mulai dari awal dia masuk ke dalam ruangan, kesalahan yang dia buat karena terlalu gugup dan takut serta Cakra yang membentaknya, menanyakan kenapa dirinya ketakutan pada pria itu hingga berakhir pada pemecatan.


Tasya mengepalkan kedua tangannya. Gadis itu terlihat sangat marah kini. Kalau seandainya bisa terlihat, asap sudah keluar dari ubun-ubun kepalanya karena amarah sudah seperti api yang membakar.


"Aku harus menemui pak Cakra. Dia tidak boleh semena-mena seperti ini," ujar Tasya seraya memutar tubuhnya dan hendak berlalu pergi menuju ruangan Cakra.


"Jangan, Tas! kamu bisa kehilangan pekerjaan nantinya. Dia orang yang berkuasa, jadi bagaimanapun kamu tidak akan menang," Safira berusaha menghalang-halangi langkah Tasya.


Tasya bergeming, terdiam untuk beberapa saat, berpikir kalau yang diucapkan oleh Safira itu benar adanya.


"Fira, mending kamu pulang dulu sekarang! nanti kalau ada informasi pekerjaan di tempat lain, aku akan infokan ke kamu," pungkas Tasya akhirnya.


Safira memeluk Tasya serai mengucapkan terima kasih. Kemudian wanita itu melangkah pergi dengan langkah yang gontai dan lemas.


Sementara itu, di ruangan Cakra terlihat hening karena semuanya larut dalam pikirannya masing-masing.


Brak ....


pintu tiba-tiba dibuka secara paksa, hingga membuat kelima pria tampan itu terjengkit kaget.


Tbc

__ADS_1


minta dukungan vote rekomendasinya dong, guys. Jangan lupa buat tetap like, dan komen juga ya. Kasih hadiah juga boleh 😁🙏🏻


__ADS_2