Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Hari pertama Safira


__ADS_3

Safira terlihat sudah rapi dengan memakai celana jeans hitam yang dipadu padankan dengan kemeja biru dengan kerutan di kedua lengannya.


Dia mematut dirinya di cermin yang ada di lemari pakaiannya, untuk memastikan apakah dirinya sudah cukup rapi atau belum.


"Sayang, doa'in mama, biar pekerjaan mama lancar ya. Biar mama bisa punya cukup uang, dan kita bisa mencari kakak kamu lagi, supaya kita bisa hidup bertiga,"


Baby Ian hanya mengoceh sambil tersenyum dengan manik mata yang berbinar, seakan mengerti apa yang di ucapkan oleh mamanya.


"Pintar anak mama!" Safira mencubit gemas pipi sang anak, kemudian menggendong sang anak dan menciumi wajah anaknya itu.


Safira meraih tas salempang kecilnya dan tas yang berisi keperluan baby Ian. Kemudian dia keluar dari rumah menguncinya dan langsung melangkah menuju rumah Sarni untuk menitipkan sang anak.


"Bude! Bude Sarni!" panggil Safira sambil mengetuk-ngetuk pintu.


"Ya, sebentar!" suara Sarni menyahut dari dalam.


"Eh, kamu sudah mau berangkat ya, Fir?" tanya Sarni begitu pintu sudah terbuka.


"Iya, Bude! aku titip Ian ya,"


Ian kini sudah berpindah tangan dari Safira kini sudah berada di gendongan Sarni.


"Ini perlengkapan Ian ya, Bude," ucap Safira, seraya memberikan tas yang ada di tangannya.


"Ya udah, kamu berangkat aja sekarang! takut nanti kamu telat Tidak baik hari pertama kerja, tai sudah telat," Sarni memperingatkan.


"Baik, Bude. Aku berangkat dulu!" Safira mencium punggung tangan wanita setengah baya itu, kemudian mencium kembali putranya yang tersenyum padanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Safira sini!" Natasya atau yang sering dipanggil Tasya, melambaikan tangannya ke arah Safira. Dia adalah sahabat Safira waktu SMK dan dari dialah Safira mendapatkan informasi tentang lowongan pekerjaan ini.


"Aku belum terlambat kan?" tanya Safira begitu jaraknya sudah dekat dengan Tasya.

__ADS_1


"Belum kok. Tapi 5 menit lagi kamu tidan nyampe, kamu bakal telat ...."


"Dan itu sesuatu hal yang sangat memalukan, telat di hari pertama bekerja," Safira langsung menyela ucapan Tasya, yang dia yakin pasti akan mengatakan hal itu


"Ya udah, ayo! kita jangan ngobrol di sini, nanti bakal banyak yang nyiyir, bilang kita gak bekerja," ajak Tasya sambil menarik tangan Safira.


"Kita mau kemana? apa yang harus aku lakukan? yang mana yang harus baku bersihkan?" cecar Safira beruntun sambil mengikuti langkah Tasya yang cepat.


"Kamu cerewet amat sih? bisa gak tanyanya satu-satu?" Safira nyengir kuda, dan mengangkat dua jarinya membentuk huruf V dengan mulut yang berbisik, " Sorry!"


"Kita temui, kepala cleaning service dulu, nanti dia yang akan kasih tahu kamu, untuk membersihkan di bagian mana," ucap Tasya, dan Safira hanya menganggukkan kepalanya, tanda mengerti.


Tasya mengajak dia ke sebuah ruangan yang penuh dengan loker.


"Tuh, loker kamu. Kami simpan barang kamu di dalamnya dan ganti pakaian kamu dengan seragam."


Safira tidak menjawab, dia hanya sibuk menganggukkan kepalanya dan mengikuti semua arahan dari Tasya.


"Aku ganti seragam di mana? di dalam sana ya?" Safira menunjuk ke arah pintu yang tertutup.


"Ih, biasa aja dong,Tas. Aku kan cuma nanya,z Safira mencebikkan bibirnya, dan melangkah masuk ke ruang ganti. Sebelum dia menutup pintu, Safira masih sempat menjulurkan lidahnya ke arah Natasya, hingga membuat gadis bernama Tasya itu terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cakra berjalan dengan gagah, masuk ke dalam perusahaan yang dia pimpin, sedangkan Carlos menghandle perusahaan yang lain. Seperti biasa tampangnya yang keren selalu menjadi magnet, membuat para karyawan wanita selalu ingin menatap sosok itu dengan sorot mata yang takjub.


Akan tetapi, pria itu selalu dingin dan hampir tidak tersentuh. Dia bahkan hanya menganggukkan kepalanya tanpa senyuman, bila ada karyawan yang sedang menyapanya.


Cakra masuk ke dalam lift VIP, yang diperuntukkan untuk dirinya dan asisten pribadinya. Kemudian dia menekan angka 33, dimana ruangannya berada.


"Selamat pagi, Pak Cakra." ucap sekretarisnya yang langsung berdiri menyambut atasannya.


"Emm, Tidak perlu harus buru-buru, berdiri Sita! Kamu sedang hamil, jadi lain kali, kamu cukup menyapa, Sambil duduk saja." ucap Cakra dengan nada datar tapi terselip perhatian pada sekretarisnya itu. Bukan perhatian seorang laki-laki pada wanita yang dicintainya, tapi lebih kepada perhatian karena sekretarisnya itu sedang hamil.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak Cakra!" ucap wanita yang bernama Sita itu sambil membungkukkan tubuhnya dengan sopan.


Cakra tidak menjawab, tapi dia cukup menganggukkan kepalanya, untuk menanggapi ucapan terima kasih dari Sita.


Cakra kembali melangkah, untuk masuk ke dalam ruangannya. Akan tetapi, tiba-tiba dia mengurungkan langkahnya, dan kembali menoleh ke arah Sita.


"Sita! mulai hari ini, jangan kamu lagi yang membuat kopi buat saya. Tolong minta orang lain, OB ataupun OG. Supaya kamu jangan capek."


Sita yang awalnya hendak beranjak untuk membuatkan Cakra kopi,. seketika menyurutkan langkahnya, dan menganggukkan kepalanya, "Baik, Pak Cakra!" sahut Sita sambil kembali ke mejanya, untuk menghubungi pantry.


Sementara itu, tubuh Cakra kini sudah menghilang di balik pintu ruangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Safira! apa kamu bisa buat kopi?" tanya wanita yang merupakan atasan mereka, atau kepala OB/ OG.


"Bisa, Bu." sahut Safira dengan sopan.


"Oh, kalau begitu sekarang tolong kamu buatkan kopi buat tuan Cakra. Setelah itu kamu antarkan ke ruangan CEO di lantai 33. Dan mulai hari ini, itu adalah tugasmu tiap pagi!" titah wanita yang bernama Ningsih itu.


"Ruangan CEO?" gumam Safira merasa sedikit gentar. Takut disemprot seperti di novel-novel yang pernah dia baca, ketika kopi buatannya tidak disukai.


"Kenapa kamu masih berdiri di sana? apa kamu pikir, dengan kamu berdiri di sana, kopinya bisa ngaduk masuk gelas sendiri dan ngaduk sendiri?" sindir Ningsih dengan sorot mata yang tajam.


"Eh, maaf, Bu. Ini aku mau buatkan," sahut Safira yang langsung bergerak cepat.


"Tenang aja, CEO kita tuh cakep.Tapi dia rada-rada dingin sih." bisik Tasya sambil menyikut tubuh Safira.


"Kamu tenang saja, walaupun terlihat jarang tersenyum, tapi orangnya gak kejam kok. Dia akan terlihat kejam, kalau menemukan adanya kesalahan," sambung Tasya kembali.


"Begitu ya? kok aku jadi merasa sedikit takut ya?" bisik Tasya kembali dengan hati yang was-was.


"Kamu tidak perlu__"

__ADS_1


"Tasya, kamu lakukan pekerjaan kamu. Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak pada Safira!" celetuk Ningsih tiba-tiba, hingga membuat Tasya menggigit bibirnya, sambil berlalu meninggalkan Safira.


Tbc


__ADS_2