
Arend terlihat diam saja sambil mengemudikan mobilnya, semenjak dirinya dan Alena keluar dari kediaman Aarick. Arick yang katanya membutuhkan bantuannya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang sangat urgent, ternyata itu hanya alasan saja. Pria itu ternyata hanya membicarakan tentang dirinya yang sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dibalik pernikahannya dengan Calista dan mengenai alasan dirinya menikah dengan Alena.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa menit yang lalu,
"Mana yang mau aku bantu kerjakan?" tanya Arend to the point.
"Buru-buru amat. Kamu mau ngejar apa sih? kamu duduk aja dulu! kita bisa main catur sama seperti dulu. Apa kamu tidak merindukannya?" sahut Arick dengan seulas senyum di bibirnya.
Arend berdecak, merasa sedikit kesal dengan sikap Arick, yang menurutnya kali ini sedang mengulur-ulurkan waktu.
"Bukannya tadi kamu bilang kalau ada pekerjaan yang harus selesai malam ini juga? kenapa kita tidak langsung mengerjakannya saja, dari pada kita harus bermain catur? bukannya itu bisa kita lakukan lain kali? dan aku rasa, pekerjaan harus didahulukan, please jangan suka menunda-nunda waktu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan," protes Arend, menolak ajakan arick.
Senyuman manis dari tadi tidak mau tanggal dari bibirnya Arick. Kemudian pria itu terlihat menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara dengan sekali hentakan.
"Sebenarnya, tidak ada pekerjaan yang harus kamu bantu, karena semuanya sudah teratasi dengan baik. Aku hanya ingin __"
"Ya ampun, Rick. Kamu kenapa tidak bilang dari tadi?" Arend menyela ucapan Arick sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya.
"Kalau aku bilang seperti itu, kamu pasti akan tetap pulang kan?" ujar Arick yang membuat Arend tidak bisa membantah lagi, karena apa yang dikatakan oleh Arick itu sangat tepat sasaran.
"Rend, aku hanya ingin meminta kejujuranmu. Apa kamu masih menyukai Calista?" Arick sengaja memancing, walaupun sebenarnya dia sudah bisa menduga kalau adik kembarnya itu sudah bisa melupakan rasa cintanya pada Calista yang kini sudah menjadi istrinya.
Arend mengrenyitkan keningnya, merasa kalau pertanyaan yang baru terlontar dari mulut kakaknya itu sangat aneh.
"Apa kamu tidak merasa kalau apa yang kamu tanyakan itu benar-benar tidak masuk akal?"
"Apanya yang tidak masuk akal? aku pantas menanyakannya karena dulu kamu pernah mencintai Calista," Arick masih terlihat sangat santai.
Arend berdecak sambil menggelengkan kepalanya, Tidak habis pikir dengan pemikiran Arick yang masih mempermasalahkan tentang perasaannya dulu.
"Rick, aku sudah menikah dengan Alena. Bukannya itu sudah bisa dipastikan kalau aku sudah tidak memiliki perasaan lagi pada Calista? jadi buat apa lagi kamu menanyakan hal itu?"
"Karena aku sudah tahu alasan kamu menikah dengan Alena, demi kebahagiaan Calista. Supaya aku bisa menerima dia menjadi istri yang seutuhnya. Benar bukan?"
Arend tercenung. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau Arick sudah mengetahuinya. Pria itu seketika mengumpat dan merutuki Kama. Karena dia sangat yakin pastilah sepupunya itu yang sudah membocorkan semua rahasianya pada Arick.
"Tepatnya bukan hanya kebahagiaan Calista saja, tapi juga untuk kebahagiaan kamu juga. Karena aku tahu kalau sebenarnya kamu juga sudah mencintainya sejak dulu," Arend akhirnya memutuskan untuk tidak menyangkal lagi.
"Tapi kenapa kamu harus rela berkorban sejauh itu? kenapa kamu tidak kejar impian kamu untuk bisa menjadikan Calista istrimu? kenapa__"
"Karena kamu kakakku, dan kamu juga sudah rela berkorban untukku," Arend langsung menyela ucapan Arick, sebelum kakaknya banyak melontarkan pertanyaan yang menurutnya tidak ada gunanya.
"Sebenarnya yang paling banyak berkorban di sini adalah kamu. Kamu bertahun-tahun sengaja berpura-pura tidak mencintai Calista. Demi apa? supaya Calista bisa membuka hatinya untukku kan? Tapi, aku bersyukur aku tahu tepat waktu. Coba seandainya aku tahu setelah aku menikah dengan Calista? pastilah aku akan hidup dengan rasa bersalah seumur hidup karena telah menjadi penghalang cinta kalian berdua," sambung Arend kembali, panjang lebar tanpa jeda.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Alena? apa sekarang kamu sudah memiliki perasaan cinta pada Istrimu itu?" celetuk Arick.
Arend tidak langsung menjawab karena sebenarnya dirinya sendiri juga masih bingung dengan perasaannya yang dimilikinya untuk Alena.
"Kenapa kamu diam? apa sangat sulit bagimu untuk menjawabnya?"
Masih belum ada respon dari Arend.
"Baiklah! kalau kamu kesulitan untuk menjawabnya, aku akan mencari jawabannya sendiri," ucap Arick dengan senyuman tipis yang terulas di bibirnya.
"Rend, kalau kamu tidak mencintai Alena, bukannya lebih baik kamu melepaskannya buat laki-laki yang mencintainya? buat Kama mungkin," pancing Arick, yang ingin melihat reaksi adiknya itu.
"Jangan gila kamu! apa kamu kira Alena itu barang yang bisa dioper ke sana ke mari!" Arend berbicara dengan nada yang sedikit meninggi, tidak terima dengan ucapan Arick.
"Siapa yang gila? bukannya apa yang kamu inginkan dengan pernikahan kamu dengannya sudah terpenuhi? aku dan Callista sudah saling menerima. Kamu juga sudah memberikan apa yang kamu janjikan padanya, kan? jadi tunggu apa lagi? kamu bisa langsung menceraikannya, mumpung pernikahan kalian berdua belum banyak yang tahu," ujar Arick santai.
"Tapi, apa harus menceraikannya? kamu jangan bodoh, Rick! itu sama aja kalau aku sedang mempermainkan pernikahan,"
"Tapi, akan lebih tidak baik, kalau kamu mempertahankan pernikahan, yang kamu tidak memiliki perasaan apapun padanya. Apa kamu akan terus mempertahankannya di sampingmu, sementara kamu juga belum bisa memberikan kepastian padanya? aku yakin kalau sampai sekarang, kalian berdua belum menjadi suami istri seutuhnya? aku benar kan?" Arend bergeming, tidak bisa membantah karena apa yang dikatakan oleh Arick itu, benar.
"Apa kamu tahu, kalau apa yang kamu lakukan sekarang sama saja kamu sedang menghalangi kebahagiaannya, Rend. Padahal kamu tahu dengan jelas, kalau Kama menyukai Alena. Jadi, kalau kamu tidak mencintainya, lebih baik kamu ceraikan saja dia, dan biarkan Kama mendekatinya." Arick kembali memancing.
"Tutup mulutmu! sampai kapanpun aku tidak akan menceraikannya! Aku mau pulang. Bicara denganmu, lama-lama bisa buat darah tinggi benar-benar naik," Arend berdiri dan langsung beranjak keluar meninggalkan Arick.
"Rend! ingat, pikiran baik-baik kata-kataku tadi! kalau kamu tidak mencintai Alena, masih ada Kama yang menunggunya!" ucap Arick setengah berteriak.
"Dasar munafik!" Arick tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dan akhirnya menyusul saudara kembarnya keluar dari ruangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arend berkali-kali melirik Alena yang duduk di sampingnya. Wanita itu terlihat fokus melihat jalanan yang sudah lengang.
Alena tanpa sengaja melihat ke arah Arend, hingga membuat pria itu buru-buru melihat ke arah lain.
Alena mengangkat bahunya dan kembali melihat kembali ke arah jalanan dan Arend kembali melirik ke arahnya.
"Kenapa sih, Mas dari tadi lirik-lirik aku terus?" celetuk Alena tiba-tiba hingga membuat Arend tersentak kaget.
"Siapa yang melirik kamu? kamu jangan kepedean!" jawab Arend dengan gugup, merasa malu karena sudah tertangkap basah.
"Oh, nggak ya? berarti aku salah lihat," ucap Alena sambil kembali melihat keluar jendela mobil.
Keheningan kembali tercipta di antara mereka berdua. Tidak ada yang mau buka suara lagi, sampai tidak terasa, mobil yang dikemudikan oleh Arend sudah sampai di depan rumah di mana mereka tinggal.
Alena terlihat hendak membuka pintu mobil, setelah mobil itu sudah terparkir dengan sempurna. Akan tetapi, Alena sama sekali tidak bisa membukanya.
__ADS_1
"Mas, kenapa tidak bisa dibuka?" Alena memutar kepalanya menoleh ke arah Arend dengan alis yang bertaut.
"Alena, apa kamu menyukai, Kama?" bukannya menjawab pertanyaan Alena, Arend justru melontarkan pertanyaan lain.
"Tentu saja iya." jawab Alena dengan polosnya.
"Apa?! kamu menyukainya?!" mata Arend membesar dan manik mata pria itu terlihat berkilat-kilat menahan amarah.
"Kenapa Mas Arend kaget? Kama kan baik, lucu, jadi tidak mungkin aku tidak menyukainya. Kama itu ... humppp ...." Arend yang merasa geram, langsung membungkam bibir Alena dengan bibirnya sehingga wanita itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Mata Alena membesar dengan sempurna, benar-benar kaget, karena serangan Arend yang tiba-tiba menciumnya.
Bibir pria itu tidak sekedar menempel. Tapi, pria itu *****4* bibir tipis Alena dengan gerakan yang sedikit kaku, tapi tidak bisa dikatakan buruk buat pemula seperti Arend.
Sementara itu, Alena tidak memberikan balasan sedikitpun karena dirinya masih shock dengan serangan Arend yang tiba-tiba. Akan tetapi, itu hanya berlaku untuk sementara. Alena kini mulai terbuai dan mulai sedikit membalas ciuman Arend.
"Aku tidak mau kamu mengatakan menyukai laki-laki lain. Paham kamu!" ucap Arend setelah dia melepaskan ciumannya.
Alena tidak menjawab ucapan Arend. Wanita itu justru sibuk meraup udara untuk mengisi rongga paru-parunya yang sempat kosong. Setelah dirasanya sudah bisa bernapas dengan normal, Alena langsung menatap sengit ke arah Arend.
"Kamu apa-apaan sih, main cium saja!" bentak Alena dengan nada kesal.
"Kenapa? kamu itu istriku. Bahkan aku bisa melakukan yang lebih dari itu," sahut Arend berpura-berpura santai. Padahal, dirinya juga saat ini merasa gugup karena tindakannya tadi yang berani nyosor duluan. Detak jantungnya bahkan terdengar tidak beraturan sekarang.
Alena terdiam seraya mengerucutkan bibirnya, kesal dengan sikap Arend yang sedang mengaturnya.
"Sekarang kamu boleh turun, dan ingat pesanku!" ucap Arend yang bersiap-siap juga untuk keluar dari mobil.
"Dengar, nanti aku mau kamu memakai pakaian dinas malam kamu!"
Alena yang hendak langsung masuk ke dalam rumah, langsung menghentikan langkahnya begitu mendengar celetukan Arend. Mata wanita itu membesar dan mulutnya terbuka.
"Kamu gila ya? aku tidak mau!" pekik Alena menolak.
"Aku tidak mau mendengar penolakanmu! pakaian itu mahal, jadi mubazir kalau tidak dipakai."
"Aku tetap tidak ma ...." Alena menggantung ucapannya karena Arend kini menatapnya dengan sangat tajam.
"Bukannya aku sudah mengatakan kalau aku tidak menerima yang namanya penolakan? itu berarti kamu harus melakukannya!" pungkas Arend sambil melangkah meninggalkan Alena.
"Dasar psikopat gila!" Alena menghentak-hentakkan kakinya seraya mengikuti Arend masuk ke dalam rumah.
Tbc
Hari ini, mungkin ini dulu upnya. Ini juga sudah 1600 kata. 400 kata lagi, sudah bisa dua bab 😁. Kalau sempat, nanti aku akan usahakan untuk menulis. Tapi, kemungkinan rumahku akan ramai dikunjungi oleh adik-adik ipar untuk merayakan Natal. Harap maklum ya guys.😍🤗
__ADS_1
Oh ya, bagi pembacaku yang beragama Kristen,
I wish you Merry Christmas 🎄🎄