Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Kenyataan yang terbongkar!


__ADS_3

Alena kini sudah berada di ruang perawatan, tapi bukan di rumah sakit tempat mereka melakukan pemeriksaan tadi. Alena dipindahkan Arend, ke rumah sakit keluarga mereka, atas permintaan Aby dan Celyn. Bukan karena tidak percaya dengan rumah sakit sebelumnya, tapi karena mempertimbangkan jarak antara rumah dan rumah sakit sebelumnya yang lumayan jauh.


Ya, karena panik dan khawatir, Arend lebih memilih membawa Alena ke rumah sakit yang terdekat dengan tempat kejadian, agar istrinya itu cepat mendapat penanganan.


"Kamu sebaiknya tidur, Alena. Biar tubuhmu cepat pulih kembali." Celyn dengan lembut membelai kepala menantunya itu.


"Iya, Ma. Sebentar lagi ya?" ucap Alena dengan bibir yang tersenyum. Kemudian Alena mengalihkan tatapannya pada Arul pamannya yang terlihat sedang bersedih. Seketika Alena berpikir kalau pamannya itu sedih karena istri dan anaknya dijebloskan ke dalam penjara.


"Paman, apa Paman sedih karena bibi dan Cindy masuk penjara? apa Paman merasa bersalah?" tanya Alena sambil menggigit bibirnya. Ada rasa tidak nyaman yang muncul ketika melihat pamannya itu bersedih.


"Tidak sama sekali, Nak! aku justru senang karena kejahatan mereka sudah terbongkar," bantah Arul dengan menyelipkan senyuman tipis.


"Tapi kenapa, Paman terlihat sedih?"


"Paman sedih karena memikirkan dimana keberadaan putri paman sekarang. Apakah dia baik-baik saja sekarang atau bagaimana," ucap Arul lirih, hingga menimbulkan keryitan di kening Alena.


"Putri, Paman? maksudnya? bukannya paman tahu kalau Cindy juga sekarang sedang di penjara? jadi kenapa, Paman masih menanyakannya?"


"Sayang, aku belum cerita ya tadi? sebenarnya Cindy bukan putri kandung paman Arul." Arend buka suara.


"Apa? kamu tidak sedang bercanda kan, Mas eh Sayang?"


"Tidak sama sekali, Alena. Suamimu benar."


Alena terlihat semakin bingung. Melihat raut wajah istrinya yang kebingungan, akhirnya Arend menceritakan semua yang terjadi. Alena benar-benar speechless, tidak bisa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


"Jadi, bibi Ratih itu benar-benar ibu kandung, bukan ibu sambung Cindy?" Alena benar-benar kaget mendengar kenyataan ini. Arend menganggukkan kepalanya, membenarkan.


"Ya, ampun! jadi selama ini, bibi Ratih sudah menipu kita mentah-mentah? dasar wanita ular! maaf,Pa, Ma, aku kasar ngomongnya!" Alena segera tersadar kalau ternyata ada kedua mertuanya di ruangan itu.


"Tidak apa-apa! mereka memang wanita ular!" ujar Aby santai. Kemudian pria setengah baya itu, beralih menatap Arul.


"Pak Arul, sebenarnya kamu sudah dekat dengan putrimu selama ini," ucapan Aby benar-benar mengagetkan semua yang berada di dalam ruangan itu kecuali Arend dan Arick.


"Ma-maksud anda, Pak Aby?" Arul mengrenyitkan keningnya. Wajah pria itu sedikit berbinar karena merasa kalau ada titik terang tentang dimana keberadaan putrinya.


"Hmm, putri adalah gadis yang merawat anda selama ini. Anda pasti mengenal dia siapa."


Bagaikan petir di siang bolong, Arul benar-benar kaget mendengar ucapan Aby.


"Ma-maksud anda, Rara adalah putriku?" Arul memastikan, dan seketika pria itu tersungkur jatuh sambil bersandar ke tembok, begitu melihat Aby yang mengangukan kepala, membenarkan.


"Pantas saja, aku seperti melihat Rima hidup kembali ketika melihat dia tersenyum," Arul seketika menangis sesunggukan. Dia tidak menyangka kalau selama ini dia sudah berada dekat dengan sang anak kandung.


"Tapi, bagaimana anda bisa tahu, Pak Aby?" tanya Arul kembali.


"Awalnya hanya karena curiga saja. Semenjak Alena dekat dengan Arend, aku sangat tertarik untuk menyelidiki latar belakang Alena. Aku mendapati kenyataan kalau orang tua Alena sudah meninggal. Aku merasa ada kejanggalan atas meninggalnya kedua orang tua Alena karena setelah mereka meninggal, Alena terusir dan asuransinya dirampas oleh Ratih dan Cindy." Aby Dian sejenak untuk mengambil jeda sekaligus mengisi kembali oksigen ke dalam rongga paru-parunya. Sedangkan Arul masih terlihat setia mendengarkan.


"Mengenai keberadaan putrimu, aku hanya bermain dengan insting dan logikaku. Aku menyelidiki kalau ternyata Ratih adalah istri yang kamu nikahi setelah istrimu meninggal karena melahirkan. Yang aku curigai, kenapa dia bisa sesayang itu pada Cindy sedangkan dia tega pada Alena. Seandainya dia benar-benar wanita yang penyayang, dia pasti juga akan sayang pada keponakannya bukan? bermodal dari kecurigaan itu, aku diam-diam melakukan test DNA antara kamu dan Cindy. dan hasilnya benar-benar sesuai dengan dugaanku. Kamu sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya," jelas Aby kembali.


"Tapi, bagaimana, Pak Aby tahu kalau Rara adalah putriku?" Arul sama sekali belum mengerti dengan ucapan Aby.

__ADS_1


"Mudah saja! aku tinggal mencari informasi tentang kelahiran bayimu di rumah sakit tempat istrimu melahirkan. Aku tinggal menyebutkan nama istrimu dan data-datanya langsung keluar. Bukannya mau sombong, dengan uang akhirnya aku bisa tahu nama perawat yang bekerja sama dengan Ratih istrimu. Beruntungnya mantan perawat itu masih hidup dan aku mengancam akan memenjarakannya, kalau tidak berterus terang. Akhirnya dia memberitahukanku kemana bayi kamu diserahkan yaitu satu ke sebuah panti asuhan dan satu lagi pada seorang wanita yang anaknya meninggal setelah dilahirkan." papar Aby kembali menjelaskan panjang lebar.


"Tunggu dulu, Pak Aby! apa maksud anda mengatakan satu ke panti asuhan dan satu lagi pada seorang wanita? maksud anda aku memiliki putri kembar?"


"Iya, tepat sekali! tapi kedua putrimu kembar tidak identik. Jadi mereka tidak terlalu mirip dan dengan mudah bisa dibedakan."


Arul benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Antara senang dan sedih bercampur menjadi satu.


"Apa anda juga tahu dimana keberadaan putriku yang satunya?"


"Ya! aku diam-diam juga sudah mencocokkan DNA-mu dengan Rara dan adiknya itu. Dan 99,90 persen sesuai. Jangan tanyakan bagaimana caraku mendapatkan sampel yang aku gunakan untuk test! itu semua karena aku punya banyak cara untuk mendapatkannya dengan mudah."


"Pak Aby, bisakah anda memberitahukanku dimana anakku itu sekarang? aku benar-benar ingin melihatnya," Arul menangkup kedua tangannya memohon pada Aby.


"Nama anak kamu itu Tasya. Aku rasa kalian berdua juga mengenalnya," ucap Aby sambil menatap ke arah Arend dan Arick.


"Maksud, Papa, Tasya yang sedang dekat dengan Kama?" Aby menganggukkan kepalanya, membenarkan.


Arick dan Arend saling silang pandang. Mereka berdua memang tahu kalau Rara adalah putri kandung dari Arul, makanya Arend meminta Rara yang mengurus Arul. Namun, mereka sama sekali tidak tahu kalau Tasya itu saudara kembar, Rara yang tidak identik. Dari sini mereka sadar kalau mereka berdua belum bisa menandingi cara berpikir Aby papa mereka.


Di saat kekagetan masih melingkupi Arick dan Arend, tiba-tiba pintu terbuka. Rara masuk sambil membawa kantongan yang berisi kotak makanan buat makan siang semua orang yang berada di ruangan itu.


Arul dengan mata yang berembun segera menghambur menghampiri Rara dan tanpa penjelasan apapun, langsung memeluk gadis itu.


"Rara, kamu itu ternyata putriku, Nak! kenapa kamu tidak berterus terang pada papa?"

__ADS_1


"Jadi, papa sudah tahu?" tanya Rara sambil menatap ke arah Aby, Arend, dan Arick, meminta penjelasan.


Tbc


__ADS_2