Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Yes, berarti aku sudah berhasil!


__ADS_3

Arend terlihat semangat saat menuruni tangga. Di bibir pria itu masih terlihat sisa-sisa tawa karena berhasil menggoda Alena istrinya.


"Selamat pagi, Pa, Ma!" sapa Arend, dengan nada yang semangat.


"Ini tidak pagi lagi tapi sudah siang," sahut Aby dengan nada yang menyindir. Sementara itu, Celyn tidak menyahut Sapaan Arend putranya. Wanita setengah baya itu justru terlihat menatap ke atas seperti sedang mencari seseorang. Ya, wanita itu penasaran karena tidak melihat Alena sang menantu turun bersama Arend.


"Pah, ini masih jam 10 lebih. Kalau belum jam 12 siang, namanya masih pagi, gimana sih," protes Arend, berdecak sambil menggelengkan kepalanya.


"Rend, Alena dimana? kenapa dia belum juga turun?" tanya Celyn dengan mata yang sudah beralih dari melihat ke atas ke arah Arend


"Dia masih mandi, Mah. Mama tenang saja, sebentar lagi dia pasti akan turun," jawab Arend sambil mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa.


"Dia baik-baik saja kan? soalnya gak biasanya dia baru bangun jam segini," ucap Celyn. Dari wajah wanita itu, terlihat kalau wanita itu sedang khawatir dengan Alena.


"Mama, tenang saja! Alena baik-baik saja," Arend kembali berdiri dan mengajak mamanya untuk kembali duduk di samping Aby papanya.


"Tapi, kenapa dia belum juga turun?" p


"Ma, Alena benar-benar tidak apa-apa. Kenapa kami bisa telat bangunnya karena kami lembur semalaman untuk ___"


"Kenapa bisa lembur? lagian kalau kamu lembur, kenapa Alena juga ikutan lembur? pekerjaan kalian berdua kan berbeda," ujar Celyn yang belum mengerti kemana arah pembicaraan Arend.


Arend menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Pria itu bingung bagaimana cara menjelaskan pada mamanya itu.


"Sudah, Sayang! kamu jangan banyak tanya lagi! yang jelas mereka melakukan proses penciptaan bayi tadi malam," Aby buka suara, karena melihat Arend yang mengalami kesulitan untuk menjelaskan pada mamanya.


"Oh, seperti itu? kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" ucap Celyn dengan seulas senyuman yang langsung bertengger di bibirnya.


"Kalau begitu, mama mau ke dapur dulu. Mama mau nyiapin sarapan buat menantu mama. Dia pasti lapar dihajar habis-habisan sama kamu tadi malam. Karena mama tahu, kalau pria keturunan Bagaskara tidak akan pernah merasa cukup kalau hanya sekali atau dua kali," sambung Celyn kembali dengan menyelipkan sebuah sindiran untuk Aby suaminya. Kemudian wanita itu berlalu dengan ekor mata yang melirik ke arah Aby, dengan lirikan yang mengejek.


"Jadi kamu sudah melakukannya dengan Alena, Rend?" celetuk seseorang yang muncul tiba-tiba dari arah pintu. Siapa lagi dia kalau bukan Kama.

__ADS_1


"Hei, kamu ngapain datang ke sini di jam kerja? harusnya kamu ada di kantor kamu kan? jangan bilang kamu datang ke sini hanya untuk melihat Alena?" bukannya menjawab pertanyaan Kama, Arend justru menaruh curiga pada sepupunya itu.


"Enak aja main tuduh sembarangan. Aku ke sini karena aku tidak menemukanmu di kantor, padahal aku ingin mengantar berkas kerja sama ini," sangkal Kama, kesal dengan tuduhan yang dialamatkan padanya.


"Cih, alasan saja!" Arend berdecih tidak percaya.


"Terserah, kamu mau percaya atau tidak. Sekarang, aku mau kamu jelaskan, apa yang kamu katakan tadi sama om Aby itu benar? kamu dan Alena sudah ...." Kama menggantung ucapannya karena dia yakin kalau Arend pasti mengerti apa yang dia maksud.


"Tentu saja! kamu pasti berharap kalau aku lagi berbohong bukan?" ucap Arend dengan sudut bibir yang tersenyum sinis dan merasa menang.


"Ah, tidak mungkin! kamu pasti lagi berbohong." Manik mata Kama menatap ragu ke arah Arend.


Arend mendengus, merasa kesal dengan ekspresi ragu yang tercetak jelas di wajah Kama, pria yang membuat hatinya merasa panas kemarin.


"Terserah, kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas aku sama sekali tidak berbohong,"


"Kenapa kamu melakukannya? aku yakin kalau kamu pasti memaksanya, iya kan?" tukas Kama, seakan-akan dirinya tidak terima kalau Arend sudah berhasil mendapatkan harta yang paling berharga milik Alena.


Arend mengepalkan tangannya dengan kencang, merasa geram mendapat tuduhan yang tidak beralasan dari Kamam


"Yes! berarti aku sudah berhasil, Om. Berarti Om harus menepati janji. Bugatti Divo aku padamu!" sorak Kama dengan wajah yang berbinar bahagia.


Kening Arend seketika berkerut mendengar ucapan Kama. Tampak jelas rasa penasaran yang besar pada raut wajah pria itu.


"Iya, kamu tenang saja! Om tidak akan pernah ingkar. Om pasti memenuhi apa yang sudah om janjikan," sahut Aby yang membuat Arend semakin penasaran.


"Ada apa ini? kenapa kamu terlihat sangat bahagia? kamu seharusnya kesal kan? Bugatti Divo? janji? janji apa yang harus papaku penuhi?" tanya Arend beruntun, dengan wajah yang terlihat lucu di mata Kama.


"Ngapain aku kesal? justru itu yang aku dan Om Aby harapkan. Kamu benar-benar merasa takut kehilangan Alena, karena aku yang berusaha mendekatinya," sahut Kama lugas dan santai.


Arend tercenung, berusaha untuk mencerna maksud dari ucapan Kama. Mata pria itu tiba-tiba membulat begitu dia bisa menarik kesimpulan maksud dari ucapan sepupunya itu.

__ADS_1


"Jangan bilang, kalau kamu diminta sama papa untuk berpura-berpura mendekati Alena untuk membuatku cemburu?" cetus Arend, menuntut penjelasan.


"Pintar!" ucap Kama sambil menepuk-nepuk pundak Arend. Pada bibir pria itu terlihat jelas kalau pria itu sedang tersenyum, meledek Arend.


"Sial! umpat Arend sambil menarik tubuh Kama dan menjepit kepala pria itu di bawah ketiaknya.


"Lepasin, Rend! sakit tahu!" pekik Kama.


"Tidak akan!" Arend semakin mengencangkan jepitannya.


"Om, tolongin aku, Om!" mohon Kama dengan wajah memelas meminta pertolongan pada Aby.


"Sudah Rend! lepaskan dia!" titah Aby berusaha untuk menahan tawanya, melihat wajah keponakannya itu.


"Harusnya kamu memiting kepala Om Aby, karena ide ini, Om Aby yang merencanakannya. Aku hanya melaksanakan perintah saja," ucap Kama setelah kepalanya sudah terlepas dari jepitan ketiak Arend.


"Tapi, kamu berhak menolaknya kan? ini, kamu malah memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta imbalan pada papa. Apa tadi? mobil sport Bugatti Divo. Gila, hanya berpura-pura mendekati Alena, kamu mendapat imbalan semahal itu? kamu benar-benar ....ihhh!" Arend dengan geram ingin mencekik Kama.


"Sudah, sudah! jangan dilanjutkan lagi! yang jelas papa tidak merasa rugi untuk memberikan apa yang diminta sama Kama, karena harga mobil itu tidak sebanding dengan kebahagiaan yang papa rasakan melihat kamu sudah bisa melupakan perasaan kamu pada Calista." ucap Aby untuk menghentikan kekesalan Arend.


"Sekarang, Papa hanya mau tanya, apa kamu sudah mencintai Alena?" tanya Aby, memastikan perasaan Arend yang sebenarnya. Karena jujur saja, masih ada keraguan di dalam hatinya, sebelum mendengar pengakuan dari mulut putranya itu.


Arend tidak langsung menjawab. Pria itu justru melirik ke atas dengan ekor matanya, untuk memastikan kalau Alena tidak muncul dan mendengar pengakuannya.


"Emm, apa kalau kita tidak suka melihat wanita itu dekat dengan pria lain, itu berarti kita sudah cinta, Pa? kalau benar, itu berarti aku sudah mencintanya," sahut Arend begitu memastikan kalau Alena belum terlihat batang hidungnya.


"Tergantung! karena kadang, ada pria yang tidak senang kalau wanita itu dekat dengan pria lain, bukan karena sudah cinta, tapi karena merasa harga dirinya serasa diinjak-injak dan merasa tidak dihargai saja. Untuk mengetahui kalau kamu sudah mencintai seorang wanita itu, coba kamu bayangkan kalau dia bersanding dengan pria lain, apa kamu merasa tidak rela? kalau kamu tidak rela, ada indikasi kalau kamu sudah mencintai wanita itu. Coba bayangkan juga kalau dia dihina oleh orang lain dan dia menangis gara-gara itu. Kalau kamu merasa hati kamu sakit melihat wanita itu menangis, berarti kamu sudah mencintai wanita itu dan tidak mau ada orang lain merendahkannya." jelas Aby panjang lebar dan lugas.


Arend bergeming mendengar penuturan Aby papanya. Dia merasa kalau apa yang baru saja dijelaskan oleh papanya itu sudah dia rasakan.


"Om, kapan aku akan mendapatkan mobilnya? sekarang juga kan, Om?" celetuk Kama, tiba-tiba, seakan tidak peduli dengan pembicaran Aby dan Arend. Sehingga membuat dirinya mendapat jitakan keras di kepalanya dari Aby.

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa buat tetap ninggalin jejaknya ya guys.Thank you🙏🏻


__ADS_2