Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Kemarahan Kama


__ADS_3

"Bu, apa benar, tidak akan terjadi apa-apa pada Tasya? ini sudah 3 jam lebih dia terkurung di dalam toilet," tanya wanita bernama Dina pada Ningsih dengan raut wajah yang terlihat khawatir.


Ningsih menatap tajam ke arah Dina, tidak senang dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh wanita itu. Akan tetapi,dia tetap berusaha untuk tidak meledakkan amarahnya, agar ke empat orang yang diajaknya kerjasama itu tetap mau diajak kerja sama.


"Kamu tenang saja! tidak akan terjadi apa-apa. Dia pasti akan baik-baik saja," jawab Ningsih seraya menunjukkan senyum yang dibuatnya senatural mungkin.


"Hmm, bagaimana kalau dia tidak mengindahkan ancaman kita, Bu? aku takut, setelah kita melepaskannya besok, Tasya akan melaporkan pada Pak Kama," raut wajah wanita bernama Risa rekan Ningsih yang lain juga tidak kalah panik dari wajah Dina.


"Kalian bisa tenang gak sih?! Kalau kalian bertingkah seperti ini, justru akan semakin membuat orang curiga. Jadi, tolong bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa!" ucap Ningsih yang mulai memperlihatkan kekesalannya.


Ke empat wanita itu terdiam, melihat Ningsih yang mulai marah. Mereka tidak mau kalau promosi naik gaji yang akan diajukan oleh Ningsih nantinya akan batal kalau mereka melawan.


"Wah, enak sekali ya, jam pulang masih satu jam lagi, kalian berlima sudah asik bersantai dan mengobrol di sini," tiba-tiba Cakra sudah berdiri di depan pintu dengan Kama yang berdiri di samping anak pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.


Kelima wanita itu sontak berdiri dengan gugup. Karena terlalu asik bercerita mereka sampai tidak menyadari kalau pintu ruangan pantry dibuka oleh Cakra.


"Aduh, Pak Cakra. Maaf, Pak! tadi kami hanya istirahat sebentar, setelah itu kami akan kembali bekerja," Ningsih melakukan pembelaan, berusaha untuk menutupi kegugupannya. "Pak Cakra kenapa ke sini? apa ada sesuatu yang penting? kenapa tidak ditelpon aja, Pak?" sambung Ningsih kembali.


"Dimana Tasya? kenapa aku tidak melihatnya?" alih-alih menjawab pertanyaan Ningsih, Cakra dengan sengaja mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan Tasya. Pria itu ingin melihat bagaimana reaksi kelima wanita itu.


"Emm, Ta-Tasya sedang bersih-bersih di lantai 5, Pak," jawab Ningsih dengan gugup dan wajah yang seketika pucat.


Brak ...


Kama yang dari tadi diam, berusaha untuk menahan amarahnya, tiba-tiba menggebrak meja, karena tidak bisa lagi menahan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun kepalanya.


"Bersih-bersih di lantai tiga atau kalian mengurungnya di toilet basement? hah!" bentak Kama dengan suara yang sangat tinggi dan berapi-api. Rahang pria itu terlihat sudah mengeras dan napas memburu, seperti harimau yang siap untuk menerkam mangsanya.


Wajah kelima wanita itu sontak berubah pucat seperti tidak dialiri oleh darah sama sekali. Akan tetapi Ningsih berusaha untuk berpura-pura kaget mendengar apa yang baru saja terlontar dari mulut Kama.


"Apa? terkurung? bagaimana bisa?" ucap wanita itu dengan mata yang membesar dengan sempurna dan mulut yang terbuka. Wanita itu bahkan langsung menoleh ke arah ke empat rekannya dan menatap tajam ke arah mereka.


"Apa ini semua ulah kalian? bukannya aku sudah melarang kalian untuk melakukannya?" Ke empat wanita itu sontak terkesiap kaget mendengar ucapan Ningsih yang seakan menyudutkan mereka.

__ADS_1


"Kenapa, Ibu melemparkan kesalahan hanya pada kami? bukannya ini semua ide dari, Ibu?" Dina yang tidak terima dikambinghitamkan buka suara.


"Kamu jangan fitnah! aku tidak mungkin punya ide seperti itu. Aku sudah melarang kalian untuk melakukannya," Ningsih melakukan pembelaan. Kemudian wanita itu mengalihkan tatapannya ke arah Kama dan Cakra yang menatapnya dengan tatapan dingin.


"Pak Kama, Pak Cakra, jangan percaya ucapan mereka! mereka itu sedang memfitnahku, Pak. Aku benar-benar sudah melarang mereka untuk mencelakai Tasya. Aku kira mereka sudah mematuhi perintahku, ternyata di belakangku mereka masih melakukannya."


"Bohong, Pak! Kami berani bersumpah demi nama Tuhan, kalau ini semua ide dari Ibu Ningsih." Sambar Dina dengan cepat.


"Benar, Pak! Ibu Ningsih menjanjikan akan mendaftarkan nama kami dalam pengajuan kenaikan gaji bulan depan, makanya kami tergiur dan bersedia melakukannya," Risa menimpali ucapan Dina.


"Sial! sepertinya mereka sudah mulai berani melawan. Awas kalian nanti!" umpat Ningsih dalam hati dengan seringaian licik di sudut bibirnya.


"Apa salahku pada kalian? kenapa kalian tega memfitnahku? apa kalian punya buktinya? atau jangan-jangan kalian berdualah yang mengurung Tasya di toilet basement? karena aku melihat kalian berdua keluar dari arah basement?" tukas Ningsih dengan kening yang sedikit tertarik ke atas, curiga.


Sementara itu, Cakra dan Kama masih jadi penonton yang baik atas perdebatan wanita-wanita itu. Mereka berdua ingin melihat sampai sejauh mana, Ningsih sanggup bersandiwara. Merek berdua ingin membuat ke empat wanita itu, marah dan benci pada Ningsih.


"Ibu Ningsih, tolong jangan fitnah mereka! jangan lempar batu sembunyi tangan!" salah satu wanita lainnya yang dikenal dengan nama Ella buka suara, merasa kesal dengan tuduhan yang dialamatkan Dina dan Risa.


"Aku tidak fitnah!" tegas Ningsih. Kemudian wanita itu kembali menatap ke arah Kama dan Cakra sambil merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya.


"Sepertinya kita harus memberikan sedikit pelajaran pada Tasya. Wanita itu berani-beraninya bermain kotor, menggoda Pak Kama." terdengar suara percakapan dari video yang direkam oleh Ningsih.


"Jangan!" terdengar suara Ningsih yang berteriak jangan, dan video itu langsung berhenti di situ.


"Tuh, Pak. Bapak dengar sendiri, kalau aku sudah melarang mereka. Aku sengaja merekam videonya ketika secara tidak sengaja aku mendengar pembicaraan mereka," jelas Ningsih dengan ekor mata yang melirik tajam ke arah empat rekannya.


"Itu, Bohong Pak! Videonya sudah terpotong. Ada lanjutan kata jangan itu, seingatku, setelah kata jangan, Ibu Ningsih ngomong jangan sungkan-sungkan untuk memberikan pelajaran pada Tasya. Kemudian Ibu itu memberikan ide untuk mengurung Tasya di toilet basement, padahal awalnya kami tidak memiliki rencana seperti itu," Dina yang paling vokal di antara mereka berempat, menyambar ucapan Ningsih dengan sorot mata yang berapi-api.


"Kamu jangan berkelit lagi! ini buktinya sudah ada. Aku sengaja merekamnya, untuk jaga-jaga seandainya terjadi apa-apa pada Tasya, aku bisa tunjukkan bukti kalau kalianlah yang berniat mencelakakannya," ucap Ningsih.


"Ibu ternyata licik. Ibu Ningsih sudah merencanakan ini semua dari awal kan? Ibu tidak mau ikut bertanggung jawab seandainya Tasya kenapa-napa. Kami begitu bodoh bisa percaya dengan, Ibu." Risa mulai menangis terisak-isak.


"Cukup!" bentak Kama yang tidak bisa menahan diri lagi.

__ADS_1


"Ternyata kamu punya bakat akting juga ya, Ningsih! bravo," Kama tersenyum sinis sambil bertepuk tangan, membuat wajah Ningsih yang tadi berbinar karena merasa menang, berubah menjadi pucat.


"Ma-maksud, Pak Kama?" tanya Ningsih dengan sedikit gemetar.


Kama yang dari tadi sudah sangat ingin memberikan pelajaran pada Ningsih seketika langsung mencekik leher Ningsih dan mendorong tubuh wanita itu sampai membentur tembok.


"P-Pak Kama, lepaskan saya please! s-sakit, Pak!" rintih Ningsih yang kesusahan untuk bernapas.


"Sakit? apa kamu masih bisa merasakan yang namanya sakit? dengar, rasa sakit yang kamu rasakan ini tidak sebanding dengan rasa sakit dan trauma yang dirasakan oleh Tasya," Kama semakin mengencangkan cekikannya sehingga membuat Ningsih semakin kesusahan untuk bernapas.


"Kama! sudah lepaskan dia! kamu bisa membunuhnya dan kamu bisa masuk penjara!" Cakra menarik tubuh Kama hingga menjauh dari tubuh Ningsih. Wanita itu terbatuk-batuk begitu tangan Kama lepas dari lehernya.


"Kamu kira aku percaya dengan semua sandiwaramu. Kamu kira kami berdua tidak tahu kalau kamulah dalang dari semua ini? hah!" Kama hampir saja maju kembali untuk menampar Ningsih. Beruntungnya Cakra kembali menahan Kama.


"Kam, ingat dia seorang wanita. Jangan main pukul!" ucap Cakra seraya menepuk-nepuk pundak Kama, memberikan keterangan pada sahabatnya itu.


"Bagiku, dia bukan seorang wanita, tapi iblis. Dia memang layak mendapatkannya," jawab Kama dengan sorot mata yang masih berkilat-kilat menatap tajam ke arah Ningsih.


"Pak Kama, kenapa Bapak menuduhku? aku benar-benar bukat dalang atau kejadian yang menimpa Tasya, Pak. Kenapa Bapak tidak percaya? apa video tadi tidak cukup jadi bukti?"


Ningsih masih berusaha untuk melakukan pembelaan, berharap agar Kama percaya.


Kama mendengus, kesal. Pria itu terlihat merogoh ponselnya dari dalam saku. Kemudian pria itu menunjukkan video percakapannya di pintu menuju basement yang diambilnya dari ponsel Safira.


"Apa ini? kamu masih mau mengelak?" Ningsih terdiam, tidak bisa mengelak lagi.


" Aku sudah melaporkan kalian semua ke polisi. Kalian semua harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian di dalam penjara. Kalian tahu, seandainya Tasya ditemukan tidak bernyawa lagi, ini sudah bisa dikenakan dengan pasal pembunuhan berencana,"


"Tidak Pak Kama. Kami minta maaf! ini semua gara-gara Ibu Ningsih, kami tidak bersalah sama sekali!" Dina berlutut di lantai, disusul oleh Risa, Ella dan wanita yang satu lagi. Sementara itu, Ningsih tersungkur jatuh dan menyender ke tembok. Dia tidak menyangka kalau akhirnya akan begini.


"Silahkan masuk, Pak!" titah Cakra memanggil para polisi uang ternyata sudah menunggu di luar.


Para polisi itu, dengan sigap langsung menarik paksa ke lima wanita itu untuk ikut ke kantor polisi. Ke empat rekan Ningsih menatap Ningsih dengan sorot mata penuh kebencian. Bisa dibayangkan nasib Ningsih di penjara nantinya, yang bisa dipastikan akan menjadi bulan-bulanan ke empat rekannya.

__ADS_1


Tbc


Ningsih pasti disiksa oleh keempat rekannya guys. Dijadikan budak pastinya.😁


__ADS_2