Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Welcome to the world baby Twin


__ADS_3

Calista dan Alena dibawa masuk ke dalam ruangan yang berbeda, tapi bersebelahan. Alena terlihat tenang tidak sampai teriak-teriak. Wanita itu hanya meringis dan tidak berhenti merintih kesakitan. Wanita itu meremas kuat lengan Arend ketika rasa sakit itu semakin menjadi-jadi.


Rasa sakit yang dia rasakan ketika sang anak mencoba mencari jalan lahir, seakan mematahkan tulangnya satu persatu. Air mata yang menetes dari sudut mata Alena ,menyadarkan Arend betapa istrinya sekarang sedang sangat kesakitan.


"Mas,sakit," rintih Alena dengan wajah yang meringis serta berkali-kali mengembuskan napas.


"Iya ,sayang,sabar ya!" bisik Arend dengan lembut persis di telinga Alena. Tangannya tidak berhenti mengelus-elus punggung sang istri seperti yang disarankan oleh dokter, guna memberikan ketenangan pada sang istri.


"Dok, apakah masih lama?tolongin istri saya!"kenapa anda masih berdiri tenang di sana? apa anda tidak melihat kalau istriku ini kesakitan?" Arend menaikan intonasi suaranya ke arah dokter, yang sedari tadi berusaha untuk menahan diri dan bersabar menghadapi sikap Arend menyebalkan.


"Sabar, Tuan Arend! pembukaan istri anda masih pembukaan 4 menuju ke 5. Tunggu sampai pembukaannya sepuluh baru bisa dikatakan sempurna, dan bayi siap untuk dilahirkan," jelas dokter ,sabar dan lembut.


"Apa?! itu berarti harus menunggu sampai 6 pembukaan lagi dong?? emang tidak ada lagi cara lain untuk mempercepat pembukaannya?"


"Ada! caranya, kamu cukup diam saja!' bukan dokter yang menjawab melainkan Alena. Wanita yang sedang. menahan sakit yang amat sangat itu, kesal melihat Arend yang dari tadi , terlihat berisik dan mengintimidasi dokter.


Arend terdiam, tidak berani untuk berkata-kata lagi, mendengar intonasi suara Alena yang meninggi.


Alena meraup oksigen di sekitarnya dengan dalam-dalam, lalu mengembuskannya kembali dengan cukup panjang. Wanita itu melakukan aktifitas itu berkali-kali, dengan tangan yang menekan-nekan perutnya.


Arend berdiri dengan kaki gemetar, tidak kuat melihat istrinya yang kesakitan. Lengan pria itu kini sudah memerah, karena remasan kuat dari tangan istrinya itu. Akan tetapi, Arend tidak memperdulikan rasa perih di lengannya, karena rasa sakit yang dia rasakan, tidak sebanding dengan rasa sakit yang sekarang dirasakan oleh Alena.


"Sakit!" terdengar kembali suara rintihan dari mulut Alena, membuat Arend kembali panik.


"Dok, please cari jalan lain, agar istriku tidak kesakitan lagi!" mohon Arend yang tanpa sadar menangis melihat kesakitan yang dialami oleh istrinya itu.


"Tuan Arend, please jangan panik. Rasa sakit ini mau tidak mau memang harus dirasakan. Justru dalam melahirkan itu, rasa sakit ini yang dicari. Bahkan untuk mempercepat kelahiran, bisa dilakukan induksi yaitu untuk merangsang


kontraksi guna mempercepat proses persalinan, tapi ___"


"Kalau begitu di induksi aja, Dok,biar lebih cepat!" Arend menyela sebelum dokter itu menyelip ucapannya.

__ADS_1


"Tapi, rasa sakit akan bertambah dua kali lipat, dan tidak boleh dilakukan dengan sembarangan. Yang ditakutkan nanti, begitu bayinya sudah siap untuk dilahirkan, ibunya sudah kehabisan tenaga dan tidak sanggup lagi buat ngeden," terang dokter itu masih dengan intonasi suara yang sangat sabar.


Arend menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Raut wajah pria itu benar-benar frustasi.


"Ini semua gara-gara anak-anaknya Cakra dan balon sialan itu!" Arend menggerutu tidak jelas.


"Dok, bagaimana kalau operasi caesar aja?" celetuk Arend tiba-tiba.


"Tidak mau!" pekik Alena. " Kalau kamu tidak mau melihat aku kesakitan, lebih baik kamu keluar saja dari sini!" imbuh Alena dengan mata yang mendelik tajam.


"Tapi, Sayang, aku ...." Arend tidak melanjutkan ucapannya, melihat tatapan Alena yang semakin tajam ke arahnya.


"Tuan, keadaan bayi masih sangat memungkinkan untuk dilahirkan normal. Jadi, Tuan, sabar aja ya!" Dokter menengahi, mengehentikan ketegangan di antara dua orang itu.


Sementara itu di ruangan lain,dimana Callista juga tengah berjuang untuk melahirkan kedua buah hatinya. Namun situasi di ruangan Alena sangat berbeda dengan ruangan Calista.


Dokter dan perawat yang ada di ruangan itu, terlihat menahan tawa melihat penampilan Arick yang tampak sudah sangat berantakan. Calista dari tadi berteriak histeris, menjambak rambut pria itu dan menarik-narik kemeja yang dipakai oleh suaminya itu.


"Sabar ya, Bu, tahan sebentar lagi ya! tutur dokter yang menangani Calista dengan lembut dan sabar. Walaupun, dari tadi dokter itu, berkali-kali menutup telinganya karena teriakan Calista yang sangat memekakkan telinga.


"Iya, Sayang, benar kata dokternya. Kamu yang sabar ya!" Arick menimpali ucapan sang dokter.


"Kalau kamu tidak tahu bagaimana rasa sakitnya,mending kamu diam!" pekik Calista sembari menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Arick


Arick menghela napasnya dengan berat. Diam adalah pilihan terbaik untuk saat ini.


"Nak, jangan buat mamah kesakitan terus ya! cepat lah keluar. Papah sama mamah sudah tidak sabar untuk melihat kalian." Arick mengelus-elus perut Calista dengan lembut yang sontak mendapat respon cepat dari bayi-bayi yang ada di dalam rahim Calista.


Bayi-bayi itu seakan saling mendorong, ingin keluar dengan cepat, hingga membuat Calista semakin kesakitan.


" Arickkk! tolong kamu jangan bicara lagi! Lihat karena ucapanmu,mereka jadi makin menjadi-jadi mau keluar!" pekik Calista sembari mencengkram erat tangan Arick dan kembali mengembuskan napas berkali-kali di sela-sela rasa sakit yang dia rasakan. Wanita itu bahkan sudah memanggil suaminya itu dengan sebutan nama saja.

__ADS_1


"Astaga, bukannya hal itu yang diinginkan?" batin Arick, frustasi


"Hei, Kamu kenapa diam saja? apa kamu gak lihat, kalau aku lagi kesakitan?" Calista kembali bersuara dengan nada yang sangat tinggi.


"Ya ampun. Bukannya tadi, dia yang memintaku untuk diam? kenapa giliran aku sudah diam, dia marah-marah? aku harus ngapain lagi coba? serba salah! " gerutu Arick yang tentunya hanya berani dia ucapkan dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tuan Arend, pembukaannya sepertinya sudah sempurna. Bayi-bayi anda siap untuk dilahirkan.Tolong berikan dukungan buat istrinya ya, Tuan." Arend mengangukan kepalanya dengan peluh yang semakin deras menetes di pelipisnya. Hal yang serupa juga terjadi di ruangan Calista.


Alena mengejan berkali-kali dengan peluh yang sudah banjir di keningnya.


"Ayo, Bu,sedikit lagi ... kepalanya sudah terlihat.Jangan lama-lama, Bu, kasihan bayinya." dokter itu memberikan semangat.


"Ayo, Sayang kamu pasti bisa. Ingat sebentar lagi, kita akan bertemu dengan anak-anak kita. I Love You!" Arend juga ikut memberikan semangat, dengan tangan yang menggenggam erat tangan sang istri serta mengecup puncak kepala istrinya itu dengan penuh perasaan.


Ucapan Arend seakan menjadi kekuatan baru buat Alena. Dengan mengerahkan semua tenaganya akhirnya putra mereka lahir dengan selamat, tidak kurang satu apapun. Arend tidak bisa menahan lagi air matanya. Pria itu kini terlihat menangis, melihat dan mendengar tangisan putra pertama nya. Selang beberapa menit kemudian, seorang putri cantik kembali keluar dan menangis dengan suara kencang.


"Welcome to the world, baby twin!" gumam Arend sambil menyeka air matanya


Hal serupa terjadi di ruangan Calista. Wanita itu 10 menit lalu telah melahirkan dua bayi sekaligus dan tidak berbeda dengan Alena yang melahirkan anak laki-laki dan perempuan. Suara tangis bayi perempuannya sangat melengking lebih kencang dibandingkan suara putranya.


"Sepertinya bakal ada Calista kedua di rumah nanti," batin Arick tersenyum tipis sambil menyeka air matanya.


Bayi-bayi itupun dibawa para perawat untuk dibersihkan terlebih dahulu sebelum diserahkan kepada orang tuanya.


TBC


Yee akhirnya anak Arick dan Arend lahir dengan selamat.Hadiahnya ditunggu ya! 😁😀


please like,vote dan komen.Thank you

__ADS_1


__ADS_2