
Vania berjalan dengan anggunnya di loby kantor tempat dirinya bekerja selama ini.
"Selamat pagi, Bu!" sapa dua orang resepsionis.
"Oh, Selamat pagi! apa Pak Arick tadi masuk kantor?" tanya Vania, memastikan.
"Oh, ada, Bu. Beliau ada di atas bersama Pak Bayu dan satu orang laki-laki lagi, dan aku tidak kenal siapa," sahut resepsionis itu.
"Laki-laki? siapa ya laki-laki teman Arick selain Bayu?" batin Vania sembari mengrenyitkan keningnya.
"Ya udah, terima kasih ya!" Dengan langkah yang lumayan cepat, wanita itu melangkah menuju lift untuk menuju ruangan Arick.
"Kenapa Arick masih berada di Bandung? itu berarti dia tidak ada niat untuk menghindariku. Kalau dia menghindariku, kan pasti dia udah buru-buru kembali ke Jakarta? Atau jangan-jangan, dia sebenarnya memiliki perasaan yang sama sepertiku, tapi dia hanya berpura-berpura tidak suka, karena dia tidak ingin mengecewakan mamanya?" berbagai spekulasi timbul di pikiran Vania dan spekulasi terakhir berhasil membuat wanita itu berbunga-bunga.
pintu lift yang membawakan ke lantai 20, tempat dimana ruangan CEO berada terbuka dan Vania keluar dengan seulas senyuman yang manis di bibirnya.
Kemudian wanita itu mengetuk pintu dan masuk ketika terdengar suara perintah masuk dari mulut Arick.
"Selamat pagi, Arick,Bay, dan ...." Vania menggantung ucapannya sambil menatap pria muda yang satu lagi yang sama sekali dia tidak kenal.
"Kamu terlihat semangat pagi ini, Vania! apa ada sesuatu yang membuatmu semangat?" ucap Arick yang terasa ambigu buat Vania.
"Kenapa dia bertanya seperti itu? harusnya dia tahu kan kenapa aku terlihat semangat? tapi kenapa dia bersikap seperti tidak terjadi sesuatu di antara kami tadi malam?" bisik Vania pada dirinya sendiri dengan kerutan di keningnya.
"Kenapa kamu tidak menjawab? dan satu hal lagi, kenapa kamu bisa datang jam segini? apa kamu merasa kalau perusahaan ini adalah milikmu, hingga kamu bisa datang sesuka hati?"
Kening Vania semakin berkerut. Wanita itu benar-benar bingung kenapa Arick bisa bersikap seperti itu. "Hmm, aku tahu, mungkin Arick ingin menjaga imagenya di depan Bayu dan temannya itu. Dia tidak ingin mereka tahu tentang apa yang terjadi di antara kami tadi malam," batin Vania dengan sangat yakin
__ADS_1
"Maaf, Pak Arick! bukannya aku tidak menghargai waktu, tapi tadi malam ada sesuatu yang terjadi, yang membuatku tidur larut. Jadinya aku bangun kesiangan tadi." Vania tersenyum penuh arti dan menatap Arick dengan tatapan yang berbeda.
"Oh, seperti itu! tapi itu bukan jadi alasan untuk kamu untuk bisa dai terlambat. Seharusnya kalau kamu telat, kamu ada pemberitahuan lebih dulu," ucap Arick yang semakin membuat Vania heran.
"Tapi kan, kamu tahu sendiri kenapa aku bisa telat? kan kamu yang membuatku bisa telat. kamu jangan berpura-pura lupa tentang apa yang kamu lakukan tadi malam padaku?" Vania tidak bisa menahan diri lagi, karena melihat sikap Arick yang seperti tidak terjadi sesuatu.
"Emangnya apa yang sudah aku lakukan padamu?" tanya Arick dengan santai dan wajah datar, hingga membuat wanita itu semakin bingung.
"Arick! kamu jangan coba-coba untuk berpura-pura tidak tahu. Dari tadi aku berusaha tidak membongkarnya, untuk menjaga harga dirimu di depan Bayu dan temanmu itu," suara Vania sudah mulai meninggi.
"berpura-pura? siapa yang berpura-pura? dan harga diri siapa yang kamu jaga? aku tidak butuh untuk kamu jaga harga diriku, karena harga diriku masih ada. Atau jangan-jangan, harga diri yang kamu maksud itu, harga dirimu sendiri? emang kamu masih punya?" ucap Arick masih dengan santai tapi terselip sindiran yang sarkastik.
"Arick! stop bersandiwara lagi!" hardik Vania dengan napas yang memburu.
"Baiklah! sekarang aku akan bongkar apa yang sudah kamu lakukan padaku tadi malam. Jadi jangan salahkan aku, karena kamu sendiri yang memaksaku untuk membongkar perbuatanmu." tatapan Vania yang semula lembut, kini berubah sangat tajam.
Melihat sikap santai Arick, ada timbul keraguan pada Vania. "Jangan-jangan dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi itu gak mungkin? dari mana dia bisa tahu? jelas-jelas dia tertidur kan tadi malam?" Vania berbicara pada hatinya sendiri.
"Kenapa kamu belum mulai? ayo, bicara! aku sudah tidak sabar mendengarnya," celetuk Arick yang disertai dengan senyum misterius.
"Arick, jangan kira dengan kamu bersikap seperti ini, membuat aku lengah dan tidak jadi mengatakannya." ucap Vania. Kemudian wanita itu mengalihkan tatapannya ke arah Bayu dan Pria yang tidak dikenalnya itu.
"Bay dan kamu, entah siapa pun kamu, aku mau bilang kalau tadi malam Arick sudah melakukan hal keji terhadapku. Dia telah merenggut paksa kehormatanku." ucap Vania dengan nada yang berapi-api.
"Apa! aku tidak pernah melakukannya! kamu jangan memfitnahku!" pekik Arick, memasang wajah panik. Benar-benar akting yang payah. Kenapa? karena wajah paniknya tidak terlihat natural...
"Itu benar Arick. Kamu jangan mengelak! kamu mau buktinya? nih aku sudah mengambil buktinya untuk berjaga-jaga, jika kamu nantinya berniat menyangkal. Kamu pasti tidak mengira kan kalau aku sudah mengambil buktinya lebih dulu?" Vania tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Vania, kamu benar-benar tidak ahli berbohong. Kalau kamu memang diperkosa oleh Arick, seharusnya kamu sedih dan marah begitu melihat Arick, karena setahuku setiap gadis yang mengalami pemerkosaan akan teriak-teriak meminta pertanggungjawaban, tanpa peduli, dimana dan kapanpun itu. Namun, yang kulihat sangat bertolak belakang dengan itu. Kamu justru terlihat gembira. Atau jangan-jangan, kamu sudah merencanakannya sebelumnya karena kamu memang ingin memiliki Arick?" Bayu buka suara dan langsung to the point.
Wajah Vania benar-benar terlihat pucat, mendengar ucapan Bayu yang sepertinya meragukan pengakuannya.
"Ih, kok aku bodoh ya? seharusnya kan aku tadi harus berakting menagis sambil berteriak-teriak, berpura-pura sudah hancur, supaya sandiwaraku terlihat natural? ini gara-gara pikiran bodohku yang mengira Arick memiliki perasaan yang sama, jadinya aku bisa lengah begini." Vania merutuki kebodohannya.
"Kenapa kamu diam?" tanya Bayu penuh selidik.
"I-itu karena aku merasa kalau hal ini masih bisa dibicarakan. Aku masih berpikir kalau aku berteriak-teriak marah, bukan hanya nama baiknya yang hancur tapi juga nama perusahaan," Vania mencoba memberikan alibi yang masuk akal.
"Wah, mulia sekali hatimu! ditengah kondisi dirimu yang hancur, kamu masih sempat memikirkan nama baik perusahaan. Aku salut padamu!" Bayu berdecak kagum sembari tersenyum misterius.
"Vania, apa yang kamu katakan itu benar? apa itu bukan sandiwaramu saja? aku kasih kamu sekali lagi kesempatan untuk mengakui semuanya." Arick kembali bersuara dengan nada yang sangat dingin dan tatapan tajam.
Vania menelan ludahnya sendiri, begitu melihat tatapan Arick yang seperti ingin menelannya hidup-hidup.
"Aku tidak boleh gentar. Bisa saja dia sengaja menatapku seperti itu, supaya aku takut." bisik Vania pada dirinya sendiri,dan kembali memasang wajah berani.
"Tentu saja apa yang aku katakan itu benar. Buat apa aku berbohong? sekarang aku mau kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan padaku. Kalau tidak, terpaksa aku akan menyebarkan bukti-bukti ini ke publik," ancam Vania dengan raut wajah yang tegas.
"Baiklah! aku sudah memberikan kamu kesempatan untuk mengakui sandiwaramu, tapi kamu sama sekali tidak mengindahkannya. Jadi sekarang aku tidak akan sungkan-sungkan lagi untuk membuat kamu menyesal dengan tindakanmu yang sudah di luar batas."
Arick memutar laptop di depannya ke arah Vania.
"Coba kamu lihat ini, Vania!" Wajah Vania seketika berubah pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali.
Tbc
__ADS_1