
Cakra tersenyum lebar dan langsung mengecup kening Safira. Kemudian beralih ke kedua mata, hidung dan berakhir di bibir Safira.
Perlakuan Cakra sama sekali tidak mendapat perlawan dari Safira. Bibir Yang awalnya hanya sekedar menempel, lambat laun berubah menjadi lu*matan. Lagi-lagi Safira tidak terlihat memberontak, justru wanita itu sekarang sedikit membalas ciuman Cakra, walaupun terkesan kaku.
Cakra semakin membenamkan bibirnya ke bibir Safira dan menyesapnya dengan sangat lembut. Cakra menggigit sedikit bibir Istrinya itu sehingga tanpa sadar Safira membuka mulutnya. Cakra tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung melesakkan lidahnya ke dalam mulut Safira. Kemudian pria itu membelit benda tidak bertulang itu dengan penuh gairah.
Bibir Cakra kini berpindah ke leher Safira dan memberikan tanda kepemilikan di sana.Tangan Cakra juga tidak mau tinggal diam. Tangan pria itu sudah bergelirya meraba semua area-area sensitif pada tubuh istrinya itu.
Suara ******* Safira seakan menjadi pemantik, menambah semangat Cakra untuk melakukan lebih lagi.
Di saat tangan Cakra hendak melucuti pakaian Safira, wanita itu tiba-tiba menahan dada suaminya itu hingga menimbulkan keryitan di kening pria itu.
"Ada apa, Sayang? apa kamu masih ragu?" tanya Cakra di sela-sela napasnya yang memburu, menahan sesuatu yang ingin meledak di kepalanya.
"Bu-bukan begitu! aku cuma mau kasih tau kalau aku ngga perawan lagi," ucap Safira dengan wajah polosnya.
Cakra ingin meledakkan tawanya, mendengar ucapan istrinya yang polos.
"Aku sudah tahu, kan aku dulu yang pertama membobolnya,"
"Oh, iya ya." Safira merutuki kebodohannya sambil mengetuk keningnya sendiri.
"Jadi, bisa kita lanjutkan lagi?" tanya Cakra dengan raut wajah yang penuh damba.
Senyum Cakra kembali terbit begitu melihat Safira menganggukkan kepalanya.
Cakra kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Safira untuk memulai kembali apa yang sempat tertunda. Dengan perlahan tangan cakra mulai membuka satu persatu kancing piyama, dan menanggalkan piyama itu dari tubuh sang istri
Pemandangan yang sangat menakjubkan tersaji indah di depan mata Cakra. Keindahan tubuh Safira benar-benar sesuai dengan apa yang dibayangkan pria itu selama ini.
Sementara itu, Safira menutup matanya karena wanita itu sangat malu, karena tubuh polosnya benar-benar dilihat dengan sadar oleh sang suami.
"Kenapa kamu tutup mata?"
"Aku malu," desis Safira dengan sangat pelan.
"Buat apa malu? kamu itu cantik dan sangat indah, Sayang. Aku boleh menyentuh keindahan tubuhmu kan?"
"Bukannya dari tadi kamu sudah menyentuhnya? kenapa kamu meminta izin lagi?" ucap Safira dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
"Kamu buka matamu dong!" Safira mengintip dengan sebelah matanya, lebih dulu. Setelah itu, dia memberanikan diri membuka lebar matanya. Manik mata kedua sejoli itu seketika langsung terkunci.
Tatapan mereka terkunci hanya sepersekian detik. Detik berikutnya jarak mereka semakin terkikis dan akhirnya bibir mereka sudah menempel kembali.
Sekarang polosnya tubuh Safira tidak hanya dilihat saja, Cakra pun sekarang sudah diberi izin untuk mendaki bukit kembar milik Safira hingga mencapai puncaknya yang berwarna pink kecoklatan.
Cakra juga sekarang melucuti pakaiannya sendiri hingga tubuh pria itu juga sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel.
"Kamu sudah siap kan? tanya Cakra di sela-sela napasnya yang memburu.
Cakra tersenyum lebar ketika melihat Safira menganggukkan kepalanya.
Kemudian pria itu dengan perlahan mengarahkan tongkat sejengkal yang bisa mengangkat dua bola itu, masuk ke dalam gua yang gelap dan lembab. Walaupun Safira sudah tidak gadis lagi, dan pernah melahirkan, intinya tetap merasakan sakit karena sudah lama tidak dimasuki benda seperti milik Cakra.
Akhirnya malam ini Safira memasrahkan dirinya sepenuhnya untuk Cakra, pria yang dia cintai dan kini sudah berstatus suaminya.
Sudah tidak terhitung berapa kali, Safira mendapat pelepasan karena ulah Cakra yang seakan tidak ada capeknya untuk mendaki gunung dan menggarap sawah milik Safira, hingga membuat wanita itu terkulai kelelahan dan mengibarkan bendera putih tanda menyerah.
Setelah melakukan olahraga yang menguras tenaga tapi nikmat itu, baik Cakra maupun Safira bersama-sama terkulai lemas di atas ranjang dengan napas yang tersengal-sengal. Wajah keduanya memperlihatkan kepuasan yang tiada tara.
Cakra menarik tubuh Safira kemudian membenamkan kepala istrinya itu ke dadanya dan mengecup puncak kepala istrinya itu berkali-kali.
"Terima kasih ya, Sayang!"
Senyuman di bibir Cakra tidak pernah lekang dari tadi. Dia merasa bahagia dan berterima kasih, karena Safira bersedia menikah dengannya dan bahkan sudah mencintainya.
Tanpa menunggu lama, dan mungkin juga karena kelelahan,mereka berdua pun akhirnya tertidur dengan keadaan berpelukan tanpa sehelai benang pun yang menempel ditubuh mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kondisi Tasya terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya, karena kehadiran Kama. Gurauan Kama, seketika bisa membuat wanita itu lupa sejenak akan kesedihan yang baru saja dia rasa.
"Hmm, sudah sangat larut, sebaiknya aku antarkan kamu pulang sekarang!" Ujar Kama sambil melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Tapi, aku rasanya tidak ingin pulang malam ini, Kam. Aku __"
"Kamu tidak bisa berkata seperti itu! bagaimanapun merekalah sudah membesarkanmu. Kalau kamu belum bisa memaafkan mama angkatmu, kamu harus lihat papa angkatmu. Pasti sekarang, om itu sudah sangat khawatir menunggumu pulang." bujuk Kama dengan lembut.
"Hmm, apa setelah papa tahu kalau aku ternyata bukan darah dagingnya nanti, dia masih sayang padaku? apa dia akan mengusirku?" Tasya terlihat sangat khawatir.
__ADS_1
"Kamu jangan berpikir terlalu jauh! sekarang kita pulang ya!"
Tasya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
"Di sini kamu rupanya!" tiba-tiba terdengar suara bariton dari belakang Kama dan Tasya, hingga membuat kedua sejoli itu terlonjak kaget. Apalagi ketika melihat siapa pemilik suara itu.
"Papa, Arick! kenapa kalian berdua bisa ada di sini? dari mana kalian tahu aku di sini?" tanya Kama pada orang yang menegurnya tadi yang ternyata Kenjo papanya dan Arick.
"Pakai nanya lagi? kami bisa ke sini tentu saja karena mencarimu." jawab Kenjo dengan kesal
"Kenapa harus mencariku?"
"Arick, apa ada yang jual otak? kalau ada aku mau ganti otak dia."Kenjo semula terlihat kesal dengan raut wajah bingung putranya itu. Sementara Arick hanya bisa terkikik.
"Apaan sih, Pah? kenapa sampai bawa-bawa ganti otak segala?"
" Kama, malam kemarin kan kamu sampai mabuk gara-gara ditolak sama Tasya. Kamu masih berani bertanya lagi, kenapa kami mencarimu sekarang? kamu tidak sadar kalau ini sudah larut malam, Kama! dan kamu tidak ada kabar sama sekali. Kami kira kamu akan melakukan tindakan bodoh lagi. Mamamu sudah menangis di rumah karena khawatir. Ternyata kamu asyik berduaan di sini," sindir Kenjo. Sementara itu, Tasya menundukkan kepalanya, malu mendengar sindiran papanya Kama.
"Maaf, Pah! aku benar-benar lupa untuk memberikan kabar."
"Makanya sekali lagi ingat buat kasih kabar! gara-gara nemenin Om Kenjo nyariin kamu,. waktu berduaanku dengan Calista jadi berkurang," Arick buka suara yang disambut dengan cengiran dari bibir Kama.
"Apa sekarang kalian sudah baik-baik saja?" Kenjo menimpali ucapan Arick, karena tertarik melihat keberadaan Tasya yang bergandengan tangan dengan Kama.
"Seperti yang, Papa lihat." Kama tersenyum lebar sambil mengangkat tangannya dan tangan Tasya yang sedang berpaut.
"Hmm, bagaimana bisa? padahal tadi malam kamu kaya orang frustasi karena ditolak."
"Bisalah, Pah!" jawab Kama santai.
"Tasya, apa kamu dipaksa sama anak saya?" Kenjo menyelidik , curiga.
"Enak saja!" sangkal Kama.
"Tidak sama sekali, Om." Tasya membantah sambil menundukkan kepalanya.
"Jadi kenapa matanya bengkak seperti Habis menangis?"
Kama tidak langsung menjawab. Pria itu, menoleh ke arah Tasya lebih dulu untuk meminta pembenaran. Kemudian Kama akhirnya menceritakan apa yang terjadi, setelah Tasya menganggukkan kepalanya, mengizinkan.
__ADS_1
"Dan aku tahu siapa Papa kandung Tasya." celetuk Arick tiba-tiba menanggapi pemaparan Kama.
Tbc