
Kediaman Aby sangat ramai hari ini, Arick dan Calista datang berkunjung, demikian juga dengan Calvin dan Cantika.
Arick dan Calista terlihat romantis dan hal ini tidak luput dari perhatian Arend. Dia tersenyum tipis melihat pemandangan itu. Ada rasa puas yang muncul dalam dirinya, merasa kalau perjuangannya tidak sia-sia.
"Sob, apa kamu masih marah denganku?" tiba-tiba Kama muncul sambil menepuk pundak Arend dan langsung duduk di samping pria itu.
" Emangnya siapa yang marah denganmu? bukannya kamu yang marah padaku ya?". Arend balik bertanya.
Kama terkekeh, "Maaf, Sob. Aku sudah keterlaluan. Alena sudah jadi istrimu, aku tidak pantas marah padamu. Aku hanya tidak rela jika kamu menjadikan dia sebagai objek pemuas na*psu mu aja, sedangkan kamu tidak mencintainya sama sekali," terang Kama dengan mata yang menatap ke arah Alena yang sedang asyik bermain dengan babi Ivan bersama dengan tante Cantika.
"Apa kamu pikir aku serendah itu, Kam? aku juga tidak mau melakukannya, kalau bukan karena cinta. Aku dan Alena tidak melakukan apapun tadi malam selain tidur saja," jelas Arend.
"Serius kamu?! jadi yang aku lihat tadi pagi itu ...."
"Dia terjatuh di kamar, makanya jadi jalannya seperti itu," terang Arend.
Kama menganggukkan kepalanya, dengan mulut yang membulat membentuk huruf 'o'.
Pembicaraan keduanya seketika terhenti, karena melihat Arick yang berjalan ke arah mereka berdua.
"Hai, kenapa kalian berdua berhenti bicara? apa kalian berdua sedang membicarakanku?" tanya Arick sambil mendaratkan tubuhnya duduk di samping Arend.
"Kamu itu terlalu percaya diri. Kami sama sekali tidak membicarakanmu. Kami lagi bicara tentang malam pertamanya Arend," terang Kama, yang disertai dengan tawa.
"Arend, apa kamu menceritakan semua tentang malam tadi pada si kunyuk ini? kamu tidak takut kalau dia nantinya akan berbuat macam-macam karena ingin juga merasakan hal seperti itu? kasihan dia, Rend." ujar Arick, dengan nada meledek yang ditujukan ke arah Kama. Hingga membuat suara tawa Arend pecah.
Kama mendegus mendengar ledekan Arick.
"Cih, padahal kalian berdua juga belum merasakannya. Kalian tidak sadar kalau rahasia kalian berdua ada padaku. Sama-sama belum merasakan, tapi sama-sama bertingkah seperti sudah melakukannya," ucap Kama yang sialnya hanya berani dia ucapkan dalam hati.
"Oh ya, dimana Cakra dan Carlos? kenapa mereka tidak ke sini?" tanya Arick setelah tawanya reda.
__ADS_1
"Tadi aku sudah coba menghubungi mereka. Tapi katanya Cakra lagi malas keluar. Alhasil Carlos pun ikut-ikutan," sahut Kama.
"Semenjak kejadian itu, Cakra jadi kebanyakan diam. Padahal sudah berlalu hampir dua tahun yang lalu," Arend buka suara seraya menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
"Dia merasa bersalah, Sob. Seandainya itu aku, mungkin juga akan seperti dia." Kama menimpali ucapan Arend.
"Iya juga sih. Mungkin kalau itu aku. Aku juga akan seperti itu."
Sementara itu, empat orang wanita, yang berbeda usia, sedang asik mengajak baby Ivan bermain.
"Mah, baby Ivan kayanya mirip mukanya kak Cakra dan kak Carlos waktu bayi kan? tapi lebih ke kak Cakra sih?" celetuk Calista asal, tapi bisa langsung membuat Cantika menatap intens ke wajah Ivan, dan dia membenarkan ucapan Calista di dalam hati.
"Iya ya? Kak Celyn, berarti dia cocoknya jadi cucuku, bukan cucumu." ucap Cantika dengan nada bercanda.
"Enak aja. Dia ini cucu pertama keluarga Bagaskara. Besok kami mau mengurus semua surat-suratnya dan memasukkan nama Bagaskara di belakang namanya." ucap Celyn sambil menciumi wajah Ivan. Sedangkan bayi itu,tertawa girang karena merasa geli.
"Sekalian aja, kasih nama Mahendra di belakangnya. Jadi Ivan Grayson Bagaskara Mahendra. Bagus kan?" ucap Cantika, merasa bangga dengan idenya sendiri yang menurutnya sangat cemerlang.
Sementara itu, Alena merasa bahagia melihat anak angkatnya diterima bahkan sangat disayang oleh keluarga barunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Safira baru saja selesai membersihkan rumah bekas tempat tinggal Alena. Beruntung rumah ini belum lama ditinggalkan, jadi dia tidak terlalu capek untuk membersihkannya. Dia juga sempat menangis ketika menemukan pakaian bayi, yang dia yakini milik anak sulungnya. Dia tahu dari Sarni kalau anaknya itu diberi nama Ivan oleh wanita yang merawatnya.
Safira sangat bersyukur juga karena dia tidak perlu untuk membeli beberapa peralatan masak dan yang lainnya, karena dirumah itu juga sudah tersedia.
"Safira, Ayo kita ke rumah bude dulu. Kamu belum makan siang kan? kalau baby Ian sudah bude kasih makan tadi dan sekarang sudah tidur," ucap Sarni yang tiba-tiba muncul di depan pintu.
Ya anak Safira diberi nama Ian Raditya yang artinya kemegahan Tuhan dan Sinar matahari. Awalnya Sarni bingung, kenapa bisa kebetulan nama baby Ivan dan baby Ian hampir sama. Tapi kemudian Sarni berpikir, mungkin inilah kuasa Tuhan, tanpa sadar nama kedua anak kembar itu bisa hampir sama, walaupun yang memberikan nama, orang yang berbeda.
"Aduh, terima kasih,Bude. Aku tidak tahu lagi mau bilang apa," ucap Safira tidak enak, sekaligus mert bersyukur.
__ADS_1
"Udah, kamu tidak usah sungkan. Ayo ikut, bude!" Sarni melangkah menuju rumahnya dan Safira mengekor dari belakang.
"Kamu makan dulu! nih kebetulan bude masak banyak tadi," Sarni menarik kursi dan menyendokkan nasi ke dalam piringnya setelah itu, Safira melakukan hal yang sama.
"Maaf, Bude. Apa Bude tinggal sendiri di rumah ini?" tanya Safira, karena melihat rumah Sarni yang sepi padahal ini hari Minggu.
"Iya, Nak. Suami Bude sudah lama meninggal. Bude hanya punya anak satu, dan sekarang anaknya sudah menikah dan tinggal di Kalimantan karena kebetulan anak bude itu ditugaskan di sana," jelas Sarni.
"Ayo makan yang banyak, Fira. Biar badanmu gak kurus kaya gitu."
"Emang, badan segini kurus ya, Bude. Badanku dari dulu begini, gak bisa gemuk, Bude.
"Gak kurus-kurus amat sih. Tapi kalau tambah sedikit lagi, pasti lebih bagus lagi." ucap Sarni yang dibalas dengan kekehan Safira.
"Nak Safira, apa kamu sudah punya pekerjaan?" tanya Sarni sambil menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.
"Aku baru diterima kerja kemarin, Bude. Besok hari pertama aku kerja."
"Dimana dan sebagai apa?"
"Di perusahaan Mahendra group, Bude. Aku hanya sebagai Office girl, karena aku hanya lulusan SMK," jawab Safira.
"Oh, tidak apa-apa! yang penting kamu ada pekerjaan,"
"Mahendra group? Emmm, sepertinya aku pernah dengar nama Mahendra," bisik Sarni dalam hati, dan berpikir keras mengingat nama Mahendra.
"Oh, iya. Bukannya itu milik Tuan Calvin besannya mertua Alena?"
Tbc
Maaf ya, kalau aku up nya hanya satu bab beberapa hari ini. sebenarnya kata dokter aku masih harus banyak istirahat supaya benar-benar pulih. Aku usahakan up minimal sehari itu, supaya gak turun level aja. Padahal aku punya dua novel yang masih ongoing.
__ADS_1