Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Pernikahan Carlos dan Kalila


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Kalila dan Carlos disahkan menjadi suami istri. Wanita itu sudah terlihat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih. Walaupun hatinya tidak bahagia, tapi dia tetap berusaha untuk menunjukkan pada orang khususnya pada Kenjo dan Anin orang tuanya, kalau dirinya sangat bahagia.



"Kamu cantik sekali, Sayang!" puji Anin dengan manik mata yang sudah berembun. Sebenarnya wanita itu dari tadi berusaha untuk menahan agar air matanya tidak keluar.


"Terima kasih, Ma! aku kan anaknya Mama, jadi pasti cantik dong. Wong mamanya secantik ini," ujar Kalila dengan senyuman yang tidak pernah tanggal dari bibirnya.


"Kalila!" seru seseorang yang muncul di depan pintu dengan hebohnya. Siapa lagi pemilik suara berisik itu kalau bukan Calista. Wanita itu datang bersama Alena, Safira dan satu orang wanita yang baru kali ini dia lihat.


"Wah, akhirnya kamu akan jadi kakak iparku, kamu cantik sekali hari ini!" puji Calista sambil membolak-balikkan tubuh Kalila.


"Lista, udah dong! gak usah berlebihan seperti itu!" protes Kalila dengan bibir yang mengerucutkan.


"Kamu cantik sekali!"puji Alena dengan tulus sambil memeluk Kalila. Sedangkan Safira bersama dengan temannya yang tidak lain adalah Tasya, hanya diam berdiri dengan canggung.


"Hai, Safira!" sapa Kalila dengan senyuman manis di bibirnya.


"Hai juga, Lila," Safira membalas senyuman Kalila dengan canggung.


Walaupun sudah pernah berkenalan dengan Kalila, entah kenapa Safira sedikit merasa tidak enak karena dirinya Kalila batal menikah dengan Cakra.


"Ini teman kamu?" Kalila berusaha mencairkan kecanggungan yang tampak jelas di wajah Safira.


"Eh, iya. Namanya Tasya," Safira menyikut Tasya agar memperkenalkan dirinya.


"Aku Tasya, Nona," ucap Tasya sambil mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar.


Kalila tersenyum manis. Wanita itu pun segera menyambut uluran tangan Tasya.


"Jangan panggil aku Nona! panggil aku Kalila,"


Tasya menganggukkan kepalanya, dengan kikuk, karena dirinya merasa sangat minder ada di tengah-tengah wanita dari keluarga kaya itu.


Selain pada Kalila, Tasya juga dengan sopan dan canggung memperkenalkan dirinya pada Anin mamanya Kalila.


"Udah, sekarang sudah waktunya kamu dan Carlos mengikat janji, Nak. Ayo kita keluar!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kalila dan Carlos kini sudah sah menjadi suami istri di mata hukum dan agama 1jam yang lalu. Sekarang saatnya acara resepsi di sebuah hotel bintang lima akan diadakan.


Kalila terlihat mengenakan gaun yang sangat sederhana. Akan tetapi gaun sederhana yang dia pakai tidak bisa menutupi kecantikan pada wajah mempelai wanita itu.

__ADS_1



"Kalila papa keluar dulu ya, Nak! " ucap Kenjo sambil menyeka air matanya. Ya pria itu baru saja mendatangi putrinya itu untuk memberikan beberapa nasehat seperti seorang ayah pada umumnya saat menikahkan putrinya. Pria itu menangis bukan karena dia tidak bahagia atas pernikahan Kalila dengan Carlos. Tapi dia merasa sedih karena putri satu-satunya itu tidak akan tinggal bersamanya lagi di kediamannya.


Kalila menganggukkan kepalanya sambil menyeka air mata yang juga menetes membasahi pipinya, mendengar semua nasehat-nasehat yang diberikan oleh papanya.


Setelah Kenjo keluar, MUA yang tadinya diminta untuk keluar sebentar, kembali masuk untuk membenahi riasan Kalila kembali.


Di saat MUA selesai membenahi riasan Kalila di saat itu pula, Carlos masuk untuk menjemput istrinya itu. Pria itu kembali terpukau dengan penampilan Kalila istrinya untuk yang kedua kalinya.



"A- apa kamu sudah siap?" tanya Carlos, di sela-sela kegugupannya. Kalila tidak menjawab sama sekali. Akan tetapi wanita itu menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Para tamu mulai berdatangan menghadiri acara resepsi pernikahan Kalila dan Carlos. Di depan pintu masuk, kolase photo kedua mempelai itu ketika melakukan prawedding, terpampang jelas dan memperlihatkan keserasian kedua insan itu.


Setelah memasuki ruangan ballromm dimana diadakannya pesta, para tamu semakin terkagum dengan pilihan dekorasi yang sangat indah, dan mewah pilihan kedua mempelai itu. Yang pastinya pilihan Kalila.



Para tamu itu juga takjub melihat dekorasi pelaminan yang tidak kalah indah dengan tempat para tamu,



"Tentu saja. Mereka berdua datang dari keluarga sultan, pastinya mereka mau yang terbaik di hari pernikahan mereka," balas yang lainnya.


Di barisan para tamu, tampak Arend yang datang bersama dengan Alena istrinya. Mulut wanita itu terbuka karena merasa takjub melihat tema dekorasi pilihan Kalila.


"Tutup mulut kamu itu! jangan malu-maluin," bisik Arend tepat pada telinga Alena, hingga membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya.


Alena tidak mengindahkan ucapan Arend. Wanita itu justru semakin mengedarkan pandangannya ke segala penjuru dengan mata yang berbinar kagum.


"Apa aku bisa memiliki pesta pernikahan se indah ini?" batin Alena bertanya dalam hati dengan ekor mata yang sedikit melirik ke arah pria tampan di sampingnya.



"Ah, itu tidak mungkin. Kamu tidak diceraikan saja sudah syukur. Jadi jangan berharap lebih Alena," Kembali Alena membantin merasa skeptis akan bisa memiliki pesta pernikahan impiannya.


"Kamu mau memiliki pesta pernikahan seperti ini? kalau kamu mau, yang lebih indah dan mewah dari sini juga aku bisa memberikannya padamu," celetuk Arend tiba-tiba.


"Ah, tidak perlu kok, Mas?" tolak Alena, berbohong.

__ADS_1


"Kenapa tidak mau? apa kamu tidak mau mengumumkan ke masyarakat kalau kita ini sudah suami istri?" Alis Arend bertaut tajam.


"Hmm, bukan seperti itu. Justru aku yang curiga kalau kamu yang tidak mau mengumumkannya,"


"Pernikahan kita yang tertutup itu diusulkan oleh kamu. Aku dari dulu juga mau pernikahan yang terbuka. Jadi kenapa kamu meragukan kalau aku yang tidak mau mengumumkannya?" nada suara Arend terdengar mulai kesal.


Alena tercenung, tidak bisa membantah ucapan Arend, karena memang apa yang diucapkan suaminya itu benar adanya.


"Itu Arick dan Calista, kita kesana yuk!" Alena berusaha mengalihkan pembicaraannya dengan Arend.


"Kamu jangan mengalihkan pembicaraan Alena. Kamu jawab dulu, apa kamu sudah mau mempublikasikan pernikahan kita?" tanya Arend pada Alena, wanita yang tampil cantik dengan rambut yang dibiarkan tergerai lepas dan dengan balutan gaun panjang berwarna pastel itu.



"Emm, terserah kamu deh, Mas. Kenapa aku dulu tidak mau dipublikasikan, kamu sendiri kan tahu alasannya. Itu karena demi kebaikan kita berdua. Lagian buat apa ada pesta pernikahan kalau kamu tidak mencintaiku?" ucap Alena sambil melangkahkan kakinya berjalan mendahului pria itu untuk menghampiri Arick dan Calista.


Arend mengembuskan napasnya dengan kasar, merasa kesal dengan Alena yang tidak peka dengan perasaannya. Kemudian pria itu pun melangkah menyusul sang istri.


"Calista kamu cantik sekali," sapa Alena sambil memeluk dan Cipika-cipiki pada Calista, yang juga tampil anggun Dengan balutan gaun berwarna biru muda yang dikombinasikan dengan warna perak.



"Kamu juga cantik, Alena! Oh ya Safira dan Tasya di mana?" tanya Calista sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru untuk mencari keberadaan dua wanita itu.


"Kenapa kamu menanyakannya padaku? bukannya Safira calon kakak ipar kamu?"


"Walaupun dia calon kakak iparku, tidak berarti aku selalu tahu dimana dia, iya kan?"


Alena tertawa renyah melihat Calista yang tersenyum kecut.


"Itu Safira," tunjuk Calista begitu melihat sosok wanita yang dia cari. "Tapi di mana temannya si Tasya?" sambungnya kembali


"Hai, boleh aku gabung?" tiba-tiba Safira sudah berada dekat di samping mereka.


"Tentu saja. Dimana kak Cakra dan temanmu Tasya?"


"Cakra ada di sana. Sebentar lagi dia pasti akan ke sini. Kalau Tasya dia tidak mau hadir, karena katanya dia malu memakai baju yang sama dengan yang dipakai tadi siang. Dan dia tidak mau menerima gaun yang kamu kasih. Katanya, dia merasa tidak enak," jawab Safira yang juga tampil cantik dengan balutan gaun berwarna biru muda itu.



"Hmm, kedua pengantin sudah mau masuk. Nanti saja kita bicara lagi," Alena menimpali pembicaran Safira dan Calista.


"Tunggu! siapa wanita yang bersama Kama itu?" celetuk Arick tiba-tiba, hingga perhatian mereka semua bukan pada kedua mempelai lagi, justru pada Kama yang menggandeng seorang wanita.

__ADS_1


Tbc


Mulai besok, mungkin aku akan up sebisanya ya guys. Karena aku hari ini pulang kampung ke rumah mertua untuk kumpul keluarga di malam pergantian tahun. Setelah itu kami juga akan pulang juga ke kampung mamaku sekitar semingguan. Tapi, aku akan tetap berusaha untuk bisa up kalau tidak ada kendala. Terima kasih 🙏🏻😍


__ADS_2