Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Bab 81


__ADS_3

Sementara istri-istri mereka sedang membuat kue, Arick dan Arend justru terlihat galau, khususnya Arick. Pria itu terlihat tidak bersemangat melakukan pekerjaannya. Dari tadi, dia hanya membolak-balikkan lembaran-lembaran kertas dokumen yang ada di depannya tanpa membaca sama sekali.


"Kamu kenapa sih? apa kamu ada masalah?" celetuk Arend yang merasa kesal karena keberadaannya diabaikan semenjak dia masuk ke ruangan saudara kembarnya itu.


Arick mengembuskan napasnya dengan cukup berat. Dia memutuskan untuk menutup dokumen yang ada di Tangannya.


"Hari ini aku kesal, Rend! coba kamu pikirkan, Calista sama sekali tidak memberikan ucapan selamat ulang tahun untukku. Dia lupa atau bagaimana aku nggak tahu," keluh Arick mengungkapkan penyebab dirinya uring-uringan.


Arend tidak menjawab sama sekali. Pria itu justru terlihat ikut mengembuskan napasnya seraya menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Masa sih? kok tumben dia bisa lupa? padahal yang berkaitan denganmu dia kan pasti selalu ingat," Arend mengrenyitkan keningnya, merasa bingung.


Arick mengangkat bahunya, pertanda kalau pria itu juga bingung.


"Apa Alena sudah memberikan ucapannya juga untukmu?" Arick menatap Arend serius.


Arend tersenyum getir sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nasib kita sama, Rick. Aku bahkan ragu yang dia tahu tanggal ulang tahunku,"


"Kalau Alena masih bisa dimaklumi. Tapi kalau Calista, ini benar-benar sudah sangat membingungkan. Kalau dulu, masih seminggu lagi ulang tahun kita, dia sudah sibuk mau kasih hadiah apa. Benar-benar aneh kan?" Arick mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sudahlah! dulu dan sekarang kan beda. Kalau dulu dia masih berupaya untuk menarik perhatianmu, kalau sekarang mungkin dia merasa tidak perlu lagi untuk berusaha menarik perhatianmu," ledek Arend dengan kekehen kecil dari mulutnya.


"Sialan kamu!" umpat Arick sambil melemparkan pena ke arah Arend.


"Justru aku takut, dia hanya berpura-pura lupa untuk membalasku. Dia mungkin sangat kesal karena belakangan ini aku sangat sibuk dan sedikit mengabaikannya. Dan ini semua gara-gara bantu pekerjaanmu," sambung Arick dengan nada yang kesal.


Arend kembali terkekeh, mendengar ucapan kekesalan Arick yang dialamatkan padanya.


"Maaf, Rick! tapi sesekali bantu adik sendiri kan gak pa-pa,"


"Apa semua urusanmu sudah selesai? aku benar-benar capek lo, Rend. Gara-gara aku harus mengambil alih kerjaanmu, Calista jadi seperti terabaikan,"

__ADS_1


"Kamu tenang saja! semua sudah 90 persen selesai. Mulai besok, aku sudah bisa kembali mengurus perusahaan," sahut Arend dengan lugas dan tegas.


"Syukurlah kalau begitu!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari mulai terbenam. Langit sudah mulai berganti warna menjadi gelap. Langit kini terlihat tampak indah dengan banyaknya bintang-bintang yang menghiasinya.


Arick menepikan mobilnya di pekarangan rumah orangtuanya, demikian juga dengan Arend. Mereka datang sendiri karena istri mereka masing-masing sudah lebih dulu datang ke rumah itu.


"Wah, kalian sudah datang rupanya?" wajah Celyn terlihat sumringah melihat kedatangan kedua putranya. Wanita setengah baya itu sontak memeluk keduanya seakan sudah lama tidak bertemu.


"Selamat ulang tahun ya, Nak!" ucap Celyn yang dibarengi dengan kecupan kecil di kening kedua putranya itu.


"Terima kasih, mah!" ucap keduanya hampir bersamaan.


"Kalian berdua sudah datang, kalau begitu kita langsung ke meja makan saja. Aku sudah sangat lapar," celetuk Aby, santai.


"Hmm, selamat ulang tahun!" ucap Aby dengan wajah datar, hingga membuat kedua putranya itu berdecih.


"Kalian masih mau berdiri di sana? kalau iya, aku akan ke meja makan lebih dulu. Sepertinya makan malam dengan dua menantuku yang cantik-cantik tidaklah buruk," Aby mengayunkan kakinya melangkah menuju ruangan meja makan seperti tidak ada beban sama sekali.


Arick dan Arend saling silang pandang untuk sejenak, lalu tanpa aba-aba kedua pria itu dengan sigap langsung berlari menyusul Aby. Bahkan kedua pria itu tidak segan-segan melewati Aby papa mereka.


Aby sama sekali tidak marah dengan tingkah kedua putranya yang secara kasat mata kurang sopan. Pria setengah baya itu justru terlihat tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Hai, Sayang!" sapa Arick sambil memberikan kecupan di puncak kepala Calista. Sementara itu, Arend melakukan hal yang sama seperti tidak ingin ketinggalan. Sementara itu, Alena seperti biasa menganggap perlakuan Arend hanya sandiwara saja.


"Apa kamu tidak merasa bersalah sama sekali? hari ini kamu bahkan tidak mengucapkan apa-apa padaku? kamu pasti tahu kan kenapa kita ada di sini sekarang?" cerocos Arick beruntun melayangkan protesnya pada sang istri.


"Buat apa merasa bersalah? emang kalau ulang tahun, harus diucapkan selamat ya? kalau tidak diucapkan, apa umur seseorang itu otomatis langsung berkurang? tidak kan? tetap aja bertambah." jawab Calista santai dengan raut wajah yang terlihat biasa saja.

__ADS_1


Celyn dan Aby yang sudah tahu sebenarnya, mengulum senyum. Mereka ingin sekali tertawa melihat wajah kaget Arick yang sama sekali tidak menyangka sikap cuek Calista.


Arick ingin kembali melayangkan protes pada Calista. Akan tetapi, pria itu mengurungkannya melihat tatapan tajam sang papa padanya. Jadi, mau tidak mau, Arick harus menahan dirinya.


Sementara itu, sudut mata Arend tertarik ke atas melirik ke arah Alena. Pria itu ingin sekali melihat reaksi istrinya itu. Dia berharap Alena datang padanya dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Akan tetapi, sepertinya itu hanya mimpi. Alena bahkan sama sekali seperti tidak peduli.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arend dan Alena terlihat turun dari dalam mobil . Keduanya melangkah dalam diam masuk ke dalam rumah yang mereka tempati.


"Alena, apa kamu sama sekali tidak mau mengucapkan selamat ulang tahun pada suamimu?" Arend akhirnya tidak bisa menahan untuk tidak bertanya pada istrinya itu.


Alena yang tadinya berniat untuk langsung naik ke atas, sontak mengehentikan langkahnya dan menoleh ke arah Arend.


"Apa kamu benar-benar mengharapkannya? bukannya aku tidak mau mengucapkannya, cuma aku takut kalau kamu sama sekali tidak menganggap itu penting," ucap Alena sambil menggigit bibir bawahnya.


"Bagaimana mungkin itu tidak penting? kenapa kamu bisa sampai berpikiran kalau aku tidak mengharapkannya?" ucap Arend dengan alis yang bertaut tajam, benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Alena istrinya.


"Emm, kalau begitu, selamat ulang tahun ya, Mas! semoga kamu selalu dilimpahi kebahagiaan," ucap Alena dengan tulus.


"Terima kasih!" ucap Arend kurang bersemangat.


"Kalau begitu, aku naik ke atas dulu ya, Mas. Aku mau ganti pakaian dulu," Alena langsung naik ke atas setelah Arend menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


Belum juga benar-benar sampai ke atas, Alena tiba-tiba kembali turun dengan sedikit berlari, karena wanita itu tiba-tiba mengingat sesuatu.


"Gawat! mudah-mudahan mas Arend belum membuka kulkas dan melihat kue itu. Bodoh banget sih kamu Alena. Kenapa coba kamu bisa lupa membuang kue itu?" batin Alena sambil berlari menuju dapur.


Akan tetapi, Alena sudah terlambat. Di depannya terlihat Arend yang sudah berdiri di depan kulkas dengan kue di tangannya. Terlihat seulas senyum lebar tersungging di bibir pria itu yang Alena anggap seperti sedang meledeknya.


"Bagus kuenya. Sepertinya ini sangat enak. Apalagi cake toppernya sangat cantik. Hmm, happy birthday my love!" tersenyum smirk

__ADS_1


Tbc


__ADS_2