
Alena baru saja sampai di parkiran restorannya, tiba-tiba dicegat oleh Ratih dan Cindy. Wajah keduanya terlihat panik.
"Ada apa kalian berdua datang ke sini?" tanya Alena dengan kening yang sedikit terangkat ke atas, curiga.
"Alena, kami datang ke sini bukan mau ajak kamu ribut, tapi karena ada hal yang sangat penting makanya kami datang." Ratih berbicara dengan raut muka yang sedih, panik bercampur menjadi satu.
"Emang ada hal penting apa? bukannya kita sudah tidak ada kaitannya lagi?"
"Cih, sombong banget nih orang. Lihat aja, sebentar lagi kamu tidak akan bisa sombong lagi," batin Cindy di dalam hati.
"Alena, paman kamu sekarang sedang sekarat dan dia ingin bertemu denganmu," Ratih mulai menjalankan rencananya, dengan membawa nama Arul adik papanya. Karena Ratih tahu, kalau Alena sangat menyayanginya pamannya itu.
"Paman sekarat? bagaimanapun bisa?" sesuai dugaan, Alena kini sudah mulai terlihat panik.
"Kena kau!" sorak Cindy dalam hati.
"Iya, Al. Sepertinya papa sudah tidak ada harapan lagi, Papa berharap bisa bertemu kamu untuk yang terakhir kalinya," Cindy memasang wajah semelas mungkin.
Alena bergeming. Sumpah demi apapun, Alena tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dirinya sangat merindukan pamannya itu. Namun, jujur dirinya belum sepenuhnya percaya dengan apa yang diucapkan oleh dua wanita berbeda usia yang ada di depannya itu, karena dirinya sudah sangat hapal dengan karakter keduanya yang manipulatif.
"Aku yakin kalau paman baik-baik saja, karena aku tahu kalau kalian berdua pasti sedang berbohong dan aku tidak bisa kalian bohongi lagi," ucap Alena sembari melangkah meninggalkan bibi dan sepupunya itu.
"Sepertinya kamu sudah tidak menyayangi, pamanmu lagi. Kasihan sekali pamanmu, padahal dia sangat menyayangimu. Kalau kamu tidak percaya kalau paman kamu sedang sekarat, terserah kamu! yang penting kami sudah menyampaikannya padamu. Jadi kami tidak memiliki rasa bersalah lagi nantinya," seru Ratih dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Semoga tidak ada penyesalan padamu nanti kalau terjadi apa-apa pada, papa." Cindy menimpali ucapan mamanya.
Alena seketika menghentikan langkahnya, dan kembali memutar tubuhnya.
"Apa kali ini kalian berdua masih bisa dipercaya?" Alis Alena bertaut, menyelidik.
"Tentu saja! kalau kamu tidak percaya, ini buktinya," Ratih memperlihatkan photo Arul, paman Alena yang sedang terbaring lemah. Bukan hanya satu photo, Ratih juga menunjukkan photo-photo yang menunjukkan kalau pamannya itu sudah lumpuh cukup lama.
"Kenapa bisa paman Seperti itu?" Air mata Alena tiba-tiba menetes, tidak kuat melihat keadaan pamannya itu.
__ADS_1
"Itu karena paman kamu kecelakaan," jelas Ratih, berbohong. Padahal suaminya bisa seperti itu karena terkena stroke setelah tahu kalau Alena diusir.
"Bawa aku ke paman, Bibi!" mohon Alena dengan tidak sabar.
"Yes, berhasil!" lagi-lagi Cindy bersorak dalam hati.
"Kalau begitu, kamu ikut mobil kami aja!" Ratih masuk ke dalam mobil disusul oleh Cindy dan Alena.
Ratih dengan sengaja duduk di kursi belakang, bersama dengan Alena, sedangkan Cindy bertugas mengemudikan mobil.
"Apa Paman sudah di bawa ke ...." ucapan Alena terhenti karena tiba-tiba Ratih membekap mulut dan hidung Alena, menggunakan sapu tangan yang sudah dibubuhi dengan obat bius, sehingga tanpa menunggu lama akhirnya Alena tidak sadarkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disebuah ruangan berwarna putih tiba-tiba, seorang laki-laki muda dan tegap,membuka matanya dengan perlahan-lahan. Tangan dan kaki pria itu terlihat sedang terikat sehingga ketika dirinya hendak memijat kepalanya terasa pusing, dia tidak mampu. Sepertinya pengaruh obat bius yang membuatnya tidak sadarkan diri itu, belum sepenuhnya hilang.
"Kamu bangun juga, Daniel!" seorang pria yang juga bertubuh tegap, berdiri di depan pria yang dipanggil Daniel dengan bibir yang menyeringai sinis.
"Kenapa aku bisa di sini? apa ini semua ulahmu?" tanya Daniel, yang merupakan bodyguard suruhan Arend untuk melindunginya Alena dari jauh.
"Kenapa kamu melakukannya, Ky? bukannya kita bersahabat?" Daniel menatap tajam ke arah pria yang tidak lain adalah Ricky sahabatnya dulu.
"Hmm ... apa yang aku lakukan? sama seperti kamu, aku juga seorang bodyguard, jadi tentu saja aku harus mematuhi perintah atasanku, walaupun tugasnya itu menyekapmu.Dan ingat! kamu buka sahabatku lagi, semenjak kamu berkhianat pada Pak Broto,"
"Jadi kamu masih berkerja dengan si brengsek itu? dengar! kamu tahu benar alasan kenapa aku memilih untuk tidak bekerja lagi untuknya. Aku tidak mau bekerja pada orang seperti itu, Ky. Bisnis haram dan menganggap kalau wanita itu hanya sebagai objek untuk memuaskan naf*su bejatnya."
"Cih, dasar munafik kamu!" Ricky meludah, dan kembali menyeringai sinis ke arah Daniel.
"Jadi, apa maksudmu menyekapku dan di mana anak buahku yang lain?" Daniel sama sekali tidak peduli dengan sikap Ricky yang kasar.
"Mereka tentu saja juga seperti kamu. Dibuat pingsan dan ditinggalkan. Masalah niatku , membawanmu ke sini tentu saja ada tujuannya dan kamu akan lihat nanti, setelah bos perempuanmu yang cantik itu di bawa ke sini."
"Hei, jangan sentuh dia! kalau kalian masih mau hidup aman! Sampai ke lobang semutpun kalian akan dikejar oleh Tuan Arend jika kalian berani menyentuh istrinya. Sedangkan aku sendiri bahkan harus dari jauh menjaganya." Daniel mencoba mewanti-wanti.
__ADS_1
"Ihh, serius? kok aku jadi takut begini ya?" memasang wajah takut. "Hahahaha! dan kamu kira aku benar-benar takut? tidak sama sekali! justru kamu yang harus takut, karena kamu sendirilah yang akan mendapat murka dari tuanmu itu," ucap Ricky ambigu.
"Apa maksud kamu?" Daniel mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Istri tuanmu itu sudah dibawa ke sini dalam keadaan pingsan, dan sebentar lagi kamu juga akan aku buat pingsan. Kamu lihat tempat tidur itu?"Ricky mencengkram dagu Daniel dan mengalihkannya ke arah sebuah ranjang di ruangan itu.
"Maksud kamu, kalian akan menjebak kami berdua seakan-akan kami memiliki affair dan berbuat asusila?" tebak Daniel.
"Tuh, kamu pintar!" ledek Ricky yang dibarengi dengan senyum yang puas.
"Kamu pasti tahu kan apa akibatnya? kamu yang akan mendapat murka dari bosmu itu, dan bisa dipastikan kalau kamu akan mati ditangannya, dan istrinya itu akan dicampakkan dan tidak akan diterima dimanapun," sambung Ricky kembali dengan nada yang meledek.
"Brengsek! kenapa kamu mau bekerja melakukan hal licik seperti ini, Ky?" umpat Daniel.
"Tentu saja demi uang?" jawab Ricky dengan santai
"Tolong kamu pertimbangkan lagi, Ky! jangan sampai nanti ada penyesalan padamu!"
"Jangan sampai nanti ada penyesalan padamu!" Ricky meniru ucapan Daniel dengan nada meledek. "Tidak akan!" imbuhnya.
"Baiklah! aku sudah memperingatkanmu! kamu akan tanggung akibatnya sendiri nanti dan aku sama sekali tidak bisa menolongmu,"
"Hahahaha! dalam keadaan seperti ini, kamu bahkan masih bisa sombong? aku sama sekali tidak memerlukan pertolongamu, goblok!" Ricky menendang tubuh Daniel, hingga pria itu terjatuh ke lantai.
Di saat bersamaan, pria tua yang tidak lain adalah Broto masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan Cindy dan Ratih. Di belakang mereka, muncul seorang pria lagi, yang menggendong tubuh Alena.
"Ricky, sekarang kamu bius dia lagi! buruan! setelah itu kita kita lakukan langkah selanjutnya sesuai dengan rencana," titah Pak Broto dengan tegas.
"Baik, Tuan!" Ricky membungkukkan tubuhnya dan melangkah ke arah Daniel.
"Sekali lagi aku bilang jangan Ky!" Daniel masih berusaha untuk mengingatkan Ricky.
"Jangan banyak bacot!" Daniel terlihat sudah tidak sadarkan diri lagi, karena kembali di bawah pengaruh obat bius.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Thank you🙏🏻