
Terjadi perdebatan antara Cantika dan Carlos karena Carlos masih berusaha untuk menolak perjodohannya dengan Kalila. Dia memang menyayangi Kalila, tapi kalau untuk cinta tidak sama sekali.
"Mah, aku sama sekali tidak mencintai Kalila. Jadi tolong jangan paksa Carlos untuk menikahinya!" ucap Carlos memohon.
"Tapi, cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Apalagi kalian sudah saling mengenal dengan lama," ucap Cantika, masih belum putus asa untuk membujuk putra keduanya itu.
"Sayang, sudahlah! jangan paksa anak kamu lagi. Aku yakin Kenjo dan Anin juga tidak akan keberatan kalau tidak jadi besanan," Calvin menimpali ucapan Cantika.
"Apa kalian tidak ada yang sayang padaku? dari dulu aku sangat menginginkan Kalila jadi menantuku. Aku sudah sempat bahagia ketika Cakra bersedia, tapi kenapa Carlos sekarang juga tidak mau?" Cantika mempraktekkan bakat aktingnya dengan berpura-berpura memasang wajah sedih.
"Mulai deh, aktingnya." bisik Calvin pada dirinya sendiri.
Carlos berdecak, kemudian mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan.
"Baiklah, Mah. Aku bersedia yang penting Kalila juga mau." pungkas Carlos akhirnya.
"Yes! Terima kasih, Nak. Ini sudah final ya, tidak ada lagi yang namanya berubah pikiran. Kalau tidak mama akan benar-benar kecewa dan tidak mau mengenal yang namanya Cakra dan Carlos lagi," sorak Cantika sekaligus mengultimatum. Yang pastinya itu hanya di mulut saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang, apa datang bulannya sudah selesai?" tanya Arick ketika Calista baru saja keluar dari kamar mandi.
"Apaan sih, Kak? baru aja dua hari, masa langsung sudah selesai sih," sahut Calista, berdecak sambil menggelengkan kepalanya.
"Emang biasanya berapa hari?" Arick mengangkat sedikit alisnya ke atas, penasaran.
"Ada yang tiga hari, dan ada yang sampai 7 hari," sahut Calista santai sambil naik ke atas tempat tidur.
"Kamu yang tiga hari kan?" tanya Arick, berharap Calista mengiyakan.
Calista menatap Arick dengan mimik wajah yang berusaha menahan tawa. wanita itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Sayangnya tidak, Kak. Aku paling lama 7 hari."
"Yaa, lama sekali. Kalau begitu kita langsung tidur aja," ujar Arick sambil merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.
"Kakak sih, kemarin-kemarin sok jual mahal," ledek Calista sambil ikut berbaring di samping suaminya itu.
Arick tidak menjawab sama sekali, dia hanya bisa menghela napas sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kak, kalau bagian bawah tidak bisa, bagian atas kan tetap bisa," celetuk Calista sambil mengerlingkan matanya, menggoda.
"Iya, aku tahu bisa. Tapi kan tetap aja bikin kepala sakit karena bagian bawahnya tidak bisa," sahut Arick.
"Iya, ya. Kalau gitu kita tidur aja deh," sahut Calista sambil menarik tangan kanan Arick, untuk menjadikan lengan pria itu menjadi bantalnya.
__ADS_1
Arick sama sekali tidak keberatan dengan apa yang dilakukan oleh Calista. Pria itu justru tersenyum dan bahkan langsung menarik tubuh Istrinya untuk semakin dekat dengannya dan memeluk dengan erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di lain tempat di sebuah kamar bernuansa abu-abu, khas kamar seorang laki-laki, tampak Arend fokus dengan ponselnya, tidak menghiraukan Alena sama sekali.
Alena merasa bingung karena sudah hampir seharian ini pria yang sudah berstatus suaminya itu mendiamkannya.
Alena menggigit bibirnya dan dengan perlahan naik ke atas ranjang. Pergerakan yang dilakukan oleh Alena sama sekali tidak membuat Arend terusik. Pria itu tetap saja fokus pada ponselnya, seakan apa yang dilihat di dalam ponsel itu adalah hal yang sangat menarik dan sangat sayang untuk dilepaskan.
"Emm, Tuan Arend ...." Alena menggantung ucapannya, karena tiba-tiba Arend menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam dan dingin.
"Emm, Maaf! Mas Arend!" Alena mengulang memanggil Arend, tapi kali ini dia mengganti panggilan Tuan menjadi mas.
"Emm!" sahut Arend singkat tapi matanya sudah kembali fokus ke arah ponselnya.
"Mas Arend kenapa? kok seharian ini diam saja? apa aku melakukan kesalahan?" tanya Alena memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa penasarannya, karena dia merasa sangat tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
Arend mengrenyitkan keningnya, dan sontak menatap ke arah Alena.
"Kenapa kamu harus menanyakan hal itu? apa beberapa hari ini, aku ada banyak bicara dengan kamu? tidak kan?" Arend justru balik bertanya.
"Tidak sih. Tapi hari ini kenapa rasanya kamu lebih dingin ya dari sebelumnya?"
"Masa sih? pakai alat apa kamu mengukurnya?" tanya Arend ambigu.
"Oh, kamu hebat bisa merasakan kadar dinginnya seseorang tanpa harus mengukur. AC saja harus pakai alat untuk mengatur kadar dinginnya," ucap Arend yang kembali melihat ke arah layar ponselnya.
Alena mendegus, mendengar ucapan Arend yang menurutnya sudah out of topic.
"Aku mau kamu jaga jarak dengan Kama mulai sekarang!" celetuk Arend tiba-tiba, hingga membuat kening Alena berkerut, bingung.
"Kenapa? apa salahnya akrab dengan Kama?" tanya Alena.
"Tidak ada alasannya. Pokoknya kamu jangan terlalu dekat dengannya!"
"Harus ada alasannya. Tidak mungkin aku langsung menjauh dari Kama tanpa alasan. Dia itu pria baik, jadi itu pasti menimbulkan pertanyaan, kalau aku tiba-tiba menjauhinya," jawab Alena.
"Baiklah! kamu itu istriku dan Kama menyukaimu. Kalau kamu meresponnya dengan baik, dia pasti akan merasa kalau kamu juga menyukainya," jelas Arend sambil melirik sekilas ke arah Alena untuk melihat ekspresi wajah dari wanita itu.
"Kama menyukaiku?" Alena mengreyitkan keningnya. "Kamu jangan asal bicara! Lagian kalau pun iya. Apa itu salah? kan hanya suka? aku juga menyukai Kama. Karena dia sangat lucu, baik dan ___" Alena tiba-tiba berhenti bicara karena sorot mata Arend yang menghunus tajam ke arahnya.
"Apa kamu bisa melakukan apa yang aku mau tanpa harus membantah terlebih dulu?"tanya Arend dengan sorot mata yang sangat dingin membuat tenggorokan Alena seperti tercekat, hingga membuat dirinya kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.
"Iya,Mas." Alena akhirnya mengiyakan walau sebenarnya dirinya masih penasaran dengan alasan kenapa dia harus menjauh dari Kama.
__ADS_1
"Bagus!" ucap Arend.
Keheningan kembali tercipta di antara mereka berdua. Arend meletakkan ponselnya di atas nakas dan merebahkan tubuhnya membelakangi Alena.
"Mas, apa kita bisa mencoba untuk berteman dengan baik? aku merasa tidak nyaman dengan situasi kita yang seperti ini. Walaupun kamu tidak mencintaiku, aku ingin kita berdua bisa berbicara seperti layaknya seorang teman," celetuk Alena tiba-tiba.
Arend sontak memutar tubuhnya dan menatap ke arah Alena.
"Apa menurutmu kita ini musuhan?" tanya Arend.
"Nggak sih! cuma aku merasa kalau kita ini, masih kaku dan tidak __"
"Iya. Mulai sekarang kita mencoba untuk bisa menjadi teman yang baik," potong Arend yang mengerti maksud omongan dari istrinya itu.
"Benar?" tanya Alena antusias dan Arend mengangukan kepalanya.
"Janji?" Alena mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Arend.
Arend berdecak dan memutar bola matanya, jengah dengan sikap Alena yang menurutnya sangat kekanakan.
"Mana? sini jari kelingking kamu, Mas."
"Harus ya?" tanya Arend dan Alena menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Arend menghela napasnya, kesal tapi tetap menuruti kemauan Alena dengan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Alena.
Arend tersenyum samar begitu melihat Alena yang begitu bahagia dengan hal yang menurutnya sangat sederhana ini.
"Mari kita tidur!" ucap Arend sambil kembali memutar tubuhnya membelakangi Alena.
Hening kembali untuk sepersekian detik.
"Emm, Mas. Apa semua pakaian dalam yang baru itu, kamu yang beli?" Alena kembali bertanya dengan sangat hati-hati.
"Haish, kenapa dia harus menanyakan hal itu sih?" batin Arend yang langsung berpura-pura menutup matanya.
"Kenapa Mas tidak menjawab? apa kamu sudah tidur?"
Tidak ada jawaban sama sekali dari Arend.
"Masa sih, bisa langsung tidur secepat itu?" Alena menggerutu.
Arend tetap tidak memberi respon, karena dia tahu kalau dia memberikan respon, wanita itu pasti akan banyak bicara.
"Hmm, kalau Mas Arend yang membelinya, kapan kamu membelinya dan bagaimana kamu tahu ukuran pakaian dalamku? apa Mas Arend diam-diam mengukurnya pas aku lagi tidur?" tukas Alena yang tetap tidak berhenti berceloteh walaupun tidak ada respon dari Arend.
__ADS_1
"Astaga, wanita ini. Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu. Bukannya baru saja dia mengajak untuk berteman? tapi kenapa dia sudah main asal menuduh begitu," Arend bermonolog sendiri, dengan perasaan yang sangat kesal dengan tuduhan Alena yang dialamatkan padanya.
Tbc