Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Toh, aku sudah melihat semuanya!


__ADS_3

Acara demi acara berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang direncanakan. Dari awal acara Cantika tidak pernah lepas dari si kembar. Banyak kolega-kolega dan teman-teman sosialitanya yang bertanya, mengenai identitas sebenarnya si kembar. Akan tetapi, Cantika tidak pernah malu untuk mengakui bahwa baby Ivan dan Ian adalah cucunya, anak dari Cakra dan Safira.


Banyak spekulasi yang muncul di dalam pikiran orang-orang itu, mengenai keberadaan si kembar. Mereka mempertanyakan bagaimana bisa Cantika dan Calvin sudah punyaku cucu sedangkan Cakra baru saja menikah dengan Safira. Para tamu bahkan banyak yang mencibir di belakang tuan rumah, bahwa Cakra menikah dengan seorang janda. Bahkan ada yang mengatakan kalau selama ini ternyata Cakra sudah melakukan kumpul kebo dengan Safira.


Menyikapi semua spekulasi itu, Cantika bersama Calvin maju ke depan sambil membawa kedua cucunya di dalam gendongannya masing-masing.


"Para tamu undangan yang kami hormati.Kami selaku tuan rumah sangat berterima kasih atas kehadirannya di hari yang paling membahagiakan buat kami khususnya buat putra dan menantuku. Kami tahu, kalau kalian benar-benar bingung dengan adanya dua anak yang ada di dalam gendonganku dan suamiku ini. Ini namanya Ivan dan yang ada di gendongan suamiku ini, Ian adiknya. Mereka berdua adalah cucu kami, anak dari Cakra dan menantuku Safira," Cantika diam sejenak untuk menarik napas.


"Mungkin banyak di antara kalian yang bertanya-tanya, kenapa bisa? baiklah, aku akan menjelaskan." Cantika akhirnya menjelaskan, kejadian masa lalu yang menimpa Safira. Dan penyebab kenapa putranya bisa melakukan hal itu.


"Intinya, mereka tidak pernah melakukan kumpul kebo atau sebagainya. Ini semua murni karena kecelakaan yang disebabkan oleh seseorang yang awalnya ingin mengambil keuntungan dari anak saya. Dan yang pasti menantu saya adalah wanita baik-baik dan anak saya adalah pria yang bertanggung jawab. Terima kasih!" pungkas Cantika yang kemudian turun dari atas podium. Sementara itu, Safira kembali meneteskan air mata, terharu mendengar pembelaan dari mertuanya itu.


Semua tamu undangan yang tadinya sempat mencibir kini berubah menjadi kagum atas tabah dan kuatnya Safira selama ini dan salut akan Cakra yang mau bertanggung jawab.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Acara kini sudah selesai, Safira yang sudah sangat lelah, masuk ke kamar pengantin tanpa Cakra. Karena pria itu masih terlibat obrolan dengan ke empat sahabatnya.


Begitu Safira membuka pintu, aroma bunga mawar menyeruak sampai ke hidungnya.Ternyata kamar mereka sudah dihias dengan taburan bunga mawar di atas ranjang.


Safira benar-benar kagum dengan dekorasi kamar pengantin yang tersaji indah di depan matanya.


"Wah, indah sekali! tapi buat apa dihias seindah ini? kan gak ada gunanya juga. Yang ada buang-buang uang," gumam Safira yang tidak menyadari kalau Cakra suaminya sudah berdiri di belakangnya dan mendengar apa yang digumamkan olehnya.


"Apa yang tidak ada gunanya itu?" Cakra buka suara dengan nada yang sedikit kecewa.


Safira terjengkit kaget dan sontak menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Ka-kamu datang kok gak ngomong-ngomong sih? Safira mengerucutkan bibirnya, kesal dan langsung berbalik memunggungi Cakra.


"Maaf! Kamu aja yang nggak fokus. Masa kamu gak dengar, aku buka pintu? Cakra mengayunkan kakinya melangkah menghampiri Safira.


Jantung Safira seketika berdetak lebih cepat dari detak jantung normal, merasa sedikit takut, dengan apa yang akan dilakukan oleh Cakra selanjutnya.


"Cakra, aku mandi dulu ya, soalnya aku gerah dan udah bau" Safira memberikan alasan, agar bisa menghindar dari Cakra.


"Kenapa kamu masih memanggilku dengan nama saja? aku ini sekarang suamimu, harusnya kamu harus mengganti panggilanmu," protes Cakra, yang membuat langkah Safira seketika terhenti.


Wanita itu memutar tubuhnya dan kembali menatap Cakra suaminya.


"Jadi, kamu mau dipanggil apa?" tanya Safira yang kali ini berbicara dengan lembut.


"Terserah kamu! yang penting jangan hanya namaku saja. Lagian, selain aku suamimu, usia kita juga terpaut 4 tahun. Jadi, dari awal sebenarnya kamu tidak pantas memanggil hanya nama saja," Cakra menyampaikan unek-uneknya, mengambil kesempatan karena melihat Safira tidak memperlihatkan kebenciannya lagi.


"Jadi kamu mau aku panggil apa?"


"Panggil aku sayang!"


"Tidak mau! itu terlalu berlebihan," protes Safira tidak setuju.


"Tapi aku maunya itu," Cakra tetap kekeh dengan keinginannya.


"Aku tidak mau! kalau tidak, aku panggil kamu mas saja bagaimana?" tanya Safira meminta pendapat.


"Aku gak mau! itu terlalu biasa. Pokoknya aku mau dipanggil sayang,"

__ADS_1


"Mas atau kembali panggil nama!" ancam Safira.


"Baiklah! mas aja daripada panggil nama." pungkas Cakra akhirnya mengalah.


" Nah gitu dong! Lagian buat apa panggil sayang kalau hanya pura-pura? yang panggil sayang itu kalau benar-benar cinta," ucap Safira sambil kembali beranjak masuk ke dalam kamar mandi.


"Tapi, aku benar-benar mencintaimu! apa kamu tidak bisa merasakannya?" gumam Cakra yang pastinya tidak bisa didengar oleh Safira lagi.


Cakra membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang yang penuh dengan bunga mawar itu. Pria itu memejamkan matanya, tapi sesekali dia buka kembali, untuk memastikan apakah Safira sudah selesai mandi atau belum.


Setelah cukup lama menunggu, pintu terdengar sedikit berdecit dibuka pelan-pelan dari dalam. Cakra langsung memejamkan matanya berpura-pura tidur. Pria itu, terlihat membuka sebelah matanya, mengintip Safira yang terlihat kikuk sambil berjalan berjinjit, mengendap-endap seperti pencuri dengan tubuhnya yang hanya terbalut dengan handuk yang sangat pendek.Ternyata wanita itu lupa membawa baju gantinya ke dalam kamar mandi.


Cakra menelan ludahnya melihat pemandangan indah yang ada di depannya. Ada sesuatu yang menggeliat bangun di bawah sana. Celananya tiba-tiba merasa sesak. Sepertinya si otong di bawah sana, bereaksi dengan cepat karena dia mencium aroma gua yang pernah dia singgahi dua tahun lalu.


"Sayang, kamu lagi cari baju ganti ya?" tanya Cakra yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Safira.


"Aaaahhhh! pekik Safira yang terlonjak kaget, sehingga tanpa sadar handuk yang dipakainya melorot dengan manjanya jatuh ke lantai. Kedua mata Cakra membesar seperti ingin melompat keluar dan mulutnya menganga melihat tubuh polos Safira.


Karena terlalu kaget, dan tubuh gemetar, Safira seperti kehilangan tenaga. Bahkan untuk menarik kembali handuknya, wanita itu seakan tidak mampu untuk melakukannya. Dia malah berdiri seperti patung dengan nafas yang memburu, hingga membuat Cakra semakin panas dingin menahan hasratnya yang sudah sampai ke ubun-ubun.


"Wow, ternyata begini bentukan kamu. seksi! Dulu aku tidak menyadarinya karena kondisiku yang tidak sadar. Tapi sepertinya si kembar itu lebih besar dari yang dulu," gumam Cakra yang masih tetap bisa didengar oleh Safira. Cakra tanpa sengaja mengarahkan tangan ke dada Safira, seperti sedang mengukur benda kembar yang menempel di dada Safira.


"Ihh, dasar mesum!" pekik Safira yang langsung tersadar dan sontak menarik handuk nya ke atas. Kemudian wanita itu berlari ke kamar mandi dengan membawa baju ganti di tangannya.


"Hei, kenapa harus ganti di dalam? toh aku juga sudah melihat semuanya!" Cakra berteriak dari luar sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"Diam!" Safira balas berteriak dari dalam, yang bisa dipastikan kalau sekarang wajah wanita itu pasti memerah.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2