
Hari ini adalah hari yang mendebarkan buat Alena. Karena hari ini dia akan menjadi seorang istri dari Pria yang bernama Arend Keandre Bagaskara, putra kedua dari pengusaha terkaya nomor satu di Indonesia. Dia tidak menyangka akan bisa menjadi istri dari pria itu, walaupun hanya untuk sementara. Seperti itulah menurut pemikiran Alena.
"Kamu cantik sekali, Alena!" puji Sarni dengan mata yang terpana.
"Ah, Bude bisa aja mujinya." Alena tersipu malu.
"Bude tidak berbohong, kamu itu benar-benar cantik, Nak," ucap Sarni, "iya kan, Sayang, mama Alena cantik kan?" tanya Sarni pada baby Ivan, yang hanya tersenyum-senyum saja, menaggapi ucapan Sarni.
"Kalau tanya Ivan mah, mau mamanya pakai apa aja tetap dia anggap cantik ya kan, Sayang." Alena mencubit gemas pipi sang anak.
"Alena apa kamu sudah siap?" tiba-tiba Calista muncul dari arah pintu dan matanya langsung membesar kagum melihat kecantikan Alena.
"Wah, you look so beautiful, Alena. Kak Arend pasti akan makin cinta sama kamu," puji Calista, tulus, sambil mendaratkan tubuhnya duduk dan menatap intens ke arah Alena.
"Ah, kamu bisa aja, Lista. Kamu juga sangat cantik hari ini," ucap Alena dengan menerbitkan seulas senyuman di bibirnya.
"Arend mencintaimu, dia tidak pernah mencintaiku. Seandainya kamu tahu, kalau pernikahan ini, hanya demi kebahagiaanmu, Lista," ucap Alena yang tentu saja hanya terucap dari hatinya saja.
"Oh ya, kamu sudah siap kan? kalau sudah kita keluar, yuk!" ucap Calista sambil berdiri dan meraih tangan Alena.
Ketika mereka hendak keluar, mereka dikejutkan dengan kemunculan Calvin yang tersenyum ke arah Alena.
"Hai, kenalkan aku papanya Calista. Aku di sini akan mengganti almarhum papa kamu, untuk membawa kamu pada Arend." Ucap Calvin dengan lembut.
Mata Alena seketika berembun berusaha menahan tangisnya. Dia tidak menyangka bisa bertemu dengan orang-orang baik yang tidak memandang rendah dirinya.
"Terima kasih, Om!" ucap Alena dengan tulus.
Calvin memberikan lengannya untuk digandeng oleh Alena, dan Alena menyambutnya dengan senyuman lebarnya.
__ADS_1
Arend seketika terpesona melihat Alena yang kadar kecantikannya bertambah berkali-kali lipat dari sebelumnya. Akan tetapi Arend berusaha untuk menepis kekagumannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara gemuruh tepuk tangan terdengar memenuhi ruangan, setelah terdengar kata, kalau Arend dan Alena sudah sah menjadi suami istri.
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, tidak ada resepsi untuk pernikahan ini. Sebenarnya Arick awalnya sangat bingung kenapa tidak diadakan resepsi, tapi Aby dengan bijak menjelaskan alasan kenapa tidak diadakan resepsi dulu untuk menghindari rasa iri bibi dan sepupu Alena yang bisa saja berencana untuk mencelakai Alena. Akhirnya Arick pun mengerti dan mendukung rencana itu.
"Hmm, selamat ya, Bro! akhirnya kamu menikah juga. Kemana istri kamu?" Carlos, kakaknya Calista mengulurkan tangannya untuk mengucap selamat lalu disusul oleh Cakra.
"Terima kasih, Sob! dia mungkin sedang berganti pakaian. Kan tidak ada resepsi." sahut Arend dengan santai dan tersenyum tipis.
"Tapi, kamu hebat bisa secepat itu menemukan jodoh. Mana cantik lagi. Kalau tadinya dia bukan istrimu, aku pasti akan mendekatinya," Carlos melontarkan guyonannya.
"Tapi sebelum kamu mendekatinya, aku duluan yang akan mendekatinya, karena aku sudah kenal dia duluan sebelum kamu," Kama menimpali ucapan Carlos. Sedangkan Cakra yang terkenal paling cuek hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Sudah, sudah! apa kalian tidak sadar kalau yang sedang kalian bicarakan itu, sudah jadi istrinya Arend? bisa-bisa nanti dia keluar tanduk di sini dan mengusir kita semua," Cakra buka suara, dan disambut dengan suara tawa dari tiga pria lainnya yang ada di ruangan itu.
"Maaf, aku tidak mengizinkannya," sahut Arend, tegas.
"Kenapa? bukannya kamu dan dia hanya __"
"Tidak lagi! aku tidak akan menceraikannya karena pernikahan itu bukan untuk mainan. Kecuali Suatu saat dia yang meminta sendiri untuk bercerai." Arend langsung menyela sebelum Kama selesai bicara.
"Jadi, apa aku tidak memiliki kesempatan? kenapa sih kamu yang lebih dulu bertemu dengannya? kenapa bukan aku? kamu tidak mencintainya tapi bisa menikahinya sedangkan aku, entah kenapa suka padanya, tapi tidak bisa menikahinya. Apa menurutmu ini adil?" cerocos Kama dengan lirih.
"Masalah adil dan tidak adil, aku tidak bisa menentukannya, karena itu di luar dari kapasitasku. Itu murni hak prerogatif Tuhan, sebab dia Yang Maha Adil. Hanya Dia yang bisa menentukan adil tidaknya," ucap Arend diplomatis.
"Tapi sepertinya aku akan tetap mendekatinya, kali aja suatu saat dia jatuh cinta padaku, dan meminta cerai denganmu. Apalagi seorang wanita itu suka pada laki-laki yang bisa bersikap hangat padanya, dan itu mungkin tidak dia dapatkan darimu," pungkas Kama, yang membuat Arend menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Kama. Tapi bukan Kama namanya kalau takut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Mansion keluarga Bagaskara kini sudah sepi. Arend terlihat turun dari atas bersama dengan Alena. Mereka berencana untuk pamit pulang ke apartemen pribadi Arend.
"Ma, pa, kami pamit ya," ucap Arend.
"Mau kemana? kalian berdua tidak boleh kemana-mana," jawab Celyn sambil menggendong baby Ivan yang kelihatan nyaman digendongan wanita setengah baya itu.
"Tapi, Ma. Aku juga ingin seperti Arick yang tinggal sendiri setelah menikah," protes Arend tidak terima.
"Tapi mama ingin kalian bisa tinggal di sini. Ini demi baby Ivan. Kalau Alena bekerja di toko kue dan restorannya, siapa yang akan menjaga baby Ivan? kalau di sini akan banyak yang menjaganya nanti," ujar Celyn memberikan alasan.
"Kami bisa, membayar baby sitter kalau masalahnya tentang itu, ma. Jadi jangan terlalu pusing masalah itu!" Arend tetap bersikeras untuk tinggal di rumah sendiri.
"Tidak mudah untuk menemukan baby sitter yang bisa dipercaya sekarang. Jadi kamu jangan membantah. Alena aja tidak keberatan, iya kan, Alena?"
Alena yang ditanyai seketika gelagapan dan tanpa sengaja menganggukkan kepalanya, membuat Arend mendelik. Akan tetapi seketika, Alena meringis sambil memukul-mukul keningnya, merutuki kebodohannya.
"Tuh, lihat Alena mau kok. Jadi kamu jangan egois! mama bahkan sudah menyiapkan kamar buat baby Ivan dengan dekorasi yang indah. Apa kamu tega membuat usaha mama sia-sia?" Celyn berpura-pura memasang wajah memelas dan sedih.
Arend yang tahu mamanya hanya berpura-pura, merasa jengah dengan sikap mamanya. Berbeda dengan Alena yang langsung merasa tidak enak hati, dan langsung merangkul Celyn yang sekarang sudah menjadi mertuanya itu.
"Mama jangan sedih! aku benar-benar tidak keberatan tinggal di sini,"
"Tuh, dengar Arend!" Wajah memelas Celyn seketika berubah drastis, membuat Alena mengreyitkan keningnya, bingung.
" Ya udah, sekarang kamu kembali ke kamar. Kamu istirahat yang benar. Kamu pasti capek, kalau urusan baby Ivan serahin ke mama," Celyn dengan gembiranya mendorong pelan tubuh Alena untuk naik kembali ke atas. Mau tidak mau, akhirnya Alena naik ke atas sendiri, karena Arend berkata kalau ada yang hendak dibicarakan dengan papa dan mamanya.
"Apa ini rencana Papa dan Mama?" tanya Arend dengan kening yang terangkat ke atas, curiga.
Aby tersenyum tipis demikian juga dengan Celyn.
"Boleh dikatakan seperti itu, karena papa juga tahu, kalau kamu berniat pisah kamar dengan Alena di apartemenmu nanti. Dan papa tidak mau itu terjadi."
Arend membesarkan matanya, kemudian berdecak kesal, karena papa dan mamanya sudah tahu niatnya.
__ADS_1
"Kamu segeralah ke atas! belajarlah untuk mencintai istrimu dari sekarang!" pungkas Celyn sambil melangkah pergi membawa serta baby Ivan, disusul oleh Aby.
Tbc