
"Coba kamu lihat ini, Vania!" Wajah Vania seketika berubah pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali.
"Ba-bagaimana kamu bisa mendapatkan itu?" suara Vania terdengar gemetar, melihat rekaman dirinya yang melucuti pakaian Arick dan meminta orang untuk mengambil gambarnya. Terlihat juga di dalam rekaman itu, dimana dia memberikan bayaran pada orang itu.
Aarick tersenyum smirk, ke arah Vania. Kemudian pria itu melihat ke arah pria yang duduk di samping Bayu.
"Ihsan, kamu tunjukkan sebenarnya apa yang terjadi!" titah Arick sambil kembali menyender di sandaran kursinya.
Ihsan berdiri dari tempat dia duduk dan meraih sebuah kotak. Kemudian pria itu mengeluarkan sebuah benda yang tidak Vania tahu benda apa itu.
Ihsan memasukkan benda itu melalui kepalanya dan setelah terpasang sempurna, pria itu berbalik menghadap ke arah Vania.
Alangkah kagetnya Vania melihat wajah Ihsan yang kini berubah menjadi persis seperti wajah Aarick. Bibir wanita itu sampai bergetar saking kagetnya.
"Nona Vania, sebenarnya yang ada bersama anda tadi malam itu adalah aku, bukan Tuan Aarick," celetuk pria yang bernama Ihsan itu dengan lugas, membuat langkah Vania mundur beberapa langkah sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, sulit untuk percaya.
"Ba-bagaimana bisa?" desis Vania dengan suara yang sangat lirih.
Flash back on
"Van, aku ke toilet dulu sebentar, ya." Arick beranjak pergi, setelah Vania menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Bukannya pergi ke toilet, Aarick justru menemui Bayu dan Ihsan.
"Bagaimana San, apa kamu sudah menyiapkan segala yang aku minta?" tanya Arick langsung pada pokok bahasan, karena dia tidak memiliki banyak waktu.
"Seperti yang sudah aku konfirmasikan sebelumnya, Tuan. Semuanya sudah siap," jawab Ihsan yang merupakan orang suruhan Aarick untuk mengawasi setiap pergerakan Vania selama ini, karena walaupun dia sudah memindahkan wanita itu ke Bandung, pria itu merasa kalau dirinya harus tetap waspada.
"Baiklah! Kalau begitu, apa kamu sudah siap!"
"Siap, Tuan!" Pria itu kemudian memasang topeng wajah silikon yang benar-benar persis dengan wajah Arick.
Ya, malam sebelum ke Bandung, Arick yang merasa curiga dengan sikap Vania yang mengharuskan dirinya sendiri yang ke Bandung, segera menghubungi Ihsan untuk menyelidiki apa rencana Vania. Setelah mengetahui semua rencana Vania dari Ihsan, Arick memiliki ide lalu memerintahkan Ihsan untuk mencari seseorang yang bisa membuat topeng silikon mirip dengan wajahnya dengan cepat, untuk mengelabui Vania. Beruntungnya, Ihsan memiliki teman yang ahli dalam membuatnya.
Arick kemudian mengganti kemeja dan celana yang dia pakai, lalu memberikan pakaiannya itu pada Ihsan. Sangat ketepatan sekali, postur tubuh yang mereka miliki tidak jauh berbeda.
__ADS_1
"Sekarang kamu sudah tahu kan apa yang harus kamu lakukan selanjutnya?" tanya Arick memastikan.
"Sudah, Tuan!"
"Ingat, jangan pernah bersuara! karena takutnya dia curiga dengan suaramu," Arick mengingatkan kembali dan Ihsan mengangukan kepalanya. Kemudian pria itu masuk ke ruangan dimana Vania berada.
Ihsan yang menyamar sebagai Arick itu kembali duduk di tempat duduk Arick semula . Dia tidak langsung minum minuman yang ada di depannya, menunggu waktu yang tepat.
"Rick, kenapa kamu tidak meminum minuman kamu? kamu kan masih sedikit minumnya. Sayang banget kalau banyak tersisa." ucap Vania
"Oh iya," ucap Ihsan dengan sangat pelan, hingga perbedaan suaranya dengan Arick asli tidak bisa dibedakan. Ihsan berpura-pura ingin meraih gelas yang dia tahu sudah dibubuhi dengan obat tidur, dan berpura-pura tidak sengaja menyenggol sendok hingga terjatuh ke lantai."
"Biar aku aja yang ambil, Rick. Kamu lanjutkan aja minumnya," Vania menawarkan diri, ketika Ihsan berpura-pura hendak mengambil sendok yang memang jatuh tidak jauh dari kaki Vania.
Ketika Vania menundukkan kepalanya,ke bawah meja dengan sigap Ihsan menuangkan minuman di gelas Arick ke dalam sebuah kantong plastik yang sudah disiapkannya sebelumnya, membuat ikatan simpul dan meletakkannya di kursi yang kosong yang tidak bisa dilihat oleh Vania.
Ihsan hanya tersenyum tidak bersuara sama sekali, sekalipun itu untuk mengucapkan kata terima kasih, ketika Vania sudah mengambilkan sendok itu dari lantai. Beruntungnya Vania tidak curiga sama sekali.
Ihsan berpura-pura pusing dan langsung memejamkan matanya. Ihsan mendengar Vania menghubungi seseorang untuk membantu wanita itu mengangkat tubuhnya.
Apa-apaan sih Calista ini? apa dia tidak mengurus Arick dengan baik, sampai-sampai kulit wajahnya tidak sehalus dulu? dasar istri tidak becus," terdengar Vania mengumpat istri bosnya itu.
"Sayang, kamu tenang saja. Aku akan menjadi pasangan yang jauh lebih baik dari wanita manja itu. Aku akan melayanimu dengan baik, dan bahkan merawatmu," kembali Vania berucap sambil mencium kening Ihsan yang masih setia dengan mata terpejam. Kemudian wanita itu pun merebahkan tubuhnya di samping tubuhnya dan memeluknya dengan erat.
"Dasar wanita ular yang bodoh. Jelas saja wajah ini gak mulus. Ini kan silikon," Ihsan mengumpat dengan mata yang masih terpejam.
"Haish, kapan sih wanita licik ini tertidur? jangan sampai aku yang tertidur duluan," batin Ihsan, harap-harap cemas.
"Seandainya kamu wanita baik-baik, aku pasti senang dipeluk seperti ini. Sayang sekali, kamu itu licik," lagi-lagi Ihsan berbicara dengan hatinya sendiri.
Ihsan merasa mendengar napas Vania yang sudah teratur, pertanda kalau wanita itu sudah tertidur pulas. Kemudian pria itu, membuka matanya, menyingkirkan tangan Vania dengan perlahan, lalu turun dari atas ranjang.
Ihsan mengenakan kembali pakaiannya, dan langsung mengambil kamera yang sudah disembunyikan lebih dulu guna merekam semua perbuatan Vania.
"Ck, sayang sekali wajahmu cantik tapi tidak dibarengi dengan hati yang cantik," gumam Ihsan yang kembali menatap wajah Vania sebelum pria itu melangkah keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Flash back off
"Jadi selama ini, kamu menyuruhnya untuk mengawasiku? bagaimana bisa kamu melakukan hal itu?" ucap Vania dengan suara tinggi.
"Maaf, tapi ini harus aku katakan terus terang. Itu karena, aku belum benar-benar percaya padamu. Aku takut kalau kamu belum bisa terima pernikahanku dan berniat menghancurkan rumah tanggaku, dengan berbagai cara. Jadi, sebelum itu terjadi, ya aku minta dia untuk mengawasi pergerakanmu." jelas Arick dengan lugas.
"Itu semua aku lakukan karena aku benar-benar mencintaimu, Rick! kenapa kamu sedikitpun tidak memiliki perasaan itu padaku, padahal kamu jelas-jelas tahu, kalau selama ini aku sudah baik padamu. Apa sih kurangnya aku?" pekik Vania sambil menangis sesenggukan.
"Cinta tidak bisa dipaksakan, Vania. Bagaimana bisa kamu membandingkan kebaikanmu yang hanya beberapa tahun dengan kebaikan Calista yang bertahun-tahun, mulai dari kami masih kecil? Benar-benar tidak sebanding kan?"
"Kamu tahu, Rick aku melakukan semua ini karena aku capek, lelah dikatain bodoh, goblok dan anak yang tidak berguna oleh orang tua sendiri. Hampir setiap hari mereka memakiku, yang sama sekali tidak bisa mendapatkanmu. Mereka mengatakan kalau aku sama sekali tidak bisa diharapkan, aku capek Rick!" Vania tersungkur jatuh dan menyender ke tembok.
"Aku sedih mendengar kondisi kamu yang berada di tengah keluarga yang sama sekali tidak tahu terima kasih, tapi aku tidak bisa membenarkan perbuatanmu ini Vania." ujar Arick dengan napas yang memburu.
"Seandainya aku tidak tahu semua rencanamu dan kamu berhasil, apa kamu tidak berpikir bagaimana hancurnya perasaan Calista yang sedang mengandung anakku? kamu itu seorang wanita, Calista wanita, bagaimana bisa seorang wanita tidak peduli dengan perasaan wanita lainnya? itu menandakan kalau kamu itu egois, Vania!" sambung Arick kembali dengan nada yang berapi-api.
"Maafkan aku,Rick!" ucap Vania lirih.
"Aku memaafkanmu, tapi, maaf sekali lagi, kalau dengan terpaksa aku harus memecatmu. Karena tidak ada gunanya kamu bekerja lagi di perusahaan Bagaskara."
"Tidak, Rick! Please jangan pecat aku!" mohon Vania, memelas
"Aku sudah pernah memberikan kesempatan padamu dengan memindahkanmu ke Bandung, bahkan dengan jabatan yang lebih tinggi dari jabatan kamu di Jakarta, tapi kamu malah menyalahkan gunakannya. Vania, sebenarnya aku juga sudah tahu, kalau masalah keuangan yang terjadi, juga ulahmu kan? Kamu menggunakan uang perusahaan untuk menyenangkan kedua orang tuamu. Aku tidak akan menuntut uang yang kamu ambil itu dikembalikan lagi ke perusahaan, tapi kamu harus keluar dari perusahaan ini.
Vania semakin menangis, dia sama sekali tidak bisa menyangkal lagi, karena apa yang dikatakan oleh Arick benar adanya.
"Sekarang, silahkan keluar! sekali lagi kamu berusaha untuk menghancurkan rumah tanggaku, bahkan sampai punya niat untuk mencelakai Calista, ingat, aku tidak akan segan menjebloskan kamu ke dalam penjara! pungkas Arick, mengakhiri pembicaraan dengan kembali melihat ke layar monitor laptopnya.
Vania bangkit berdiri dan berjalan perlahan keluar, karena dia tahu, kalau keputusan Arick sudah final dan tidak bisa terbantahkan lagi.
Ekor mata Arick, melirik ke arah Vania yang tubuhnya sudah hilang dari pandangannya. Sebenarnya dia sangat kasih pada wanita itu, yang selalu dimanfaatkan oleh kedua orang tuanya. Akan tetapi, dia langsung mengingat kata-kata Arend sebelum dia berangkat ke Bandung kemarin.
"Kita boleh saja kasihan pada orang lain, tapi harus lihat bagaimana orangnya juga. sekali-sekali kita juga harus mengenal yang namanya kata 'tega'. Jangan sampai orang yang kamu kasihani itu, justru memanfaatkan kebaikanmu."
Tbc
__ADS_1
Please jangan lupa buat tetap ninggalin jejak dong guys. Like, vote dan komen. Kasih hadiah juga boleh 😁