Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Bab 109


__ADS_3

"Sayang, maafin aku! aku benar-benar tidak tahu, sumpah!" Wajah Tasya terlihat memelas seperti ingin menangis, melihat Kama yang dari tadi hanya diam. Wanita itu benar-benar merasa sangat bersalah pada pria itu.


Kama menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan- kembali dengan cukup panjang karena tidak tega melihat raut wajah sedih istrinya. Kemudian pria itu menarik tubuh Tasya dan merangkul pundak wanita itu.


"Lain kali, kamu tidak perlu bertanya hal seperti itu pada siapapun, karena hal seperti itu akan kita tahu dengan sendirinya dengan naluri yang kita punya. Adam dan hawa aja tidak ada yang memberikan pelajaran tentang itu pada mereka, tapi secara naluriah mereka bisa melakukannya kan?" tutur Kama dengan lembut.


"Setiap pria yang sudah akil baligh akan mengalami yang namanya mimpi basah, aku rasa kamu pasti tahu apa itu mimpi basah. Jadi, pria normal itu tanpa pernah mencoba pun sudah pasti bisa melakukan hal itu, walaupun memang masih kaku pada awalnya. Namun seiring berjalannya waktu, pasti akan terbiasa dan luwes. Demikian juga dengan wanita, seiring berjalannya waktu, kamu juga pasti akan ahli dalam hal itu. Apa kamu paham maksudku?" sambung Kama sambil mengelus lembut rambut Istrinya itu.


Tasya menatap wajah Kama dengan manik mata yang berkilat-kilat, lalu menganggukkan kepalanya. Kama tersenyum kembali dan mengecup kening istrinya itu.


"Sayang, apa lidahnya masih sakit?" tanya Tasya. Terlihat jelas kalau wanita itu masih khawatir.


"Sudah tidak lagi! untung kamu tidak menggigitnya sampai putus,"


"Kalau sampai putus, apa kamu akan menceraikanku?"


"Tentu saja tidak! tapi yang pasti aku akan potong habis, perkututnya si Arend, lalu aku masak dan kasih anjing makan," ucap Kama yang terlihat masih geram.


"Aduh, jangan sekejam itu lah, Sayang. Burung perkututnya kan gak salah. Kasihan! Oh ya, ternyata Kak Arend hobby juga ya melihara binatang." ucap Tasya yang sudah mengganti panggilan ke Arend dari pak menjadi Kak.


"Melihara binatang?" Kama mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Iya. Selain burung perkutut, Mereka juga melihara singa loh. Tiap hari singanya itu harus diberi makan daging mentah, kata Alena. Kalau tidak, singa itu akan mengaum, membuat keributan. Kok bisa ya mereka nggak takut sama singa?" Tasya yang berceloteh, Kama yang meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Astaga, ternyata istriku sepolos ini. Bagaimana jika tadi aku menyebut akan memotong ular Arend? bisa-bisa dia tidak akan pernah mau jika aku ajak ke sana, karena dikiranya, di rumah itu tempat penangkaran binatang buas," batinku Kama seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ah, sudahlah! sepertinya aku tidak harus menjelaskannya, suatu saat dia pasti akan ngerti sendiri kalau itu hanya istilah," Kama kembali mengajak hatinya untuk berbicara.


"Sayang, apa kamu sudah siap lagi, untuk melanjutkan yang tadi?" Celetuk Kama tiba-tiba, menatap Tasya dengan sendu.


"Ta-tapi, kamu belum mandi. Kamu mandi dulu!" Tasya kembali gugup.

__ADS_1


"Apa aku bau, menurutmu?"


Tasya dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, nanti saja mandinya sekalian. Toh juga nanti kita bakal mandi keringat," ujar Kama dengan sudut bibir yang terangkat ke atas, tersenyum penuh makna.


Kama dengan perlahan mulai mengikis jarak, dan perlahan menempelkan bibirnya ke bibir sang istri. Tidak hanya menempel, Kama kini sudah menyesap, membelit benda tak bertulang, dan kali ini pastinya tidak ada lagi yang namanya gigitan.


Tasya sudah mulai bisa sedikit membalas, walaupun masih terkesan kaku, tapi lumayanlah, setidaknya ada perlawanan. Ciuman Kama kini sudah menjalar turun ke leher, dengan tangan yang juga sudah ikut aktif membuka satu persatu kancing piyama Tasya.


Piyama yang dikenakan oleh Tasya kini sudah tertanggal, dan tinggal benda berbentuk kaca mata yang tersisa menutupi benda kembar seperti sebuah kabut yang menutupi keindahan gunung.


Tasya terlihat malu dan sontak menyilangkan tangannya di depan dada karena melihat Kama yang menatap dua asetnya dengan tatapan penuh gairah.


"Kenapa harus ditutupi? ini milikku sekarang," Kama menepikan tangan Tasya dan dengan gerakan cepat melepaskan pengait benda berbentuk kaca mata itu.


Napas Kama memburu, ketika dia melihat pemandangan indah di depannya. Kama akhirnya bisa menyingkirkan kabut yang menutupi pegunungan yang puncaknya sepertinya belum pernah didaki oleh siapapun, dan dia yakin kalau dirinyalah pendaki pertama,


Kama kembali menyesap bibir Tasya, merambah turun ke dua bukit kembar milik Tasya.


"Ini sekarang milikku!" desis Kama di sela-sela kegiatannya.


Tasya, menggigit bibirnya, dan membiarkan Kama dengan leluasa berwisata di setiap lekuk tubuhnya. Tasya merasakan rasa baru yang membuat dirinya seperti melayang.


"Jangan ditahan Sayang, keluarkan!" bisik Kama yang menyadari kalau istrinya itu sedang berusaha untuk tidak mengeluarkan suara desahannya.


Kama kembali melancarkan aksinya dan kali ini, Tasya sudah tidak malu-malu lagi untuk mengeluarkan lenguhannya, sehingga semakin membuat libido Kama meningkat.


Tanpa menunggu lama, tubuh keduanya kini sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuh mereka. Tasya bahkan sampai menutup matanya begitu melihat tubuh suaminya yang shirtless.


"Kamu sudah siapkan?" bisik Kama di sela-sela napasnya yang memburu karena pikirannya sudah tertutup dengan kabut gairah.

__ADS_1


Kama tersenyum lebar ketika Tasya mengangguk-anggukan kepalanya, mengiyakan.


Di saat Kama nyaris ingin mengarahkan tongkat sejengkalnya, Tasya tiba-tiba menahan dada suaminya itu.


"Sayang, rasanya sakit ya?"


"Sakitnya hanya sebentar saja, Sayang! habis itu kamu akan merasakan hal lain,yang tidak bisa kamu lupakan." jawab Kama dengan tatapan yang sendu


Tasya menggigit bibirnya, dan memejamkan matanya sejenak. Tentu saja hal itu, menarik perhatian Kama.


"Apa kamu belum siap? kalau belum siap, kita berhenti di sini, lain kali kita lanjutkan lagi sampai kamu benar-benar siap." Kama hampir saja menjauhkan dirinya dari atas tubuh Tasya. Namun, wanita itu dengan sigap langsung menahan tubuh Kama.


"Aku siap, Sayang!" ucap Tasya dengan sangat yakin. Karena dia merasa sekarang ataupun nanti tidak akan ada bedanya.


Mendengar ucapan Tasya yang pasrah, seulas senyuman kembali terbit di bibir Kama. Pria itupun kembali melanjutkan aksinya.


"Kamu tenang saja, aku akan pelan-pelan!" bisik Kama.


Dalam hitungan detik, suara teriakan kesakitan dari mulut Tasya, menggema di dalam kamar itu, karena benda tumpul itu sudah tertanam di lahan milik Tasya yang masih belum pernah dijamah oleh siapapun.


Kama tidak langsung bergerak. Pria itu menunggu sampai Tasya merasa nyaman.


Di saat dirinya yakin kalau Tasya sudah mulai merasa nyaman, Kama mulai menggerakkan tubuhnya. Tasya meringis karena masih merasakan nyeri pada intinya. Akan tetapi, itu tidak berlangsung lama, karena rasa sakit itu kini berganti dengan rasa baru yang membuat Dirinya meracau tidak jelas.


Suara desa*han yang keluar dari mulut wanita itu, semakin membuat Kama bersemangat untuk melakukan gerakan yang lebih cepat lagi.


Tubuh Kama dan Tasya, sama-sama menegang, di saat mereka hendak mencapai puncak. Rasa sakit yang sempat dirasakan oleh Tasya tadi, kini melebur berganti dengan rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata seiring dengan pelepasan yang sudah mereka gapai.


"Terima kasih, Sayang! kamu hebat. I love you!" Kama mengecup kening istrinya dengan lembut.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2