
Carlos dan Kalila turun dari atas dengan jemari yang saling bertaut. Benar saja, Carlos tidak bisa menolak pesona tubuh istrinya itu, dia tetap saja mengambil kesempatan untuk tetap sajian lezat yang ada di depan matanya. Kalau sudah disajikan, tidak boleh tidak dimakan, begitulah prinsip pria itu.
"Eh, Tuan, Nyonya. Mau sarapan ya? aku panasin makanannya dulu ya," asisten rumah tangga, wanita yang sudah berusia setengah baya itu, berucap dengan sedikit gugup karena sedikit merasa sungkan melihat majikannya yang baru turun sudah siang begini. Padahal, biasanya majikan wanitanya itu selalu membantunya menyiapkan sarapan.
"Tidak perlu, Bi. Biar aku aja," ucap Carlos sembari memberikan senyumannya.
Wanita yang dipanggil bibi itu, semakin merasa sungkan. Dia hanya diam saja memperhatikan tuannya memanaskan makanan yang sempat hampir dimasukkannya ke dalam kulkas.
Tiba-tiba Kalila menutup mulutnya dan berlari menuju toilet yang berada di dapur karena perutnya seperti diaduk-aduk, begitu mencium aroma makanan yang sedang dipanaskan oleh sang suami.
Carlos yang panik sontak ikut berlari menyusul sang istri, sedangkan asisten rumah tangga itu dengan cekatan langsung mematikan kompor kemudian membawakan minum buat Kalila.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Carlos sambil memberikan pijatan di tengkuk Kalila.
"Aku Gak tahu, Sayang. Tiba-tiba aja aku mual mencium aroma makanan itu. Yang kamu panaskan tadi apa sih?" Wajah Kalila terlihat pucat dan tangannya masih memegang perutnya.
"Loh, itu udang mentega kesukaan kamu. Lagian baunya menurutku sama aja seperti sebelum-sebelumnya, gak ada bedanya sama sekali," Carlos mengrenyitkan keningnya.
"Tuan, ini minum air hangatnya," Menyerahkan gelas berisi air minum hangat ke tangan Carlos.
"Nih, kamu minum dulu! mungkin kamu masuk angin gara-gara telat makan pagi ini," Kalila menerima gelas itu dari tangan Carlos dan langsung meneguknya sampai tandas.
"Makanya, lain kali jangan abaikan yang namanya sarapan. Setelah kita selesai sarapan mau berleha-leha di kamar pun tidak masalah," tutur Carlos yang tiba-tiba cerewet.
"Kenapa kamu jadi marah-marah? perasaan tadi aku biasa-biasa saja sebelum mencium aroma udang mentega itu," Kalila mencebikkan bibirnya, merasa kesal disalahkan oleh Carlos.
"Aku tidak marah, Sayang. Aku cuma bingung kenapa tiba-tiba kamu gak suka sama aromanya. Padahal, sebelum-sebelumnya, kamu tidak sabaran untuk langsung melahap jika itu udang mentega,"
"Mana aku tahu. Mungkin ada bumbu lain yang dimasukkan sama bibi."
__ADS_1
"Apa itu benar, Bi?" Carlos mengalihkan tatapannya ke arah wanita yang dipanggil bibi itu.
"Tidak ada sama sekali, Tuan! bumbunya sama seperti biasanya. Mungkin __"
"Tuh kamu dengar sendiri. Bumbunya sama seperti biasa, dan aku pun mencium aromanya, tetap seperti biasa tidak ada yang aneh," Carlos menyela ucapan sang asisten rumah tangga, sebelum wanita itu selesai dengan ucapannya.
"Kamu kenapa jadi marah-marah sih?" bibir Kalila bergetar, dan air matanya sudah kembali menetes dari matanya.
"Aduh, bukan marah-marahnya, Sayang! aku tadi cuma__"
"Kamu jahat! aku benar-benar tidak tahu kenapa aku bisa mual, tapi kamu menyalahkanku karena aku telat makan. Gimana dengan kamu, kenapa kamu tidak mual juga? kamu kan telat makan juga." tangis Kalila semakin menjadi-jadi, membuat Carlos menghela napasnya, frustasi. Pria itu menggaruk-garuk kepalanya, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Iya, iya aku minta maaf, Sayang! jangan nangis ya!" bujuk Carlos, berusaha untuk bersabar.
"Sepertinya Nyonya sedang hamil, Tuan!" celetuk asisten rumah tangga itu, melanjutkannya perkataan yang sempat dipotong oleh Carlos tadi.
Tangis Kalila berhenti tiba-tiba, demikian juga dengan Carlos yang juga bergeming seperti orang bodoh, mendengar ucapan Wanita setengah baya itu.
"Iya, Nyonya. Dari ciri-ciri yang Nyonya tunjukkan sih iya. Dulu nyonya sangat suka udang mentega, tiba-tiba sekarang mencium aromanya saja, Nyonya mau muntah. Lagian tidak ada hubungannya masuk angin, muntah hanya gara-gara mencium bau makanan. Nyonya yang tiba-tiba berubah ... maaf! berubah manja dan gampang menangis seperti ini juga menunjukkan kalau sepertinya Nyonya sedang hamil," setengah baya itu kembali menjelaskan dengan lugas.
Kalila tercenung, berusaha untuk mencerna ucapan pembantunya itu, yang pasti sudah lebih berpengalaman dari dirinya. Dia tiba-tiba teringat kalau dirinya sudah telat datang bulan selama dua minggu.
Tanpa sadar, Kalila menyentuh perutnya dan mengelusnya dengan perlahan.
"Apa benar aku hamil?" gumam Kalila yang masih bisa tertangkap oleh telinga Carlos.
"Sebaiknya kita cek langsung aja daripada harus menduga-duga, Sayang. Lebih cepat kita tahu hasilnya, itu lebih baik kan?" ucap Carlos yang entah kenapa merasa sangat yakin kalau istrinya itu sudah mengandung buah cinta mereka.
"Bi, bisa belikan aku testpack?"
__ADS_1
"Apa itu testpack?" tanya Carlos yang baru pertama kali mendengar kata itu.
"Alat test kehamilan, Sayang,"
"Buat apa buang-buang waktu beli alat itu? kita langsung saja ke rumah sakit untuk ngeceknya." ujar Carlos dengan semangat.
Kalila tidak langsung menanggapi saran suaminya. Wanita itu justru terlihat tiba-tiba sedih. Ada perasaan khawatir yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya, begitu melihat wajah semangat suaminya itu. Dia takut Carlos akan kecewa nantinya jika dia tidak benar-benar hamil.
"Sayang, kenapa kamu diam saja?" Kening Carlos berkerut dengan alis yang bertaut.
"Emm, seandainya nanti aku tidak benar-benar hamil, apa kamu akan kecewa dan marah?" tanya Kalila, dengan was-was.
Carlos menghela napasnya dengan sekali hentakan, dan tersenyum manis ke arah istrinya itu. Dia akhirnya tahu alasan perubahan wajah istrinya itu.
"Sayang, kamu tidak perlu khawatir. Seandainya kamu tidak benar-benar hamil, aku tidak akan marah. Mungkin kecewa pasti ada, karena munafik namanya kalau kita tidak merasakan kecewa, tapi yakinlah rasa kecewa itu tidak akan membuatku marah dan bahkan sampai menyalahkanmu. Kita kan bisa berusaha lagi buatnya," Carlos mengelus lembut rambut Istrinya itu, berusaha meyakinkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Carlos dan Kalila kini sudah berada di dalam ruangan dokter kandungan 5 menit yang lalu.
"Ibu Kalila, silahkan berbaring ke atas ranjang dulu, biar kita langsung periksa melalui USG saja! karena menurut keterangan ibu tadi, itu memang merupakan ciri hamil muda,"
Kalila merebahkan tubuhnya, dengan jantung yang berdetak semakin kencang. Perasaan wanita itu tidak tenang sebelum tahu hasilnya
Dokter itu menyingkap pakaian Kalila memperlihatkan perut wanita itu. Kemudian dokter itu mengoleskan cream ke perut Kalila dan menggerakkan probe.
"Wah, seperti dugaan kita. Ibu Kalila benar-benar hamil. Selamat ya, Bu, Pa! tuh lihat ada kantong janin yang tumbuh di rahim Ibu," dokter itu masih asik menggerakkan probe itu.
"Jadi istriku benar-benar hamil, Dok?" tanya Carlos memastikan. Senyum di bibirnya langsung merekah begitu melihat anggukan kepala dari sang dokter.
__ADS_1
"Iya, Pak. Dan, usia kandungannya masih 3 mimggu. Jadi, masih harus benar-benar dijaga. Tidak boleh kecapean juga.," terang dokter itu, dengan lugas.
Tbc