Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Bab 115


__ADS_3

Rara sudah tampak segar dan duduk menyender dengan santainya di sandaran kasur pengantin mereka. Sedangkan Daniel suaminya masih berada di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Apakah dia akan memintanya hari ini?" detak jantung Rara tidak bisa diajak kompromi dari tadi. Detak jantungnya berpacu dengan suara dentingan jam dinding yang kali ini, kalah cepat dengan detak jantungnya. Karena terlalu asik melamun, wanita itu tidak menyadari kalau Daniel sang suami kini sudah duduk menyender di sampingnya.


"Apa yang kamu lamunkan, hum?" bisik Daniel tepat di telinga Rara, hingga membuat wanita itu terjengkit kaget.


"Lho, kamu kok udah ada di sini, Sayang?" tanya Rara dengan alis yang bertaut bingung.


Daniel mendengus dengan bibir yang sedikit tertarik ke atas, tersenyum kecut.


"Makanya jangan asik melamun, sampai suami sendiripun diabaikan. Kalau seandainya aku tadi ular, mungkin kamu sudah dipatuk."


"Maaf, Sayang!" Rara terkekeh menatap lucu wajah Daniel yang cemberut.


Keheningan terjeda cukup lama di antara mereka mereka berdua. Seketika situasi menjadi sedikit canggung. Ekor mata keduanya diam-diam saling melirik satu sama lain.


" Emmm, Sayang, sekarang kita mau ngapain? tanya Rara, menghentikan situasi awkward yang sempat tercipta.


"Kamu maunya ngapain?" Daniel balik bertanya sembari mengerlingkan matanya, menggoda Rara istrinya.


"Kok balik nanya sih? aneh kamu!" cetus Rara sembari mengerucutkan bibirnya.


"Bukannya aneh, Sayang. Justru aku juga harus minta pendapat kamu. Kalau aku sih maunya, kita melakukan hal seperti yang dilakukan pasangan suami istri baru pada umumnya, tapi kalau kamu belum siap, kan aku gak bisa maksa juga. Aku tuh harus menghormati keputusanmu,"


Rara bergeming, mendengar ucapan Daniel. Wanita itu seketika merasa dihargai sebagai seorang wanita.


"Kamu kenapa diam, hum?" apa yang aku katakan salah?" suara Daniel terdengar sangat lembut.


Rara sontak dengan cepat langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak mau pria yang sudah menjadi suaminya itu salah paham dengan diamnya dirinya.

__ADS_1


"Yang kamu katakan tidak salah, justru aku merasa terharu, karena sebagai seorang suami kamu tidak memaksakan kehendakmu,"


Daniel tersenyum manis dan mengecup kening Rara lalu memeluk wanita itu untuk memberikan rasa nyaman.


"Jadi, menurutmu, sekarang apa yang akan kita lakukan? apa aku sudah bisa meminta hakku?" dari nada suara Daniel, terlihat jelas kalau pria itu sangat hati-hati dalam bertanya.


Senyum pria itu sontak merekah begitu melihat kepala Rara yang mengangguk, pertanda kalau wanita itu bersedia untuk memberikan hak Daniel malam ini.


Daniel mendekatkan wajahnya ke wajah Rara yang terlihat tampak tegang. Tanpa Rara sadari, wanita itu tiba-tiba menutup matanya secara perlahan, dan siap untuk menyambut bibir Daniel suaminya.


Rara agak sedikit tersentak begitu ada benda kenyal yang menempel di bibirnya, dengan lembut Daniel me*lu*mat bibir tipis milik Rara dan menyesapnya dengan penuh perasaan.


Ciuman yang awalnya lembut hanya bertahan untuk beberapa saat saja. Lambat laun ciuman yang mereka lakukan sudah berubah sedikit liar, panas dan menuntut lebih. Indera pengecap, atau anggota tubuh yang tidak memiliki tulang itu, sudah saling membelit dan saling mengisap.


Kedua tangan Daniel juga tidak tinggal diam, tangannya sudah bergelirya, masuk ke dalam baju, meraba semua lekuk tubuh Rara, untuk mencari tahu di mana spot- spot yang bisa cepat membuat istrinya itu terangsang.s


"Itu memang sudah menjadi kebiasaan bagi pria seperti kami dan aku yakin kalau kamu juga sangat menikmatinya," jawab Daniel dengan tatapan sendu dan di sela-sela napasnya yang memburu, menahan hasrat yang sudah menggebu-gebu, hingga sampai ke puncak kepalanya.


Daniel kembali memagut bibir Rara dan memasukkan tangannya ke dalam piyama yang masih menempel di tubuh Rara. Daniel mengrenyitkan keningnya, ketika dengan mudahnya dirinya menyentuh dua benda kenyal yang menempel di dada Rara, karena ternyata istrinya itu sudah tidak mengenakan penutup benda itu.


"Apa kamu sebenarnya sudah sangat menunggu hal ini, makanya kamu tidak mengenakannya lagi untuk mempermudah dan mempercepat tugasku?" Intonasi suara Daniel terdengar sangat sensual.


"Emm, sebenarnya tidak! tapi itu karena aku lupa memasukkan pakaian dalamku ke dalam koperku," jawab Rara dengan polosnya disertai dengan munculnya semburat merah di pipinya.


Daniel terkekeh mendengar ucapan polos istrinya itu. Kemudian, dia tidak memperdulikan lagi, mengenai pakaian dalam sang istri. Pria itu tidak mau apa yang sudah dimulainya, yang sudah sempat membuat panas kembali dingin lagi, sehingga harus memakan waktu lagi untuk membuat panas.


Daniel akhirnya kembali mulai menyerang Rara dari bibir, merambat turun, menyesap leher Rara, dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Pria itu bahkan sudah bergerak lincah melucuti piyama yang dipakai Rara hingga tubuh wanita itu sudah terekspos di bagian atas. Di depan mata Daniel kini terpampang jelas dan nyata pemandangan yang sangat indah dimana ada dua benda kenyal yang di atasnya bertengger sebuah benda bulat berwarna pink kecoklatan, seakan menghipnotis pria itu untuk mendaratkan mulutnya di benda itu.


Wajah Rara benar-benar merona, melihat Daniel yang menatap benda miliknya seperti singa yang sangat lapar. Tanpa diperintah siapapun, kini mulut Daniel sudah mendarat pada benda bulat,pink kecoklatan itu dengan sempurna yang membuat mulut Rara mengeluarkan suara de*sahan yang sangat merdu di telinga Daniel.

__ADS_1


Disaat Daniel hendak membuka penutup akhir berbentuk segitiga di bawah sana, lagi-lagi pria itu kaget melihat ada tulisan nama brand pakaian dalam pria pada apa yang dipakai oleh istrinya itu.


"Astaga, Rara! kamu pakai ce*la*na dalam ku ya?" Rara hanya nyengir kuda, menampakkan deretan giginya yang rapi sebagai jawaban.


"Kan sudah aku bilang, kalau aku lupa bawa pakaian dalam di koper? mau tidak mau, dari pada tidak memakai pakaian dalam, ya aku ambil punya kamu, Sayang. Tidak apa-apa kan?" wajah cantik Rara terlihat polos bercampur dengan malu.


Malam pertama, biasanya istri memakai pakaian yang menarik buat suami, tidak terkecuali pakaian dalam. Tapi, hal itu tidak berlaku buat Rara. Wanita itu malah memberikan surprise dengan memakai pa*kaian dalam pria di malam pertamanya.


Rasa kaget yang sempat menyerang Daniel, tidak berlangsung lama. Pria itu kembali memberikan sentuhan-setuhan lembut pada istrinya itu. Dia tidak memperdulikan lagi apa yang dipakai oleh Rara karena yang paling penting sekarang dirinya bisa menuntaskan hasratnya..


Tidak seberapa lama, terdengar suara pekikan dari mulut Rara ketika, ada benda yang berhasil masuk ke pusat intinya.


"Sakit," desisnya lirih dengan sudut mata yang mengeluarkan cairan bening.


Daniel tidak langsung bergerak. Pria itu membiarkan sejenak 'pedang saktinya' berada di dalam inti istrinya itu, agar inti istrinya itu bisa beradaptasi sejenak dengan benda asing yang baru saja bertandang ke sana.


"Bergeraklah!" pinta Rara yang merasa kalau rasa sakit pada miliknya sudah berkurang.


Mendengar ucapan istrinya Danielpun akhirnya menggerakkan tubuhnya. Rasa sakit yang tadi sempat dirasakan oleh Rara kini luruh, berganti dengan lenguhan nikmat yang membuat Daniel semakin bersemangat bergerak di atas tubuh sang istri.


Di saat ingin melakukan pelepasan, Daniel mempercepat gerakannya, dan mengerang keras ketika saos mayonize miliknya disemburkan ke dalam rahim istrinya berkali-kali.


Daniel memberikan kecupan yang cukup lama, di puncak kepala Rara, setelah menuntaskan hasratnya.


"Terima kasih, Sayang, sudah menjaganya untuk'ku!" ucapnya dengan lembut seraya menyeka peluh yang menetes di pelipis istrinya itu.


Rara membalas ucapan terima kasih Kevin dengan seulas senyuman yang bertengger manis di bibirnya. Perlakuan Daniel yang lembut, membuat wanita itu merasa dihargai sebagai seorang wanita.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2