Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Membuat kue Ulang tahun


__ADS_3

Alena baru saja hendak berangkat ke restoran nya. Akan tetapi, ketika wanita itu baru saja hampir mencapai pintu, Calista sudah muncul di depan pintu dengan kedua tangan yang penuh dengan kantongan plastik yang Alena tidak tahu apa isinya.


"Pagi, Alena! sudah mau berangkat ya?" sapa Calista yang seperti biasa selalu heboh.


"Pagi juga, Lista! seperti yang kamu lihat, aku baru saja mau berangkat. Tumben, pagi-pagi sekali kamu sudah datang, ada urusan apa?" Alena mengreyitkan keningnya, penasaran.


"Untung aku datang tepat waktu. Aku memang pintar mengatur waktu," ucap Calista sambil cengengesan.


"Emm, Kak Arend sudah berangkat belum?" Calista celingukan untuk melihat keberadaan Arend.


"Dia baru saja berangkat! emang kenapa?" ada terselip kecurigaan pada nada bicara Alena. Beruntungnya Calista tidak peka akan hal itu.


"Aku sudah tahu sih, kalau Kak Arend sudah berangkat. Aku sebenarnya sudah dari tadi datang. Tapi aku sengaja menunggu kak Arend keluar dulu baru masuk," jelas Calista sambil nyengir kuda.


"Lha, kalau kamu sudah tahu, kenapa masih nanya?" Alena menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan tingkah Calista yang menurutnya sangat konyol.


"Biar terlihat natural aja aktingnya." jawab Calista, santai.


Alena kembali menggelengkan kepalanya. Tatapannya kembali mengarah ke barang bawaan Calista. "Kamu belum jawab pertanyaanku tadi. Kamu pagi-pagi ke sini mau ngapain? dan apa yang kamu bawa itu?"


"Nanti dulu tanyanya! Kamu gak ada niat bantuin aku ngambil sebagian bawaanku ini? aku capek lho,"


Alena, menghela napasnya dan meraih kantong plastik dari tangan Calista.


"Sebenarnya ada urusan apa sih ke sini?" Alena kembali mengulangi pertanyaannya, karena masih penasaran.


"Emm, aku mau belajar bikin kue." Calista kembali nyengir.


"Kenapa harus belajar? kamu kan bisa beli?" tanya Alena.


"Hari ini suami kita ulang tahun, masa kamu lupa. Aku ingin membuat kue sendiri, tapi aku gak tahu caranya. Kamu kan pintar buat kue, makanya aku minta diajarin sama kamu. Emang kamu gak ada niat buat kue juga buat Kak Arend?" jelas Calista panjang lebar.


"Ulang tahun? bisa-bisanya dia tidak tahu." batin Alena sambil menggigit bibir bawahnya.


"Emm, gimana ya? aku __"


"Ajarin aku dong, please!" Calista menangkupkan kedua tangannya, dengan mata yang memelas, memohon pada Alena.


"Baiklah! aku kabarin ke managerku dulu, kalau aku tidak datang ke restoran kali ini." Alena merogoh ponselnya dari dalam tas dan langsung menghubungi managernya.


"Ayo kita ke dapur!" ucap Alena setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.


Senyum Calista mengembang dengan sempurna, sambil mengikuti langkah Alena menuju dapur.

__ADS_1


"Apa kamu sudah mengucapkan selamat ulang tahun untuk kak Arend?"


Alena tercenung, tidak langsung menjawab.


"Bagaimana mungkin aku bisa mengucapkannya, ulang tahunnya aja aku gak tahu," jawab Alena yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Belum! aku juga berencana ingin memberikan kejutan buat dia. Rencananya aku mau bikin kuenya di restoran. Tapi, berhubung kamu datang, kita buat aja di sini," ucap Alena, berharap Calista percaya.


"Bagus deh! berarti aku pintar, nungguin kak Arend keluar dulu baru aku masuk. Coba tadi aku langsung masuk, kan jadi ketahuan kalau kamu mau kasih kejutan. Aku pintar kan?" Calista membusungkan dadanya, bangga.


"Iya, iya kamu pintar!" jawab Alena sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kita mau buat kue apa?" tanya Alena sambil be mengeluarkan bahan-bahan kue dari kantong plastik yang dibawa oleh Calistaa tadi.


"Aku mau buat cake yang tiramisu, karena Arick suka tiramisu," ucap Calista dengan wajah yang berbinar, membayangkan wajah suaminya itu nanti yang pasti bahagia mendapatkan kejutan dari istrinya.


"Ok, mari kita buat sama-sama! kamu buat untuk Arick dan aku buat untuk Arend," Alena dengan sigap hendak mempersiapkan bahan-bahannya.


"Kamu jangan buat yang tiramisu, karena kak Arend tidak menyukainya." Calista dengan sigap mencegah Alena. "Dia memang tidak menolak untuk memakannya, tapi kak Arend lebih suka yang red Velvet dan ada toping strawberry," Calista kembali menjelaskan dengan perasaan tidak enak.


"Oh, begitu?" desis Alena yang seketika merasa tidak nyaman.


"Bahkan apa yang disukai Arend, Calista pun tahu. Bagaimana kamu bisa menarik perhatian Arend, Alena? hal sekecil ini pun kamu tidak tahu," batin Alena dengan bibir yang tersenyum getir.


Mereka berkutat di dapur cukup lama. Akan tetapi, mereka tersenyum bahagia begitu melihat hasil kue buatan mereka. Khususnya Calista yang benar-benar merasa bahagia dengan hasil kue buatannya setelah berkali-kali gagal.



"Kenapa kamu tulis happy birthday, daddy?" tanya Alena dengan kening yang bertaut.


"Hmm, gimana ya?" Senyum Calista semakin lebar. " Sebenarnya aku sudah hamil, Alena. Aku tahunya minggu lalu. Tapi Arick belum tahu karena aku belum memberitahukanya. Aku sengaja, karena aku ingin menjadikan ini hadiah buat dia di hari ulang tahunnya," jelas Calista panjang lebar, dan semangat yang berapi-api.


"Oh, selamat ya!" lagi-lagi Alena kembali sedih. Akan tetapi, dia tidak memperlihatkannya pada Calista. Wanita itu tetap menunjukkan senyumannya pada Calista. Alena tidak merasa iri sama sekali. Cuma wanita itu juga sangat menginginkan untuk segera hamil.


"Terima kasih Alena! apa kamu sudah menyiapkan hadiah juga untuk Arend?"


"Tentu saja sudah! tapi kamu tidak perlu tahu, karena ini rahasia," Calista mengerucutkan bibirnya, mendengar ucapan Alena. Sementara itu, Alena terkekeh melihat ekspresi wajah Calista.


"Maaf, Alena! apa kamu sudah ada tanda-tanda hamil?" tanya Calista dengan sangat hati-hati, takut kalau Alena tersinggung.


"Emm, sepertinya belum karena aku sama sekali tidak merasakan apa-apa," Alena berusaha tersenyum, memperlihatkan kalau dirinya baik-baik saja.


"Aku juga sama sekali tidak merasakan apa-apa, Al. Cuma, aku mau makan dan tidur saja kerjaannya. Mama yang curiga dan memintaku untuk cek segera. Kalau tidak, bisa-bisa aku juga tidak tahu kalau aku sedang hamil. Kamu coba dulu cek, kali aja kamu juga sudah hamil," saran Calista dengan menggebu-gebu.

__ADS_1


"Hmm, iya ntar aku coba cek deh. Walaupun cukup mustahil karena kami kan baru 3 bulan menikah. Sedangkan kamu sudah 5 bulan." ucap Alena yang terlihat pesimis.


"Emang sih baru 5 bulan, tapi kan kami gak langsung melakukannya. Kami baru melakukannya sekitar dua bulan yang lalu kali," ucap Calista yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Kenapa tidak? bahkan yang baru menikah satu bulan saja, kalau sudah rejeki pasti bisa langsung dikaruniai keturunan," ucap Callista mencoba menghibur Alena.


"Apa kamu pikir, setelah menikah kami langsung melakukannya? sama sekali tidak!" bisik Alena pada dirinya sendiri.


Author: ih, kalian berdua! kalian berdua memang tidak langsung melakukan malam pertama. Tapi jangan lupa, aku tahu kalau kalian melakukannya waktunya tidak terlalu jauh berbeda.


Alena dan Calista! hush, bisa diam gak Thor? jangan bongkar rahasia kami! ntar kami sumpahin, rejeki kamu berlimpah Thor.


Author: Aminnn


"Al, apa kamu sudah selesai menghias kue buat kak Arendnya?" Calista mengalihkan pembicaraan.


"Sudah! nih, bagaimana menurutmu?" Alena menunjukkan kue buatannya.



"Wah, cantik sekali! dan sepertinya enak." Calista menjulurkan jarinya hendak mencicipi kue untuk Arend. Beruntungnya, Alena langsung menepuk tangan wanita itu.


"Jangan! kalau kamu mau makan kue, itu masih ada satu loyang di oven. Sebentar lagi juga mateng, jadi kamu tunggu saja!"


"Iya, deh!" jawab Calista sambil mengerucutkan bibirnya.


"Alena, masa tidak ada ucapannya di kue itu. Nih kamu buat ini aja! aku sengaja membelikannya untukmu," Calista meraih kantong plastik dan mengeluarkan cake topper yang bertuliskan 'Happy birthday my love' dan memberikannya pada Alena.



"Kamu tinggal menancapkannya di atas kue kamu itu," sambung Calista kembali.


"Aduh, kenapa harus pakai seperti ini sih? ini mah, bisa membuat Arend besar kepala," batin Alena sambil menggigit bibirnya.


"Terima kasih, Lista! ucap Alena sambil menghela napasnya.


"Waduh, Len! sepertinya mama Celyn, mengundang kita untuk makan malam di rumahnya nanti malam. Katanya buat ngerayain ulang tahun suami kita. Bagaimana ini? coba kamu lihat ponsel kamu! mungkin mama juga ada kirim pesan buat kamu, " ucap Calista sambil menunjukkan pesan Celyn di ponselnya.


Alena meraih tasnya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas itu. Wanita itu seketika tersenyum penuh makna melihat pesan dari mama mertuanya itu.


"Bagus deh, setidaknya aku tidak perlu menunjukkan kue ini pada Arend!" bisik Alena pada dirinya sendiri dengan wajah yang berbinar.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2