
Hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah tujuh bulan waktu berlalu. Hari ini adalah hari di mana baby Ivan dan baby Ian, berulang tahun yang ke dua tahun. Cakra sangat excited untuk merayakan hari ulang tahun kedua anaknya, karena ini adalah yang pertama kalinya dirinya merayakan hari kelahiran kedua putranya itu.
Segala persiapannya Cakra tidak pernah ketinggalan. Bahkan pria itu terlihat lebih bersemangat dibandingkan dengan Safira ibunya. Oh ya, bukan hanya Cakra, Cantika dan Calvin juga tidak kalah semangat dari Cakra.
Melihat antusiasme dari suami dan kedua mertuanya, Safira hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya pada ketiga orang itu.
Para tamu mulai berdatangan, untuk memberikan selamat pada si kembar. Padahal kalau dipikir-pikir yang menikmati pesta bukanlah si kecil melainkan para orang dewasa, karena si kembar belum mengerti apa yang sedang terjadi. Yang jelas dia tertawa dan bertepuk tangan kegirangan bukan karena ucapan selamat, tapi karena melihat banyaknya balon yang berwarna-warni.
Pada acara ulang tahun ini, Safira bersikukuh untuk tidak menghadirkan para anak yatim piatu. Kenapa? bukan karena tidak ingin berbagi, tapi menurutnya justru dengan menghadirkan mereka, itu sama sekali tidak mendatangkan kebahagiaan buat para anak yatim itu, tapi malah membuat mereka semakin sedih, melihat kebahagiaan anak yang sedang berulang tahun, bergembira didampingi orang tua yang lengkap, sedangkan mereka tidak bisa sama sekali. Akan tetapi, Safira tetap berbagi kebahagiaan dengan mereka dengan mengirimkan makanan, hadiah dan donasi untuk panti asuhan dan meminta doa dari anak-anak itu.
"Fira, ini benaran cuma acara ulang tahun? mewah sekali!" tanya Tasya yang perutnya sudah terlihat membuncit karena wanita impulsif itu sedang mengandung anak pertamanya dan usia kandungannya sudah lima bulan.
"Ya, mau gimana lagi. Ini kemauan mas Cakra, papa dan mama. Aku mah ikut aja," sahut Safira dengan senyum yang manis.
"Hai, kami belum telat kan?" sapa Alena dan Calista yang baru saja datang, bersama dengan suami masing-masing. Kedua wanita itu terlihat sedikit kesusahan dengan napas yang sedikit ngos-ngosan karena perut mereka yang sangat besar. Usia kandungan mereka berdua tinggal menunggu hari saja. Tampak Arick dan Arend yang selalu siap siaga berada di samping istri masing-masing.
"Aduh, nggak kok! Kalian duduk dulu ya!" Safira dengan sigap langsung membantu kedua ibu hamil itu untuk duduk di kursi. Dia paham betul bagaimana rasanya hamil kembar.
"Terima kasih, Fir!" ucap Alena sembari mengembuskan napasnya dengan perlahan.
"Cakra dimana?" Arick buka suara dengan mata yang mengedar mencari keberadaan Cakra.
"Tuh dia! Safira menunjuk ke arah Cakra yang terlihat repot mengejar kedua anaknya yang tidak mau diam.
Arick dan Arend saling silang pandang dan saling melempar senyum penuh makna. Mereka sontak membayangkan diri mereka di dua tahun mendatang yang pastinya akan seperti itu.
"Lis, kapan sih prediksi kamu lahiran," Tasya buka suara yang sepertinya merasa seperti ikut capek melihat Calista yang membawa perut sebesar itu.
"Kalau kata dokter sih kira- kira satu Minggu lagi," jawab Calista sambil mengelus-elus perutnya yang sudah mulai merasakan sedikit kontraksi mulai dari kemarin.
__ADS_1
"Kalau kamu?" Tasya mengalir tatapannya pada Alena sepupunya yang keadaannya tidak jauh berbeda dengan Calista.
"Dua minggu lagi," jawab Alena singkat. Tasya mengangguk-anggukan kepala, dengan mulut yang membulat membentuk huruf 'o'.
"Nih, makanan buat kamu!" tiba-tiba Kama muncul dengan membawa piring yang penuh dengan makanan yang berbeda, untuk Tasya.
"Kenapa banyak sekali?" protes Tasya melihat makanan yang benar-benar sangat banyak, hingga hampir membentuk sebuah gunung.
"Aku capek, Sayang. Dari tadi, aku selalu ngambilin makanan buat kamu. Jadi, aku ambil aja sekalian semua jenis dan banyak," sahut Kama sembari mendaratkan tubuhnya duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan wajah yang sudah terlihat lelah.
"Sabar, Bro!" ucap Arend sembari berusaha menahan tawa.
Tidak menunggu lama akhirnya acara pesta ulang tahun Ivan dan Ian, dimulai yang dipandu oleh MC. Suara nyanyian Happy birthday berkumandang yang diiringi dengan suara tepuk tangan.
"Pa, anyak seali alon di sini," celetuk Ivan yang Kalau bicara masih seperti gaya khas batita umumnya.
"Pa, tuyunin, Ivan!" rengek Ivan meminta turun, yang pastinya mendapat reaksi dari Ian yang minta diturunkan juga dari gendongan Safira. Perut Safira masih terlihat rata karena dirinya memutuskan untuk menunda kehamilan karena Ivan dan Ian masih kecil. Beruntungnya Cakra tidak keberatan sama sekali.
Ivan dan Ian meraih balon yang ada di dekat mereka dan sambil tertawa-tawa kegirangan, mereka meremas balon yang mereka pegang.
Duarr ....
Tiba-tiba balon yang dipegang oleh Ivan meletus, hingga meninggalkan bunyi yang sangat keras, hingga hampir semua yang berada di ruangan itu, tak terkecuali Callista dan Alena, kaget mendengar suara itu.
Karena rasa kaget itu, perut keduanya tiba-tiba mengalami kontraksi.
"Aduh, sakit!" pekik keduanya bersamaan sembari memegang perut masing-masing.
Arend dan Arick seketika panik dan bingung mau berbuat apa.
__ADS_1
"Hei! kenapa kalian berdua diam saja? bawa istri kalian ke rumah sakit!" bentak Aby, menyadarkan kedua putranya.
Saking paniknya, Arick mengangkat tubuh Alena sedangkan Arend mengangkat tubuh Calista.
"Hei, istri kalian tertukar!" pekik Celyn, mengingatkan.
"Eh, iya," Arick dan Arend sontak menurunkan wanita yang ada di gendongan masing-masing, lalu menghambur ke istri masing-masing.
"Bisa gitu ya? masa gara-gara panik istri sendiri tidak kenal?" Rara yang perutnya juga terlihat sudah membuncit, menggeleng-gelengkan kepalanya
"Kalau kita bagaimana, Ra? apa kita bisa tukaran suami? soalnya suamiku banyak protesnya sekarang," celetuk Tasya, santai tanpa beban.
Kama yang mendengar celetukan Tasya, sontak bereaksi menyentil kening istrinya itu.
"Kalau ngomong itu, dipikir dulu! enak aja mau tukaran suami." cetus Kama, kesal, yang disambut dengan kekehan Daniel dan Rara. Mereka berdua tidak heran lagi pada Tasya yang selalu berucap dan bertindak tanpa dipikir dulu.
Sementara itu Arick dan Arend berlari ke luar menuju mobil masing-masing. Keduanya masuk ke kursi bagian belakang, sementara tidak ada orang yang duduk di kursi belakang kemudi.
"Sakit, Sayang!" rintih Alena dengan wajah yang meringis kesakitan.
Sementara itu di dalam mobil yang lainnya, tampak rambut Arick yang berantakan karena ulah Calista yang berteriak-teriak sambil menarik-narik rambut sang suami.
"Ini siapa yang bawa mobilnya? kenapa tidak ada yang menyusul ke luar?" Arend menggerutu kesal sambil menyembulkan kepalanya melihat ke arah pintu, berharap ada orang yang keluar dari sana. Hal yang sama juga terjadi pada Arick.
Tiba-tiba dari arah pintu terlihat Aby dan Calvin berlari ke luar disusul Celyn dan Cantika. Aby dan Celyn menuju mobil Arend, sedangkan Calvin dan Cantika ke mobil Arick.
"Maaf, papa tadi lupa ikut keluar!" ucap Aby, sembari nyengir kuda. Demikian juga dengan Calvin di mobil Arick yang ikut minta maaf juga.
Tbc
__ADS_1