Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Bab 71


__ADS_3

Tasya sudah menangis sambil berteriak minta tolong sekitar 15 menit. Bahkan suara wanita itu sudah mulai sedikit parau. Wanita itu tersungkur duduk di lantai sembari menyender di tembok toilet. Dirinya kini hanya bisa pasrah dan menerima takdirnya. Karena memang dia tahu kalau basement adalah tempat mobil para karyawan diparkir. Jadi toiletnya sangat jarang dikunjungi oleh orang, kecuali karena kepepet.


"Kama tolong aku!" rintihnya di sela-sela rasa dingin yang sudah mulai menusuk tulangnya. Entah kenapa nama yang dia sebutkan itu nama Kama, pria yang membuat hidupnya tidak tenang belakangan ini.


"Tuhan, sekarang aku hanya bisa pasrah. Tapi bila aku masih Engkau takdirkan bisa hidup, aku mohon tolong kirimkan penolong buatku!" serunya seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Tasya! dimana kamu?" tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang sangat dia kenal, dari depan pintu meneriaki namanya.


Tasya berusaha untuk berdiri, walaupun kedua kakinya bergetar. Dia merasa kalau doanya sudah didengar oleh Tuhan.


"Tasya! " Tiba-tiba terdengar suara wanita berganti dengan suara pria tadi.


"A-aku di sini, Kama, Fira!" Tasya berusaha bersuara dengan kencang di sisa tenaganya. Ya, yang datang menyelamatkan Tasya adalah Kama, Safira dan tentu saja ada Cakra yang ikut.


Kama dengan sigap langsung berlari ke arah datangnya suara.


"Kamu menjauh dari pintu, Sayang! biar aku dobrak pintunya," Tasya melakukan sesuai dengan apa yang diminta oleh Kama. Kali ini, wanita itu tidak protes dengan Kama yang memanggilnya sayang.


Dengan sekuat tenaga, pria itu mendobrak pintu. Satu kali dia gagal, kedua kali juga gagal. Akan tetapi, pada percobaan yang ke tiga kali pintu toilet yang terkunci itu, akhirnya bisa terbuka karena bantuan dari Cakra.


Begitu pintu terbuka, Tasya langsung menghambur memeluk Kama dengan erat sebelum akhirnya wanita itu jatuh pingsan di pelukan Kama.


"Tasya, bangun, Sayang!" Kama menepuk-nepuk pipi Tasya dengan raut wajah yang sudah sangat panik. Apalagi begitu melihat bibir Tasya yang sudah kebiruan karena kedinginan.


Kama sontak membuka jas yang dia pakai dan membalutkannya ke tubuh Tasya. Kemudian pria itu mengangkat tubuh Tasya, dan dengan sedikit berlari menghambur menuju mobilnya untuk membawa wanita pujaannya itu ke rumah sakit.


"Kamu ikut saya!" Cakra langsung meraih tangan Safira, begitu melihat Safira yang hendak menyusul Kama yang membawa Tasyanya.

__ADS_1


Safira langsung menepis tangan Cakra dengan wajah yang masih terlihat sangat panik.


"Apa-apaan sih? aku harus ikut dengan mereka. Aku harus memastikan kalau Tasya akan baik-baik saja." ucap Safira sambil berlari menyusul Kama.


"Sial! kenapa aku bisa seperti ini sih?" umpat Cakra yang entah kenapa sempat merasa cemburu membayangkan Safira berada di dalam mobil yang sama dengan Kama dengan posisi Tasya yang sedang pingsan.


Cakra yang tidak mau ketinggalan akhirnya ikut berlari menyusul Safira.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kama tidak berhenti berjalan mondar mandir di depan ruang IGD. Ingin rasanya dia mendobrak pintu ruangan itu untuk melihat kondisi Tasya.


"Sabar, Kam! Tasya pasti akan baik-baik saja!" ucap Cakra sambil menepuk pundak sahabatnya itu.


"Kalau sempat terjadi apa-apa pada Tasya, aku tidak akan membiarkan mereka yang berniat mencelakakannya hidup tenang." ucap Kama dengan rahang yang mengeras dan mata yang berkilat-kilat penuh dengan amarah.


"Keluarga, Nona Tasya!"


Kama langsung menghambur ke arah dokter yang ternyata sudah keluar dari ruangan tempat Tasya mendapat pertolongan.


"Aku calon suaminya, Dok! bagaimana dengan keadaan calon istriku?" tanya Kama dengan ekspresi tidak sabar.


"Calon istri anda baik-baik saja dan dia sekarang sudah siuman. Nona Tasya tidak sampai mengalami hipotermia karena cepat ditemukan. Dia pingsan bukan karena rasa dingin yang dirasakannya, tali karena kelelahan berteriak dan shock dengan kejadian yang menimpanya.


Kama menarik napas dengan lega. Sama halnya seperti ketika batu besar yang menghimpit jantungnya berhasil disingkirkan.


"Boleh aku melihatnya, Dok?

__ADS_1


"Tentu saja boleh, Pak. Silahkan masuk!" Dokter itu menyingkir memberikan jalan pada Kama, Safira dan Cakra.


"Terima kasih,Dok!" Ucap Kama yang diangguki kepala oleh sang dokter.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" ucap Kama begitu masuk ke dalam ruangan.


"Aku sudah tidak apa-apa! terima kasih sudah menolongku!" ucap Tasya dengan air mata yang menetes membasahi pipinya. Wanita itu tidak bisa membayangkan seandainya Kama dan Safira tidak segera datang menolong. Di bisa dipastikan akan semalaman terkunci di dalam toilet, ditengah kedinginan dan ketakutan.


Awalnya Tasya ingin menyalahkan Kama sebagai penyebab semua ini. Karena seandainya pria itu tidak mendekatinya, hal seperti ini pasti tidak akan terjadi. Akan tetapi, setelah dipikirkan dengan matang, setelah Safira terlihat dekat dengan Cakra, rekan-rekan kerjanya itu juga sudah mulai menatap sinis ke arahnya. Jadi seandainya Kama tidak mendekatinya pun, rekan-rekan kerjanya itu sudah membencinya.


"Darimana kamu tahu kalau aku terkunci di dalam toilet?" tanya Tasya dengan alis yang bertaut tajam. Jujur, pertanyaan ini sangat mengganjal di dalam hatinya.


"Safira yang memberitahukan ku." Tasya sontak menoleh ke arah Safira untuk meminta penjelasan.


"Tadi aku mengantarkan makan siang Cakra. Aku berniat mau pulang, tapi sebelum pulang aku berniat untuk menemuimu. Tapi aku tidak bisa menemukanmu. Tapi, entah kenapa aku curiga dengan gerak-gerik Ibu Ningsih dan dua teman kita. Jadi diam-diam aku mengikuti mereka. Aku kaget begitu mendengar percakapan mereka di pintu menuju basement dengan dua teman kita lagi. Aku sudah. merekam semua yang mereka bicarakan." Safira diam sejenak untuk mengambil jeda sekaligus untuk mengisi oksigen ke paru-parunya.


"Awalnya aku ingin langsung melabrak mereka. Tapi setelah aku pikir, aku hanya sendiri dan mereka berlima. Bisa-bisa aku juga dikurung sama mereka dan tidak akan ada yang tahu dan menolong kita. Jadi, aku kembali lagi ke ruangan Cakra yang kebetulan Kama ternyata ada di ruangan itu. Makanya bisa dengan cepat menolongmu," sambung Safira kembali menjelaskan.


"Terima kasih,Fir!" Safira menganggukkan kepalanya dengan seulas senyuman manis di bibirnya.


"Jadi, dalangnya itu Ibu Ningsih? mereka sudah mengancam akan berbuat lebih jika seandainya aku melaporkan perbuatan mereka. Aku takut, nanti mereka pasti menudingku yang telah melaporkan perbuatan mereka pada Pak Cakra dan Kama." Wajah Tasya berubah pucat dan panik.


"Kamu tenang saja! aku akan selalu melindungi mu. Kami juga sudah memikirkan cara untuk mengatasi hal ini. Safira sudah mengatakan kalau dia sudah merekam pembicaraan mereka kan? jadi, ini bisa kita jadikan bukti untuk menyeret mereka ke penjara, karena ini sudah termasuk perbuatan kriminal." ucap Kama sambil mengelus rambut Tasya dengan lembut dan sayang. Pria itu berusaha untuk bersikap setenang mungkin, padahal hatinya sudah sangat geram dan ingin memberikan pelajaran pada Ningsih dan rekan-rekannya.


Tbc


Jangan lupa buat tetap ninggalin jejaknya ya guys. Please like, vote dan komen. Kasih hadiah juga boleh dong 😁😍

__ADS_1


__ADS_2