
Hari ini Safira banyak melakukan kesalahan pada pekerjaannya. Wanita itu terlihat tidak fokus karena pikirannya masih tertuju pada kejadian tadi malam. Perasaan bersalah masih menghantui wanita ibu dari dua anak itu. Tadi pagi ingin sekali dia datang ke rumah Cakra, tapi rasa egonya masih mengalahkan rasa bersalahnya.
"Fira, kamu sakit ya? atau kamu sedang ada masalah?" tegur Alena dengan ramah.
Safira yang sedang melamun terjengkit kaget mendengar suara Alena yang tiba-tiba.
"Eh, Alena. Tidak kok," jawab Safira dengan senyuman yang terlihat dipaksakan.
"Ah yang benar? sepertinya kamu benar-benar ada masalah. Kalau ada kamu ada masalah kamu boleh cerita ke aku. Karena kalau disimpan sendiri tidak akan baik,"
"Aku benar-benar tidak ada masalah kok, Al. Tenang aja!" Safira masih berusaha untuk menutupi apa yang dia rasakan.
"Ya udah deh kalau begitu." Alena mengangkat bahunya dan memutar tubuhnya, hendak berlalu pergi. Akan tetapi, Alena seketika kaget dengan kehadiran Arend yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
"Haish, kenapa kamu ada di sini? kamu itu buat aku jantungan tahu! kalau aku punya penyakit jantung, bisa mati mendadak aku," Alena menggerutu, sambil mengelus-elus dadanya.
Arend tidak menjawab sama sekali. Pria itu sudah terbiasa dengan sikap bawelnya Alena. Justru tatapan pria itu kini fokus pada Safira.
"Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Alena yang tidak tega fokus ke arah mana Arend menatap.
"Aku ke sini, ingin menemui Safira. Karena aku tahu kalau tempat ini adalah tempat yang tepat untuk aku bisa bicara dengan dia. Kalau aku menemuinya ke tempat dia tinggal, akan menimbulkan fitnah," ucap Arend yang terasa ambigu buat Alena dan Safira, sehingga terlihat kerutan di kening kedua wanita itu.
"Maksud kamu?" tanya Safira yang diangguki kepala oleh Alena, karena wanita itu juga ingin tahu apa maksud Arend
"Boleh kita bicara berdua di ruangan Alena? karena kalau di sini terlalu terbuka, dan tempatnya tidak nyaman. Akan ada banyak orang yang bisa mendengar apa yang akan kita bicarakan,"
Alena menggigit bibirnya. Ada sesuatu perasaan yang tidak terima muncul di dalam hatinya. "Apa Arend jatuh cinta pada Safira? apa dia mau mengutarakan isi hatinya, sampai-sampai tidak ada yang boleh mendengar apa yang hendak dia bicarakan?" batin wanita seraya bersiap-siap untuk pergi.
"Kamu mau kemana?" Arend menahan tubuh Alena dengan menarik kerah belakang kemeja yang dipakai istrinya itu.
__ADS_1
"Aku mau ke sana. Kalian bicara saja, aku tidak akan mau ikut campur," sahut Alena dengan bibir yang sedikit gemetar menahan tangis.
"Aku tidak mau kamu berpikiran macam-macam. Jadi sebaiknya kamu ikut kami juga masuk ke dalam!" ucap Arend sambil meraih tangan Alena dan menggandeng tangan wanita itu.
Alena menepis tangan Arend dan berhenti melangkah.
"Siapa yang berpikir macam-macam? apa kamu kira aku cemburu ya? kalau kamu mau mengutarakan perasaan kamu pada dia, aku__" Alena tiba-tiba terdiam dan mengaduh karena Arend tiba-tiba menyentil jidatnya.
"Kamu bisa diam nggak? kamu bilang kalau kamu nggak berpikiran macam-macam, tuh kamu bisa ngomong begitu, karena apa kalau bukan berpikiran macam-macam?"ucap Arena dengan nada meledek.
Alena tidak bisa mengelak karena apa yang diucapkan oleh suaminya itu benar. Dia kini hanya bisa mengerucutkan bibirnya dan melangkah melewati Arend yang tersenyum samar.
Kemudian pria itu memutar tubuhnya,menoleh ke arah Safira yang masih tetap berdiri di tempatnya.
"Kenapa kamu masih berdiri di sana? apa kamu tidak mau berbicara denganku? Alena ada bersama kita jadi kamu tidak perlu canggung,"
Silahkan duduk, Fira!" ucap Arend setelah dia mendaratkan tubuhnya duduk di samping Alena.
Dengan raut wajah yang penasaran, Safira pun melakukan hal yang diminta oleh Arend. Wanita itu duduk di sofa tida terlalu jauh dari sepasang suami istri itu.
"Ada apa ya? kenapa kamu belum bicara?" tanya Safira tidak sabar karena Arend belum juga bicara.
"Hmm, begini Fira, apa alasan kamu belum mau menerima tanggung jawab Cakra?" Arend buka suara.
Safira tidak langsung menjawab. Dia menghela napasnya dengan cukup berat.
"Karena aku merasa dia tidak perlu untuk bertanggung jawab. Aku tidak mau menikah dengan seorang karena hanya ingin bertanggung jawab, karena aku yakin kalau pernikahan seperti itu tidak akan pernah bahagia," jawab Safira dengan lugas.
"Jadi hanya gara-gara itu? bukannya karena kamu membencinya?" ucap Arend. "Bukannya kamu sudah tahu kalau Cakra tidak sepenuhnya bersalah? dia melakukannya karena terpaksa. Kalau dia bejat, dia tidak akan mau mencari kamu selama ini. Selama dua tahun dia hidup dengan rasa bersalah, dan bahkan menolak perjodohannya dengan Kalila. Apa itu tidak bisa kamu jadikan sebuah pertimbangan?"
__ADS_1
Safira menghela napasnya, dengan sekali hentakan dan menggigit bibirnya.
"Justru karena itu. Bukannya tadi aku sudah berkata kalau aku tidak mau menikah dengan orang hanya karena tanggung jawab, padahal rasa cintanya pada wanita lain?"
"Safira, maaf kalau aku terlalu lancang. Tapi menurut aku, kamu itu terlalu egois. Kamu hanya memikirkan perasaan kamu tanpa memikirkan kebahagiaan anak-anak kamu. Coba kamu pandang dari sisi kedua anak kamu. Mereka pasti akan lebih bahagia jika bisa hidup bersama dengan kedua orang tua yang lengkap. Kamu boleh saja memberikan mereka masa depan, tapi bagaimana dengan psikologis anak kamu?" Arend berhenti sebentar untuk mengambil jeda sekaligus ingin menghirup udara mengisi rongga paru-parunya yang sempat kosong dengan udara.
Sementara itu Safira masih terdiam berusaha mencerna ucapan Arend.
"Kamu lihat Alena. Apa kamu kira kami menikah karena saling mencintai? tidak sama sekali,"
Safira terkesiap kaget, demikian juga dengan Alena, yang tidak menyangka kalau Arend membongkar rahasia pernikahan mereka di depan Safira. Alena ingin buka mulut, tapi tertahan karena melihat mata Arend yang mengisyaratkan padanya untuk tidak buka suara dulu.
"Menurutmu kenapa dia mau menikah denganku, padahal tahu kalau aku tidak mencintainya? Apa menurutmu karena harta? tidak sama sekali. Dia mau menikah denganku demi Ivan. Supaya Ivan bisa memiliki indentitas yang pasti. Alena sanggup berkorban demi anak yang bukan anak kandungnya, apa kamu tidak mau juga berkorban demi anak kamu? dengan kamu menikah dengan Cakra, kedua anak kamu akan memiliki indentitas mereka yang asli. Abaikan dulu pemikiran kamu yang mengatakan kalau Cakra tidak mencintaimu, karena cinta akan bisa ada karena terbiasa," tutur Arend, bijaksana.
"Cih, sok belajar mencintai. Bagaimana dengan dirinya? dia sendiri masih mencintai Calista sampai sekarang," bisik Alena pada dirinya sendiri, mencemooh ucapan Arend.
Sementara itu, Safira tidak terlalu mempermasalahkan tentang perasaan Arend dan Alena sekarang. Wanita itu terlihat bergeming memikirkan semua perkataan Arend.
"Apa aku memang terlalu egois yang hanya memikirkan perasaanku sendiri? " bisik Safira pada dirinya sendiri.
"Oh ya, tadi aku dengar kalau kaki Cakra sakit dan susah untuk berjalan. Aku tidak tahu kenapa itu bisa terjadi," celetuk Arend dengan ekor mata yang melirik ke arah Safira.
Safira sontak berdiri, hingga membuat Alena kaget.
"Alena, aku bisa tidak, izin pulang? ada hal yang mau aku urus," Safira melangkah keluar setelah dirinya mendapatkan izin dari Alena dan Arend
Tbc
Aku ingin sekali mengucap maaf, tapi kalian pasti bosan nantinya. Aku baca komentar yang mengatakan kalau aku lama upnya. Sebenarnya aku juga ingin up minimal 3 bab sehari, karena itu juga akan memberikan keuntungan yang signifikan pada karyaku. Tapi kondisiku benar-benar tidak sehat. 4 Hari yang lalu, suamiku demam tinggi dan aku harus begadang untuk mengurusnya. Setelah kondisi suami agak membaik anakku yang paling kecil kena juga. Tiba-tiba di saat yang bersamaan anakku yang paling besar kena demam juga. Hal itu membuatku kurang tidur karena harus merawat tiga orang sekaligus. Sekarang aku drop, aku yang kena demam, flu dan batuk sekarang. Kenapa bisa? karena aku juga manis biasa. Aku menulis satu bab saja lama karena sebentar-sebentar istirahat. Jadi, aku mohon maaf kalau merasa kecewa dengan upnya yang lama. Harap maklum 🙏🏻
__ADS_1