Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Ungkapan cinta Arend


__ADS_3

Arend mengayunkan kakinya melangkah menghampiri Alena, yang sudah membeku, berdiri seperti patung di tempat dia berdiri. Kedua kaki Alena serasa sudah seperti tertancap ke lantai, sehingga untuk melangkah pun wanita itu seperti tidak memiliki tenaga lagi.


Arend mengembangkan senyuman di bibirnya dan berdiri tepat di depan Alena.


"A-ada apa dengan semuanya ini?" tanya Alena dengan suara yang sedikit bergetar.


"Selamat datang di pesta resepsi kita, Sayang," ujar Arend dengan lembut.


"Hah?" desis Alena, speechless.


"Kenapa belakangan ini aku sibuk sampai harus pulang malam, yaa seperti yang kamu lihat ... ini lah alasannya. Sebenarnya aku sedang sibuk mempersiapkan ini semua untukmu." ucap Arend dengan nada yang lembut. Pria itu maju selangkah agar semakin dekat dengan Alena. Kemudian dia mendekatkan mulutnya ke telinga Istrinya itu. "Walaupun kamu tidak peduli sih, aku pulang malam atau tidak." bisik Arend tepat di telinga Alena.


"Bu-bukan seperti itu!" Alena gugup sambil menggigit bibirnya.


"Tapi, walaupun kamu cuek, aku tidak peduli. Yang jelas aku sudah bertekad untuk memberikan kejutan untukmu, jadi aku harus tetap melakukannya sampai tuntas," tegas Arend. "aku tidak pernah mengungkapkan rasa cintaku padamu, bukan berarti karena aku tidak cinta, tapi itu karena aku merasa belum pantas mengungkapkannya.


"Belum pantas? kenapa?"

__ADS_1


"Kenapa? ya, karena aku belum memberikan hal yang selalu diimpikan seorang wanita, yaitu impian pesta pernikahan seperti yang kamu inginkan. Bahkan dulu aku juga tidak pernah membuat lamaran romantis untukmu." Arend berhenti untuk sejenak untuk mengambil jeda. Sementara itu, Cairan bening sebening kristal sudah terlihat menetes keluar dari mata wanita itu.


"Alena, asal kamu tahu, setiap nafas yang kumiliki sekarang adalah untuk mencintaimu dan anak-anak kita kelak. Bertemu denganmu di saat aku sedang galau adalah sebuah takdir yang tidak pernah aku sesali. Menjadi suamimu adalah sebuah pilihan, tetapi jatuh cinta padamu, aku tidak bisa mengendalikannya. Terima kasih sudah muncul di hadapanku saat itu. Kamu mungkin tidak sempurna, tapi asal kamu tahu, kalau kamu sangat sempurna di mataku." Bahu Alena sudah mulai terlihat naik turun, tidak menyangka kalau Arend suaminya yang biasanya bersikap dingin bisa mengeluarkan kata-kata yang sangat romantis.


"Al, kamu jangan nangis seperti itu! nanti makeupmu luntur. Sia-sia jadinya aku dandanin kamu," bisik Calista tiba-tiba. Wanita itu benar-benar tidak bisa membaca situasi. Calista hampir saja ingin lanjutkan berbicara, tapi dia urungkan karena mendapat tatapan tajam dari Arend dan sikutan dari suaminya.


"Maaf! aku kirain sudah selesai ngomongnya? emangnya masih ada lanjutannya ya?" Calista memasang wajah polosnya seakan tidak bersalah, yang sayangnya tetap dibalas dengan tatapan tajam dari Arend, hingga membuat wanita itu sedikit takut dan langsung bersembunyi di balik tubuh Arick suaminya.


"Jangan menatap istriku seperti itu!" ucap Arick dengan nada yang sangat pelan.


Arend mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan, merasa kesal dengan Calista yang tiba-tiba bersuara, hingga membuat kata-kata yang sudah susah payah dia susun dengan rapi, ambyar seketika.


"Apa sudah gak ada kelanjutannya ya, Sayang? kalau sudah tidak lanjut, kita duduk aja yuk! kakiku sudah pegal berdiri soalnya," bukan suara Alena yang bertanya, tapi lagi-lagi suara Calista yang terlihat sudah tidak sabar.


"Ya udah, kita duduk saja!" Arick meraih tangan Calista, sebelum istrinya itu melanjutkan celotehannya, yang pastinya akan membuat konsentrasi Arend semakin terganggu.


Alena masih diam membisu, menunggu apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu selanjutnya.

__ADS_1


"Alena, kamu mungkin sangat membutuhkanku dulu, tapi sekarang justru aku yang sangat membutuhkanmu. Kamu bagian dari diriku yang selalu aku butuhkan. Seperti jantung yang membutuhkan detak, dan seperti dahaga yang membutuhkan air untuk memuaskannya. Inti dari semuanya itu, aku cuma mau mengatakan kalau aku mencintaimu Alena! aku mencintaimu melebihi nyawaku," ucap Arend panjang lebar tanpa jeda. Kemudian, tiba-tiba Arend berlutut di depan Alena, hingga membuat wanita itu sedikit mundur karena kaget.


"Alena, aku tahu, kalau aku bukan suami yang sempurna, dan tidak bisa menjanjikan kami apa-apa. Namun, aku mau menegaskan padamu, kalau aku akan mencintaimu dan tetap setia kepadamu selama sisa hidupku. Sekarang aku mau bertanya, mau kah kamu bersedia, untuk terus bersamaku sekarang, esok, dan selamanya?"


Alena tidak menjawab sama sekali. Wanita itu maju mendekat dan meraih pundak Arend. Alena mengajak Arend untuk berdiri, lalu dia langsung memeluk suaminya itu dengan erat. Arend tersenyum lebar. Walaupun Alena tidak memberikan jawaban langsung dari mulutnya, tapi pelukan wanita itu sudah mewakili kalau perasaan cintanya juga berbalas.


Suara gemuruh tepuk tangan dari para tamu, terdengar riuh menyaksikan dua insan, yang kini akan menjadi raja dan ratu di malam ini.


"Terima kasih, Mas! Terima kasih sudah mau menerima dan mencintaiku. Padahal aku tahu bahwa banyak wanita di luar sana yang lebih baik dan pantas untukmu. Namun, kamu memilihku untuk menjadi pendampingmu.Tidak adil rasanya jika hanya kamu yang mengungkapkan rahasia cinta di depan banyak orang. Aku juga mau mengatakan kalau aku juga sangat mencintaimu!" ucap Alena dengan lugas dan tulus.


Setelah drama mengungkapkan perasaan masing-masing, Arend meraih tangan Alena, dan menggandeng wanita itu untuk berjalan ke pelaminan. Suara gemuruh tepuk tangan mengiringi langkah kedua sejoli itu, hingga sampai ke pelaminan. Bukan hanya tepuk tangan saja, bahkan terdengar siulan dari arah meja untuk tamu. Mau tahu siapa orang yang bersiul itu? siapa lagi dia kalau bukan Calista.


Sementara itu di lain tempat, dua orang wanita terlihat sedang menatap penuh kebencian pada sesuatu yang sedang mereka tonton di televisi. Siapa lagi mereka berdua kalau bukan. Ratih bibinya Alena dan Cindy putrinya.


Kedua wanita itu, sekarang sedang menyaksikan acara televisi yang menyiarkan resepsi pernikahan putra dari orang terkaya nomor satu di Indonesia, yaitu Arend dan Alena.


"Cih, apa sih lebihnya dia? kayanya cantikan aku kemana-mana. Kenapa sih, nasib Alena selalu lebih beruntung dariku? Dia bisa menikah dengan laki-laki tampan kaya, dari keluarga Bagaskara lagi. Sedangkan aku, aku harus jadi simpanan om-om dulu tanpa dinikahi, baru bisa merasakan hidup mewah," keluh Cindy dengan sorot mata yang penuh kebencian menatap senyum Alena yang terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


"Kamu tenang saja! kebahagiaannya tidak akan berlangsung lama. Mama tidak akan tinggal diam. Mama juga tidak terima kalau perempuan murahan itu bisa hidup bahagia." Sorot mata Ratih tidak kalah berapi-apinya dari Cindy.


Tbc


__ADS_2