Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Aku tidak selemah dulu!


__ADS_3

Sudah seminggu ini, restoran yang diberi nama butterfly cafe dan restaurant milik Alena berjalan. Bukan tanpa alasan Alena menyematkan nama butterfly, karena dia ingin ingin restorannya seperti kupu-kupu yang bermetamorfosis dari telur, ulat, kepompong dan akhirnya menjadi seekor kupu-kupu yang sangat cantik.


Safira juga akhirnya bekerja di restoran milik Alena. Tapi bukan sebagai pelayan. Alena mengangkat Safira menjadi manager restoran.


Cakra sebenarnya sudah menawarkan pada wanita itu untuk memberikan sebuah usaha yang disukai oleh Safira, tapi wanita itu dengan keras menolak kebaikan Cakra.


Baru seminggu buka, restoran milik Alena sudah sangat ramai dikunjungi oleh para pengunjung, dan rata-rata dari kalangan pebisnis, hal ini tentunya tidak lepas dari bantuan Arend yang mempromosikan restoran itu diam-diam tanpa sepengetahuan Alena.


"Alena, dari tadi kamu tidak ada istirahat sama sekali. Sebaiknya kamu istirahat dulu!" ucap Safira yang merasa kasihan dengan Alena yang ikut melayani pengunjung karena restorannya sangat ramai.


"Tidak apa-apa, Safira. Kamu juga dari tadi nggak istirahat kan? kalau kamu mau istirahat, istirahat aja dulu! biar aku yang bantu-bantu untuk melayani pelanggan," sahut Alena yang disertai dengan senyuman manis.


"Pelayan! ke sini! kami mau pesan," seorang wanita muda yang baru saja masuk bersama dengan seorang wanita setengah baya, berteriak memanggil pelayan dengan nada yang angkuh.


Alena melihat semua pelayan terlihat sangat sibuk. Dia menghela napas dan memutuskan untuk melayani pelanggan yang belum dia lihat wajahnya itu.


"Biar aku saja yang melayani mereka, Alena. Kamu istirahat aja dulu!" Safira langsung mencegah Alena dan berinisiatif untuk melayani dua wanita itu.


"Tidak apa-apa, Safira! kamu layani mereka saja," Alena menunjuk ke arah tamu yang baru saja datang.


"Hei, kenapa lama sekali sih? pada punya kuping gak sih?" wanita muda tadi kembali berteriak tidak sabaran.

__ADS_1


Mendengar teriakan itu, Alena sontak berlari menghampiri meja tempat kedua wanita itu duduk.


"Maaf, maaf. Kalian mau pesan apa?" tanya Alena, dengan tangan yang siap-siap untuk mencatat pesanan kedua wanita itu.


Mata Alena membesar dengan sempurna, terkesiap kaget begitu melihat sosok kedua wanita itu, yang tidak lain adalah Bibi yang telah mengusirnya bersama dengan putrinya yang berarti adalah sepupunya.


"Oh, ternyata kamu itu pelayanan di restoran ini? kok bisa ya, restoran mewah seperti ini, menerima pelayan yang sangat lambat seperti kamu?" hina sepupunya yang bernama Cindy itu dengan sudut bibir yang terangkat sedikit ke atas, sinis dan jijik dengan Alena.


"Kalian mau pesan apa?" Alena sama sekali mengacuhkan hinaan Cindy. Karena dia sama sekali tidak mau ada keributan di restorannya.


"Aku mau pesan makanan yang termahal di restoran ini, yang gaji kamu saja tidak cukup untuk membelinya," ucap Cindy dengan sombongnya yang diselipi dengan kata bernada meremehkan.


"Baik! minumnya?" Alena tetap saja tidak terpancing dengan hinaan yang dilontarkan oleh Cindy dan senyum sinis yang diperlihatkan oleh bibinya itu. Hal ini tentu saja membuat Cindy merasa geram.


"Apa maksudmu, menawarkan kami air putih aja, hah?! kamu kira kami tidak sanggup buat membayar minuman yang termahal di restoran ini?" Ratih, bibi Alena membentak Alena dengan sorot mata yang berapi-api.


"Oh, iya. Aku lupa, Cindy kan simpanan ya? tidak mungkin kan, kalau si Om itu tidak kasih uang yang banyak? kalau asuransi papa dan mama kan, tidak mungkin ada sampai sekarang, melihat gaya hidup kalian yang seperti ini?" Alena masih tetap menyunggingkan senyuman tapi kali ini lebih mirip ke menyeringai sinis.


"Jaga mulutmu ya! jangan asal main fitnah aja! Aku bisa melaporkan kamu. Ingat, bukan hal yang sulit untuk bisa membuat kamu mendekam di penjara!" ancam Cindy dengan tersenyum miring.


"ihh, takut! aku lupa kalau kalian berdua bisa menghalalkan berbagai cara supaya keinginan kalian bisa tercapai," ucap Alena dengan memasang wajah pura-pura takut. Akan tetapi, wajah itu tiba-tiba berubah dengan tatapan sinis dan sorot mata yang berapi-api. "Tapi, sayang sekali, aku sama sekali tidak memfitnah. Aku punya semua buktinya yang kamu itu hanya seorang simpanan. Apa perlu aku tunjukkan di sini? dan yang anehnya, mama kamu ini malah mendukung semua tindakan kotormu. di pikiran kalian berdua hanya ada uang, uang dan uang," Alena sudah tidak bisa lagi menahan rasa amarahnya. Dia tidak peduli lagi, kalau dirinya menjadi tontonan para pengunjung.

__ADS_1


Plak ....


Tangan Ratih terayun memberikan pukulan ke pipi Alena. Alena merasa geram, dan tanpa berpikir masalah etika lagi, tangannya pun terayun membalas pukulan Ratih.


"Kamu! berani-beraninya memukul mamaku!" Cindy yang tidak terima, mengangkat tangannya hendak memberikan pukulan di wajah Alena. Akan tetapi tangan itu terhenti di udara karena tangan Alena dengan sigap menangkap tangan itu dan menghempaskannya dengan kasar.


"Apa kalian kira, aku masih selemah dulu? tidak sama sekali, aku akan melawan kalau kalian berdua berani bertindak macam-macam," ucap Alena dengan mengacungkan jari telunjuknya ke arah wajah Cindy.


"Dasar perempuan murahan! kamu itu sudah memiliki anak di luar nikah kan? jangan pura-pura polos! dengar semua yang ada di sini, nih perempuan pernah hamil di luar nikah. Dia sudah memiliki anak tapi dia tidak memiliki seorang suami." Cindy berteriak, memberikan pengumuman pada para pelanggan dengan tujuan mempermalukan Alena. Alhasil terdengar para pengunjung yang berbisik-bisik dari meja masing-masing.


"Siapa bilang dia sudah memiliki anak di luar nikah? anak yang ada padanya dulu, adalah anak yang aku titipkan padanya. Kalau mau ngefitnah, tolong lebih teliti dulu!" Safira buka suara, hingga membuat kedua wanita ibu dan anak itu, terdiam.


"Mana pemilik restoran ini! Panggil ke sini! aku mau protes kalau pelayanannya sudah bersikap kurang ajar. Siap-siap aja kalian berdua dipecat dari pekerjaan kalian berdua!" Cindy yang sudah terdesak, akhirnya memilih untuk mengancam Alena dan Safira, berharap kedua wanita itu akan ketakutan dan memohon-mohon padanya.


Alena dan Safira saling silang pandang dan tersenyum simpul.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi di sini?!" suara berat seorang laki-laki terdengar dari arah pintu masuk.


Semua mata langsung menatap ke arah suara, tak terkecuali Alena dan Safira, yang tentunya kaget melihat kedatangan ke lima pria itu.


Sementara itu Ratih dan Cindy, terkesiap kaget melihat sosok 5 pria tampan yang baru saja datang.

__ADS_1


"Itukan, Arick dan Arend putranya pewaris Bagaskara Company? dan yang di belakangnya pewaris Sanjaya group dan yang satu lagi, sepupu Arick dan Arend. Aku harus bisa menarik perhatian mereka," batin Cindy, tersenyum licik dan langsung memasang wajah seperti orang yang ditindas.


Tbc


__ADS_2