
Tidak sama sekali! aku sudah biasa disingkirkan dan aku sudah kebal dengan semua itu. Tuan Arend hanya berusaha untuk menjaga rumah tangganya, walaupun sikapnya bersikap waspada padaku sangat berlebihan." pungkas Daniel dengan senyum tipis di bibirnya.
Prok ...prok
tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari seseorang.
"Bagus! kalian berdua lulus test!" seru seseorang yang tidak lain adalah Arend.
"Test? maksudnya?" Daniel mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Aku hanya mau melihat, bagaimana sikap Rara bila tahu kamu dipecat. Aku hanya mau melihat apakah Rara, memiliki obsesi yang ingin seperti Tasya dan Alena," tutur Arend dengan was-was takut kalau Rara tersinggung.
"Jadi, Kak Arend meragukanku? aku pikir Kakak sudah tahu bagaimana aku yang sebenarnya, ternyata tidak. Aku kecewa padamu, Kak. Bagaimana bisa, Kakak berpikiran seperti itu dan melakukan semua ini? apa aku terlihat serendah itu? apa Kakak takut kalau aku akan tega mencelakai Alena dan Tasya? Air mata Rara mulai merembes turun, benar-benar tidak menyangka kalau Arend bisa bertindak seperti itu.
"Maaf, Rara aku tidak bermaksud meragukanmu, tapi jujur aku tidak mau di dalam keluarga ada rasa iri pada saudara sendiri yang ujung-ujungnya berniat untuk menghancurkan saudara sendiri. Aku memang tahu kamu, tapi mungkin tidak semuanya. Aku benar-benar minta maaf, kalau apa yang aku lakukan ini menyinggungmu. Tapi, aku melakukan ini semua demi kebaikan bersama, berdasarkan apa yang sering terjadi dalam sebuah hubungan keluarga. Kalian bertiga baru saja dipertemukan. Kebersamaan kalian bukan dari kecil. Jadi masih banyak kemungkinan kalau rasa iri itu bisa saja terjadi.
Sedangkan yang bersama sejak kecil saja bisa timbul rasa iri satu sama lain bukan?"
"Tapi, aku tidak seperti itu?"
"Ya, aku tahu, dan sekarang aku percaya! Kalau kalian berdua marah, silakan! aku siap menerimanya,"
Rara menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali dengan perlahan, berusaha untuk meredam amarahnya.
"Sebenarnya aku ingin marah, tapi apa aku tahu kalau Kakak hanya ingin mengantisipasi saja. Ini Kakak lakukan demi kebaikan kedepannya," ujar Rara akhirnya.
Arend kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Daniel yang kebetulan juga sedang menatapnya dengan tatapan yang sukar untuk dibaca. Antara marah dan lega bercampur menjadi satu
"Daniel, aku benar-benar salut denganmu, yang sama sekali tidak marah padaku dan tetap menerima dengan lapang dada. Sekarang aku juga ingin mengakui sesuatu padamu," ucap Arend ambigu.
"Mengakui apa?"
"Aku sudah tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu itu putra dari om Roni dan tante Mita kan?"
Mata Daniel membesar, kaget karena tidak menyangka kalau bosnya itu sudah tahu siapa dia sebenarnya.
__ADS_1
"Darimana, Tuan tahu kalau aku putra mereka, padahal aku lahir dan besar di Bali. Kita bahkan tidak pernah bertemu walaupun aku sering datang ke Jakarta dulu, saat berkunjung ke rumah Tante Reyna dan om Adrian,"
Arend tersenyum tipis, dan menghela napasnya dengan perlahan.
"Tentu saja aku tahu dari om Roni sendiri. Asal kamu tahu,alasan aku menerimamu untuk menjadi bodyguard istriku itu atas permintaan dari papamu dan karena aku tahu kemampuan beladiri dan kecerdikan papamu pasti menurun padamu. Papamu tidak ingin hidup kamu hancur dengan terus bekerja dengan Pak Broto," Arend berhenti sejenak untuk mengambil jeda.
"Om Roni masih tetap memantau dirimu, walaupun kamu menjauh dari keluargamu. Asal kamu tahu, papamu tidak pernah meremehkan kemampuanmu dalam mengelola usaha papa kamu. Dia hanya kecewa dengan sikapmu yang selalu bisa dimanfaatkan oleh para orang-orang di sekelilingmu. Khususnya Ricky yang mau bersahabat denganmu hanya karena uangmu, makanya om Rony terpaksa memblokir semua kartu kredit dan ATM serta menarik semua fasilitas yang kamu punya dengan tujuan agar kamu tahu siapa sebenarnya Ricky dan yang lainnya." sambung Arend kembali menjelaskan.
Daniel bergeming tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jujur saja dia sangat merindukan papa dan mamanya yang memang sudah menetap di Bali karena papanya itu berhasil mengembangkan usaha hotel yang diberikan oleh almarhum Ardan, kakek Arend dengan membuka beberapa cabang hotel, restoran dan resort di Bali, walaupun sebenarnya hotel yang berada di Jakarta tetap berjalan dan maju. Akan tetapi dirinya malu untuk menemui papanya itu, karena pernah berkata kalau dia akan bisa hidup tanpa bantuan papanya.
Daniel menarik sudut bibirnya tersenyum miris dengan sikapnya yang sempat merasa sombong karena berhasil lepas dari bayang-bayang harta papanya dengan memiliki penghasilan yang besar. Ternyata apa yang dia dapatkan itu tidak lepas dari bantuan papanya.
Daniel tersungkur jatuh ke tanah. Pria itu kali ini benar-benar tidak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar. Seandainya sekarang di depannya ada papa dan mamanya dia akan meminta maaf pada kedua orangtuanya itu.
"Daniel!" Daniel sontak mengangkat wajahnya, karena mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.
"Pa-Papa, Ma-Mama!" gumam Daniel lirih dan berdiri dengan perlahan.
Mita mamanya Daniel menangis dan langsung memeluk putranya yang sudah lama tidak bertemu itu.
"Mama kangen kamu, Nak! kenapa kamu sama sekali tidak pernah pulang dan menanyakan kabar mama,Nak?" ucap Mita di sela-sela isak tangisnya.
Kemudian pria itu mengalihkan tatapannya ke arah Roni yang menatapnya dengan seulas senyuman di bibirnya. Tanpa malu-malu, pria itu juga langsung memeluk pria setengah baya itu dan mengucapkan kata maaf sama seperti kepada mamanya tadi.
"Niel, Papa bangga padamu! sekarang papa sudah yakin untuk mempercayakan pengelolaan semua hotel dan yang lainnya padamu, karena papa sudah bisa lihat kalau sikap kamu sudah dewasa dan bisa bertanggung jawab." Ujar Rony sambil menepuk-nepuk pundak putra satu-satunya itu.
"Tapi, Pa. Aku merasa kalau aku belum bisa sehebat Papa dalam mengelola usaha papa,"
"Siapa bilang? kamu tenang saja, ada papa yang akan mendampingimu."
"Terima kasih,Pa!" Daniel kembali memeluk Roni papanya.
"Apa ini, calon menantu mama?" celetuk Mita tiba-tiba sambil meraih tangan Rara yang diam seperti orang bodoh, menyaksikan semua yang terjadi.
"Iya, Ma! namanya Rara," ujar Daniel, tersenyum manis.
__ADS_1
"Hai, Rara! kamu cantik sekali, pantas anak Tante jatuh cinta padamu." ucap Mita seraya tersenyum tulus.
"Ha-hai, Tante, O-Om!" ucap Rara dengan gugup sambil mencium punggung tangan kedua orang tua Daniel.
"Terima kasih ya, Nak. Kamu sudah mau menerima anak om, bagaimanapun keadaannya. Om sudah mendengar semua apa yang kamu ucapkan tadi. Om tidak pernah menyangka kalau anak Om bisa menemukan wanita seperti kamu,"
"Aku yang berterima kasih, Om ,Tan. Karena kalian bisa menerima wanita biasa seperti saya. Padahal aku yakin pasti banyak wanita yang lebih dari saya di luar sana." jawab Rara dengan kedua tangan yang saling meremas.
"Kamu tidak boleh bicara seperti itu! aku juga dulu seperti kamu yang hanya seorang bodyguard di keluarga Bagaskara. Jadi, kamu tidak boleh merendah,"ujar Roni yang sama sekali tidak menanggalkan senyum dari bibirnya.
Kemudian, Roni melirik ke arah arloji yang menempel di tangannya.
"Em, sepertinya kami harus pergi dulu, Nak Arend. Karena kami ada janji untuk makan siang dengan Tante kamu Reyna dan Om kamu Adrian." ucap Roni.
"Oh, silakan Om! titip salam sama om Adrian dan tante Reyna," sahut Arend.
"Apa kamu tidak ikut?" tanya Roni pada Daniel.
"Lain kali aja, Pa. Aku sebenarnya sangat sangat merindukan mereka, tapi hari ini aku ada hal yang harus diurus."
"Baiklah kalau begitu! mama dan papa menunggu kabar baik dari kalian berdua. Mama sudah tidak sabar untuk segera punya menantu." ujar Mita sambil mencubit gemas pipi Rara yang tentu saja langsung memerah, malu.
"Tuan Arend, bagaimana bisa anda menyembunyikan hal ini dengan rapi?" tanya Daniel setelah mama dan papanya sudah pergi.
"Tentu saja bisa. Aku kan cerdik. Kalau kamu mau marah sekarang, aku kasih kesempatan. Luapkan amarah kamu dalam waktu 5 menit. Lewat dari 5 menit kamu tidak diizinkan untuk marah-marah lagi. Jadi, manfaatkan waktu yang lima menit itu! kamu bisa memakiku, bahkan memukulku, aku tidak akan melawan. Dimulai dari sekarang," Arend menekan stopwatch untuk mengukur waktu.
Daniel memejamkan matanya sekilas. Kemudian pria itu menghampiri Arend dan mengangkat tangannya untuk memberikan pukulan pada bosnya itu. Namun tangan itu terhenti di udara dan tiba-tiba memeluk tubuh Arend seperti memeluk sahabat sendiri seraya menepuk-nepuk pundak bosnya itu.
"Aku tidak akan melakukannya, Tuan! aku akan memeluk, Tuan aja." ucap Daniel mempererat pelukannya, hingga membuat Arend merasa risih.
"Lepaskan, Daniel! aku risih dipeluk sama kamu!" Arend berusaha melepaskan diri, tapi sama sekali tidak bisa melawan tenaga Daniel.
"Aku tidak mau! aku mau memeluk anda selama lima menit. Jarang-jarang kan bisa seperti ini," ucap Daniel yang semakin mengencangkan pelukannya.
"Daniellll! lepaskan! lebih baik kamu memukulku sampai berkali-kali daripada dipeluk begini. Aku geli, Daniel!" pekik Arend. Jangan lupakan Rara yang tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya. Baru pertama kali dia melihat pria itu merengek-rengek minta berhenti.
__ADS_1
Tbc
Bagi yang membaca Anak kembar sang penguasa, pasti ingat dong, sama Roni bodyguard yang pernah nyelamatin Celyn dan diberi hadiah hotel padanya sebagai balas jasa.