
Brak ....
pintu tiba-tiba dibuka secara paksa, hingga membuat kelima pria tampan itu terjengkit kaget.
Semua mata sontak menatap ke arah pintu dan melihat sosok wanita yang memakai seragam yang sama dengan Safira. Manik mata wanita itu, terlihat berkilat-kilat dan napas yang memburu. Terlihat sekali kalau wanita itu sedang sangat marah. Akan tetapi sorot mata itu berubah normal ketika melihat sorot mata 5 pria tampan yang juga tengah menatapnya.
"Astaga! apa aku salah masuk ruangan? kenapa isinya cowok tampan semua?" Wanita yang tidak lain adalah Tasya itu, bermonolog pada dirinya sendiri dengan mata yang mengerjap-erjap.
"Hei, apa kamu tidak punya sopan santun?! kenapa kamu tidak mengetuk pintu terlebih dulu, hah?!" bentak Cakra tiba-tiba, hingga membuat Tasya terjengkit kaget dan menyadarkan dirinya dari keterpanaannya.
"Kayanya aku salah waktu deh. Ahh, bodo amat. Udah kepalang basah begini," batin Tasya yang tadinya sempat ingin mengurungkan niatnya.
"Sepertinya, aku tidak harus sopan pada orang bejat seperti anda!" ucap Tasya, dengan nada yang sangat dingin.
"Mampus aku! berani sekali kamu Tasya. Siap-siap rebahan aja di rumah besok," bisik Tasya dalam hati, yang sangat berbeda dengan ekspresi nyatanya.
"Apa maksud kamu? apa kamu sudah tidak mau melanjutkan hidup kamu lagi? apa kamu mau kehilangan pekerjaan kamu?" Ekspresi Cakra tidak kalah dinginnya dan sorot mata yang sangat tajam.
"Aku lebih baik tidak bekerja dari pada harus bekerja dengan orang bejat seperti anda, Tuan Cakra yang terhormat,"
"Astaga, nih mulut kenapa tidak bisa nge rem sih?" lagi-lagi batin Tasya bertentangan dengan mulutnya.
"Apa maksud kamu berkata seperti itu? kenapa dari tadi datang-datang langsung memaki-makiku, mengatakan aku bejat. Emang sebejat apa aku? apa yang pernah aku lakukan, padamu?" cecar Cakra bertubi-tubi dengan nada yang mulai meninggi.
"Kenapa anda memecat Safira, hah? apa hanya karena dia menumpahkan kopi di ... apa namanya itu?" ucap Tasya menunjuk ke arah dokumen, karena dirinya lupa namanya.
"Dokumen," celetuk Kama buka suara, yang sebenarnya dari tadi berusaha untuk menahan tawa, melihat sikap Tasya yang dinilainya hanya sok berani.
__ADS_1
"Ha, iya dokumen. Terima kasih!" ujar Tasya, yang membuat Kama memalingkan wajahnya dan mengatur napasnya supaya tawanya tidak pecah.
"Apa urusan kamu menanyakan itu? kamu tidak punya hak sama sekali untuk mengajukan keberatan atas apa yang sudah aku putuskan. Sekarang, lebih baik kamu keluar dari sini! atau kamu aku pecat juga?" Cakra semakin menajamkan sorot matanya.
"Hei, aku sama sekali tidak takut kamu pecat. Apa anda tidak peka, kenapa Safira bisa takut melihat anda? itu karena dia trauma kalau melihat anda. Kenapa tadi dia bisa sampai menumpahkan kopi itu di dokumen itu, karena dia sudah tidak bisa lagi melawan rasa takutnya. Dia mengira kalau anda mengajak semua orang ini, untuk memperkosanya seperti yang anda lakukan dulu padanya dua tahun yang lalu," cerosos Tasya tanpa terkendali dan berapi-api.
Mata Cakra membesar dengan sempurna, demikian juga dengan ke empat pria yang lain.
"Apa?! coba katakan sekali lagi?" desak Cakra.
"Emang aku bilang apa tadi?" Tasya mengrenyitkan keningnya, lupa dengan apa yang sudah terlontar dari mulutnya.
"Kamu jangan bercanda! kamu tadi mengatakan kalau aku pernah memperkosa temanmu tadi dua tahun yang lalu. Kamu tidak berbohong kan?!" suara Cakra meninggi Dia terlihat mulai hilang kesabaran melihat sikap Tasya yang berubah-ubah.
"Buat apa aku bohong? kamu telah memperkosa Safira dua tahun yang lalu di sebuah apartemen. Waktu itu, dia sedang mengantarkan pesanan makanan ke unit apartemen tetangga kamu. Kamu datang dengan keadaan mabuk dan kepanasan. Tiba-tiba kamu menarik paksa Safira masuk ke dalam apartemenmu kan? teman saya sudah memohon-mohon supaya kamu jangan melakukan hal itu, tapi apa? kamu sama sekali tidak mengindahkan permohonan dia kan" Tasya berceloteh panjang lebar tanpa jeda, dengan napas yang memburu.
Cakra bergeming dan tersungkur jatuh ke atas sofa dengan lemas. Keraguannya mengenai cerita Tasya di awal seketika terkikis dengan rentetan kejadian yang dibaberkan oleh Tasya sesuai dengan apa yang terjadi dua tahun yang lalu.
"Ha-hamil?" gumam Cakra lirih.
"Astaga, aku ngomong apa tadi?" Tasya tiba-tiba menutup mulutnya, karena keceplosan.
"Cepat ceritakan! kamu tadi mengatakan kalau Safira hamil. Apa itu benar?!" desak Cakra yang terlihat tidak sabar.
"Aku tidak pernah mengatakan dia hamil. Anda salah dengar." Tasya mulai menyangkal.
"Kamu jangan buat aku hilang kesabaran! Jelas-jelas tadi kamu mengatakan dia hamil. Cepat jelaskan!" bentak Cakra, hingga membuat Tasya terjengkit kaget
__ADS_1
"I-iya dia hamil," cetus Tasya, di sela-sela rasa kagetnya. "Dia dipaksa untuk mengugurkan janin yang ada dalam rahimnya oleh ibu tirinya, tapi Safira tidak mau dan tetap memilih untuk melahirkan bayi-bayinya. Selama hamil dia tetap bekerja, melakukan apa saja untuk mengumpulkan biaya persalinan dan untuk memberikan ibu tirinya uang, karena kalau tidak ibu tirinya akan mengusirnya dari rumah!"
Cakra semakin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Rasa bersalah pada Safira semakin besar.
"Anda tahu ...." air mata sudah mulai menetes membasahi pipi Tasya, "hari pertama dia kerja di sini, dia ingin langsung mengundurkan diri, karena tahu kalau anda adalah pemilik perusahaan ini. Tapi tidak jadi karena semua demi anaknya. Dia berusaha melawan traumanya, supaya dia bisa memberikan anaknya hidup yang layak, dan bisa menemukan anaknya yang hilang. Sekarang anda memecatnya begitu saja? apa coba namanya kalau bukan kejam dan bejat?"
"Hilang? apa maksudmu mengatakan hilang?" Cakra sontak berdiri kembali dengan napas yang memburu.
"Mama tirinya mengambil anak itu dari klinik, dan membawa anak itu entah kemana. Mama tirinya tidak menyangka kalau Safira akan melahirkan bayi kembar, Makanya hanya satu yang dia bawa. Wanita iblis itu bahkan membuat kuburan palsu, yang mengatakan kalau bayi pertama Safira meninggal. Tapi akhirnya semuanya ketahuan dari mulutnya wanita iblis itu. Safira akhirnya kabur untuk mencari anaknya. Tapi, ternyata begitu sampai di rumah, tempat wanita itu membuang bayi pertama Safira, wanita yang merawat anaknya itu sudah tidak ada di tempat itu dan katanya sudah menikah. Wanita pemilik rumah itu tidak mau memberitahu di mana anaknya itu sekarang dengan alasan kalau babynya itu ada di tempat yang tepat," papar Tasya dengan panjang lebar tanpa jeda. Dia berhenti berbicara ketika dia merasa tenggorokannya sudah mulai seret dan stok udara di dalam paru-parunya sudah mulai menipis.
"Tunggu! apa yang kamu maksud nama anaknya itu Ivan?" celetuk Arend tiba-tiba teringat dengan cerita Cakra seminggu lalu.
"Dari mana anda tahu kalau nama anak itu Ivan? menurut ibu si pemilik rumah itu sih, wanita yang merawat bayi itu, memberikan nama Ivan,"
Mata Arend membesar dengan sempurna, demikian juga dengan Cakra, Carlos, Arick dan Kama.
"Di mana sekarang Safira?! tanya Cakra dengan nada yang tidak sabaran.
" Ya dia sudah pergilah! bukannya anda sudah memecat dan menyuruhnya pulang?" jawab Tasya dengan ketus.
Tanpa banyak bicara lagi dan tanpa pamit, Cakra langsung keluar dari ruangannya dengan sedikit berlari.
"Wah, kamu hebat!" Kama mengangkat jari jempolnya ke arah Tasya.
"Apa? jangan sok memuji. Kamu mau merayuku? kamu pasti sama kan kaya dia?" cetus Tasya sambil menatap sinis ke arah Kama.
"Aduhhh, Safira pasti marah nanti padaku. Gimana nanti kalau pak Cakra mengambil anak Safira dengan paksa? mulut kamu memang lemes banget Tasya. Kamu dalam bahaya sekarang. Tapi, tunggu dulu! aku akan tetap mendukungmu, Fira," Tasya ngedumel sendiri dengan mimik wajah yang berubah-ubah sambil berlalu pergi.
__ADS_1
"Heh?" Kama melongo, bingung.
Tbc