Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Rencana yang berhasil


__ADS_3

Hari sudah mulai beranjak sore. Langit sudah berubah warna menjadi jingga pertanda matahari akan kembali ke peraduan dan berganti tugas dengan sang rembulan.


Begitu juga dengan Safira. Sudah saatnya wanita itu pulang ke rumah di mana dia tinggal bersama kedua anaknya. Ya, baby Ivan sekarang sudah tinggal bersamanya di rumah yang tidak jauh dari kediaman Calvin dan Cantika. Awalnya wanita itu ingin sekali menolak, tapi begitu melihat raut wajah Cantika yang memohon, akhirnya dia menerima tawaran itu. Bahkan wanita yang terlihat tetap muda itu, menyiapkan dua baby sitter dan pengawal di rumahnya itu.


Seperti biasa Safira menunggu angkutan umum, karena dia sama sekali tidak mau dijemput oleh supir.


"Mana nih angkot? lama banget sih datangnya? atau ... aku naik taksi aja ya?" batin Safira dengan wajah yang terlihat sangat lelah.


Tin ...


Safira tersentak kaget begitu mendengar bunyi klakson dari sebuah mobil dan mobil itu berhenti tepat di depannya.


Safira mengalihkan tatapannya, karena dia tahu jelas siapa pemilik mobil itu. Siapa lagi kalau bukan Cakra, pria yang dia hindari selama ini. Pria itu memang sengaja datang lagi untuk menjemput Safira setelah bertanya jam berapa wanita itu pulang pada Alena.


Cakra terlihat keluar dari dalam mobil dan tersenyum ke arah Safira.


"Kamu sudah mau pulang? ayo kita pulang sama-sama," ucap Cakra dengan nada yang sangat lembut.


"Tidak perlu! aku bisa pulang sendiri," sahut Safira dengan ketus.


Cakra menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan, berusaha untuk tetap sabar pada sikap Safira. Bisa saja dia, memaksa wanita itu untuk masuk, tapi itu bisa membuat Safira akan semakin trauma padanya. Dengan Safira yang tidak terlalu ketakutan lagi, ketika berada di dekatnya sudah menjadi suatu kemajuan yang cukup besar buatnya.


"Tidak akan ada angkot yang lewat dari sini," ucap Cakra dengan sangat yakin.


Safira mengrenyitkan keningnya, dan langsung menatap ke arah Cakra.


"Jangan sok tahu, kamu! sebentar lagi pasti akan ada yang lewat,"


"Ya udah kalau kamu gak percaya. Aku temani kamu nunggu angkotnya deh," Cakra mendaratkan tubuhnya duduk di sebuah kursi besi yang ada di atas trotoar dengan senyuman yang misterius.


"Kamu tidak perlu nemenin aku, kamu pulang saja!" ucap Safira, dengan lirikan sinis.


Akan tetapi Cakra tetap tidak mengindahkan permintaan Safira. Kenapa? karena pria itu sudah membayar para supir angkot yang biasa digunakan oleh Safira agar tidak lewat.

__ADS_1


Safira terlihat sudah sangat gelisah, dan kakinya mulai terasa pegal. Sedangkan Cakra berusaha menahan tawa dan menunggu seberapa kuat wanita itu berdiri, apalagi warna jingga langit sudah berubah menjadi gelap. Cahaya matahari kini berganti dengan cahaya-cahaya lampu di jalan.



Ekor mata Safira sedikit tertarik ke atas melirik ke tempat dimana Cakra sedang duduk. Ingin dia duduk di samping Cakra, tapi dia tetap berusaha untuk menahan egonya.


Ehem, bagaimana? apa kamu masih mau menunggu angkotnya?" Cakra buka suara. Sebenarnya pria itupun sudah mulai terlihat tidak sabar karena perutnya sudah mulai berbunyi minta diisi.


Safira tidak menjawab sama sekali. Wanita itu tetap kekeh dengan pendiriannya, walaupun sebenarnya dia sudah sangat ingin pulang. Bertemu dengan kedua anaknya dan menikmati makan malamnya.


"Biasanya banyak pedagang makanan yang mangkal di pinggir jalan, kenapa malam ini tiba-tiba tidak ada? apa angkutan umum dan para pedagang sedang Janjian?" bisik wanita pada dirinya sendiri, bingung dengan yang terjadi malam ini.


"Kenapa pula, taksi yang aku cegat, tidak ada yang mau berhenti?" lagi-lagi Safira bertanya pada hatinya sendiri, walaupun bisa dipastikan kalau sang hati tidak akan pernah memberikan jawaban.


Sementara itu, Cakra duduk dengan sangat gelisah. Ada penyesalan pada dirinya membayar para pedagang makanan agar tidak berdagang malam ini, karena dia ingin jalanan itu sepi. Ya, inilah urusan penting yang dikatakan Cakra pada Arick dan Kama siang tadi. Mencari tahu siapa saja yang berdagang di pinggir jalan itu, dan membayar mereka sesuai dengan pendapatan mereka setiap malam, bahkan lebih.


"Safira, please jangan keras kepala! ayo kita pulang sama-sama aja ya," ucap Cakra masih dengan nada yang sangat lembut. Kali ini bukan hanya lembut saja, tapi sudah lebih ke arah memelas.


"Tidak mau! kamu pulang aja sendiri,"


"Dari mana kamu tahu? apa ini semua ulahmu?" tukas Safira dengan alis yang bertaut tajam, curiga.


"E-enak aja. Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu. Taksi di Jakarta ini jumlahnya sangat banyak, tidak mungkin aku sempat mencari semua supir taksi dan membayar mereka," jawab Cakra, dengan tubuh yang langsung membelakangi Safira, guna menghindari kontak mata dengan wanita itu.


"Iya juga ya," gumam Safira.


Cakra tersenyum samar ketika mendengar gumaman Safira yang sepertinya sudah tidak mencurigai dirinya lagi. Pria itu memang tidak mencari para supir taksi dan membayar mereka. Tapi pria itu, memerintahkan anak buahnya untuk mencegat taksi yang lewat dan membayar si supir untuk tidak berhenti jika dicegat oleh wanita yang ada di depan.


"Aku sebaiknya, berjalan ke halte bus itu saja. Lumayan jauh sih, tapi dari pada semobil dengannya,lebih baik aku naik bus," batin Safira yang bersiap-siap melangkah ke arah halte.


Sementara itu, Cakra dengan santai masuk ke dalam mobil dengan tersenyum smirk.


"Satu ... dua ... tiga," Cakra menghitung dalam hati.

__ADS_1


"Tok ... tok ... tok.


"Yes, berhasil!" sorak Cakra dalam hati.


"Hey, tolong buka pintunya!"


"Ada apa?" tanya Cakra dengan santai memasang wajah bingungnya.


"Aku mau masuk mobil. Di sana ada 3 orang preman," wajah Safira terlihat pucat dan ketakutan.


"Apa mereka sempat melihatmu?"


Safira menganggukkan kepalanya dengan napas yang memburu.


"Sepertinya, iya."


Cakra berusaha menahan diri untuk tidak tertawa. Pria itu juga terlihat berpura-pura ikut takut dan langsung membuka pintu mobilnya.


"Ayo masuk cepat! nanti mereka ke sini," titah Cakra dengan wajah panik.


Safira langsung masuk dan melihat ke arah belakang, untuk memastikan preman yang dia lihat, yang sebenarnya adalah preman bayaran Cakra, berjaga-jaga kalau Safira memutuskan untuk naik bus.


"Pakai sabuk pengamanmu, cepat!"


Safira melakukan perintah Cakra dengan tangan yang gemetar.


"Sini aku bantuin kamu," Cakra membantu memasang sabuk pengaman di badan Safira.


Setelah itu, Cakra pun melajukan mobilnya dengan sedikit kencang, supaya rencananya terlihat nyata.


Tanpa Safira sadari, tangannya mencengkram erat lengan Cakra, sedangkan Cakra tersenyum, merasa rencananya berjalan dengan lancar malam ini.


Tbc

__ADS_1


Maaf ya, hari ini aku lama upnya. Karena kedua anakku demam. Ini aja mencuri-curi waktu nulisnya.🙏🏻


__ADS_2