
Jam sudah mulai menunjukkan pukul 5 sore. Para karyawan sudah terlihat ramai keluar dari perusahaan. Tak terkecuali Tasya dan Safira.
"Fira, kamu naik apa pulangnya?" tanya Tasya sambil menghentikan motor bebeknya di depan Safira.
" Aku naik angkot, Tas. Emang kenapa?" Safira balik bertanya.
"Kami ikut aku aja, yuk!"
"Tidak usah. Kita berdua beda arah. Nanti kalau kamu ngantar aku dulu,kamu bisa kemalaman nyampe di rumah. Belum lagi kalau sore begini jalanan bakal macet." Safira masih berusaha untuk menolak secara halus.
"Ya udah, kalau begitu aku temenin kamu sampai ketemu angkot aja," ujar Tasya yang tidak tega meninggalkan Safira sendiri.
"Tasya, tidak perlu! aku bisa sendiri. Lebih baik kamu pulang duluan aja. Kalau kamu nungguin aku, bisa- bisa om sama tante khawatir nanti,"
"Jadi, apa-apa kalau aku pulang duluan?" tanya Tasya, memastikan.
"Tidak apa-apa, Tasyaaa," ucap Safira dengan memberikan sedikit penekanan pada nama sahabatnya itu.
"Ya udah, aku pulang duluan ya. Bye Safira!" Tasya melajukan motornya dengan kecepatan sedang setelah Safira menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
__ADS_1
Safira bekali-kali melihat ke arah kanan untuk melihat apakah angkot dengan tujuan tempat tinggalnya sudah datang atau belum. Ketika dia melihat ada yang akan melintas, Safira buru-buru melambaikan tangannya untuk mencegatnya. Akan tetapi ketika angkot itu berhenti, ternyata angkot itu sangat penuh dan banyak laki-laki di dalamnya.
"Naik, Neng! cepat, jangan lama-lama!" titah sang supir angkot.
Nggak jadi, Bang! sudah penuh itu," tolak Safira dengan sopan, walaupun hatinya dongkol.
"Sebentar lagi, bakal ada yang turun itu, Neng." Supir itu masih berusaha untuk membujuk.
"Maaf, Bang. Aku nunggu angkot lain aja," Safira masih berusaha untuk menolak secara halus. Karena sebentar lagi pada supir angkot itu, tidak bisa diprediksi.
Terdengar supir itu mengumpat, kesal dan. langsung melajukan angkotnya dengan laju yang lumayan cepat.
Safira berkali-kali melihat ke arah ponsel bututnya, untuk melihat sudah pukul berapa, dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul 5.30. Dari tadi angkot yang bisa membawanya ke tempat tujuan selalu penuh dengan penumpang.
"Aduh, mau jam berapa lagi aku bisa sampai di rumah?" batin Safira yang wajahnya mulai terlihat frustasi.
Sementara itu, Cakra terlihat keluar dari gedung kantor dan langsung masuk ke dalam mobilnya yang sudah terparkir di depan gedung perusahaannya.
"Terima kasih, Pak! " ucap Cakra pada security yang tadi dia minta untuk mengambil mobilnya dari basement.
__ADS_1
"Sama-sama, Pak!" sahut satpam itu sambil meletakkan tangannya di jidat, atau melakukan gerakan menghormat.
Cakra melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pria itu mengrenyitkan keningnya, melihat sosok wanita yang berdiri dengan gelisah di depan tidak jauh dari gedung perusahaannya.
"Hmm, bukanya itu wanita yang tadi pagi, yang bertugas mengantarkan kopi untukku?" bisik Cakra sambil memicingkan matanya, untuk memastikan apa yang dia lihat benar atau tidak.
Cakra memutuskan untuk tidak peduli. Dia melajukan mobilnya untuk melewati gadis yang belum dia tahu siapa namanya itu. Dia melakukannya bukan karena sombong, tapi dia lebih memilih mencari aman aja. Karena menurutnya jika dia bersikap baik pada wanita, wanita itu bisa saja membawanya ke dalam perasaan dan justru berharap lebih padanya.
Akan tetapi dia tiba-tiba berhenti dan melirik melalui kaca spion mobilnya. Cakra menghela napasnya, dan memutuskan untuk memundurkan kembali mobilnya.
Sementara itu, Safira mengrenyitkan keningnya, bingung kenapa ada mobil mewah yang mundur dan berhenti tepat di depannya.
Perlahan-lahan kaca jendela mobil itu turun dan mata Safira seketika membesar sempurna melihat wajah si pemilik mobil adalah laki-laki yang sangat dia benci dan memberikan dirinya trauma.
"Kamu kenapa berdiri di sana? rumahmu di mana?" tanya Cakra dengan ramah, tapi tetap dengan wajah yang datar.
Sementara itu, kaki Safira sudah mulai sedikit gemetar dan berniat hendak lari. Tapi, otaknya tiba-tiba mengingatkan dirinya akan kata-kata Tasya, yang memintanya untuk bersikap biasa saja di depan Cakra, kalau tidak mau pria itu curiga pada dirinya.
Tbc
__ADS_1