Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Kita akan merawatnya bersama-sama


__ADS_3

Alena semakin mendekap baby Ivan dengan erat, ketika mendengar suara pintu yang dibuka oleh seseorang.


"Jangan ambil anakku! bagaimanapun ini adalah anakku!" seru Alena tanpa melihat siapa yang masuk. Sementara itu baby Ivan seperti merasakan kesedihan dan ketakutan yang dirasakan oleh Alena. Bayi itu tiba-tiba menangis dengan kencang.


Seseorang mendaratkan tubuhnya duduk di tepi ranjang, dan dari aroma parfum yang dipakai, Alena bisa menebak kalau sosok itu adalah Arend, suaminya sendiri.


"Alena, tolong dengarkan aku dulu! kamu tolong tenangkan pikiran kamu dulu. Kamu jangan __"


"Kalau kamu mau membujukku untuk memberikan Ivan padanya, bujukan kamu akan sia-sia. Aku akan tetap mempertahankan anak ini," Alena memotong ucapan Arend dengan posisi tetap membelakangi Arend.


"Alena, aku tahu kalau kamu sangat menyayangi, Ivan dan kenyataan ini sangat berat untuk bisa kamu terima. Kalau boleh aku akui, aku juga menyayanginya. Bukan hanya kita, papa dan mama juga sangat menyayangi dia Alena. Tapi sebagai manusia kita tidak boleh egois. Bayi ini memiliki ibu kandung yang berjuang sendirian, mengandung selama 9 bulan, mengahadapi hinaan, gunjingan dan melahirkan dengan susah payah. Apa kamu tidak bisa melihat dari sisi itu?" ucap Arend dengan lembut.


Alena bergeming tidak membalas ucapan Arend. Di satu sisi dia membenarkan ucapan Arend, tapi di sisi lain dia tidak sanggup membayangkan jika seandainya Ivan benar-benar diambil darinya.


"Alena, wanita bernama Safira itu tidak pernah dengan sengaja membuang Ivan. Kamu dengar sendiri, bagaimana dia ditipu oleh mama tirinya dengan mengatakan kalau anak yang dia lahirkan, meninggal. Betapa bahagianya dia ketika mengetahui kalau ternyata kuburan yang dia percaya terbaring jasad anaknya, ternyata hanya rekayasa. Apa kamu tega menghancurkan perasaan bahagia dari seorang ibu itu?" Arend kembali bersuara, berharap Alena bisa mengerti.


"Tapi, Ivan adalah hidupku, Mas. Aku sangat menyayanginya," Alena akhirnya bersuara kembali dengan air mata yang kembali menetes, sedangkan Ivan, bayi yang sedang diperdebatkan itu, sudah tertidur.


"Aku tahu itu, dan tidak menyangkalnya. Aku rasa kamu tidak akan pernah kehilangannya, karena kapanpun kamu tetap bisa bertemu dengannya. Safira tidak akan mungkin melarang kamu untuk menemuinya. Sekarang coba kamu posisikan kalau seandainya Safira itu adalah kamu, bagaimana perasaanmu, kalau kamu tidak bisa memeluk anak yang setahun ini dia anggap sudah meninggal ternyata masih hidup?"


Alena terdiam. Wanita itu akhirnya duduk dan menghadap ke arah Arend. Arend melihat dengan jelas kalau wajah Alena kini sangat sembab karena kebanyakan menangis.


"Aku mau menikah denganmu demi dia. Supaya dia bisa mendapatkan identitas. Menurutmu kalau aku memberikannya pada wanita itu, apa yang aku lakukan itu sia-sia?"


"Tidak ada yang sia-sia. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Kamu sangat menyayanginya walaupun dia bukan anak kandungmu," ucap Aby yang tiba-tiba muncul di depan pintu.


"Papa?" gumam Alena kaget disertai dengan air mata yang kembali menetes.

__ADS_1


"Iya, Alena. Sejak awal sebenarnya papa sudah tahu kesepakatan kamu dengan Arend. Tapi papa tetap memutuskan untuk tetap menikahkan kalian berdua, dengan syarat Arend tidak akan pernah menceraikanmu, kecuali kalau kamu yang memintanya. Dan Arend sudah menyetujui syarat yang papa ajukan. Apa Arend tidak mengatakannya padamu?" tanya Aby dengan alis yang terangkat ke atas, menyelidik.


Alena menggelengkan kepalanya. Aby sontak menatap tajam ke arah Arend yang langsung mengalihkan tatapannya ke tempat lain.


Kemudian, Aby menghela napasnya dan kembali menatap ke Alena.


"Alena, itulah kenyataannya. Kita bahas masalah ini lain kali. Sekarang adalah mengenai Ivan," Aby menarik napas sejenak untuk mengambil jeda.


"Alena, seandainya Ivan benar-benar dibuang oleh ibu kandungnya dan berniat mengambilnya kembali, kami juga tidak akan pernah mau mengembalikan pada wanita itu dan akan tetap memperjuangkannya, walaupun sampai ke pengadilan. Tapi, sekarang masalahnya beda, Alena. Kamu bisa dengar sendiri tadi kan apa yang sudah terjadi? Dan satu hal lagi, keluarga Calvin adalah keluarga baik-baik. Baby Ivan juga akan tumbuh besar dan baik di sana. Apalagi kamu tahu, kalau dia juga memiliki ibu kandung yang tangguh seperti Safira," sambung Aby kembali menjelaskan dengan panjang lebar tanpa jeda.


"Tapi, Pa, bagaimana nanti kalau aku merindukan Ivan?" tanya Alena di sela-sela isak tangisnya.


Aby menyunggingkan seulas senyuman di bibirnya. Dia menghela napasnya dengan cukup panjang.


"Kamu tidak akan kehilangannya, Alena. Kamu pasti akan tetap bisa menemuinya kapan saja kamu mau. Papa yakin kalau baik Safira maupun Cakra tidak akan melarang kamu untuk menemui baby Ivan. Karena bagaimanapun kamu sudah sangat berjasa merawatnya selama ini," Aby kembali menjelaskan dengan lembut.


"Alena, bagaimanapun Ivan memiliki orang tua kandung. Identitas yang kamu perjuangan justru berbuah manis. Dia akan mendapatkan identitas aslinya, bukan identitas adopsi. Aku sebenarnya tidak keberatan kalau dia membawa nama Bagaskara di belakang namanya. Tapi, apa kamu memikirkan di masa depan? suatu saat pasti akan ada yang mencemoohnya dan mengatakan kalau dia hanya anak adopsi. Tidak semua bermental baja, Nak." Sambung Aby kembali, karena melihat Alena yang tidak menjawab ucapannya.


"Alena, Safira sudah sangat merindukan putranya. Please izinkan dia untuk memeluk Putranya," Arend buka suara menimpali ucapan Aby, papanya.


"Astaga! kenapa aku bisa seegois ini? papa dan Mas Arend benar. Tidak seharusnya aku bersikap seperti tadi. Dia pasti sangat sedih sekarang. Apa Safira masih ada di bawah, Pa?" tanya Alena dengan raut wajah menyesal.


"Ya, dia masih di bawah, Nak. Apa kamu mau menemuinya?" tanya Aby dan Alena menganggukkan kepalanya.


"Apa, Safira bisa masuk ke kamar ini, Mas? karena Ivan sedang tidur. Kalau aku membawanya ke bawah, Tidur Ivan pasti akan terganggu." Alena meminta izin Arend terlebih dulu.


"Tentu saja boleh," sahut Arend.

__ADS_1


Aby terlihat menghubungi Celyn dan meminta istrinya itu untuk mengantarkan Safira ke kamar Arend dan Alena.


Tidak menunggu lama, Safira terlihat masuk disusul oleh Cakra di belakangnya.


"Mbak!" seru Safira dari pintu dengan suara yang sangat lirih.


Alena tersenyum dan menghampiri Safira, lalu memeluk wanita itu. Sementara itu, Aby memutuskan untuk keluar dari kamar dan bergabung kembali dengan Calvin dan yang lainnya.


"Ayo, masuk! Ivan lagi tidur, makanya aku tidak bisa membawanya ke bawah," Alena meraih tangan Safira dan mengajak wanita itu, melangkah mendekati Ivan yang terbaring di ranjang.


"Mbak, boleh aku menciumnya?" tanya Safira dengan mata yang sudah berkilat-kilat, karena sudah penuh dengan cairan bening yang siap ditumpahkan dari wadahnya.


"Tentu saja boleh! Kamu ibu yang melahirkannya. Maafkan sikapku yang tadi! aku terlalu egois karena takut kehilangannya. Tapi sekarang aku sudah ikhlas, karena bagaimanapun kamu yang lebih berhak atasnya," ucap Alena berusaha menahan sesak di dadanya.


"Terima kasih, Mbak! walaupun aku yang melahirkannya, dia tetap bisa menjadi anakmu. Dia memiliki dua ibu sekarang. Aku dan kamu adalah ibu dari Ivan. Kita akan bersama-sama merawatnya,"


"Benarkah? kamu serius?" tanya Alena memastikan dan Safira menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Justru aku sangat berterima kasih,Mbak. Mbak sudah merawat anakku selama ini. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membalas budimu,"


"Jangan berterima kasih padaku. Aku justru bersyukur bisa menemukan Ivan. Oh ya, please panggil aku Alena saja, jangan Mbak. Sepertinya kita seumuran," ucap Alena yang dibalas senyuman oleh Safira.


Setelah selesai sedikit berbasa-basi, Safira mendekat ke arah Ivan dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Dia mengangkat tubuh Ivan dengan perlahan, dam mencium pipi putranya itu. Ivan merasa tidak terganggu sama sekali. Anak itu terlihat tetap memejamkan matanya.


"Boleh aku menggendongnya juga?" celetuk Cakra yang juga ingin menggendong putranya itu.


Safira tidak menjawab sama sekali. Tapi gesturnya yang langsung memutar tubuhnya membelakangi Cakra, mengisyaratkan kalau dia tidak mau Cakra menyentuh anaknya itu.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2