
Kama berjalan dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Setelah keluar dari kediaman Bagaskara, Kama memutuskan untuk mengunjungi Cakra di kantornya karena menurutnya hanya Cakralah yang bisa dia ajak untuk ngobrol hari ini, karena yang lainnya sedang sibuk dengan pasangan masing-masing.
"Sita, Cakra ada di dalam kan?" sapa Kama pada sekretaris Cakra yang perutnya kini semakin membuncit.
"Maaf, Pak Kama. Pak Cakranya belum datang dari tadi pagi," sahut Sita, dengan lembut dan sopan.
"Hah, belum datang? kok bisa?" Kama mengerutkan keningnya, meminta penjelasan.
"Maaf, sekali lagi Pak. Aku benar-benar tidak tahu, karena beliau tidak ada memberikan kabar,"
"Begitu ya?" Kama terdiam seperti menimbang-nimbang sesuatu.
"Hmm, ya udah deh. Sita, aku masuk dulu ke dalam ya, aku capek keliling dari tadi. Aku nanti akan telepon Cakra di dalam," ucap Kama seraya berlalu dari depan Sita yang sedikit membungkukkan badannya . Tiba-tiba, Kama menghentikan langkahnya dan berbalik kembali menatap Sita.
"Oh ya, Sita, kamu kenapa tidak mengajukan cuti saja? perutmu saja sudah sangat besar itu. Kamu sepertinya sangat kesusahan hanya untuk berdiri saja," Kaka menunjuk ke arah perut wanita itu.
"Tidak apa-apa kok, Pak. Aku kerja cuma menghabiskan bulan ini saja, bulan depan aku sudah cuti," ujar Sita dengan senyuman.
"Oh begitu," Kama kembali memutar tubuhnya hendak kembali masuk ke ruangan Cakra. Akan tetapi sebelum dia membuka pintu, pria itu tiba-tiba teringat akan sesuatu. Sambil tersenyum licik, pria itu kembali menoleh ke arah Sita.
"Sita, tolong kamu suruh OG untuk mengantarkan kopi untukku! dan aku mau yang namanya Tasya, tidak boleh yang lain!" titah Kama yang langsung diangguki kepala oleh Sita.
"Habis kamu hari ini!" bisik Kama pada dirinya sendiri yang disertai seringaian tipis di sudut bibirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tasya, kamu tolong buatkan kopi dan antar ke ruangan Pak Cakra!" titah Ningsih kepala OB, sambil meletakkan gagang telepon kembali ke atas meja.
"Ko-kopi buat siapa, Bu?" tanya Tasya gugup.
"Buat Pak Cakra lah, siapa lagi?" sahut Ningsih, ketus. Karena dirinya sendiri pun tidak tahu kopi diperuntukkan untuk siapa karena Sita tidak menyebutkan kopi untuk siapa. Wanita itu hanya mengambil kesimpulan saja, kalau kopi itu pasti buat Cakra.
"Bu, bisa tidak meminta yang lainnya? karena aku harus menyelesaikan pekerjaanku ini," pinta Tasya dengan tatapan memelas. Sebenarnya wanita itu merasa takut untuk bertemu dengan Cakra, karena dia yakin kalau Kama telah meminta pria itu untuk memecatnya karena insiden mie instan kemarin.
"Tidak bisa! Pak Cakra maunya kamu," ujar Ningsih tegas, tak terbantahkan.
"Aduh, sepertinya hari ini, hari terakhir aku kerja di sini. Rasain kamu Tasya, siapa suruh bertingkah ceroboh," batin Tasya, pasrah.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kama mendaratkan tubuhnya di kursi kebesaran yang biasa dipakai oleh Cakra sambil membelakangi pintu.
Sembari menunggu datangnya Tasya, Kama merogoh ponsel dari dalam sakunya. Kemudian pria itu menghubungi sang pemilik kantor yang tidak lain adalah Cakra.
"Ada apa?" terdengar suara Cakra menjawab dengan ketus dari ujung telepon.
"Kamu dimana, Sob? aku di kantormu sekarang. Kata Sita kamu dari tadi pagi tidak datang ke kantor, kamu baik-baik saja kan?"
"Aku baik-baik saja. Hari ini aku tidak ke kantor. Jadi, kamu tidak perlu menungguku,"
"Kenapa semuanya hari ini tidak ada yang datang ke kantor? kalian semua sudah janjian ya?" tanya Kama dengan nada yang kesal.
"Hmm, gimana ya cara ngejelasinnya? Kami tuh sebenernya tidak janjian. Tapi mungkin momennya aja bisa samaan. Aku tidak masuk hari ini, karena tidak mau menyia-nyiakan kesempatan bisa menghabiskan waktu bersama Safira dan anak-anakku. Kalau Carlos kamu tahu sendiri kalau sebentar lagi dia akan menikah? kalau Arick dan Arend kamu tanya sendiri apa alasan mereka," jawab Cakra panjang lebar.
"Hampir sama alasannya! Jadi di antara kita ber lima hanya aku yang belum punya pasangan. Aku udah kaya orang yang tidak punya kerjaan dari tadi bolak-balik datangin kantor kalian semua. Sedih sekali nasibku," sungut Kama disertai dengan helaan napas kesalnya.
Terdengar tawa Cakra yang pecah dari ujung sana, seakan situasi Kama sekarang merupakan hiburan tersendiri bagi pria itu.
"Makanya, mulai sekarang kamu harus fokus mencari pasangan hidup kamu, biar nanti kamu gak gigit jari melihat kami ber empat," ucap Cakra dari ujung sana, dengan nada meledek.
"Masuk!" titah Kama, dengan tubuh yang masih tertutup di balik kursi.
Suara pintu yang dibuka oleh seseorang tidak membuat Kama berbalik. Pria itu masih tetap dalam posisinya dengan tersenyum smirk.
"I-ini kopinya, Pak." terdengar suara wanita yang sedikit gemetar. Dari suara gelas kopi yang baru saja diletakkan di atas meja, Kama sangat yakin kalau saat meletakkan gelas kopi, tangan wanita yang ada di belakangnya itu pasti sedang gemetaran.
"Aku pamit keluar, Pak," ucap Tasya dengan sopan.
"Tunggu! siapa yang mengizinkan kamu untuk keluar?"
Wanita itu nyaris saja memutar tubuhnya untuk melangkah keluar. Akan tetapi dia mengurungkan niatnya begitu mendengar suara pria dari balik kursi itu.
Mata Tasya membesar dengan sempurna begitu melihat sosok pria yang ada di depannya, begitu pria itu memutar kursinya. Terlebih pria itu kini menatapnya dengan tatapan yang tajam.
__ADS_1
"Pak Kama," ucap wanita itu lirih, di sela-sela rasa kagetnya.
"Apa kamu bilang? kamu manggil apa aku tadi?" ucap Kama sambil berdiri dari kursinya dan menghampiri Tasya.
Tasya menggigit bibir bawahnya sambil mendekap erat nampan yang ada di tangannya.
"Kenapa kamu diam? kamu memanggil aku apa tadi?" Kama mencondongkan wajahnya ke wajah Tasya sehingga wanita itu dengan sigap langsung memundurkan wajahnya.
"Pak Kama. Bukannya nama anda memang itu?" suara Tasya terdengar sangat pelan, dan bergetar.
"Memang itu namaku, tapi bukannya kamu memanggilku sayang, kemarin? kenapa sekarang kamu memanggilku, Pak?" goda Kama yang semakin mendekatkan wajahnya ke Tasya, sehingga wanita itu semakin gugup dan balik menatap ke manik mata Kama.
"Ma-maaf, Pak. Kemarin aku hanya bercanda saja. Aku __"
"Tapi sayangnya aku menganggapnya serius. Bagaimana dong?" Kama menyela Tasya sebelum gadis itu melanjutkan ucapannya.
"Hmm, itu salah Bapak sendiri, siapa suruh menganggapnya serius?" ucap Tasya sambil mendorong pelan dada Kama, agar menjauh dari tubuhnya.
"Itu salah kamu, bukan salahku! Kamu sudah memanggilku Sayang di depan umum. Jadi kamu harus bertanggung jawab atas ucapanmu. Jadi mulai sekarang kamu itu kekasihku, Sayang."
"Ralat, bukan di depan umum, tapi hanya di depan kasir," ucap Tasya.
"Bagiku sama saja. Kamu tahu kasir itu sudah memposting wajahku dan wajahmu di media sosial. Dia menyebutkan kalau Kama Adelio, putra dari Kenjo Mahendra sudah memiliki seorang kekasih. Gara-gara perbuatanmu itu aku terpaksa harus mengakui kalau kamu memang kekasihku. Supaya aku tidak dicap pria brengsek," jelas Kama berbohong.
"Kenapa jadinya begini sih?" rutuk Tasya sambil mengetuk-ngetuk jidatnya sendiri.
Sementara itu, Kama tersenyum samar merasa berhasil mengerjai Tasya.
Awalnya dia hanya ingin mengerjai wanita itu dan mengakui di akhir kalau dirinya hanya main-main. Akan tetapi, entah kenapa dia mengurungkan niatnya dan tetap ingin melanjutkan permainannya, melihat wajah wanita itu yang terlihat menggemaskan di matanya.
Tbc
Song Weilong as Kama
__ADS_1
Zhao Liying as Tasya