
Sementara itu, Calista sekarang sedang menghabiskan waktu di rumah orangtuanya, karena belakangan ini Aarick sangat sibuk. Calista tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Bukan karena rasa cintanya berkurang, tapi dia tahu alasan sebenarnya kenapa Arick suaminya sibuk.
Di samping itu, wanita itu juga sangat bahagia jika berada di rumah orangtuanya karena dia bisa bermain bersama dua ponakannya Ivan dan Ian yang belakangan ini semakin terlihat gembul dan menggemaskan.
"Ma, masih ada makanan gak? aku lapar lagi nih," Calista mengelus-elus perutnya.
Cantika mamanya Calista, membuka sedikit mulutnya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat putri satu-satunya itu tidak berhenti makan dari tadi. Begitu dia tiba di rumah, wanita itu sudah terlihat langsung mencari makanan.
"Calista, perut kamu terbuat dari apa sih, Nak? kamu kenapa gak kenyang-kenyang dari tadi? tanya Cantika, mengungkapkan keheranannya.
"Tadi, kan Lista hanya makan sedikit-sedikit, Mah. Gimana bisa kenyang coba kalau makan hanya sedikit?" protes Calista sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sedikit bagaimana? kamu sudah makan banyak, Lista. Atau kamu mau tubuhmu jadi gendut? sekarang saja kamu sudah terlihat gendutan lho." Cantika menyusuri tubuh putrinya dari atas sampai ke bawah yang memang terlihat gendutan.
Calista sontak menggelengkan kepalanya mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Mamanya itu. "Aku gak mau jadi gendut, Mah. Aku nggak mau makan lagi," ujar Calista dengan wajah panik sambil menggigit bibir bawahnya.
"Ya udah. Kalau begitu mama mau ke taman belakang dulu. Mama mau melihat si kembar," pungkas Cantika ingin mengakhiri percakapan.
"Tapi, aku lapar, Mah!" celetuk Calista yang membuat Cantika yang tadinya sudah sempat mengayunkan kaki melangkah beberapa langkah, berhenti seketika dan kembali menatap ke arah Calista.
"Astaga, Lista! kamu mau maunya apa? kalau kamu mau makan, ya udah makan aja. Kamu kan bisa masak sendiri." Cantika mulai kesal.
__ADS_1
"Emmm, Tapi aku lagi malas masak, Mah. Aku maunya dimasakin sama, Mama." Calista nyengir, menampilkan deretan giginya yang rapi.
Cantika berdecak, dan menghela napasnya dengan sekali hentakan, berusaha untuk sabar menghadapi tingkah putrinya yang sekarang banyak maunya itu.
"Bukannya mama tidak mau, tapi mama lagi capek, Nak. Kamu minta bibi saja yang masak ya!" Cantika segera beranjak pergi, sebelum Calista merengek-merengek minta dimasakin lagi olehnya.
Akan tetapi, sebelum Cantika keluar dari pintu dapur, wanita itu, tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan menoleh kembali ke arah Calista. Dia memperhatikan tubuh anaknya itu dari atas sampai ke bawah. Wanita itu merasa ada yang aneh dengan perubahan bentuk tubuh putrinya itu.
"Kenapa, Mah? Kenapa melihatku seperti itu?" Calista mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Apa kamu lagi hamil, Nak?" celetuk Cantika dengan tatapan penuh harap.
"Hamil?" kening Calista semakin berkerut.
Sebuah senyuman langsung terbit menghiasi bibir Cantika. Wanita setengah baya itu, kembali mengayunkan kakinya melangkah menghampiri Calista.
"Menurut mama, kamu itu lagi hamil. Karena yang menandakan seseorang itu lagi hamil tidak harus mual-mual. Kepala pusing, gampang kelelahan juga merupakan ciri-ciri hamil muda. Bahkan ada orang yang tidak merasa apapun selama kehamilan, Nak. Jadi, sebaiknya kamu cek ya!" ucap Cantika dengan lembut, sangat yakin dan penuh harap.
"Tapi, bagaimana kalau aku tidak hamil, Ma? aku takut kecewa melihat hasilnya nanti," ada keraguan yang terselip di balik ucapan Calista.
Cantika kembali tersenyum dan mengelus-elus pundak putrinya itu. "Tidak ada salahnya kamu cek dulu, Nak. Kalau positif ya bagus, kalau negatif ya coba lagi. Toh, bikinnya enak kan?" Cantika tersenyum meledek, membuat Calista mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Emm, apa kamu sudah telat datang bulan?" Cantika kembali bertanya.
Calista tidak langsung menjawab.Wanita itu berusaha mengingat jadwal datang bulannya. Tiba-tiba mata wanita itu membesar dan mulutnya sedikit terbuka.
"Ma, sepertinya bulan lalu, aku sudah tidak datang bulan. Dan untuk bulan ini, jadwalnya juga sudah lewat. Apa itu berarti aku sudah hamil, Mah?" tanya Calista dengan wajah yang berbinar bahagia dan penuh harap.
"Mama tidak tahu pasti sebelum kamu melakukan test kehamilannya. Tapi, entah kenapa mama yakin kalau di dalam rahim kamu, ada calon cucu mama,"
"Benarkah?" Calista memiringkan kepalanya sedikit ke kanan. Cantika mamanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Kamu mau makan apa? biar mama masakan untuk kamu," Cantika melangkah ke arah kulkas.
"Bukannya tadi, Mama mengatakan kalau mama sedang capek?"
Cantika tersenyum lebar. "Mama memang capek, tapi karena tadi cucu mama minta makan,yang harus neneknya yang masak, jadi rasa capek mama hilang deh," ucap Cantika sambil mengeluarkan beberapa bahan masakan.
"Tapi, kan belum tentu aku hamil, Mah." tiba-tiba wajah Calista berubah sendu. Entah kenapa, dia merasa takut kalau mamanya nanti kecewa kalau seandainya dirinya tidak benar-benar sedang hamil.
"Sudah, jangan terlalu kamu pikirkan! Seperti kata mama tadi, kalaupun kamu tidak hamil nantinya, tidak apa-apa. Itu berarti kamu dan Arick harus semakin semangat membuatnya,". Cantika tersenyum, menenangkan kegundahan putrinya itu. Wanita itu sangat mengerti bagaimana perasaan putrinya itu sekarang.
"Kenapa kamu diam saja di sana? ayo, sekarang kamu bantu mama, potong-potong sayurnya. Mamah akan buat capcay kesukaan kamu,"
__ADS_1
Calista yang tadinya khawatir tiba-tiba sumringah setelah mendengar nama capcay disebut oleh mamanya.
Tbc