Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Kekesalan Arend


__ADS_3

Ruangan perawatan Alena dan Calista kini sudah penuh dengan derai tawa dari para keluarga yang datang untuk mengucapkan selamat dan melihat empat bayi yang baru lahir.


Ya, ruangan keduanya sengaja disatukan untuk mempermudah keluarga yang datang berkunjung.


"Wah, selamat ya buat kalian berdua! akhirnya menantuku sudah lahir," ucap Safira sambil menggendong putri Alena yang diberi nama Aleysia Beatrice Bagaskara yang berarti hadiah dari Tuhan dan pembawa sukacita. Sedangkan putranya diberi nama Aldric Bernardo Bagaskara yang berarti pemimpin yang bijaksana, kuat dan berani.


"Tidak ada! tidak ada yang namanya perjodohan lagi!" ujar Arend dengan tegas.


"Apa-apaan sih? aku yang mau Ivan jadi menantuku. Dulu dia sudah menjadi anakku dan memanggilku mama, jadi aku mau dia tetap memanggilku mama, dengan dia menjadi menantuku," protes Alena yang tidak terima dengan bantahan Arend.


"Sayang, aku tahu kalau kamu sangat menyayangi Ivan. Tanpa menjadi seorang menantu pun, dia akan tetap menjadi anakmu. Ivan dan Ian punya dua mama bukan?" suara Arend terdengar lembut.


"Emang kenapa sih dengan anakku? kenapa kamu keberatan menjodohkan mereka?" Cakra buka suara.


Sob, tidak ada yang kurang dengan Ivan. Aku hanya belajar dari pengalaman kita semua. Perjodohan yang dilakukan oleh orang tua kita menjadi bumerang buat kita. Kalau kelak mereka berjodoh, biarkanlah mereka berjodoh karena saling mencintai, bukan karena hanya tidak ingin melihat orang tua kecewa." Arend menarik napas sejenak, kemudian mengembuskannya kembali ke udara dengan sekali hentakan. "Contohnya kamu, kamu dijodohkan dengan Kalila, tapi kamu membatalkannya, dan membuat Kalila sedih. Mau tidak mau hanya karena tidak ingin mengecewakan orang tua, Kalila akhirnya mau menikah dengan Carlos. Ok lah, Carlos mencintai Kalila. Bagaimana dengan Kalila? apa dia mencintai Carlos pada awalnya? tidak bukan? Kalila harus belajar mencintai Carlos demi supaya hubungan keluarga baik-baik saja. Aku tidak mau anak-anakku merasakan hal yang sama nantinya. Biarkanlah berjalan seperti biasanya." jelas Arend panjang lebar, tanpa jeda.


"Hei, kenapa bawa-bawa namaku?" Kalila mengerucutkan bibirnya.


"Kan aku hanya mencontohkan, Lila." balas Arend.


"Kenapa kamu tidak mencontohkan dengan dirimu sendiri? kamu dulu mencintai Calista, tapi Calista mencintai Arick demikian juga dengan Arick. Tetapi, karena Arick tahu kalau kamu mencintai Calista, dia rela berkorban walaupun akhirnya kamu juga yang ujung-ujungnya mengorbankan perasaanmu. Nah tuh, contohnya lebih ngena ke kamu kan?"


"Nggaklah! kamu dan Cakra yang lebih cocok dicontohkannya. Kalau Arick dan Callista emang dijodohkan dari dulu, dan mereka saling mencintai, jadi mereka menikah memang karena saling mencintai. Nah kamu sama Cakra, kalian berdua dijodohkan tapi yang menikah denganmu itu Carlos, dan kamu sama sekali tidak ___"


"Diammm!" pekik Calista tiba-tiba. "Kalau kalian berdua mau berdebat, silahkan berdebat di luar!

__ADS_1


Arend dan Kalila benar-benar terdiam, sebelum Calista benar-benar mengamuk nantinya. Mereka berdua paham betul bagaimana karakter Calista kalau sudah marah.


Sementara itu Cakra, bergeming berusaha untuk mencerna ucapan Arend. Pria itu menganggukkan kepala, membenarkan ucapan Arend.


"Ya, aku setuju dengan kamu. Biarlah mereka mencari jodoh mereka masing-masing nantinya," pungkas Cakra, menyetujui pemikiran Arend.


"Kenapa sih kalian berdua masih memperdebatkan masa lalu? yang lalu biarlah berlalu, toh semuanya sudah baik-baik saja," protes Calista.


"Bukan berdebat Lis, cuma mengingatkan saja, supaya kita sebagai orang tua harus lebih bijaksana. Kita harus memberikan mereka kebebasan untuk memilih jodoh mereka nantinya," ujar Arend, lugas


"Hmm, padahal aku tadinya mau minta anakku dijodohin sama anaknya Calista. Anakku kan laki-laki, mau dijodohin sama anaknya Safira, kan gak mungkin?" celetuk Tasya sembari mengelus-elus perut buncitnya.


"Kamu jangan mengada-ada deh, Sayang! aku sama Arick tuh sepupuan, masa kami kelak jadi besanan?" Kama berdecak, menggeleng-gelengkan kepalanya.


"ahhh, sudahlah! yang jelas tidak boleh!" pungkas Kama yang merasa tidak ada gunanya untuk menanggapi ucapan Tasya lagi.


Suara tawa dari orang-orang yang berada di ruangan itu, akhirnya pecah melihat raut wajah kesal Kama.


"Ihh, jangan kesal gitu dong Sayang! aku hanya bercanda," Tasya mencubit gemas pipi sang suami.


Kemudian, tatapan Tasya beralih ke arah box bayi yang berada di dekat Calista, dan menekan-nekan pipi bayi perempuan dan laki-laki yang masih merah itu, hingga keduanya menangis karena merasa terganggu.


"Tasya, jangan ganggu mereka, ih!" Calista memukul tangan Tasya yang iseng.


Tasya terkekeh dan langsung menjauhkan tangannya dari baby Cassandra Aretha Bagaskara dan Cashel Aryan Bagaskara. Ya, itu lah nama yang disematkan pada anak-anak Arick dan Calista. Nama untuk anak laki-lakinya berarti, benteng yang kuat dan merupakan pemimpin dan terhormat. Sedangkan untuk anak perempuannya, berarti penolong umat manusia dan bijaksana.

__ADS_1


"Aku gemas, Lis! dia pasti cantik banget nanti, dan yang ini pasti tampan." ujar Tasya yang masih menyempatkan diri untuk mencubit gemas hidung anak Calista.


"Ya jelas dong. Papa sama mamanya tampan dan cantik, pastinya anaknya juga ngikut," jawab Calista, bangga.


Tiba-tiba terdengar suara tangis yang begitu kencang dari baby Aleysia, anak perempuan Alena, hingga membuat perhatian orang beralih ke arah bayi cantik itu.


Tampak Ivan berdiri di atas kursi dekat dengan box baby Aleysia. Entah kapan kursi itu berada di samping box itu, hanya Ivan lah yang tahu, karena tidak ada yang memperhatikannya sama sekali.


Arend dengan sigap turun dari atas ranjang Alena dan langsung melihat ke dalam box anak-anaknya.


"Ya ampun, Ivan! bagaimana bisa kamu melakukan ini pada Aleysia?" Ingin rasanya Arend berteriak keras, melihat keadaan wajah putrinya sekarang. Bagaimana tidak, wajah anak perempuannya itu sudah belepotan dengan coklat bekas kue yang dimakan oleh Ivan tadi. Namun dia mengurungkannya karena dia tahu kalau anak kecil itu belum tahu apa-apa.


"Napa dedenya nanis, Om?" bukannya takut, Ivan malah bertanya dengan wajah polosnya, hingga membuat Arend hanya bisa menghela napas, menahan kesal.


"Sabar, sabar!" gumam Arend sembari mengelus-elus dadanya.


"Ivan, tadi wajah dedenya kamu apain?" suara Arend dibuat selembut mungkin.


"Ivan tadi tuma, pegang-pegang mutanya, Om." jawab Ivan masih dengan kepolosan khas anak-anak.


"Nih, beginilah yang mau jadi menantu? belum jadi menantu saja anakku sudah diginiin. Masih di dalam rahim, balon yang diletuskan, buat anakku kaget, sekarang wajah anakku sudah dikotorin." Arend menggerutu sambil membersihkan wajah sang putri.


"Om, tidak boleh, malah-malah. Nanti dedenya, tatut lho!" ujar Ivan kembali yang membuat Arend menggigit bibirnya, menahan geram. Sementara yang lainnya menertawakan wajah kusut pria itu.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2