Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Bab 52


__ADS_3

Cakra menepikan mobilnya di depan rumah yang ditempati oleh Safira dengan sempurna.


"Kita sudah sampai," ucap Cakra menghentikan keheningan yang tercipta sepanjang jalan, karena Safira yang gugup begitu sadar kalau dirinya mencengkram erat lengannya


Safira tidak menjawab sama sekali, tangannya sudah bersiap untuk membuka pintu mobil dan ingin secepatnya berlalu pergi dari dekat Cakra.


Akan tetapi, wanita itu sama sekali tidak bisa membuka pintu. Safira sontak menoleh menatap tajam ke arah Cakra yang berpura-pura melihat ke arah luar.


"Kenapa kamu belum buka pintunya?" protes Safira.


"Oh, belum ya?" Cakra berlagak bodoh sambil menekan tombol untuk membuka. Akan tetapi, dengan sangat cepat dia mengunci kembali tanpa sepengetahuan Safira.


"Kenapa belum bisa dibuka sih?" ujar Safira yang berusaha sekuat tenaga mendorong pintu mobil agar bisa terbuka.


"Kenapa tidak bisa dibuka ya?" Cakra masih dalam mode pura-pura. "Coba kamu minggir sedikit, biar aku coba buka!"


Tanpa curiga sedikitpun Safira melakukan sesuai dengan perintah Cakra.


"Wah, benar-benar nggak bisa dibuka, Fir, gimana dong?" ucap Cakra sambil memasang wajah panik.


"Cakra, kamu jangan bercanda deh! masa mobil mahal seperti ini, bisa seperti ini sih?" Wajah Safira juga mulai terlihat panik.


"Menurutmu kalau mahal, tidak akan bisa rusak begitu? mahal atau murah kalau yang namanya benda mati pasti bisa rusak, Fir,"


"Jadi gimana sekarang?" suara Safira sudah mulai meninggi.


"Ya, harus panggil montir dong," jawab Cakra santai.


"Ya udah, tunggu apalagi? telepon sekarang!" desak Safira yang terlihat mulai tidak merasa nyaman di kursinya.


Cakra meraih ponselnya dan berpura-pura seperti menghubungi seseorang. Pria itu menghela napasnya dan menatap Safira dengan tatapan yang sukar untuk dibaca.


"Maaf, Fir. Teleponnya tidak diangkat," ucap Cakra dengan nada lirih.

__ADS_1


"Bukannya kamu kuat ya? bagaimana kalau kamu tendang aja pintunya? kalau rusak kan, bisa diperbaiki lagi. Kamu kan kaya," Dengan santainya Safira memberikan ide yang membuat Cakra seketika terdiam karena kecewa.


"Segitu tidak inginnya ya kamu, dekat denganku? sampai kamu lebih memilih mobil ini rusak, daripada kamu dan aku berdua di mobil ini?" suara Cakra terdengar lirih dan raut wajah yang sendu.


Safira mengernyitkan dahinya, bingung mendengar ucapan Cakra.


"Maksud kamu apa? aku hanya ingin bisa keluar sekarang, bukan karena tidak ingin berada di dalam mobil bersamamu. Tapi aku benar-benar sudah ingin ke toilet dan aku sudah sangat lapar," tutur Safira panjang lebar.


Cakra sontak mencondongkan tubuhnya mendekatkan wajahnya ke wajah Safira, yang membuat wanita itu kaget seraya mengerjap-erjapkan matanya.


"Apa itu berarti kamu tidak takut lagi kalau dekat denganku? tanya Cakra dengan senyum yang terulas manis di bibirnya.


Safira terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Wanita itu sendiri juga bingung, kenapa sekarang rasa takutnya menghilang. Wanita itu seperti terhipnotis dengan senyum Cakra dan aroma mint yang berasal dari mulut pria itu.


"Kenapa kamu diam? Cakra kembali bertanya, membuat Safira seketika tersadar dari alam bawah sadarnya.


"Cakra, tolong cari cara untuk membuka pintu mobil ini. Karena aku benar-benar ingin ke toilet. Kamu tidak mau kan kalau aku buang air kecil di sini?" Safira tidak memberikan jawaban yang sangat ingin didengar oleh Cakra. Wanita itu justru memasang wajah yang memelas, karena memang dirinya sekarang benar-benar sangat membutuhkan toilet.


Cakra menghela napasnya dengan berat, merasa kesal karena tidak mendapatkan jawaban seperti yang dia inginkan. Tanpa sepengetahuan Safira salah satu tangan Cakra menekan tombol central lock,agar pintu mobil bisa dibuka.


"Wah, kamu kuat sekali!" Safira tampak takjub. Apalagi pintu mobil itu tidak rusak sama sekali, seperti yang dia pikirkan.


"Tapi kakiku sudah sangat sakit, Fir. Bagaimana ini?" Cakra pura-pura meringis kesakitan sambil memegang kakinya.


"Aduh, nanti dulu kita bicarakan itu. Aku mau ke toilet dulu sebentar. Aku sudah tidak kuat lagi," ucap Safira sambil berlari masuk, tanpa menunggu jawaban dari Cakra.


"Sialan! aku ditinggal sendiri di sini. Kalau aku berjalan masuk, sandiwaraku jadi ketahuan dong nanti. Tapi kalau aku di sini terus, belum menjamin kalau dia akan kembali keluar lagi." gumam Cakra merasa dilema.


Cakra akhirnya memutuskan untuk menunggu Safira keluar kembali untuk menemuinya.


Sudah hampir 30 menit Cakra menunggu Safira di luar. Akan tetapi tidak ada tanda-tanda kalau wanita itu akan keluar kembali untuk menemuinya. Perut pria itu juga dari tadi sudah berbunyi minta diisi.


"Hmm, sepertinya dia tidak akan keluar lagi. Sepertinya dia benar-benar belum bisa memaafkanku," Cakra berbisik pada dirinya sendiri. Pria itu menghela napas dengan sekali hentakan dan akhirnya memutuskan untuk masuk kembali ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Safira, membawa rasa kecewanya.

__ADS_1


Pria itu memasang earphone di telinganya karena ponselnya berbunyi pertanda ada panggilan masuk


"Ya, ada apa, Rend?" tanya Cakra dengan nada yang tidak bersemangat.


"Hei, kenapa dengan suaramu? kenapa kedengarannya kamu sedang tidak bersemangat?" bisa dipastikan kalau kening Arend pasti sedang berkrenyit di ujung sana.


"Tidak ada apa-apa, Rend. Aku hanya sedang lelah. Ada apa kamu meneleponku?" ucap Cakra sambil membelokkan mobilnya masuk ke area pekarangan rumahnya.


"Hmm, tadinya aku mau tanya apa kamu membawa dokumen kerjasama tadi, atau tidak. Soalnya aku tidak menemukannya di kantor. Tapi, sepertinya kamu sedang tidak bersemangat. Apa ini masih berhubungan dengan masalah Safira? apa dia masih belum bisa memaafkanmu dan menerima tanggung jawabmu?"


Cakra menghela napasnya dengan cukup berat.


"Dari diammu, dan helaan napasmu, aku yakin pasti jawabannya 'iya'," tebak Arend.


"Ya, seperti itulah, Sob. Apa aku menyerah saja ya? yang pentingkan aku sudah berusaha untuk bertanggung jawab dan dia sendiri yang tidak mau,"


"Itu sih terserah kamu. Tapi apa sekarang kamu mau aku bantu? kalau bantuanku juga tidak berhasil, kamu bebas mengambil keputusan, masih berusaha untuk membujuknya atau menyerah," Arend menawarkan bantuan yang dulu sebenarnya sudah pernah dia tawarkan tapi ditolak karena ingin berusaha sendiri.


"Terserah kamu lah," pungkas Cakra akhirnya.


Sementara itu, Safira mengusap-usap perutnya dan mengeluarkan sendawanya Karena perutnya yang sudah kenyang.


Safira berdiri dari tempat dia duduk dan hendak berlalu masuk ke dalam kamarnya. Akan tetapi dia kembali duduk karena dia merasa ada sesuatu yang dia lupakan.


Kening wanita itu terlihat berkerut, berusaha mengingat hal apa yang di lupakan itu.


"Astaga! Cakra masih ada di luar," pekik Safira dengan mata yang membesar setelah berhasil mengingat hal yang sempat dia lupakan.


Dia mengingat jelas, ketika dia keluar dari dalam toilet, kakinya langsung melangkah menuju meja makan. Awalnya dia hanya ingin melihat apakah makanan itu cukup untuk dua orang. Akan tetapi, ketika melihat menu makanannya dan mencium aroma makanan itu, Safira seketika lupa dan langsung memutuskan untuk makan.


Wanita itu sontak berlari keluar untuk menemui Cakra. Akan tetapi dia melihat kalau tempat di mana mobil Cakra terparkir sebelumnya sudah kosong.


"Astaga, dia sudah pulang. Bagaimana dia pulang dengan kakinya yang sakit? Dia pasti berusaha menahan rasa sakitnya,"gumam Safira dengan perasaan bersalah.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2