Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Permintaan Alena


__ADS_3

"Hmm, Kakak cocoknya pakai apa ya?" tanya Kalila sambil menyusuri tubuh Alena dari atas sampai ke bawah.


Alena tidak menjawab sama sekali, dia malah lebih memilih untuk duduk menyender sambil menatap Kalila yang sedang bingung.



Tiba-tiba, senyum sumringah terbit di bibir Kalila. Sebuah ide seketika timbul di kepalanya.


"Sini, Kak. Aku rias Kakak dulu, gaunnya nanti belakangan." ucap Kalila sambil meraih tangan Alena, yang nurut aja kemanapun Kalila membawanya.


Kalila pun mulai merias Alena dengan simple seperti permintaan Arend kakak sepupunya.


"Apa ini aku?" tanya Alena ketika melihat pantulan dirinya sendiri di cermin.


"Iyalah itu Kakak.Gak mungkin orang lain yang ada di cermin itu. Kakak itu sebenarnya tanpa makeup pun sudah cantik. Dikasih polesan tipis saja Kakak tambah terlihat sangat cantik." puji Kalila, seadanya. Dan memang faktanya Alena memang memiliki wajah yang sangat p lembut dan membuat orang tidak cepat bosan untuk menatapnya.


"Ah kamu terlalu memuji. Kalau aku cantik, pasti sudah banyak yang suka sama aku," ucap Alena merendah.


"Kenapa Kakak bicara seperti itu? buktinya kak Arend jatuh cinta sama, Kakak."


"Dia itu sama sekali tidak ....". Alena menggantungkan ucapannya. Dia hampir saja keceplosan mengatakan kalau Arend itu tidak mencintainya.


"Tidak apa, Kak?" Kalila menarik keningnya ke atas, curiga.


"Hmm, maksudku dia itu sama sekali tidak waras. Masa pria seperti dia, bisa jatuh cinta sama wanita seperti aku? kan gak waras namanya." jawab Alena, mencoba mengalihkan ucapannya, berharap Kalila percaya.


"Hahaha, Kakak bisa aja. Kakak ternyata lucu,"


Alena menghembuskan napas lega, karena Kalila sepertinya percaya dengan apa yang dia ucapkan.


"Nih, coba pakai, Kak" Kalila memberikan sebuah gaun berwarna pastel. Alena sangat suka dengan warna-warna pastel, tapi yang jadi masalahnya sekarang, gaun itu terlihat sangat seksi baginya.


"Tapi, Lila. Ini bukannya seksi ya?" Alena menolak secara halus.


"Tidak kok, Kak. Coba deh pakai. Pasti Kak Arend dan keluarganya suka.". Kalila mendorong Alena dengan lembut masuk ke ruang ganti.

__ADS_1


"Hmm, orang kaya mungkin pakaian seperti ini sudah biasa, aku pakai aja lah," batin Alena sambil mulai mengganti pakaiannya dengan gaun yang diberikan oleh Kalila. Setelah itu, dia pun keluar dengan kondisi yang sangat tidak nyaman.


"Wah, cantik sekali, Kak. Ayo kita kasih lihat kak Arend," ucap Kalila tersenyum misterius.


Alena sebenarnya sangat malu untuk keluar, tapi dia tidak punya pilihan lain, dia menurut saja mengikuti Kalila.


"Kak Arend, lihat Kak Alena sudah siap!"


Arend mengalihkan tatapannya dari handphone untuk melihat kesiapan Alena.


Mata Arend membesar dengan sempurna, begitu melihat penampilan Alena. Untuk sesaat dia terpesona dengan penampilan Alena yang berdiri malu-malu di depannya.



Arend seketika menggelengkan kepalanya, tersadar dengan lamunannya.


"What? apa kamu sedang bercanda, Kalila? bagaimana mungkin, dia berpenampilan seperti ini di depan papa dan mama, ayo ganti!" ucap Arend sambil memalingkan wajahnya.


"Ish, bilang aja kakak suka," celetuk Kalila dengan bibir yang mengerucut.


"Kalila, jangan banyak bicara! kamu ganti lagi gaunnya, dan tolong yang merah-merah di bibirnya agak dikurangin, kalau boleh ganti warna yang soft," titah Arend.


"Alena!" bentak Arend tanpa dasar


"I-iya?" sahut Alena gugup.


"Bu-bukan kamu, Kalila maksudku." Arend tak kalah gugup.


"Cie, salah panggil ni ye. Isi kepalanya berarti hanya ada nama kak Alena. Udah tidak ....". Kalila seketika berhenti bicara, sambil meneguk ludahnya sendiri, dan melihat tatapan Arend yang sangat tajam.


"Ayo, Kak Alena!" Kalila langsung menarik tangan Alena, kembali masuk ke dalam.


Berkali-kali Alena mengganti gaunnya, dan semuanya disuruh ganti oleh Arend, sampai membuat Alena jengkel. Dan yang kali ini, Alena berjanji dalam hati lagi, untuk tidak mau ganti lagi, jika Arend menyuruhnya untuk ganti.


"Kak, bagaimana dengan yang ini? please jangan suruh ganti lagi," ucap Kalila yang sudah capek bolak-balik dari tadi.

__ADS_1


Arend tidak bersuara. Dia menatap penampilan Alena dari atas sampai ke bawah. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang melihat penampilan Alena, yang menurutnya sangat anggun.


"Apa kamu mau menyuruhku untuk ganti lagi? kalau iya, aku nggak akan mau. Aku capek!" ucap Alena ketus, yang membuat Arend seketika tersadar dari keterpanaannya.


"Siapa yang mau suruh ganti? ya udah kamu pakai yang ini saja." ucap Arend sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Akhirnya!" Alena menghela napas lega, seraya tersenyum lebar.



"Ya udah, ayo kita berangkat sekarang!" ucap Arend. Dia nyaris saja melangkah lebih dulu, akan tetapi langsung berhenti ketika mendengar ucapan dari Kalila.


"Kak Alenanya digandeng dong, Kak. Masa pacarnya dibiarin jalan sendiri. Ntar kalau diambil laki-laki lain, baru tahu rasa, kan patah hatinya jadi dua kali nantinya," celetuk Kalila, dengan nada meledek.


Ekor mata Arend bergerak melirik tajam ke arah Kalila yang langsung pura-pura tidak melihat ke arah Arend.


Arend menghela napasnya dan kembali berjalan menghampiri Alena. Pria itu langsung menyerahkan lengannya untuk digandeng oleh Alena.


Kemudian mereka berjalan keluar bersama, menuju tempat di mana mobil mereka terparkir.


"Ingat, nanti di rumah papah dan mamah, kamu harus memanggilku, Sayang." ucap Arend tanpa melihat ke arah Alena setelah mereka duduk di dalam mobil. Kali ini Arend memilih untuk mengemudikan mobilnya sendiri dan sudah menyuruh bodyguardnya tadi untuk pulang.


"Baiklah!" sahut Alena mengangguk tipis.


"Hmm, apa aku boleh mengajukan permintaan?" tanya Alena, memecah keheningan yang sempat tercipta.


"Emm," sahut Arend singkat.


"Kalau misalnya kita menikah, bolehkah kamu meminta pada orang tuamu kalau pernikahannya sederhana aja, dan jangan sampai ada orang-orang yang tahu? ya maksudku tidak perlu pakai acara resepsi." tutur Alena, dengan pelan.


"Kenapa? bukannya setiap wanita memiliki pernikahan impian?" kening Arend berkerut, tapi tetap fokus pada jalanan di depannya yang sudah mulai padat merayap.


"Hmmm, kalau menikah karena saling mencintai, emang benar kami para wanita ada pernikahan impian, tapi posisi kita sekarang kan tidak. Kalau kita menikah dengan acara pernikahan yang mewah, dan tiba-tiba kita berpisah suatu saat, pasti akan ada di antara kita yang akan dirugikan." jelas Alena, ambigu.


"Maksud kamu?"

__ADS_1


" Kalau kita berpisah, pasti akan timbul pertanyaan dari masyarakat kenapa kita bisa berpisah, bukan? Kalau kamu menceraikanku tanpa memberikan alasan, itu pasti akan berpengaruh ke perusahaan keluargamu. Kalau aku yang menceraikanmu tanpa alasan, akan banyak hujatan yang datang padaku. Aku selama ini memang sudah kenyang dengan hujatan-hujatan. Tapi, aku tidak yakin apakah aku bisa kuat seperti dulu, bila mendengar hujatan yang mungkin lebih parah dari hujatan yang aku terima sebelumnya. Jadi, menurut aku lebih baik kita menikah tanpa orang lain tahu, kecuali keluargamu." tutur Alena panjang lebar dengan nada sendu.


Tbc


__ADS_2