Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Ungkapan hati Cakra


__ADS_3

Sementara itu di lain tempat, yaitu di kediaman pengantin baru Cakra dan Safira suasana kamar masih terasa dingin sama seperti malam sebelumnya.


Safira masih terlihat menjaga jarak pada Cakra dan Cakra mencoba untuk memakluminya.


"Fir, bisa kita bicara sebentar? aku benar-benar tidak bisa tidur malam ini," Cakra buka suara sambil memandang tubuh istrinya yang memunggunginya.


Safira tidak memberikan respon sama sekali. Wanita itu justru pura- pura memejamkan matanya.


"Fir, apa kamu sudah tidur?" Cakra menyentuh pundak Safira. Lagi-lagi Safira tidak memberikan respon sama sekali.


Cakra mengembuskan napasnya dengan cukup berat begitu melihat Safira yang menurutnya sudah tertidur pulas. Pria itu sontak membaringkan kembali tubuhnya sambil membalikkan tubuh Safira hingga menghadap padanya.


Cakra menarik tubuh Safira ke dalam dekapannya dan memeluk wanita itu dengan erat. Ingin sekali Safira melepaskan diri dari pelukan hangat Cakra. Namun, ketika dirinya hendak melakukan itu, dia tersadar kalau dirinya sekarang sedang berpura-berpura untuk tidur.


"Fira, aku tahu kalau kesalahanku dulu sangatlah besar dan menorehkan luka yang sangat besar, dan mungkin sangat sulit untuk bisa kamu maafkan. Tapi, jujur Fir, aku benar-benar minta maaf dan aku harap suatu saat kamu bisa memaafkannya dengan tulus," Cakra mulai mengeluarkan apa yang mengganjal dalam hatinya, walaupun dia tahu kalau Safira tidak mendengarnya sama sekali.


"Kalau kamu mengatakan, aku menikahimu karena bentuk pertanggungjawaban saja, kamu salah besar, Fir. Aku menikahimu lebih dari hanya sekedar ingin bertanggung jawab saja. Aku menikahimu karena aku mencintaimu. Ya, Safira aku sangat mencintaimu. Kalau kamu bertanya kapan? mungkin aku sudah jatuh cinta padamu dari dua tahun yang lalu. Makanya aku mencoba untuk bertahan untuk tetap hidup sendiri dan mencarimu kemana-mana," Cakra masih terus mengungkapkan isi hatinya. Sementara itu, Safira masih setia mendengarkan ungkapan hati Cakra dengan mata yang terpejam.


Safira menggigit bibirnya, tidak menyangka kalau pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata mencintainya. Ingin rasanya wanita itu membuka matanya dan bertanya bagaimana perasaan pria itu pada Kalila saat ini. Akan tetapi, Safira mengurungkan niatnya karena dirinya belum punya cukup keberanian untuk menanyakan hal itu.


"Kalau aku tidak mencintaimu, mungkin aku sudah memilih untuk menikah dengan Kalila begitu kamu menolakku untuk pertama kali. Tapi aku tidak melakukannya karena aku sadar, kalau aku tidak mau kehilangan kamu lagi. Asal kamu tahu, penolakan kamu saat itu, sangat menyakitkan bagiku. Justru aku tidak merasa sakit hati sama sekali ketika harus gagal menikah dengan Kalila. Aku menyadari rasa yang ku miliki untuk Kalila bukan rasa cinta melainkan hanya rasa sayang saja. Berbeda dengan apa yang aku rasakan padamu. Aku mencintaimu sekaligus menyayangimu," sambung Cakra kembali sambil memberikan kecupan di puncak kepala istrinya itu.


Tanpa sadar dari sudut mata Safira yang terpejam ada setitik cairan bening sebening kristal yang keluar mendengar semua ungkapan hati Cakra. Semua pemikiran yang buruk tentang suaminya itu menguap entah kemana.


"Selamat tidur, Sayang! semoga kamu tidak akan bermimpi buruk lagi," ucap Cakra seraya mengeratkan pelukannya. Beberapa menit kemudian, pria itu pun ikut tertidur dengan seulas senyum di bibirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Malam semakin larut, akan tetapi belum bisa membuat Aby bisa tidur. Dia melirik ke sampingnya dimana Celyn istrinya sudah tertidur dengan pulas. Aby akhirnya memutuskan untuk duduk dan menyenderkan tubuhnya di sandaran ranjang.


Aby menggeser tubuhnya sedikit agar tangannya bisa menggapai nakas dan meraih sesuatu dari dalam laci nakas itu.


Sebuah senyuman tipis seketika terbit saat dirinya melihat benda yang baru saja dia ambil itu, yang tidak lain adalah photo dari 3 orang pria yang kini sudah tidak lagi ada ada di dunia ini. Siapa lagi mereka kalau bukan Ardan papanya, Rio mertuanya yang tidak lain papanya Celyn dan Bagas papanya Cantika.


"Sayang, kamu belum tidur?" tiba-tiba Celyn membuka matanya dengan mata yang terlihat masih ngantuk.


"Aku tidak bisa tidur, Sayang. Kamu tidur aja dulu!"


"Kamu tidak apa-apa kan?" Celyn terlihat khawatir.


Aby menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis. Kemudian pria setengah baya itu, mengelus kepala istrinya itu.


"Kamu tenang saja! aku baik-baik saja."


"Kamu merindukan mereka ya?" tanya Celyn sambil mengelus-elus pundak Aby.


"Ya! aku merindukan mereka. Aku sekarang membayangkan kalau mereka di atas sana pasti sedang berdebat." Aby terkekeh membayang hal yang tentu saja hanya aja di dalam pikirannya.


"Kenapa mereka berdebat? ada-ada saja kamu," Celyn, menggelengkan kepalanya.


"Kan aku juga bilang, kalau aku hanya membayangkan saja. Om Bagas, pasti bilang begini 'Dulu, aku bisa aja kalah dengan kalian berdua, yang menikah lebih dulu, punya anak lebih dulu, dan punya cucu lebih dulu. Tapi, lihatlah sekarang! aku menang dari kalian berdua. Aku lebih dulu punya cicit dari kalian berdua'." Aby menirukan gaya bicara almarhum, Bagas.


Suara tawa Celyn sontak pecah. Wanita itu kini ikut-ikutan membayangkan perdebatan ketiga pria legend itu. "Wajah papa pasti langsung cemberut mendengar celotehan, om Bagas, iya kan?" Celyn membayangkan wajah almarhum Rio papanya.


"Bukan hanya Papa kamu, Papaku juga pasti cemberut sekarang, karena mereka berdua benar-benar tidak bisa menyangkal kalau mereka memang benar-benar sudah kalah dari Om Bagas. Walaupun emang papa Rio dan papa Ardan sebentar lagi juga akan punya cicit." Tawa Aby dan Celyn semakin pecah membayangkan perdebatan yang mereka bayangkan sendiri.

__ADS_1


"Jangan lupa! yang bakal jadi cicit papa Ardan dan Papa Rio, juga bakal jadi cicit Om Bagas," ucap Celyn di sela-sela tawanya.


"Iya juga ya? Calista kan cucunya Om Bagas ya? menang banyak om Bagas." Tawa Aby semakin besar.


Prankkk ...


Tiba-tiba suara benda jatuh, mengagetkan Aby dan Celyn, sehingga tawa keduanya berhenti seketika.


"Apaan itu? jangan-jangan roh Papa Ardan tidak terima, karena kita ledekin." Celyn memeluk tubuh Aby dan sembunyi di ketiak suaminya itu.


"Kamu jangan mengada-ada! mana mungkin ada rohnya papa di sini," ucap Aby yang berusaha tenang, padahal dirinya sendiri pun sedang ketakutan sekarang.


"Kenapa tidak? kamu sih ... makanya jangan ngatain orang yang sudah meninggal." omel Celyn menyalahkan Aby.


"Hei, kamu juga kan ikut-ikutan ngatain mereka. Kamu jangan main nyalah-nyalahin orang dong ," protes Aby tidak terima.


"Maaf, Pah! kami tidak bermaksud ngeledek kalian berdua. Kami hanya bercanda tadi," ucap Aby.


Prank ... Suara benda kembali jatuh, begitu Aby menyelesaikan ucapannya.


Aby dengan cepat, secepat angin yang berhembus kencang langsung berbaring dan menutup kepalanya dengan selimut, demikian juga dengan Celyn. Keduanya kini saling memeluk dengan erat, dan ekspresi wajah yang ketakutan.


Sementara itu, di dapur pembantu rumah tangga Aby dan Celyn, memungut panci yang baru saja terjatuh dari tangannya, hingga sampai menimbulkan suara gaduh.


"Aduh, mudah-mudahan Tuan Aby dan nyonya tidak mendengar barang jatuh ini," gumam pembantu itu sambil menatap ke arah pintu masuk, berjaga-jaga kalau Aby maupun Celyn yang dia kira sudah pulas tertidur, terbangun karena keributan yang dia timbulkan.


Tbc

__ADS_1


Please like dan komen dong guys. Kasih Vote dan hadiah juga boleh 😁


__ADS_2