
"Jangan sesekali kamu mencoba untuk berbicara seperti itu lagi! Jangan pernah berniat untuk membuka hati pada laki-laki lain, kalau kamu tidak mau laki-laki itu tidak bernyawa. Karena kamu itu terlahir hanya untukku!" Ucap Arick tanpa sadar dan berapi-api.
Calista, bergeming untuk beberapa saat. Dia berusaha mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh Arick, pria yang dicintainya sejak dulu.
"Kenapa kamu diam? apa kamu mengerti apa yang aku maksud?" Tatapan Arick masih belum berkurang ketajamannya, membuat Calista refleks menganggukkan kepalanya.
"Bagus!" Arick melepaskan cengkramannya dan beranjak menuju tempat tidur. Sedangkan Calista masih tetap berdiri di tempatnya.
"Kenapa kamu masih berdiri di sana? apa kamu mau aku menggendongmu dari sana?!" seru Arick.
Calista mendengus kesal, lalu mengayunkan kakinya melangkah ke arah ranjang. Dia naik dan merebahkan tubuhnya, memunggungi Arick, karena kata-kata yang Arick juga mencintainya belum dia dengar sama sekali.
Arick berdecak, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Kemudian, dia meraih pundak Calista dan membalikkan tubuh wanita itu, agar menghadap ke arahnya. Akan tetapi Calista sengaja mengeraskan tubuhnya, menolak keinginan Arick.
"Sekarang apa lagi? kenapa kamu memunggungiku? apa kamu pikir apa yang kamu lakukan ini sopan?"
Tidak ada respon dari Calista. Wanita itu tetap setia dengan posisinya.
"Calista, kamu dengar aku tidak? kamu berbalik dan lihat aku!" titah Arick, tapi Calista tetap bergeming tidak mau menuruti perintah Arick.
Arick akhirnya bangun dari tidurnya dan langsung membalikkan tubuh Calista dengan sedikit memaksa, menghadap ke arahnya, sehingga mau tidak mau, Calista akhirnya saling bertatapan dengan Arick.
"Hmm, begini kan enak. Masa kamu memunggungi suamimu. Itu nggak sopan tahu." ujar Arick sambil meraih kepala Calista dan meletakkan di atas lengannya. Kemudian dia menarik kepala itu ke arah dadanya dan mendekap Calista dengan erat.
"Tidurlah!" ucap Arick dengan lembut.
"Kak, apa maksud semua ini? apa maksud perkataan Kakak tadi? apa itu berarti Kakak juga sudah mencintaiku?"
"Haish, wanita ini. kenapa sih harus bertanya lagi? apa semuanya harus diucapkan secara eksplisit ya?" bisik Arick pada dirinya sendiri, dengan perasan kesal sekaligus grogi bercampur menjadi satu.
"Kak, kenapa diam saja?" suara Calista kembali terdengar, membuat Arick memejamkan matanya berpura-pura sudah tidur.
Calista mengangkat wajahnya, dan melihat mata Arick yang sudah terpejam. Calista mencebikkan bibirnya dan bergumam, " Sudah tidur ternyata. Apa selamanya kita akan begini, Kak? aku kesal tahu nggak. Aku tuh seperti wanita yang mengemis cinta. Mulai sekarang lebih baik aku diam saja, dan tidak berharap lagi."
__ADS_1
"Aku mencintaimu!" ucap Arick tiba-tiba dengan mata yang terpejam.
"Hah?" Calista sontak duduk dan menepuk-nepuk wajah Arick.
"Kak, apa kami ngigau? atau kakak pura-pura tidur? bangun, Kak!"
Arick yang tidak bisa berpura-pura lagi, akhirnya menyunggingkan senyumnya dan membuka matanya.
"Kakak belum tidur? jadi apa yang Kakak bilang tadi beneran?" desak Calista dengan wajah berbinar.
"Menurutmu?" Arick balik bertanya.
"Ihh, kok nanya balik sih? Kakak benar sudah mencintaiku?"
Arick tidak menjawab. Dia malah balik memejamkan matanya, dengan bibir yang tetap menyunggingkan senyum.
"Ihh, Kakak kok malah tidur sih? jawab dulu, Kak!" Calista mengguncang-guncang tubuh sang suami.
Arick sontak menarik tangan Calista hingga tubuh wanita itu berada tepat di dadanya.
Calista mengerjap-erjapkan matanya, kemudian menggelengkan kepalanya, seperti kurang percaya dengan hal yang baru di dengarnya.
"Kenapa? apa kamu belum percaya? Aku mencintaimu Calista Binar." Arick mengulang lagi ungkapan cintanya, bahkan memanggil nama istrinya itu dengan lengkap.
Wajah Calista sontak berbinar bahagia. Manik matanya tiba-tiba berembun, karena merasa bahagia mengetahui kalau cintanya kini tidak bertepuk sebelah tangan. Tanpa dia sadari, cairan bening sebening kristal menetes keluar dari matanya, membuat Arick seketika panik dan langsung duduk sambil menyentuh pundak Calista.
"Kamu kenapa menangis? apa aku ada salah lagi?" tanya Arick, bingung.
Calista menggelengkan kepalanya dan langsung menghambur memeluk Arick.
"Aku menangis karena bahagia, Kak. Aku bahagia sekali sekarang." ungkap Calista, membuat Arick tersenyum.
Arick melerai pelukan Calista dan menatap dalam-dalam wajah Cantik istrinya itu. Dengan perlahan dia mendekatkan bibirnya ke bibir Calista yang berwarna pink pucat itu. Dia mencium Calista dengan penuh perasaan. Akan tetapi ciuman penuh perasaan itu, hanya bertahan untuk sepersekian detik. Detik berikutnya ciuman itu berubah menjadi lu*matan, yang menuntut lebih. Arick menggigit pelan bibir Calista sehingga mulut wanita itu spontan terbuka. Hal ini tidak disia-siakan Arick. Lidah pria itu langsung melesat masuk ke dalam mulut Calista dan mengabsen deretan gigi istrinya itu.
__ADS_1
Ciuman mereka berakhir ketika Calista kesusahan untuk bernapas. Mereka berdua menarik napas dalam-dalam, mengisi kembali paru-paru mereka dengan udara. Arick yang sudah terpancing gairahnya kembali menyambar bibir Calista dan mengulangi kembali seperti semula. Bahkan tangannya kini sudah ikut menjelajah, meraba semua titik sensitif istrinya itu.
Kancing bagian atas piyama tidur Calista juga sudah terbuka, menyembulkan dua bukit kembar, yang semakin memancing hasrat Arick. Suara desa*han yang keluar dari mulut Calista terdengar merdu di telinga Arick dan semakin meningkatkan semangatnya untuk melakukan lebih lagi.
"Kak, sudah! jangan diteruskan! ucap Calista di sela-sela napasnya yang memburu.
"Kenapa? apa kamu masih meragukan cintaku?" tanya Arick di tengah kepalanya yang hampir meledak menahan hasratnya yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Bukan seperti itu, Kak. Tapi aku lagi dapet." ucap Calista lirih dan terdengar ambigu buat Arick
"Dapet apa? dapet hadiah?"
"Bukan, Kak. Tapi aku lagi datang bulan," ucap Calista pelan dengan raut wajah yang merasa bersalah.
Arick seketika menghempaskan tubuhnya, kembali berbaring, sedangkan Calista kembali mengancingkan piayamanya.
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal?" Arick mengusap wajahnya dengan kasar.
"Maaf, Kak! kan yang main nyosor itu, Kakak. Aku belum sempat ngomong, Kakak sudah nyerang duluan." ucap Calista membela diri.
"Arghhh!" geram Arick sambil mengacak-acak rambutnya sendiri sambil melangkah ke kamarnya mandi. Kepalanya butuh didinginkan sekarang dengan air dingin.
Selang 30 menit Arick kembali keluar dari kamar mandi dengan kepala yang basah dan hanya berbalut seutas handuk. Kemudian dia meraih pakaiannya dari dalam lemari dan mengenakannya.
"Apa,Kakak marah?" terlihat sekali raut wajah merasa bersalah di wajah Calista.
"Tidak! mau gimana lagi. Itukan bukan kesalahanmu. Ayo kita tidur saja?" Arick meraih tubuh Calista dan memeluk tubuh Calista dengan erat.
Keheningan terjeda cukup lama, di antara keduanya. Arick bahkan sudah menutup matanya.
"Kak, sejak kapan Kakak mencintaiku?" tanya Calista tiba-tiba
"Haish kenapa tanya itu lagi sih? mending kali ini aku pura-pura tidur beneran."
__ADS_1
Tbc