Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Maaf, aku tidak bisa


__ADS_3

"Safira? kamu kenapa, Nak?" Cantika langsung menolong Safira dan membantu wanita itu untuk berdiri.


Setelah Safira berdiri dengan berusaha menahan rasa sakit di pinggulnya, dia merampas anaknya dari gendongan Cakra.


"Buat apa anda datang lagi ke mari, Tuan Cakra? bukannya anda sudah memecat saya?" ucap Safira dengan bibir yang gemetar.


"Apa? jadi, kamu tadinya kerja di perusahaan keluarga kami? dan kamu dipecat sama anakku ini?" Cantika menimpali ucapan Safira dengan ekspresi kaget.


"Cakra, ada apa ini? kenapa kamu bisa memecatnya?" tanya Cantika menuntut penjelasan, karena sejauh yang dia tahu, kalau putranya sudah berani memecat seseorang, pastilah seseorang itu sudah melakukan salah yang fatal.


Cakra tidak langsung menjawab. Dia bingung untuk memberikan jawaban apa pada mamanya itu.


Cantika sontak menatap ke arah Safira dengan kening yang berkerut, curiga.


"Apa dia berniat menggoda Cakra, makanya Cakra marah dan memecat dia?" batin Cantika. "Tapi, kalau memang seperti itu, tidak mungkin anakku kembali mencarinya ke sini? Ahh kenapa aku jadi bingung begini? belum lagi, wanita yang bernama Sarni ini, dan anak yang sangat mirip dengan Ivan," Cantika berperang dengan batinnya.


Safira berjalan dengan sedikit tertatih, memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, Cakra langsung menahan tubuh Safira, hingga membuat wanita itu shock tiba-tiba dan hampir membuat baby Ian jatuh dari gendongannya. Beruntungnya Cakra dengan sigap menahan baby Ian.


"Ja-jangan sentuh saya!" desis Safira yang langsung memeluk Ian dengan erat dan dengan mimik yang ketakutan. Hal ini semakin mengundang tanda tanya di hati Cantika.


"Maaf! Maafkan saya, Safira!" suara Cakra terdengar lirih dan memelas. Hatinya merasa sangat bersalah melihat refleks Safira yang langsung ketakutan ketika dia sentuh.


Safira bergeming, tidak memberikan respon sama sekali. Dia masih saja gemetar dengan air mata yang sudah mulai merembes di pipinya.


"Aku sudah tahu, apa yang menyebabkan kamu ketakutan begitu melihatku. Aku sudah tahu semuanya yang kamu adalah wanita itu. Wanita yang sudah aku perlakuan dengan buruk, hingga membuat kamu trauma. Tapi, sumpah demi apapun, aku tidak berniat melakukannya," sambung Cakra kembali.


Mata Safira membesar dengan sempurna, dan langsung memeluk Ian dengan pelukan yang semakin erat seakan takut kalau Cakra akan merampas anaknya itu. Sementara itu Cantika semakin kebingungan.


"Ada apa ini sebenarnya? Kamu jangan membuat mama semakin bingung, Cakra!" suara Cantika mulai sedikit meninggi.


"Ivan dan Ian adalah anakku, Mah,"


Mata Cantika membulat seraya menggeleng-gelengkan kepalanya sulit untuk percaya.


"Kamu mengatakan apa Cakra? kamu jangan bercanda sama mama! ini benar-benar tidak lucu,"

__ADS_1


"Tapi ini benar, Mah. Mereka berdua memang anakku. Tidakkah mama bisa lihat kalau mereka berdua sangat mirip denganku? dan inilah alasanku sebenarnya menolak untuk menikah dengan Kalila, karena aku mencari-carinya selama ini," ujar Cakra berusaha meyakinkan Cantika Mamanya.


"Tapi kenapa kamu selama ini menyembunyikan ini semua, hah?! kenapa kamu tidak mengatakan kalau kamu sudah memiliki anak dengan wanita ini?" cecar Cantika dengan bertubi-tubi.


"Karena aku baru tahu sekarang, Mah. Aku baru tahu kalau wanita yang aku __"


"Tidak! itu tidak benar. Ivan dan Ian anakku bukan anak anda. Please jangan ambil mereka! Bude, tolong bawa aku ke Ivan, aku mau ketemu dengan anakku itu. Aku tidak mau anakku diambil orang lain lagi," Safira tiba-tiba histeris, sambil memohon pada Sarni.


"Diam!" pekik Cantika tiba-tiba karena kepalanya hampir pecah, benar-benar belum mengerti dengan apa yang terjadi.


"Tidak, Tante! Tante jangan percaya dengan apa yang diucapkan anak tante! Anak ini dan Ivan benar-benar anakku," Safira masih saja histeris.


"Safira, tolong jangan begini! kamu tenang dulu," Sarni buka suara dan memeluk wanita itu.


"Sekarang tolong jelaskan ke mama sejelas-jelasnya, apa yang sebenarnya terjadi. Dan kamu nak Safira, maaf kalau Tante tadi sempat berteriak. Tolong, kamu tenang dulu, karena tidak akan ada yang mau mengambil anakmu," kali ini suara Cantika sudah kembali normal.


"Kita sebaiknya masuk dulu ke dalam rumah. Kita bicarakan semua di dalam. Tidak baik bicara di sini, tidak enak pada tetangga," Sarni buka suara dan menuntun Safira untuk masuk ke dalam rumah yang ditempati Safira.


"Silakan duduk!" ucap Sarni setelah berada di dalam rumah dan langsung mengambil alih baby Ian dari gendongan Safira. Safira berusaha mempertahankan Ian, tapi Sarni menatap Safira dengan tatapan yang meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja.


"Ayo, jelaskan!" suara Cantika terdengar lembut, tapi terselip ketegasan di dalam ucapannya itu.


Cakra menarik napas terlebih dulu kemudian membuangnya dengan sekali hentakan. Kemudian pria itu pun menjelaskan semuanya secara detail mulai dari kejadian, pencariannya, dan momen ketika dia tahu segalanya dari mulut Tasya sahabatnya Safira.


Cantika sontak berdiri dan langsung mendaratkan telapak tangannya, memukul wajah Cakra, hingga membuat Safira terjengkit kaget.


"Maafkan aku, Ma. Aku benar-benar tidak bermaksud. Semua itu di luar kendaliku karena saat itu aku di bawah pengaruh obat," sesal Cakra sambil menundukkan kepalanya. "Tapi aku benar-benar sudah berusaha untuk mencari dan mau bertanggung jawab, Mah." imbuhnya kembali.


"Mama memang marah sama kamu, tapi mama tahu kalau itu bukan karena keinginan kamu. Yang mama sesalkan, kenapa kamu merahasiakannya dari mama dan papa? setidaknya papamu bisa membantu bersama dengan Om Aby dan Om Kenzo. Mama rasa kamu sudah tahu bagaimana kemampuan Om Aby dalam menyelidiki sesuatu. Kalau dari awal kamu jujur, mama yakin ini tidak akan sampai dua tahun, Cakra!" ucap Cantika panjang lebar.


Sedangkan Safira terdiam tidak menyangka kalau Cakra ternyata mencarinya selama ini. Dia mengira kalau pria yang sudah membuat dirinya menderita itu adalah pria bejat.


"Jadi bagaimana dengan orang yang memasukkan obat ke dalam minumanmu? apa kamu sudah menemukan orangnya?" tanya Cantika kembali.


"Sudah, Mah. Dia putri dari kolegaku yang sedang berulang tahun. Dia bekerja sama dengan papanya untuk menjebakku," jawab Cakra.

__ADS_1


"Apa itu alasannya kamu mengakuisisi perusahaan mereka?" Cakra menganggukkan kepalanya. "Jadi, yang kamu katakan kalau mereka sudah melanggar perjanjian kerjasama, bohong?" lagi-lagi Cakra menganggukkan kepalanya, membenarkan.


"Cakra, Cakra. Kenapa sih kamu bertindak sendiri?" sesal Cantika.


"Karen aku tidak mau selalu mengandalkan papah dan Om Aby, Mah. Lagian aku dibantu oleh Carlos, Kama Arick dan Arend."


"Jadi, mereka berempat juga tahu masalah ini?" tanya Cantika, kaget. Cakra menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


"Kalian ya, sudah berlima tapi masih bisa gagal. Itu lagi, Arick sama Arend, bisa-bisanya tidak seperti papanya," Cantika menggerutu, kesal sembari mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruangan. Tatapannya langsung berhenti ketika melihat satu pigura photo pengantin.


"Safira, apa hubunganmu dengan kedua orang itu?" tanya Cantika dengan wajah kaget.


"Mereka papa dan mamaku, Tante." jawab Safira sambil menggigit bibirnya.


"Jadi, kamu anaknya Dion dan Deby?"


"Da-dari mana, Tante tahu papa dan mamaku?" Safira mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Mereka berdua, sahabat Tante waktu SMA. Pantas ketika melihatmu, aku merasa seperti kamu mirip seseorang. Ternyata ada perpaduan wajah Deby dan Dion di kamu," jawab Cantika dengan mata yang berkaca-kaca. Sementara itu Safira terkesiap kaget mengetahui kenyataan itu.


"A-apa yang terjadi dengan mereka berdua? aku mencari mereka, tapi aku kaget ketika tahu kalau perusahaan Dion di Bandung sudah bangkrut dan berpindah tangan. Ada apa sebenarnya Safira?" desak Cantika dengan suara yang sedikit bergetar.


"Mama meninggal karena jatuh dari tangga, Tan. Waktu itu usia ku masih 7 tahun. Papa menikah lagi dengan wanita yang awalnya bekerja sebagai ART di rumah, karena desakan kakek dan nenek supaya ada yang menjaga dan merawatku. Setelah menikah, dua tahun kemudian kakek dan nenek meninggal. Usaha papa mengalami penurunan, dan mama tiriku suka berbelanja barang-barang mewah dengan mengambil uang perusahaan diam-diam. Karena itulah usaha papa bangkrut." jelas Safira.


"Tapi, kenapa papa kamu tidak datang minta tolong pada Tante?"


"Setahu aku, papa kecelakaan dan meninggal dua hari setelahnya, ketika mau ke Jakarta untuk menemui sahabatnya. Apa sahabat yang dimaksud itu, Tante?" Cantika menganggukkan kepalanya dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya.


"Jadi, kenapa perusahaan papa kamu berpindah tangan?" tanya Cantika kembali.


"Mama tiriku menjualnya, Tan. Semua aset papa dia jual dan membawaku pindah ke Jakarta. Mama tiriku berfoya-foya dengan hasil penjualan aset-aset papa, sehingga semuanya ludes. Setelah itu, aku dipaksa berkerja olehnya. Aku juga sekolah dengan biaya sendiri," jelas Safira dengan berurai air mata.


"Kalau begitu secepatnya kalian berdua harus menikah. Untuk urusan Ivan, nanti papa dan mama yang akan membicarakannya dengan Alena dan Arend," pungkas Cantika, memutuskan.


Safira menggelengkan kepalanya, "Maaf Tante, aku tidak bisa."

__ADS_1


Tbc


__ADS_2