
Setelah mendengar semuanya, cukup lama Arend berperang dengan batinnya, memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Meneruskan pernikahan ini, atau membatalkannya. Dia akhirnya memutuskan untuk menghubungi Calista terlebih dulu, dan mengenai apa yang akan terjadi, tergantung bagaimana sikap wanita itu nanti.
Cukup lama panggilannya baru Calista mau menjawab panggilannya.
"Iya, Kak?" terdengar suara Calista yang malas-malasan dari ujung telepon.
"Hmm, aku cuma mau tanya, bagaimana konsep pernikahan kita yang kamu inginkan?" tanya Arend, berharap Calista memaparkan apa yang dia mau.
"Terserah, Kakak saja. Aku ngikut saja." jawaban yang benar-benar di luar ekspektasi Arend
"Bagaimana kalau hari ini kita mencari cincin pernikahan kita?" Arend kembali ingin mendengar respon Calista.
"Kak, terserah kakak deh, seperti apapun bentuk cincin pernikahannya, aku terima saja. Karena aku yakin, tidak mungkin kakak memilih yang asal-asalan. Sudan dulu ya, Kak. Aku ngantuk sekali nih," ucap Calista sambil memutuskan panggilan, setelah dirinya mengiyakan.
Arend menghela napasnya dengan cukup panjang dan berat. Respon yang malas-malasan dari Calista sudah menjawab semuanya, kalau yang menginginkan pernikahan ini hanya lah dirinya.
"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan membatalkan pernikahan ini. Pernikahan ini akan tetap terjadi, bukan pernikahanku dan Calista, tapi pernikahan Arick dengan Calistalah yang akan terjadi." bisik Arend dalam hati, karena menurutnya ini lah saatnya membuat saudara kembarnya itu dengan gadis yang dicintainya bersatu.
Kemudian dengan langkah pasti dia pergi menemui Calvin papa Calista dan membaberkan semua apa yang dia dengar dan rencananya untuk menyatukan keduanya. Beruntungnya Calvin tidak merasa keberatan dan mendukung rencana Arend.
Setelah menyampaikan rencananya pada Calvin, Arend juga mendatangi kedua orang tuanya dan menyampaikan bagaimana perasaan Arick pada Calista yang sebenarnya. Akhirnya semuanya setuju tidak membatalkan pernikahan, tapi tetap melanjutkannya, hanya saja pengantin prianya yang berganti.
Arend bahkan berpura-pura kebelet ketika sedang fitting baju pengantin dan bekerja sama dengan pemilik butik untuk mengatakan kalau butiknya akan tutup karena ada sesuatu yang sangat penting. Sehingga mau tidak mau Arend meminta Arick untuk mencoba tuxedo pengantin, agar pemilik butik tidak menunggu terlalu lama karena harus menunggunya, keluar dari kamar mandi. Demikian juga saat mencoba cincin kawin. Arend berpura-pura sibuk menelepon seseorang dan meminta saudara kembarnya itu untuk mencoba cincin kawinnya.
Flashback end
"Calista!"
"Iya, Mah. Ada apa?" sahut Calista sambil meneguk habis air minum di gelasnya.
Cantika tidak langsung menjawab. Wanita itu justru terlihat melihat ke kanan dan kiri, ke arah ruang tamu, untuk memastikan tidak ada yang akan mendengar apa yang akan dia tanyakan pada putrinya itu.
"Ada apa sih, Ma, kok celingukan seperti itu? mama mau ngajak aku buat jadi maling ya?"
__ADS_1
"Sembarangan kalau ngomong!" Cantika menepuk pundak putrinya itu.
"Sini, sini mama mau tanya kamu sesuatu.". Cantika menuntun anak perempuannya itu duduk dan dia pun menarik kursi untuk dekat dengan anaknya itu. Sementara itu, kening Calista berkerut melihat tingkah mamanya itu.
"Hemm, Sayang apa milik Arick sangat besar, sampai-sampai kamu berjalan seperti tadi? apa besarnya ada segini?" Cantika meraih timun yang kebetulan ada di atas meja. Timun yang dari tadi dia timbang-timbang sebelum kedatangan Calista.
"Ya, ampun, Mah. Mama tarik aku duduk di sini, cuma buat nanyain itu? kalau besar emang Kenapa? mama mau suruh papa buat membesarkan punyanya lagi?" .
"Ihh, mana mau mama. Segitu aja udah bisa buat paha mama gemetar, apalagi ditambah lagi. Aku cuma penasaran aja, Nak."
"Ih, gak ada kerjaan amat mama nanyain itu." Calista jengah dan berdiri dari kursinya.
"Tunggu dulu! mama belum selesai bicara," Cantika kembali menarik tangan Calista untuk duduk kembali.
"Ada apa lagi sih, Ma?" Calista terlihat malas-malasan duduk kembali.
"Mama mau tanya, apa Arick saat melakukannya, mengatakan kalau dia mencintaimu?"
"Apa ungkapan cinta itu perlu, Ma? yang penting sekarang orang yang aku cintai sudah menjadi suamiku kan? dan seharusnya mama tidak menanyakan hal itu sekarang, karena mama tahu sendiri, kalau dia hanya terpaksa menikah denganku. Dia menikahiku untuk menggantikan Kak Arend," ujar Calista dengan senyuman yang dipaksakan.
"Itu sangat perlu, Nak. Kalau seseorang melakukannya tanpa cinta, itu berarti dia mengganggap kamu bukan barang berharga tapi hanya sekadar pelampiasan naf*su. Walaupun dia hanya sebagai ___"
"Bagiku itu tidak penting, Ma. Aku balik ke kamar dulu, mungkin Ka Arick sudah bangun dan mencariku. Aku pamit ya, Ma." Calista memotong ucapan mamanya seraya bangun dari duduknya dan berjalan meninggalkan Cantika mamanya.
"Satu hal yang ingin sekali aku dengarkan, kata-kata kalau dia mencintaiku, Ma. Tapi apa harus memaksanya untuk mengatakannya, padahal dia sama sekali tidak pernah mencintaiku?" bisik Calista dengan manik mata yang berembun.
"Calista, kenapa kamu sudah bisa berjalan dengan normal? apa sudah tidak sakit lagi?! seru Cantika, sebelum tubuh Calista benar-benar menghilang.
Mendengar seruan mamanya, Calista tersadar dan kembali berjalan sedikit ngang*kang.
"Tadi aku hanya mencoba jalan dengan normal, Mah. Ternyata masih sedikit sakit." sahut Calista, tanpa menoleh ke arah mamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Alena hari ini, kembali bekerja di toko pakaian, dan seperti biasa dia akan menitipkan Ivan pada Sarni wanita yang dia panggil bude.
Sebenarnya dia berat untuk berangkat kerja, akan tetapi mau bagaimana mana lagi, dia harus tetap bekerja demi bisa mencukupi kebutuhannya dan bayi yang sedang dia rawat.
Di saat dia sedang sibuk melayani pelanggan, ponselnya berbunyi, dan tatapan manager toko langsung mengarah ke arahnya dengan tatapan horor.
"Maaf!" Alena yang mengerti arti tatapan dari Manager itu langsung meraih ponselnya, dengan tujuan untuk menolak panggilan. Akan tetapi, ketika dia melihat kalau yang sedang memanggil itu, Sarni dia seketika lupa akan tujuan dia di awal. Dengan refleks, dia menjawab telepon itu, membuat wajah manager itu memerah merasa tidak dihargai.
"Apa bude? suhu badan Ivan naik lagi? kok bisa, Bude? bukannya tadi suhu badannya sudah turun?" ucap Alena, yang mengabaikan pengunjung yang tadi dia layani.
"Bude juga tidak tahu, Nak. Tiba-tiba saja naik dan naiknya juga gak tanggung-tanggung," jawab Sarni dengan nada yang panik dari ujung telepon.
"Emang naiknya sampai berapa bude?"
"40 derajat, Lena. dari tadi dia tidak berhenti menangis. Apa kamu bisa izin untuk pulang hari ini? sepertinya kita harus bawa Ivan ke rumah sakit."
"Akan aku usahakan, Bude." Alena memutuskan panggilan dan langsung memutar badan menatap ke arah manager, yang menatapnya dengan tatapan sangat tajam.
"Bu aku mau __"
"Mau apa? mau pulang sekarang? silahkan!" belum selesai Alena berbicara, manager itu sudah memotong ucapan Alena.
"Benar, Bu? terima kasih, Bu!" Alena hendak berlari ke luar, akan tetapi dia menyurutkan langkahnya ketika mendengar managernya itu kembali bersuara.
"Kamu pulang sekarang, tapi jangan kembali lagi besok. Karena toko ini tidak membutuhkan kamu lagi, kamu itu membuat toko ini rugi." ucap manager itu ketus.
"Ta-tapi, Bu. Aku sangat memerlukan pekerjaan ini. Tolong jangan pecat saya. Kalau aku dipecat, bagaimana aku bisa menghidupi anak saya?" mohon Alena dengan air mata yang sudah menetes.
"Itu bukan urusanku! kamu pergi sana!" usir manager itu sambil mendorong tubuh Alena keluar. Kemudian manager itu memutar tubuhnya, kembali masuk ke dalam toko. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata dari dalam mobil yang kebetulan lewat dari tempat itu, memperhatikan apa yang terjadi pada Alena.
Alena memutar tubuhnya, dan betapa kagetnya dia melihat ada sosok pemuda yang berdiri di depannya. Dia ingat betul wajah pemuda itu, pemuda yang membantunya membayar obat Ivan tadi malam, siapa lagi dia kalau bukan Arend.
Tbc
__ADS_1