
Kama menapakkan kakinya di anak tangga dan naik menuju ruang kerja Aby, karena Omnya itu tiba-tiba memintanya untuk menemuinya.
Dia mengetuk pintu dengan pelan, dan menunggu Aby menyahut dari dalam.
"Masuk!" terdengar suara Aby dari dalam.
"Ada apa,Om?" tanya Kama begitu masuk ke ruangan kerja Aby.
"Kamu tutup pintunya dan kamu duduk di sini!" titah Aby dengan nada yang datar.
Kama, menutup pintu, dan langsung duduk di tempat yang ditunjukkan oleh Aby omnya.
"Kama, tadi Om lihat kamu hampir memukul Arend, ada apa?"
Kama meneguk kasar ludahnya, sedikit takut mendapatkan pertanyaan seperti itu dari kakak mamanya itu. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Om'nya itu melihat sikapnya tadi pada Arend.
"Maaf, Om Tadi aku hanya bercanda. Kami tidak serius,Om,"bohong Kama, walau dia tahu, Aby pasti tidak bisa dibohongi. Tapi, dia berharap kalau kali ini dia berhasil membohongi Om'nya.
Aby tersenyum misterius, melihat keponakannya yang sudah berani berbohong.
"Kam, apa kamu menyukai Alena?" tanya Aby tidak mau berbasa-basi lagi. Karena menurutnya percuma saja, karena Kama pasti akan menutupinya.
Kama bergeming, tidak langsung menjawab. Dia masih kaget mendengar pertanyaan seperti itu dari Aby.
"Kenapa kamu diam? apa sangat sulit menjawab pertanyaan Om itu?"
"Emm, tidak Om! aku tidak __"
"Kenapa kamu mau berbohong? Om tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya. Om hanya mau kamu jujur." Aby langsung menyela, karena dia tahu kalau keponakannya itu hendak menyangkal.
__ADS_1
"Jadi, Om sudah tahu? maaf Om kalau aku sudah berani menyukai menantu Om. Tapi apa Om juga tahu kalau Arend __"
"Om tahu!" potong Aby cepat, sebelum Kama menghabiskan energi untuk melanjutkan ucapannya.
Kama tercenung. Dia benar-benar tidak bisa mengucapkan kata-kata apa lagi.
"Om tahu kalau Arend masih belum mencintai Alena. Ingat ya! 'belum mencintai' bukan 'tidak mencintai'. Masih ada waktu untuk Arend belajar mencintai Alena," ucap Aby, membuat Kama terkesiap kaget.
"Jadi Om sudah tahu semuanya?" tanya Kama.
"Kamu lupa siapa Om'mu ini? bahkan Om juga tahu alasan kenapa Arend menikah dengan Alena, hanya untuk membuat Arick bisa menerima Calista seutuhnya."
Kama bergeming. Dia memang tidak meragukan kemampuan dan intuisi Aby yang tajam.
"Om sudah tahu, tapi kenapa Om malah tetap mengizinkan mereka menikah? bukannya itu termasuk mempermainkan pernikahan, Om? Om merestui pernikahan yang tidak memiliki cinta di dalamnya. Dan ini termasuk egois namanya, Om."
Aby tersenyum, tidak merasa sakit hati dikatain egois sama keponakannya.
"Itu, om lakukan karena om tidak mau dia mempermainkan yang namanya pernikahan. Arend menyanggupinya, makanya om tetap mengizinkan mereka untuk menikah. kamu tahu kenapa om, tidak mengizinkan mereka untuk tinggal di rumah sendiri? itu karena om mau mereka bisa saling belajar mencintai di bawah pengawasan om dan tante. Jadi intinya, om mau kamu mendukung agar mereka secepatnya saling mencintai," terang Aby, dengan lugas.
Kama terdiam untuk beberapa saat. Dia tidak menyangka kalau Aby om'nya sudah bertindak seperti itu. Kemudian pria itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke luar.
"Tapi,Om. bagaimana aku bisa mendukungnya, karena aku menyukainya Alena. Aku merasa kalau aku bisa membahagiakan Alena, karena aku memiliki perasaan untuknya sedangkan Arend tidak sama sekali," ucap Kama, menolak keinginan Aby.
"Ralat! Arend belum mencintai, bukan tidak mencintai. Yang artinya, masih ada kesempatan untuk membuat Arend mencintai Alena begitu juga sebaliknya."
"Tapi itu mustahil, Om. Karena Arend itu mencintai Calista, dan susah baginya untuk bisa mencintai gadis lain," ucap Kama dengan sangat yakin.
"Itu karena selama ini gadis yang dekat dengannya hanya Calista. Dia tidak pernah mau mencoba dekat dengan gadis lain. Sekarang, bukan hanya dekat, dia bahkan akan berbagi kamar dengan Alena. Sehingga intensitas mereka bertemu dan berdekatan akan tiap hari. Om yakin dengan begitu lambat laun hati Arend akan terbuka dan bisa cinta pada Alena," terang Aby panjang lebar.
__ADS_1
"Om sebenarnya tahu, kalau perasaanmu pada Alena hanya sebatas mengagumi saja, karena kamu mendengar bagaimana tangguhnya dia menjalani semua masalah yang dia hadapi. Om juga gara-gara itu mau menerima dia sebagai menantu. Om bahkan lebih tahu, apa yang menimpa Alena selama ini, karena om sudah menyelidikinya terlebih dulu. Jadi, semua yang om lakukan ini demi kebaikan Alena, walaupun kamu menganggapnya egois." Sambung Aby kembali.
Kama semakin tersudut. Dia benar-benar tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Hanya saja dia bertanya dalam hati, "Apa benar perasaan yang aku miliki hanya rasa kagum saja?"
"Kam, apa kamu bisa menerima semua yang om katakan? Om tidak mau kalian berdua hancur hanya karena satu wanita. Kalau kamu memang menyukai Alena, harusnya kamu mendukung niat om yang ingin melihat Arend dan Alena bisa saling mencintai. Coba kamu pikirkan kalau seandainya nanti mereka bercerai dan tiba menikah denganmu. Keluarga besar yang lainnya akan berpikir kalau Alena bukan perempuan baik-baik bukan? Kamu seharusnya berpikiran panjang, Kam."
Kama tidak menjawab sama sekali. Dia berusaha mencerna semua ucapan Aby om'nya. Kemudian pria itu terlihat mengangguk-anggukan kepalanya, dan menghela napasnya dengan sekali hentakan.
" Aku sekarang mengerti,Om. Om benar, seharusnya aku juga harus bisa membuat Arend membuka hatinya pada Alena," ucap Kama akhirnya,walaupun sebenarnya hatinya masih terasa berat untuk bisa menerima kenyataan.
"Bukan hanya Arend, tapi Alena juga. Karena om tahu, kalau Alena juga belum mencintai Arend. Tapi aku bisa lihat, dari manik matanya kalau dia mengagumi Arend.
menurut om, sangat mudah untuk orang bisa mencintai Alena."
Aby menerbitkan seulas senyuman di bibirnya. Dia tahu kalau sebenarnya hati Kama masih terasa berat untuk mendukung Arend bersama dengan Alena. Tapi setidaknya Aby sudah berusaha untuk mengingatkannya.
"Ya udah, Om. Apa masih ada lagi yang mau Om sampaikan?"
"Tidak ada lagi. Kamu boleh keluar sekarang!"
Kama berdiri dari tempat duduknya dan mengayunkan kakinya, melangkah ke arah pintu.
"Kama, tunggu!"
Kama menghentikan langkahnya karena Aby yang memanggilnya kembali. Pria itu memutar tubuhnya, kembali menatap ke arah om'nya itu.
"Ada apa, Om?" tanya Kama dengan alis yang terangkat ke atas.
"Ada sesuatu lagi yang mau, Om katakan. Om harap kamu tidak keberatan dengan yang akan om katakan ini."
__ADS_1
Tbc