Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Siap, laksanakan!


__ADS_3

"Pak Kama, bisa tidak berhenti menggangguku? aku benar-benar tidak nyaman, Pak sama. teman-teman yang lain," ucap Tasya dengan nada memohon bercampur kesal, sambil mengedarkan tatapannya ke sekeliling, merasa tidak enak begitu mendapati tatapan bengis dan tidak suka dari rekan kerjanya khususnya Ningsih, sang kepalanya OB.


"Sayangnya tidak bisa. Aku mau ikut makan siang dengan kamu di sini. Sepertinya makanan kamu enak," ucap Kama sambil mencomot sayur dari kotak makanan Tasya dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Pak Kama, aku benar-benar tidak mau semua orang di sini salah paham padaku. Aku ingin bisa bekerja dengan nyaman, Pak." mohon Tasya. Kali ini dengan wajah yang memelas dan frustasi.


"Kenapa kamu mesti pusing memikirkan apa yang orang lain pikirkan? Kita berdua kan memang sepasang kekasih,"


"Tapi, Pak, aku __" Tasya tidak melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba jari telunjuk Kama yang menempel di mulutnya.


"Kamu jangan banyak bicara! kamu lanjutkan makan saja. Oh ya, jangan pernah panggil aku pak lagi. Kamu harus panggil aku, 'sayang'," tegas Kama sambil menyendokkan makanan ke dalam mulut Tasya.


"Dasar perempuan murahan! matre! dia sama sahabatnya itu sama aja," umpat Ningsih sambil beranjak pergi meninggalkan kantin.


Hal itu tidak luput dari perhatian Tasya yang kali ini benar-benar makin bertambah tidak enak. Sementara, Kama, pria itu mungkin terlihat cuek dan tidak peduli. Akan tetapi pria itu tahu kalau Ningsih benar-benar menunjukkan rasa tidak sukanya pada Tasya.


"Tuh, lihat, Pak! Bu Ningsih sepertinya tidak suka denganku. Ini pasti berpengaruh sama kerjaanku nanti," Tasya mulai terlihat panik.


"Kenapa kamu terlihat panik? kamu tenang saja, kan masih ada aku," ujar Kama, berusaha menenangkan Tasya dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Oh ya, sekali lagi kamu panggil aku, pak, aku akan menciummu. Sekali panggil pak satu kali cium. Teruskan saja memanggilku, Pak! dijamin aku pasti akan menang banyak," bisik Kama persis di telinga Tasya yang disertai dengan seringaian licik, hingga membuat Tasya sontak mengerucutkan bibirnya.


"Apa-apaan ini? kamu habiskan makananku!" seru Tasya dengan sengit begitu melihat kotak makanan yang dia bawa dari rumah sudah ludes tak bersisa.


"Hehehe, maaf! habis enak sih," ucap Kama sambil nyengir kuda.


"Jadi, aku harus makan apa sekarang?"


"Kamu pesan aja, nanti aku yang akan bayar!" ucap Kama santai seperti tidak merasa bersalah sama sekali.


"Bukan masalah bayarnya, Pak,"

__ADS_1


Cup ... Tiba-tiba Kama mencium pipi Tasya.


"Kenapa Bapak mencium ...."


Cup ...


"ku?" Tasya menyelesaikan ucapannya, setelah mendapatkan ciuman kedua dari Kama.


"Kan sudah aku bilang, sekali panggil Pak, aku akan cium kamu. Jadi teruskan saja panggil aku, Pak!" Ujar Kama, seraya mengerlingkan matanya, menggoda Tasya.


"Kamu ya ... benar-benar ...." Tasya tidak melanjutkan ucapannya. Tapi dari gerakan tangannya yang ingin mencekik Kama, menandakan kalau wanita itu sedang kesal.


"Waktu makan siang sudah selesai, waktunya kembali bekerja, ayo buruan!" tiba-tiba Ningsih kembali muncul dan berteriak. Ekor matanya tertarik ke sudut atas, melirik sinis ke arah Tasya.


"Kan masih ada 15 menit lagi, Bu!" protes seseorang.


"Jangan membantah! aku tidak terima bantahan. Makanya kalau makan itu jangan lambat!" ucap Ningsih sembari hendak melangkah keluar dari kantin khusus OB dan OG itu.


"Tapi,Pak Kama, semuanya harus mendapatkan perlakuan yang adil. Jadi semua harus segera bekerja termasuk Tasya, supaya tidak muncul kecemburuan dari teman-teman yang lain," ujar Ningsih berusaha memperlihatkan jiwa kepemimpinannya yang bijaksana.


"Kamu tenang saja! untuk masalah itu, aku yakin tidak ada yang keberatan di sini, kecuali kamu. benar kan semua?" suara Kama terdengar lantang dengan tatapan yang mengintimidasi, hingga membuat semua karyawan itu menganggukkan kepala dengan cepat.


"Lagian waktu makan siang belum benar-benar berakhir, jadi bukankah sikap anda yang seperti itu sudah semena-mena terhadap bawahan? aku bisa aja melaporkan kamu ke Cakra, karena sudah merampas waktu istirahat dari para karyawan," ancam Kama dengan nada yang sungguh-sungguh, hingga membuat nyali wanita bernama Ningsih itu ciut.


"Ya udah, kalian bisa kembali bekerja sesuai peraturan seperti biasa," pungkas Ningsih, berusaha menahan rasa kesal di dalam hatinya.


"Tambahin lima menit lagi! karena waktu berbicara dengan anda tadi sudah memakan waktu lima menit," ucap Kama kembali dan Ningsih benar-benar tidak bisa membantah. Wanita itu langsung beranjak pergi meninggalkan kantin itu, bersama dengan kekesalan yang amat sangat pada Tasya.


"Kenapa Pak eh Sayang berkata seperti itu?" tanya Tasya yang dengan sigap mengganti panggilannya begitu melihat bibir Kama yang hendak menyosor ke pipinya. Terlihat jelas dari raut wajah wanita kalau sekarang Tasya benar-benar sangat kesal pada Kama.


"Kami jangan banyak tanya, ayo ambil makanan kamu! kamu tinggal punya waktu 10 menit saja. Kalau mau marah-marah, nanti saja ketika sudah pulang kerja," Kama menarik tangan Tasya, mengajak wanita itu untuk memesan makanannya.

__ADS_1


Setelah makanannya sudah ada di atas meja, Tasya langsung menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya sendiri. Ketika masih mengunyah makanannya, Kama meraih sendok dari tangan Tasya dan mengambil alih untuk menyuapkan makanan itu ke dalam mulut Tasya.


"P- eh Sayang, mulutku masih penuh. Letakkan saja sendoknya biar aku makan sendiri,"


"Tidak mau! aku mau membantu kamu supaya cepat makannya," tolak Kama, mempertahankan sendok yang ada di tangannya.


"Sama aja, Sayang. Kalau aku aku belum menelan makanan, kamu mau masukkan makanannya ke mulut siapa?" ucap Tasya yang merasa jengah dengan sikap Kama.


"Makanya buruan ngunyahnya! atau aku yang kunyah kamu tinggal telan, gimana?"


"Ih, apaan sih? Bapak kok jorok sih?"


Cup ....


Kama kembali mendaratkan ciumannya ke pipi Tasya karena wanita itu kembali memanggilnya, Bapak.


Di saat bersamaan, ketika bibir Kama masih menempel di pipi Tasya, seorang pria berdiri di belakang Kama, dengan tangan yang bersedekap di dada.


"Di sini kamu rupanya. Kamu meninggalkan pekerjaan di kantor dan asik bermesraan di sini, CK, ck," Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mata Kama membesar dengan sempurna, begitu mendengar suara bariton di belakangnya. Suara yang pastinya sangat familiar di telinganya.


Kama sontak memutar tubuhnya dan melihat sosok pria yang baru saja berbicara itu, menatapnya dengan tajam.


"Pa-Papa! ada angin apa bisa sampai datang ke sini?" tanya Kama seraya memamerkan deretan giginya yang putih, begitu melihat Kenjo papanya.


"Tentu saja mencari pria yang tidak bertanggung jawab pada pekerjaannya. Kalau begini caranya perusahaan bisa bangkrut dengan cepat. Jadi, supaya kamu bisa fokus, kalian berdua harus secepatnya menikah!" pungkas Kenjo seraya beranjak pergi.


"Siap, laksanakan, Pah!" ucap Kama dengan semangat, berbanding terbalik dengan Tasya yang menggelengkan kepalanya dengan wajah yang pucat.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2