Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Bab 41


__ADS_3

"Bude, sekarang aku mau tanya, dan jawab yang jujur. Kalau bude jawab dengan jujur, aku akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa Ivan anak angkat Alena dan Arend anaknya Safira?"


Serasa ada yang mengganjal di dalam tenggorokan Sarni, sehingga wanita itu merasa kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri begitu mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Cakra.


"Kenapa, Nak Cakra bertanya seperti itu? Ivan bukan anak Safira. Anak Safira itu cuma Ian. Mungkin kamu curiga karena dua anak itu mirip, tapi mirip gak harus saudara kan?" bantah Sarni dengan suara yang sedikit bergetar. Sumpah dia sangat gugup sekarang, apalagi Cakra menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.


"Bude, kenapa Bude tidak jujur saja? aku sudah tahu semuanya, kalau Safira memiliki satu anak lagi, yang dirawat oleh seseorang yang pernah tinggal di rumah ini. Bukannya wanita yang sebelumnya tinggal di sini itu, Alena istrinya Arend,"


Sarni terdiam sambil menggigit bibirnya. Dia tidak bisa mengelak lagi.


"Kamu benar, Nak. Bukannya Bude tidak mau ngasih tahu, Safira dimana keberadaan anak itu. Tapi bude sudah meyakinkan dia kalau Ivan berada di tangan yang tepat, dan suatu saat aku juga berencana akan memberitahukannya," jawab Sarni seraya menghela napasnya.


"Apa Safira yang menceritakan tentang Ivan pada kamu?" tanya Sarni dengan alis yang bertaut.


"Bukan! aku tahu dari temannya dia yang juga bekerja di perusahaanku," jawab Cakra dengan nada yang lirih dan manik mata yang sendu.


"Tapi, kenapa kamu menanyakan hal ini padaku? padahal setahu ku, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kamu kan?"


"Aku papa dari Ivan dan Ian," cetus Cakra yang membuat mata Sarni seketika membesar dan mulut sedikit terbuka.


"Kamu jangan bercanda, Nak! hal seperti ini jangan kamu jadikan candaan." Sarni menggeleng-gelengkan kepalanya, sulit untuk percaya.


"Apa, Bude melihat Kalau aku sedang bercanda? aku serius, Bude," tegas Cakra.


Plakk ...

__ADS_1


Sarni tanpa sadar mengayunkan tangannya, memberikan pukulan di pipi Cakra. Ian berhenti mengemut potongan apelnya dan menatap ke wajah Cakra yang memerah. Bayi itu terkekeh dan ikut-ikutan memukul wajah Cakra. Dia mengira kalau TOS itu bisa dilakukan ke wajah juga.


"Jadi kamu pria brengsek itu? kamu yang membuat hidup Safira menderita selam ini? kamu yang ___"


"Ya, itu aku, Bude! aku akui aku memang brengsek, tapi aku melakukannya tanpa sadar. Dan apakah Bude tahu selama dua tahun ini, aku sudah mencari keberadaannya, tapi aku tidak berhasil karena aku tidak mengingat wajahnya," Cakra memotong ucapan Sarni dengan nada yang berapi-api.


Sarni bergeming, dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke luar. Dia melakukannya berulang-ulang untuk menetralisir rasa emosi yang sempat menyerangnya.


"Maafkan, Bude! Bude tadi emosi, karena mengingat beberapa hari ini, Safira menginap di rumahku karena ketakutan. Setiap malam dia mengigau, bermimpi diperkosa lagi oleh pria yang memperkosanya dulu. Ternyata itu karena dia bertemu dengan kamu lagi," jelas Sarni.


"Sampai segitunya, Bude? apa segitu dalamnya luka yang aku buat padanya?" desis Cakra yang semakin merasa bersalah.


"Sebenarnya, apa yang terjadi, Nak Cakra? kenapa dulu kamu bisa mabuk dan memperkosanya?"


"Kenapa kamu tidak langsung mencarinya?"


"Aku langsung mencarinya, Bude. Aku lihat rekaman CCTV, tapi wajahnya tidak terlihat sama sekali karena dia menggunakan topi. Yang aku lihat dia sepertinya kurir makanan, tapi dia tidak memakai seragam makanya aku tidak bisa mengetahui di mana dia bekerja. Aku mencoba bertanya pada orang yang memesan makanan, ternyata orang yang memesan itu, hanya menyewa dan sudah meninggalkan apartemen itu pagi-pagi sekali karena akan kembali ke negaranya. Aku tidak tahu lagi Bude, mau cari dia kemana waktu itu,"


Sarni melihat di dalam manik mata Cakra, penyesalan yang sangat mendalam. Dia juga percaya pada semua cerita Cakra karena dia tahu kalau keluarga pria itu adalah keluarga baik-baik.


Sarni ingin kembali berbicara, tapi dia urungkan ketika tiba-tiba ada mobil yang datang dan berhenti di depan rumahnya.


Cakra mengrenyitkan keningnya, karena dia sangat mengenal mobil itu, yang tidak lain adalah mobil mamanya.


"Mama?" gumamnya dengan tatapan yang penuh tanda tanya.

__ADS_1


Cantika turun dari dalam mobil dan langsung berputar, mengitari mobilnya untuk membuka pintu buat Safira. Wanita itu belum menyadari kehadiran Cakra putranya.


Mata Cakra kini membesar begitu melihat mamanya membantu seorang wanita keluar dari dalam mobilnya dan yang paling membuatnya kaget, wanita itu adalah Safira wanita yang sedang dia tunggu.


Sarni sontak berlari menghampiri Cantika dan Safira dengan wajah yang panik. Karena Safira keluar dengan wajah yang meringis sambil memegang pinggulnya yang sakitnya mulai sangat terasa.


"Safira?! kamu kenapa, Nak?" tanya Sarni sambil membantu memegang bahu Safira.


"Tidak apa-apa, Bude. Hanya kecelakaan kecil saja," jawab Safira, berusaha untuk tetap tersenyum.


Sementara itu, Cantika menatap intens ke wajah Sarni, karena merasa pernah melihat wanita itu.


"Tunggu dulu! bukannya kamu itu Sarni, yang hadir di pernikahan Alena dulu? Kamu yang menggendong Baby Ivan kan saat itu?" celetuk Cantika, begitu mengingat wajah Sarni.


"Baby Ivan? Jadi Tante kenal sama Ivan?" cetus Safira dengan ekspresi kaget.


"Kenapa tidak? aku mengenalnya dan sangat menyukai anak itu. Aku ....". Cantika menggantung ucapannya, karena Cakra yang tiba-tiba sudah ada di dekat mereka sambil menggendong baby Ian. Bukan hanya Cantika yang kaget, Safira juga tidak kalah kagetnya dengan Cantika. Wanita itu bingung kenapa tiba-tiba ada Cakra di tempat itu.


"Cakra? kenapa kamu ada di sini? dan kenapa kamu membawa baby Ivan ke sini?" tanya Cantika, dengan alis yang bertaut tajam, menyelidik.


"Ini bukan Ivan, Mah. Ini namanya Ian," jawab Cakra, yang membuat Cantika semakin bingung.


"Ma-Mama?" gumam Safira dengan mata yang membesar dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Wanita itu, mundur dan tersungkur jatuh.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2